Ketika Seorang Guru Ingin Membelikan Oleh-Oleh Untuk Muridnya

Beberapa hari yang lalu, saya sempet pulang kampung ke Solo. Kegiatannya berupa kunjungan ke kerabat terdekat, ngecek rumah peninggalan eyang, dan tentunya nyekar. Pas semua kegiatan itu udah selesai, baru, deh, kepikiran satu hal, “Mau kasih oleh-oleh apa, ya, buat anak-anak?”

Sempet nanya ke Abid, dan ia menjawab, “Wayang, Dy.”

“Wayang, kan, khas Solo.”

Masuk akal.

Tapi, beli wayang apa? Werkudara? Semar? Atau Gatotkaca?

Dan kira-kira berapa uang yang akan dikeluarkan buat beli wayang?

Feeling saya langsung deg-deg ser.

“Bid, ketoke kui terlalu mahal. Budgetku terbatas.” kata saya.

“Lha budgetmu piro? 200 ribu? 100 ribu?”

*cek dompet*

“Kalo 10 ribu bisa buat beli apaan, ya, Bid?”

“TENANAN WAE 10 RIBU! EMANGE MEH TUKU PULSA?”

“Santai, Bid, santai.” respon saya dengan kedua tangan berlagak menenangkan anjing liar yang ingin mengamuk.

“50 ribu wes. Iso, kan?” tanya saya.

Abid menjawab, “Nah, kui lagi masuk akal. 10 ribu? Guru, kok, pelit banget.”
“Bid, tujuanmu ning kene kui untuk membantu, bukan menghina.” balasku, datar.

Kami lalu memacu motor kami masing-masing. Namun, tujuan kami bukanlah wayang seperti pendapat Abid. Sekarang berubah menjadi Serabi Notosuman. Hati saya lebih sreg ke makanan daripada wayang. Mungkin, faktor perut yang lapar juga ikut mempengaruhi.

***

Sesudah melewati gang demi gang, menyalip becak demi becak, dan menjumpai bendera merah putih berulang-ulang (kejadian ini terjadi tepat pada 17 Agustus 2015), saya lalu memberhentikan motor, dan bicara pelan ke Abid, 

“Oi, Bid…”

“Opo?”

“Kayaknya, aku lupa jalannya.”

Abid memasang muka masam, “Ealah, tag pikir kowe mudeng.”

“Emange kowe mudeng, Bid?”

“Ora i.” jawabnya menggeleng.

“PODO WAE!”

Dua cowok asli Solo tak tau tempat makanan khas Solo dijual. Benar-benar tragedi yang luar biasa.

Abid lalu bertanya kepada tukang becak dengan bahasa Jawa krama inggil. Tukang becak sudah sepuh tersebut menjawab dengan menunjuk sebuah jalan. Abid mengangguk. Saya, yang tidak tau apa-apa, ikut-ikutan mengangguk.

Bapak tadi kembali mengarahkan. Tangannya maju ke depan, menukik tajam ke bawah, lalu ngedrift ke kanan. Mulutnya terbuka lebar, tapi tak ada silauan gigi Pepsodent terpancar. Kami berdua tidak merespon berlebihan, hanya senyum tipis, lalu mengangguk berjamaah dengan khidmat.

“Ikuti aku, Dy…” bilang Abid dengan sok keren.

10 menit berlalu, kami berdua sampai ke tujuan.

Serabi Notosuman.

Rame tenan.

“BAPAK BUDI! BAPAK BUDI!” teriak salah satu penjaga toko.

Seorang bapak-bapak lalu datang menghampiri, mengambil serabi dan membayar dengan sejumlah uang.

“Ternyata, harus mesen, sek, Bid.”

“Yo, wes, mesen o.”

Saya melihat sekitar dengan seksama, “Tapi, nek pesen sekarang, bisa-bisa baru besok dapetnya, Bid.”

Abid mengelus-ngelus jenggotnya. Matanya memicing. Bulu hidungnya memanjang keluar.

“Berarti ojo serabi. Ganti sing liyane, Dy.”

“Sing enek ning toko iki wae. Kan jualan e ra mung serabi tok, to?”

