2 Cerita Tentang Ketidakpastian (Part 1: Kuingin Ibu Segera Sembuh)

foto diambil dari networkofislam.blogspot.com


Cerita ini terinspirasi oleh kisah pribadi.



Ya Allah…

Kita ketemu lagi…

Masih di tempat yang sama kayak biasanya, di kamarku. Dan masih kayak biasanya juga, aku mau doa yang sama kayak kemarin, dan kemarin, dan kemarinnya lagi.



Ya Allah…

Tolong sembuhin Mamaku…



Engkau pasti tau kalo Mama udah mati-matian buat sembuh. Engkau pasti tau kalo Mama udah ngelakuin banyak kemo sama minum obat banyak banget. Hampir 2 taun, ya Allah, Mama terus usaha dan usaha buat sembuh.



Tapi,

Kenapa ya Allah?

Kenapa sampe sekarang Mamaku belum sembuh-sembuh?



Aku nggak kuat ngeliat Mama terus-terusan begini. Aku kasian ngeliat Mama makin kurus, makin pucet, makin lemes. Tolong udahin penderitaan Mama, ya Allah…



Maya menghembuskan nafas.

Ia menunduk. Butiran air mata mengalir pelan di pipinya.

Jarinya mengusap air matanya, lalu Maya meraih foto berbingkai kayu di sebelahnya.



Masih inget foto ini, kan, ya Allah?

Atau, malah udah bosen sama fotoku ini?

Aku harap Engkau nggak bosen sama foto ini, soalnya aku bakal bawa foto ini dalam tiap doaku.



Ini foto keluargaku yang terakhir sebelum Mamaku divonis kena kanker.



Papa, Mama, Mas Andre, dan aku.



Coba liat ya Allah…

Liat indahnya senyum Papa…

Liat cerahnya ekspresi Mama…

Liat tawa ikhlas Mas Andre…

Kami bisa sebahagia itu sebelum penyakit itu datang, ya Allah…

Kami bisa sebahagia itu sebelum penyakit itu masuk ke rumahku, dan ngancurin keluargaku, ya Allah...



Ya Allah...

Aku mohon....

Tolong sembuhin Mamaku....

Cuma itu yang aku minta. Cuma itu doaku yang akan selalu aku ucap kepadaMu, Ya Allah.



Tolong sembuhin Mamaku...

Tolong sembuhin Mamaku...

Tolong sembuhin Mamaku...










Part 1



- @aldypradana17


Follow blog ini atau like page FB untuk update terus cerpen selanjutnya.

Bersyukur di Bulan Ramadhan


Sudah semestinya, kita sebagai manusia bersyukur mendapatkan kesempatan untuk melalui sekali lagi bulan Ramadhan. Dan, akan lebih baik lagi kalo kita lebih bersyukur pada hal-hal kecil yang mungkin lumrah bagi kita, tetapi itu belum tentu umum bagi orang lain.

Misal,


Berbuka puasa dengan keluarga


Begitu menyenangkan berbuka puasa bersama keluarga. Duduk bersama di meja makan, atau di ruang tengah, menunggu datangnya adzan Maghrib sambil menggenggam segelas teh hangat. Lalu, saat adzan tiba, sekeluarga bersama-sama membaca doa berbuka puasa. Kehangatan pun datang menyelimuti ruangan, senyum pun saling menyebar menambah kenikmatan tersendiri.

Itu mungkin hal yang lumrah bagi beberapa orang.

Tetapi, apakah setiap orang mengalami hal seperti itu?

Ada beberapa orang tidak bisa berbuka puasa dengan keluarga.

Ada yang berbuka sendirian karena orang tuanya berada di kampung halaman, sedangkan dirinya masih bekerja di tempat perantauan.

Ada yang berbuka sendirian karena orang tuanya sudah tiada. Jadi, ia hanya bisa berbuka sendirian, ditemani foto orang tuanya terbingkai rapi, tertancap di dinding rumah.

Tidak semua orang mengalami keindahan berbuka puasa dengan keluarga.

Jadi, untuk orang yang masih merasakannya, sudahkah kamu bersyukur dengan apa yang kamu alami sekarang?


Berbuka puasa dengan banyak makanan dan minuman


Tempe goreng, es buah, bakwan jagung, martabak telor, es kelapa muda, mie ayam, kurma, es doger, sate ayam, dan lain-lain.

Apakah itu tadi makanan dan minuman yang lumrah yang terletak di meja makanmu?

Malah mungkin, lebih banyak lagi?

Lebih mewah lagi?

Pernahkah terpikirkan kalo tidak semua merasakan yang kamu rasakan? 

Merasakan sedapnya sate ayam berbalut bumbu kacang, merasakan manis serta dinginnya sirup menelusuri tenggorokan.

Tidak semua orang merasakan itu.

Ada orang yang hanya mampu berbuka dengan segelas aqua. Yang bahkan saat meminumnya, harus dengan bercucuran keringat di sekujur tubuh. Butir-butir keringatnya ramai hinggap di keningnya, dan ada beberapa yang meluncur pelan ke lehernya.

Saya menulis postingan sebagai pengingat kepada diri saya sendiri. Dan semoga bisa sebagai pengingat untuk para pembaca sekalian.

Mari bersyukur.

Meski cuma hal kecil.

Meski cuma hal biasa.

Meski cuma hal yang lumrah bagi kita.

Karena tidak semua orang bisa merasakan apa yang kita rasakan, dan menikmati apa yang kita nikmati sekarang.


- @aldypradana17

Untuk follow blog ini, bisa klik di sini






Tulisan ini dibuat pada tanggal  10 Juli 2015, masih sekitar seminggu lagi untuk lebaran atau Hari Raya Idul Fitri. Tetapi, saya ingin mengucapkan sekarang aja untuk orang-orang yang membaca postingan ini atau yang numpang lewat di blog ini.


Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Mungkin selama setahun berkarya di blog ini, saya pernah salah kata yang menyinggung perasaan pembaca. Saya mohon maaf, dan ke depannya saya mencoba untuk memperbaiki tulisan saya.

Dan, saya juga minta maaf untuk pembaca yang mungkin berharap blog ini rutin update postingan. Untuk selanjutnya, saya akan berusaha lebih rajin lagi updatenya, dan lebih bagus lagi kualitas menulisnya.

Sekian dari saya.

Semoga kita bisa bertemu lagi pada bulan Ramadan taun depan.

Amin.



Ini pas acara Wonderful of Sahara di SABIT. Pose tangannya nggak seperti mau maaf-maafan, yak.

Ini adik saya, Ardy, yang akhirnya pulang ke rumah setelah sempet merantau di rumah Bude

munggah