Smackdown!




#8


If you smell, what the rock is cooking? 

Ada yang tau kalimat itu? 

Itu barusan adalah kalimat terkenal yang dipopulerkan oleh The Rock. Kata-kata ini terkenal di dunia gulat. Dan mungkin, ini menjadi salah satu quote terkenal di WWE (world wrestling of entertainment).

Kalimat di atas barusan pernah diucapkan oleh salah satu murid saya sambil menirukan gaya seperti membanting sesuatu. (Alhamdulillah, tidak ada yang terluka saat itu terjadi). 

Menanggapi hal itu, sebelum terjadi apa-apa, di postingan ini, saya cuma mau berbagi, yang mungkin tidak semua orang tau, bahwa sebenarnya WWE atau smackdown itu scripted atau fake. 



Scripted, dalam artian, sudah ada naskahnya. Sudah ditentukan siapa yang mukul duluan, membanting duluan. Kapan mukul, nendang, dan nangkis. Serta siapa yang menang dan kalah. 



Fake, dalam artian, ini bukan kejuaraan tinju seperti yang diikuti Mike Tyson. Ini bukan olahraga resmi. Ini ialah gulat profesional yang bersifat hiburan. 



Remember WWE? WORLD WRESTLING ENTERTAINMENT. 
Entertainment = hiburan 


Kalo ada orang tua, atau anak-anak membaca ini, mungkin bisa mengerti kalo smackdown adalah sandiwara berbalut gulat. 

Jadi buat anak-anak, tidak ada gunanya meniru. 

Mereka di sana sudah latihan dengan scriptnya. Sudah latihan untuk dibanting. Sudah diberitahu cara untuk memukul dan menendang yang tampak nyata, padahal (bisa aja) tidak menyentuh lawannya sama sekali. 

Buat orang tua, yang anaknya meniru smackdown, mungkin postingan ini bisa membantu. 





"Tapi kami udah tau kok. Kami kan kalo banting juga boongan, nggak kena beneran." 




The Rock waktu dipukul John Cena juga boongan. Tapi kalo ternyata, kepukul beneran, yo wes. Nanti bisa diobatin sama tim medis. The Rock juga nggak perlu bales mukul karena sadar itu murni kecelakaan.

Biaya pengobatan sudah ditanggung WWE, penonton heboh sama pertandingannya, dan akhirnya The Rock pun pulang dengan muka benjol dikit dan cek uang berjuta-juta di genggaman. 



Kalo anak-anak ngikutin, kira-kira kayak The Rock juga nggak, ya? 



*WWE / Smackdown itu scripted sudah terkenal dan diakui oleh fansnya sendiri. Saya pun pernah nonton dan sadar, saat mukul dan nendang, nggak bener-bener memberikan dampak ke lawan. Kayak pas mukul, besoknya tidak ada muka biru atau benjol. Tetep ganteng seperti biasa. So, seperti kata-kata yang bahkan ada di acara smackdownnya sendiri, sebaiknya kita don't try this at home.







- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Penikmat Film | Storyteller
Follow my blog: aldypradana.com

FB + Instagram + G+ + Twitter Youtube  

Tentang Kerja, Gaji, dan Passion

Aldy Story 07 | Tentang Kerja, Gaji, dan Passion


Terhitung tahun 2017 ini, 3 tahun sudah lalui sebagai guru. Itu pun, baru tahun ini mengajar murid-murid SD. Itulah kenapa saya tidak pernah menulis di blog tentang tips & trick cara belajar & mengajar dan lain-lain. Karena saya belum cukup pengalaman untuk itu. 

Paling yang bisa saya ceritakan adalah masa transisi. Dari kuliah ke bekerja. Dari sekolah ke kerja di suatu instansi. Transisi yang bisa dibilang nggak mulus-mulus amat. 

Karena sekolah dan kerja benar-benar sesuatu yang berbeda. 

Mungkin, iya, banyak yang bilang kerja itu enak. Dapet uang. Dapet gaji per bulan. Mandiri. Bisa beli apa-apa sendiri. 

Well, yes. You can do that. 

Tapi "gaji" bakal didapetin di akhir bulan. 

Kamu harus kerja sebulan penuh dulu baru gajian. 

Kamu harus ikutin jam kerja kantor/instansi. 

Kamu harus siap lembur, kalo atasan minta "deadline harus selesai sekarang.".