Memang, ada etalase kaca memuat banyak makanan di sana. Tapi, barang dagangan paling laris tetaplah serabi.

Saya bertanya, “Nek menurutmu opo, Bid? Sing khas Solo dan mantep.”

“Abon?”

“Di Bekasi ada abon, Bid.”

“Kerupuk?”

“Di Bekasi ada kerupuk, Bid.”

“Teh Pucuk?”

“Di Bekasi ada teh pucuk, Bid. WOI SERIUS WOI!”

Abid lalu berjalan. Meliuk-liuk melewati kumpulan orang yang duduk rapi menunggu serabi pesanannya. Tangannya lalu mengambil sebuah kotak kecil, dan diangkatnya ke atas.

Bakpia.

Hmmm…

Bakpia?

Hmmm…

Boleh juga.

Terpilihlah bakpia sebagai oleh-oleh. Dengan budget 50 ribu, terbeli dua kotak kecil. Kemudian, dua jam dari toko Serabi Notosuman itu, saya berangkat ke Bekasi menggunakan bis Pahala Kencana.

***

“Kalian tau ini apa?” ucap guru kelas.

“Oleh-olehnya Kak Aldy!” jawab anak-anak serempak.

“Benar sekali.” kata Bu Guru. “Ini Bakpia dari Kak Aldy yang kemarin sempat pulang kampung ke Solo.”

“Tiap anak akan mendapatkan dua, ya.”

“Iya, Bu!” jawab mereka, lagi-lagi serempak seperti paduan suara.

Tiba-tiba, salah satu anak berkata, “Tapi, Bu…”

“Boleh tau rasa bakpianya apa?”

“Soalnya, saya nggak suka bakpia rasa kacang ijo.” terang anak tersebut.

“Saya juga, Bu!” anak lain ikut menyaut.

“Saya juga!”

“Saya juga!”

Mayoritas berkata tidak suka bakpia rasa kacang ijo.

Lalu, Bu Guru melihat bungkus depannya dan tertulis dengan gagah dan amat jelas.

BAKPIA RASA KACANG IJO

DDDDDDDDDDDDDOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOONNNNNNNNNGGGGGG!!!!!!!!

Saya pun pingsan seketika.






Kesalahan saya, saya tidak sempat mengabadikan satu pun adegan di postingan ini. Ya, sudah, saya upload saja apa yang ada di handphone saya.








Semuanya kebanyakan kegiatan di luar kelas (outbond).
Ada Trust Hold (bener, nggak, tuh, tulisannya) dan ada Blind Track. 
Sangat menyenangkan saat melihat mereka bermain hal-hal yang menyenangkan.





Dan oh, iya, setelah anak-anak memakan bakpia rasa kacang ijonya, terutama yang bilang nggak suka, mereka semua mengeluarkan ekspresi aneh, dan berkata cukup mengejutkan,


"Kok rasanya enak ya...."


Hehehehehehehehehehehehehehehe :D



Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store




Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂





- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Pesan Moral Yang Bisa Dipetik Dari Kartun di TV

diambil dari twitter @FajarSyarifH_ @MemeComicIndo 

Saya sering banget denger orang tua bilang, "Jangan nonton kartun itu, nggak bagus buat anak-anak!" atau "Kartun ini jelek! Nggak ada pesan moralnya! Nggak mendidik!"

Jujur aja, kalimat-kalimat itu, lumayan bikin saya cukup terganggu. 

Kenapa? 

Karena masalah pesan moral atau ilmu dalam kartun itu biasanya terselip secara sembunyi-sembunyi. Nggak gamblang atau nggak terang-terangan. Itu sudah menjadi tugas orang tua untuk nerangin, "Tuh, tokoh utamanya yang pertama takut ketinggian, akhirnya bisa ngelawan rasa takutnya karena terus belajar dan berjuang!"

Makanya, dari kegelisahan saya itu... *cielah*

Saya lalu bikin postingan ini, Pesan Moral Yang Bisa Dipetik Dari Kartun di TV. Buat ngasih tau kalo ada, kok, sebuah ilmu yang dapat kita ambil dari acara kartun. 

