The Secret Life of Aldy




Menurutku, setiap orang punya rahasia. Rahasia yang bener-bener ga bisa diungkapkan ke orang lain. Mungkin karena rahasia itu terlalu besar untuk diketahui semua orang atau mungkin, karena rahasia itu terlalu memalukan untuk diceritakan. Tiap orang berbeda-beda. Lalu, bagaimana dengan saya? Saya juga punya rahasia sendiri dan kali ini, saya ingin membagi rahasia besar saya di postingan ini. 

Baik, saya Rizaldy Pradana Hanindra, biasa dipanggil Aldy, atau di blog ini saya lebih suka menyebut diri saya Aldy Pradana. Lebih enak aja nyebutnya, terdengar catchy. Dulu, waktu SMA, saya pernah mengalami suatu kejadian yang merubah kehidupan saya. Saya pernah ga lulus Ujian Nasional waktu SMA, yang membuat saya harus ngambil kejar paket C di Semarang.

Saat di SMA juga, ibu saya meninggal disebabkan oleh kanker otak. Tepat di hari ketiga saya menghadapi UN, pada sore hari, saya mendapatkan berita meninggalnya beliau dari tetangga saya. Jenazah beliau dibawa dari Surabaya dan sampai di Solo jam 2 pagi, hari kamis, hari ke-4 saya UN. Beliau memang dirawat di RS Surabaya. Beliau tinggal bersama kakaknya dan adik saya di Sidoarjo. Sedangkan saya, di Solo sendirian, dan ayah  saya sedang kerja di Jakarta. 

Yah, keadaan keluarga saya  cukup kompleks pada saat itu.

SMAN 7 Surakarta

Hari keempat UN, saya layat ke pemakaman ibu saya bersama teman-teman sekolah dan seluruh keluarga besar saya (terima kasih sudah mau datang, saya sangat menghargai itu). Ibu saya, Sri Retno Handayani, sudah terkena kanker sejak saya kelas 1 SMA. 

Pertama, beliau kena kanker usus besar (waktu itu dokter menyebutnya kolon). Beliau operasi saat saya ulangan semester 2 kelas 1 SMA. Operasinya yaitu memotong usus yang terkena kanker. Alhamdulillah, operasi sukses, ibu saya akhirnya bisa sehat kembali.  Sampai pada suatu hari, saya lupa tepatnya kapan, beliau divonis kena kanker otak. Dan akhirnya, meninggal saat saya kelas 3 SMA. 

Saat SMA juga, saya pernah ngalamin galau moment level akut. Diputusin cewek, namanya Muti, dan saya ga bisa ikhlas sama ‘putus cinta’ tersebut. Muti mutusin saya pas kelas 3 SMA sebelum UN. Dalam putus cinta ini, saya berperan sebagai orang yang kalah, atau mungkin lebih tepatnya orang yang kalah telak. Kenapa? Karena saya kesulitan untuk move on. Dan susah move on ini, bikin saya jarang masuk sekolah, males belajar, dan mengurung diri di rumah. 

You know, sometimes is really hard to say goodbye to our beloved girlfriend. 

Ya intinya, saya seperti ga bisa jauh dari dia. Saya tau ini terdengar lebay, tapi itulah yang saya rasakan. 

Ada teman saya bilang, saya terlalu berlebihan menanggapi ‘putus’ ini, dan ada teman yang lain merespons biasa saja sama tingkah lebay saya. Saya sendiri masih kukuh pengin balikan sama Muti, tidak menghiraukan suara mereka.

Anehnya, setelah kejadian itu, saya seperti punya 'kebiasaan' susah move on kalo sama cewek. Kalo udah deket sama seorang cewek, penginnya deket terus, dan ga mau pisah. Kebiasaan ini sering terjadi setelah Muti mutusin saya. Walaupun, saya ga pernah pacaran setelah sama Muti, tapi saya tetep ada  temen deket cewek, dan semuanya ga berjalan baik. 


Waktu berlalu, sekarang saya sudah kuliah, dan sudah tidak berada di Solo lagi. Saya berada di Sidoarjo bersama kakaknya ibu saya dan keluarganya. Sampai kemarin, saya menemukan suatu fakta, fakta tentang kebiasaan pikiran bawah sadar saya. Fakta yang menjelaskan kenapa saya susah move on waktu SMA atau waktu make a relationship dengan cewek. Kemarin Rabu (8/1/13), saya bertemu Bu Lely, dosen saya, untuk sekedar konsultasi. Setelah lama berbincang-bincang, Bu Lely bertanya kepada saya,

"Kenapa kamu mau konsultasi dengan saya, Aldy?"

"Karena ibu wali dosen saya, dan saya nyaman sama ibu." jawab saya.

Bu Lely bertanya lagi, "Kalo gitu, kenapa kamu konsultasi sama bu Biba? Kamu pernah konsultasi dengan Bu Biba kan? Kenapa kamu ga konsultasi ke dosen lain seperti Pak Eko atau Pak Hazim?"

Saya diam sebentar, lalu bilang, "Ehm, mungkin karena faktor nyaman tadi bu? Saya lebih nyaman dengan Bu Biba dan Bu Lely daripada dengan Pak Eko atau pak Hazim, bahkan saya ga kepikiran buat konsultasi sama mereka bu."

"Nah, itu namanya mirroring, Aldy. Kamu lebih nyaman dengan sosok perempuan karena ada faktor kemiripan dengan ibu kamu. Kamu ngerasa nyaman dengan saya, dengan bu Biba, karena kami berdua punya sedikit kesamaan dengan ibu kamu, Aldy." kata beliau dengan bijaksana.