Kamu harus sadar, upload sosmed nggak bisa sebebas dulu, karena bisa berpengaruh ke tempat kerja kamu. 

Kamu harus sadar kesalahan sedikitpun, berpengaruh terhadap penilaian atasan. 

Cukup banyak teman saya, sudah lulus, cari kerja, terus dapet kerjaan, ngerasa nggak cocok, akhirnya mutusin resign. 

Ada juga, sih, yang dapet kerjaan, nggak betah sebenernya, tapi tetep kerja di situ. 

Atau, dapet kerjaan, tapi nggak nyambung blas sama kuliahnya. Gapapa sih, kalo masih sesuai sama "soulnya". Karena ada pula, yang dapet kerjaan, nggak nyambung sama kuliah, dan nggak sesuai juga sama "passionya".

Terus kenapa tetep lanjut? 


Karena yang penting dapet gaji. 


Mungkin, orang akan berbeda pendapat tentang hal ini. Tentang kesinambungan antara kerja, gaji, dan passionnya. 

Ada faktor kondisi dan situasi yang memutuskan untuk tetap kerja di situ agar bisa membiayai banyak hal. 

Kalo saya, alhamdulillah, mendapat kerja yang ternyata cocok. Walaupun dulunya nggak ada pikiran buat jadi guru. 

Nggak ada ide terlintas di kepala waktu kecil, "Aku kalo udah gede mau jadi guru."

Sama sekali tidak. Pesan moral: impossible is nothing, guys.

Kembali lagi ke pembahasan utama postingan ini, jadi kalo di kehidupan saya rumusnya begini:



Kerjanya suka + sesuai dengan passion



Cocok. 


Efeknya, menikmati dunia pekerjaan lebih enak. Nah, kalo urusan gaji, alhamdulillah cukup buat hidup, hehehe. 

Postingan ini buat untuk menjudge mana yang lebih baik, atau lebih benar. Karena yang lebih baik atau benar menurut saya itu tergantung dari pemikiran, situasi, dan kondisi tiap orang. 

Buat orang yang akan masuk ke dunia kerja, semoga tulisan saya ini bermanfaat. 







- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Penikmat Film | Storyteller
Follow my blog: aldypradana.com
FB + Instagram + G+ + Twitter Youtube  

Singkat, Jelas & Padat

Aldy Story 06 | Singkat, Jelas & Padat



Saat upacara, ada sesi pengibaran bendera, sesi berdoa, dan sesi amanat. Pada sesi amanat, umumnya guru atau kepala sekolah maju di depan para siswa, dan menyampaikan suatu pesan.

Saya masih ingat, ketika saya masih sekolah, amanat bagi saya menimbulkan banyak reaksi.

Misalnya,
“Lama banget amanatnya.”
“Pegel nih kaki.”
“Duh, pas banget kena sinar matahari. Panas.”

Atau versi yang lain,

“Yee… boleh duduk.”
“Yes, udah selesai amanatnya.”
“Lucu banget gurunya, hahahaha.”

Ada banyak reaksi. Apakah itu termasuk reaksi positif atau negatif? Silakan disimpulkan sendiri di benak masing-masing.

Kamis, 30 Maret 2017, saya berkesempatan untuk pertama kalinya menjadi inspektur upacara.

Artinya, saya akan maju, berdiri, di depan siswa, lalu menyampaikan satu-dua kata.

Mengingat saya pernah merasakan bagaimana upacara sebagai murid, ketika sesi amanat berlangsung, saya lalu menyampaikan pesan yang sederhana saja. Agar saat amanat, kata-kata saya yang tertanam di kepala mereka, bukan keluhan yang terpendam di hati mereka.

Di depan siswa, saya lalu bicara tentang pentinya rapi, tertib, dan disiplin. Isi pesan saya pun tidak dipanjang-panjangkan, tidak pula terlalu dipendek-pendekan. Saya memegang mic, dan bicara cukup santai. Meski rasa grogi masih terasa di dalam dada.

“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” tutup saya, lalu dijawab oleh para siswa.

Saya lalu mematikan mic, dan mundur satu langkah. Ketika itu semua selesai, di benak saya, ada suara kecil yang berkata, “Buat saya, amanat seharusnya begitu. Cukup singkat, jelas & padat.”


- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Penikmat Film | Storyteller
Follow my blog: aldypradana.com
FB + Instagram + G+ + Twitter Youtube  
munggah