So, here they are...

1) Tom & Jerry


Badan besar bukan berarti bisa seenaknya ngebully badan yang lebih kecil. Buktinya, Jerry selalu sukses memperdaya Tom yang secara ukuran jaaaaauuuuhhh lebih gede. Jerry bisa gitu karena ia punya banyak akal buat menghadapi tipu daya Tom. 

So, kalo kamu ngerasa minder di kelas karena badan kamu kecil, sekarang buang jauh-jauh pikiran itu di kepalamu. Terus, mulai memperkuat otot-otot otak kamu biar mampu "ngalahin" mereka yang badannya lebih besar atau mereka yang suka ngeremehin kamu.

Lalu, caranya gimana memperkuat otot-otot otak kita?

Rajin belajar.

Itu.


Doraemon



Ini punya banyak banget pesan moral yang nyelip di tiap karakter pengisinya. 

Misalkan, saya ambil sang titik fokus utama, Nobita.

Nobita: pemalas, nilai selalu jelek, selalu mengandalkan Doraemon, lemah, tidak pernah mengerjakan PR, dan selalu dimarahi Ibunya.

Orang tua yang nonton Doraemon sama anaknya, harusnya bilang gini ke anaknya:
Tuh, liat, Nobita dapet nilai jelek terus soalnya nggak mau belajar. Males. Kerjaannya tidur di rumah. Makanya, di sekolah ranking terakhir terus. Terus di rumah, akhirnya dimarahin melulu, deh, sama Ibunya.
Kayak gitu bisa jadi pesan moral, kan?

Suneo yang kaya, tapi sombong, ujungnya bikin Suneo sial sendiri. Giant yang suka nyanyi, tapi nggak sadar kalo suaranya jelek, ujungnya bikin dijauhin temen-temennya.

Banyak, kan?

Ya, jelas, dong. 


Spongebob



Lagi-lagi saya pilih kartun 'berstatus' remaja/bimbingan orang tua buat saya masukin ke daftar saya. Sekarang, giliran sang mahluk kuning, Spongebob Squarepants.

Kartun Ini kalo nggak salah pernah diprotes karena tidak mendidik. 

Saya nggak setuju.

Kalo melihat dari sudut pandang yang beda, tetep bakal ada ilmu yang bisa kita raih.

Saya ambil contoh: Patrick.

Ada yang tau pekerjaannya Patrick apa?

Nggak ada yang tau?

Beneran nggak ada yang tau?

Yak. Patrick memang nggak punya pekerjaan. Dia sesekali bantu Spongebob di Krusty Krab, tapi bukan karyawan tetap.

Sekarang pertanyaan berikutnya, ada yang tau Patrick tidurnya dimana?

Benar sekali. Di bawah batu.


Patrick -> nggak punya pekerjaan -> rumahnya di bawah batu.


Itu bisa kita bilang ke anak:
Tuh, efek dari nggak punya pekerjaan, tidurnya di bawah batu. Kamu mau tidur di bawah batu? Nggak mau, kan? Makanya, punya pekerjaan. Belajar yang rajin biar punya pekerjaan kayak Spongebob. Nanti biar bisa tidur di dalem nanas :p

Naruto




*spoiler alert!*

“Aku akan menjadi Hokage!” teriak Naruto dengan suara seraknya.

Itu kalimat Naruto yang sering banget diucapin di tiap episodenya. Dan kalo kamu udah baca ending cerita Naruto, kamu pasti udah tau dong apakah Naruto beneran jadi Hokage atau nggak?

.
.
.
.

Bener banget. Naruto dewasa beneran jadi Hokage.

Impiannya beneran jadi kenyataan

Terus kalo ditanya, apakah proses Naruto jadi Hokage itu gampang?

Beuh. Susah. Pake banget.

Buat yang ngikutin kartunnya di Global TV atau komiknya, pasti ngeh perjuangan Naruto kayak gimana. Dari pertama berguru sama Jiraiya, lawan Gaara, lawan Sasuke, lawan Akatsuki, dll.

Tapi, karena Naruto nggak pernah nyerah, Naruto akhirnya sukses jadi Hokage.