Cukup kaget mendengar perkataan itu, lalu saya bertanya kepada bu Lely, "Faktor keibuan maksudnya bu?" 

Aldy, mirroring membantu dalam konsultasi. Kamu pernah bilang, kamu lebih deket dengan ibu kamu kan daripada ayah kamu? Makanya kamu lebih betah dengan sosok perempuan, karena sudah kebiasaan dari kecil, condong ke ibu daripada ayah. Dan saya Aldy, berusaha mencari kebiasaan apa yang kira-kira kamu sukai dari ibu kamu.” jelas bu Lely.

bongkar-bongkar folder, nemu foto pas lagi nonton sang pencerah.
Udah lama banget ini kejadiannya.
Mendengar perkataan Bu Lely, saya langsung menyadari bahwa saya secara ‘tidak sadar’ sedang mencari ibu pengganti. Saya, yang meyakini bahwa saya biasa-biasa saja setelah beliau meninggal, ternyata sangat merindukan sosok beliau disamping saya. Bahkan, jika diingat-ingat lagi, saya sudah mengalami ini jauh sebelum ibu saya meninggal. Saya sudah mencari ‘sosok ibu’ didalam diri Muti untuk menjadi ibu baru, menemani saya yang kesepian tanpa teman di rumah Solo yang sepi itu. 

Dan itulah alasan kenapa saat Muti bilang ingin putus, saya seperti kehilangan arah. Saya seperti kehilangan semua hal yang saya punya. Saya menjadi sangat rapuh.

Sejak ibu saya mulai terkena kanker, saya memang jarang kumpul lagi dengan beliau. Beliau berobat ke Surabaya, karena fasilitas disana lebih bagus dan ada kakaknya yang merawat. Adik saya juga harus ikut pindah bersama ibu saya, membuat saya sendirian di rumah, tanpa siapa-siapa. Misal ada teman yang cerita keluarganya berkumpul, cerita tentang pergi berdua sama ibunya, jujur saya cemburu. Karena, saya sudah lama banget ga ngalamin hal itu.

Saya juga pengin ngerasain yang namanya kumpul sama keluarga, bercanda sama keluarga, dan yang paling penting, bisa curhat sama ibu saya. Namun, itu sudah ga mungkin saya dapatkan lagi. Ibu saya sudah tiada, sedangkan ayah dan adik saya berada di Jakarta. Dalam 2 taun terakhir ini, saya baru ketemu ayah dan adik saya 2 kali. 2 kali dalam 2 taun. Bukan sebuah keluarga yang sehat.


Foto klasik, di kanan atas adalah ibu saya wisuda

Begitulah cerita The Secret Life of Aldy, cerita ini baru saya ceritakan disini, di blog ini, saya belum sempat cerita ke orang lain, ke temen sendiri, atau ke saudara sendiri. 

Di tulisan ini, saya ingin berbagi, ingin bercerita, bahwa ternyata, ibu itu penting banget buat kehidupan saya, dan saya sangat kangen dengan beliau. Kalo kamu sendiri gimana? Pernah merasakan apa yang saya alami? Kangen sama ibu, ingin ada sosok ibu di rumah, nemenin kamu bercanda, cerita bareng, ketawa bareng, pernah merasakan itu? Atau malah sedang serumah dengan ibumu, kamu lagi ngobrol dengan beliau, lagi nonton TV berdua dengan beliau, kalo iya, manfaatkan waktu itu dengan baik, karena dari pengalaman saya, momen bersama ibu adalah momen yang paling berharga untuk saya.

Foto lama di Solo :)))


Ibu saya dan adik saya, Ardy

Foto setelah ibu saya meninggal, ada ruang kosong di kanan atas








*Tulisan ini akan ada di buku pertama saya, dengan judul yang berbeda dan bentuk tulisan yang lebih baik. Tunggu aja, saat bukunya sudah jadi, ya! :)




6 comments

a gentle reminder to all of us who still have our mom in our arms :)

great post, Aldy!

Reply

Aku terharu baca tulisanmu yang ini, Dy. Walopun gak kenal personally dengan Mbak Yani, sedih juga waktu denger beliau sakit. Trus Mas Dicky mesti bolak-balik Bandung-Surabaya. Sementara kamu di Solo. Kebayang beratnya. Kalow soal kangen sama ibu, aku juga ngerasain hal yang sama. Apalagi ibuku juga meninggal akibat kanker (kanker ovarium), dua tahun lalu. Rasa kehilangannya nggak hilang-hilang. Semoga ibu-ibu kita sudah bahagia di alam yang baru. Al Fatihah....

Reply

Mari berdoa untuk ibu kita ya mbak. :)

Reply

Hampir nangis baca tulisanmu yang ini :'''(. Pasti berat banget ya saat itu, lagi berjuang untuk UN dan dapat kabar ibumu meninggal. Mungkin kalo itu aku, aku pingsan, rapuh banget. Nggak bisa dibayangin deh. :(( Pernah mama aku sakit, sebulan di rumah sakit, momentnya pas Ramadhan, sedih banget harusnya Ramadhan bisa kumpul sama keluarga, tp mama malah lagi sakit, tiap lagi sekolah pun aku suka deg-degan sendiri kalo dapet telpon dari kakak atau ayah, takut mama kenapa-napa.
Thanks udah mau berbagi tentang ini. Bikin belajar dan rasanya mau meluk mamaa. :')

Reply

Ya memang berat sebenernya, tapi ya harus dijalanin kan.
Sama-sama, tulisan ini memang bertujuan untuk mengingat ibu kita. :)

Reply

Post a Comment

munggah