Dan itu juga berlaku buat kamu, kalo kamu nggak pernah nyerah, mau terus berjuang, mau terus kuat menghadapi tantangan, dijamin impianmu bakal tercapai.

Nah, sekarang, apakah kamu sudah punya mimpi? *gaya bicara ala agen MLM*



Itu dia beberapa pesan moral yang diambil dari sekian kartun yang ada di TV. Itu pun sebenernya masih bisa saya gali lagi, tapi saya penginnya cuma sekedar ngasih contoh aja, sisanya bisa dicari sendiri.

Sebagai penutup, saya mau bilang, pesan moral dalam suatu hal, apapun itu, bisa kita ambil kalo kita melihat dengan beragam sudut pandang. Kita bisa mengambil kesimpulan sendiri dari sesuatu yang tonton, lalu kita dapat ajarkan kesimpulan itu ke anak dengan menyelipkan pesan yang positif dan mendidik :)


Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂


- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

2 Cerita Tentang Ketidakpastian (Part 1: Kuingin Ibu Segera Sembuh)

foto diambil dari networkofislam.blogspot.com


Cerita ini terinspirasi oleh kisah pribadi.



Ya Allah…

Kita ketemu lagi…

Masih di tempat yang sama kayak biasanya, di kamarku. Dan masih kayak biasanya juga, aku mau doa yang sama kayak kemarin, dan kemarin, dan kemarinnya lagi.



Ya Allah…

Tolong sembuhin Mamaku…



Engkau pasti tau kalo Mama udah mati-matian buat sembuh. Engkau pasti tau kalo Mama udah ngelakuin banyak kemo sama minum obat banyak banget. Hampir 2 taun, ya Allah, Mama terus usaha dan usaha buat sembuh.



Tapi,

Kenapa ya Allah?

Kenapa sampe sekarang Mamaku belum sembuh-sembuh?



Aku nggak kuat ngeliat Mama terus-terusan begini. Aku kasian ngeliat Mama makin kurus, makin pucet, makin lemes. Tolong udahin penderitaan Mama, ya Allah…



Maya menghembuskan nafas.

Ia menunduk. Butiran air mata mengalir pelan di pipinya.

Jarinya mengusap air matanya, lalu Maya meraih foto berbingkai kayu di sebelahnya.



Masih inget foto ini, kan, ya Allah?

Atau, malah udah bosen sama fotoku ini?

Aku harap Engkau nggak bosen sama foto ini, soalnya aku bakal bawa foto ini dalam tiap doaku.



Ini foto keluargaku yang terakhir sebelum Mamaku divonis kena kanker.



Papa, Mama, Mas Andre, dan aku.



Coba liat ya Allah…

Liat indahnya senyum Papa…

Liat cerahnya ekspresi Mama…

Liat tawa ikhlas Mas Andre…

Kami bisa sebahagia itu sebelum penyakit itu datang, ya Allah…

Kami bisa sebahagia itu sebelum penyakit itu masuk ke rumahku, dan ngancurin keluargaku, ya Allah...



Ya Allah...

Aku mohon....

Tolong sembuhin Mamaku....

Cuma itu yang aku minta. Cuma itu doaku yang akan selalu aku ucap kepadaMu, Ya Allah.



Tolong sembuhin Mamaku...

Tolong sembuhin Mamaku...

Tolong sembuhin Mamaku...










Part 1



- @aldypradana17

- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Bersyukur di Bulan Ramadhan


Sudah semestinya, kita sebagai manusia bersyukur mendapatkan kesempatan untuk melalui sekali lagi bulan Ramadhan. Dan, akan lebih baik lagi kalo kita lebih bersyukur pada hal-hal kecil yang mungkin lumrah bagi kita, tetapi itu belum tentu umum bagi orang lain.

Misal,


Berbuka puasa dengan keluarga


Begitu menyenangkan berbuka puasa bersama keluarga. Duduk bersama di meja makan, atau di ruang tengah, menunggu datangnya adzan Maghrib sambil menggenggam segelas teh hangat. Lalu, saat adzan tiba, sekeluarga bersama-sama membaca doa berbuka puasa. Kehangatan pun datang menyelimuti ruangan, senyum pun saling menyebar menambah kenikmatan tersendiri.

Itu mungkin hal yang lumrah bagi beberapa orang.

Tetapi, apakah setiap orang mengalami hal seperti itu?

Ada beberapa orang tidak bisa berbuka puasa dengan keluarga.

Ada yang berbuka sendirian karena orang tuanya berada di kampung halaman, sedangkan dirinya masih bekerja di tempat perantauan.

Ada yang berbuka sendirian karena orang tuanya sudah tiada. Jadi, ia hanya bisa berbuka sendirian, ditemani foto orang tuanya terbingkai rapi, tertancap di dinding rumah.

Tidak semua orang mengalami keindahan berbuka puasa dengan keluarga.

Jadi, untuk orang yang masih merasakannya, sudahkah kamu bersyukur dengan apa yang kamu alami sekarang?


Berbuka puasa dengan banyak makanan dan minuman


Tempe goreng, es buah, bakwan jagung, martabak telor, es kelapa muda, mie ayam, kurma, es doger, sate ayam, dan lain-lain.

Apakah itu tadi makanan dan minuman yang lumrah yang terletak di meja makanmu?

Malah mungkin, lebih banyak lagi?

Lebih mewah lagi?

Pernahkah terpikirkan kalo tidak semua merasakan yang kamu rasakan? 

Merasakan sedapnya sate ayam berbalut bumbu kacang, merasakan manis serta dinginnya sirup menelusuri tenggorokan.

Tidak semua orang merasakan itu.

Ada orang yang hanya mampu berbuka dengan segelas aqua. Yang bahkan saat meminumnya, harus dengan bercucuran keringat di sekujur tubuh. Butir-butir keringatnya ramai hinggap di keningnya, dan ada beberapa yang meluncur pelan ke lehernya.

Saya menulis postingan sebagai pengingat kepada diri saya sendiri. Dan semoga bisa sebagai pengingat untuk para pembaca sekalian.

Mari bersyukur.

Meski cuma hal kecil.

Meski cuma hal biasa.

Meski cuma hal yang lumrah bagi kita.

Karena tidak semua orang bisa merasakan apa yang kita rasakan, dan menikmati apa yang kita nikmati sekarang.


- @aldypradana17

Untuk follow blog ini, bisa klik di sini






Tulisan ini dibuat pada tanggal  10 Juli 2015, masih sekitar seminggu lagi untuk lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Tetapi, saya ingin mengucapkan sekarang aja untuk orang-orang yang membaca postingan ini atau yang numpang lewat di blog ini.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Mungkin selama setahun berkarya di blog ini, saya pernah salah kata yang menyinggung perasaan pembaca. Saya mohon maaf, dan ke depannya saya mencoba untuk memperbaiki tulisan saya.

Dan, saya juga minta maaf untuk pembaca yang mungkin berharap blog ini rutin update postingan. Untuk selanjutnya, saya akan berusaha lebih rajin lagi updatenya, dan lebih bagus lagi kualitas menulisnya.

Sekian dari saya.

Semoga kita bisa bertemu lagi pada bulan Ramadan taun depan.

Amin.



Ini pas acara Wonderful of Sahara di SABIT. Pose tangannya nggak seperti mau maaf-maafan, yak.

Ini adik saya, Ardy, yang akhirnya pulang ke rumah setelah sempet merantau di rumah Bude

4 Cerita Tentang Jatuh Cinta Diam-Diam

Nggak disangka, blog ini sudah berumur satu tahun. Blog bernama aldypradana.com ini sempat bernama aldyond.blogspot.com, yang jujur saya sendiri nggak tau kenapa namanya begitu.

Untuk merayakan satu tahunan blog ini (dan sekalian merayakan 200.000 ribu viewers), saya ingin melakukan postingan spesial. 

Postingan berisi kumpulan cerpen tentang segala kemungkinan dari jatuh cinta diam-diam. Yang baik, yang buruk, bahkan yang terduga. 

Sekiranya, segitu aja. Nikmati cerpen pertama dari saya, dan jangan lupa buat follow blog ini, ya. 

*tiup terompet* 

*nyanyi lagu selamat ulang tahun*


***


#1  - Bayu dan Gaby

Waktu istirahat. Perpustakaan. Duduk di pojokan dekat rak buku IPA.

Dia selalu di sana.

Gaby selalu di sana.

Dan dalam jarak yang tak begitu jauh, aku mengerjakan tugas sambil melihatnya diam-diam.

Selalu.

Selalu begitu.

Aku mencuri pandangan dalam persembunyian, tak berani mengajaknya ngobrol langsung.

Ingin sekali dapat berdiri di depannya, saling bicara empat mata, lalu akrab kemudian.

Namun, apa yang ingin ku obrolkan?

Game?

Mana mengerti Gaby soal itu.

Politik?

Memangnya Gaby peduli untuk bicara hal yang amburadul seperti itu.

Buku?

Ya. Harusnya, tentang buku. Ia pasti suka bicara tentang buku. Ia selalu membaca buku di sini. Bacaannya juga bervariasi. Dari buku pengetahuan, buku islami, sampai novel.

Masalahnya, aku tak suka membaca seperti Gaby.

Aku tak betah lama-lama membaca buku. Hanya komik yang bisa membuatku duduk lama berjam-jam. Membalikkan halaman demi halaman, dari volume 1 sampai volume 10. Aku baca semuanya sekaligus tanpa jeda. Paling hanya rasa lapar atau haus, dan  kebutuhan ke kamar mandi yang mampu memisahkanku dengan komik.

Aku memaksa betah di perpustakaan hanya karena dia.

Menatapnya, senyumku terbentuk sendiri saking senangnya.

Menatapnya, hatiku meleleh, mencair karena bening wajahnya.

Menatapnya, aku merasa tenang. Setenang air sungai yang mengalir pelan.

Aku sudah lama mengaguminya. Dari awal masuk SMA, sejak pertama kali mengenalnya di MOS, aku selalu mengikuti gerak-geriknya. Mungkin, sekarang sudah hampir 1 tahun. Tapi, aku tetap tak berani bilang kalo aku menyukainya. 

Aku belum cukup berani untuk berkata cinta kepadanya.

Mungkin, lain kali. Atau malah, tidak sama sekali.

Aku sudah nyaman dengan situasiku sekarang.

Kita lihat saja nanti perkembangannya.

***

Beberapa hari kemudian saat istirahat kedua, Gaby sudah berada di perpustakaan.

Ia sudah duduk di pojok, menggenggam sebuah buku. Kali ini, sebuah novel dari Dee Lestari, berjudul Filosofi Kopi.

Ia sudah di sana dengan gaya yang sama.

Rambut dikuncir, poni tersisir rapi, jam tangan pink terikat di tangan kiri, dan bahunya  tegak, tak menempel sandaran kursi. Matanya fokus, tak ingin diganggu.

Semuanya sama.

Gaby di sana, dan aku di sini. Terpaut jarak rak buku, meja, dan kursi.

Semuanya sama. Kecuali, satu hal.

Sekarang, ada seorang cowok duduk di sebelahnya.

Aku mengernyitkan dahi.

Siapa dia? Kenapa dia duduk di sana? Kenapa dia bisa duduk di sebelah Gaby yang aku sukai?

Cowok itu lalu memanggil Gaby. Gaby menengok sambil menutup bukunya.

Ini hal yang cukup aneh. Karena biasanya, teman dekatnya saja selalu ia acuhkan kalo sudah asyik membaca. Tetapi sekarang, Gaby berbeda. Dengan cowok itu, ia berbeda.

Mereka lalu mengobrol akrab. Tawa, senyum, sentuhan halus pada lengan menyelip saat mereka saling bicara.

Kemudian, mataku merekam kejadian mengejutkan.

Saat mereka saling berpandangan, tangan mereka menyatu di bawah meja. Sembunyi-sembunyi agar tak diketahui orang banyak di perpustakaan.

Dan saat itu terjadi, badanku menggigil. Hawa dingin merangkul tubuh, membekukanku hingga membatu.

Aku pun merasa sepi.

Diantara orang yang berlalu lalang di tempat ini, diantara wangi parfum ruangan yang tersebar bersama angin AC, diantara kata-kata yang samar terucap, aku tiba-tiba merasa kosong.

Aku terdiam seperti telah terinfeksi sebuah penyakit parah, yang menyerang langsung di bagian hati.

Mungkin, inilah akibat dari jatuh cinta diam-diam.

Tak kunjung berkata apa yang sudah tersarang di hati, akhirnya malah sakit hati sendiri.

Dengan keadaan kepala masih dirubung awan hitam, aku pun beranjak dari kursi, lalu menuju pintu keluar.

Mungkin, ini sudah saatnya aku mencari perempuan lain.

Mungkin, aku akan mendapatkan pengganti Gaby yang jauh lebih baik.

Dan bila nanti aku menemukannya, aku harus berani bilang cinta kepadanya.

***

#2 - Derita Cinta Aldo

“Gimana nanti? Jadi, kan, kita nonton bareng?” kata Aldo sambil menyenggol Elma.

“Jadi dong. Langsung kumpul di XXI aja, ya.” balas Elma. “Gue nanti yang beliin tiketnya, lo pada langsung dateng on time jam 7.”

Elma menunjuk dua lelaki jomlo dengan tatapan tajam, “Dan, jangan lupa gantiin uang tiketnya. Harus bayar sebelum masuk studio, nggak pake acara utang-utangan!”

“Siap nyonya!” Aldo dan Bahri memberikan hormat ala pasukan tentara saat bertemu dengan komandannya.

Bel sekolah berbunyi, mereka lalu masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing. Sesuai kebiasaan, Aldo dan Bahri duduk paling belakang, lalu Elma dan Windi duduk paling depan. Untuk urusan seperti ini, mereka memang  berkebalikan.

Elma dan Windi rajin mengerjakan PR, Aldo dan Bahri rajin mencoret-coret meja kelas.

Elma dan Windi rajin mendapatkan nilai sempurna, Aldo dan Bahri rajin mendapatkan remedial.

Elma dan Windi rajin mencatat materi pelajaran, Aldo dan Bahri rajin tidur di kelas.

Di kelas, mereka memang berkebalikan. Tapi, di luar kelas, mereka banyak kesamaan.

Sama-sama suka karaokean. Sama-sama suka nonton bareng. Sama-sama suka nongkrong bareng

Lucunya, dalam kelompok ini, ada yang satu orang yang menyukai teman dalam kelompoknya sendiri. Orang itu bernama Aldo. Ia menyukai sahabatnya, dan sampai sekarang, belum berani menyatakan rasa cintanya.

Aldo menyukai Elma.

Jelas.

Elma cantik, ramping, berkulit cokelat mirip Agnez Mo (tapi tanpa otot kekarnya).

Aldo tidak mungkin suka dengan Windi karena ia sudah punya pacar, dan juga bukan kriterianya. Aldo juga tidak mungkin suka dengan Bahri. Karena kalo itu terjadi, cerita ini berakhir sekarang juga.

Aldo hanya suka dengan Elma.

Cuma Elma seorang.

Elma orangnya tomboy dan blak-blakan. Beberapa cowok menghindari tipe cewek seperti ini, tapi tidak dengan Aldo. Dia suka dengan cewek gagah seperti Elma. Menantang, katanya.

“Abis kita nonton, gue bakal ngomong jujur sama Elma.” seru Aldo saat sedang pelajaran di kelas.

“Ini beneran bakal kejadian?” tanya Bahri, sedikit meledek. “Soalnya, lo sering banget ngomong gitu, tapi ujungnya, tetep nggak ngomong-ngomong, tuh.”

Aldo mengepalkan tangan, matanya memicing, “Yakin! Karena sekarang, gue yakin Elma bakal nerima gue!”

(Lanjutannya hanya tersedia di konten berbayar di KaryaKarsa: https://karyakarsa.com/aldypradana17/4-cerita-tentang-jatuh-cinta-diam-diam



Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

munggah