Pengalaman Menjadi Konten Kreator di KaryaKarsa

KaryaKarsa adalah Platform Apresiasi Kreator.

Tempat kita dapat langsung mendukung kreator favorit dengan kesinambungan finansial. Sehingga, kreator bisa mendapatkan pendapatan bulanan langsung untuk terus berkarya.

Itu adalah informasi yang saya dapatkan dari websitenya: https://karyakarsa.com/

Terdapat pula Instagram dan Twitter di @karyakarsa_id

“Kami memang ingin para kreator ini bisa merasakan ‘gajian’ dari karya mereka,” ujar Ario Tamat, founder KaryaKarsa. “Selama ini para pekerja kreatif terbiasa bekerja secara project base, alias dapat honornya di saat yang tidak menentu.

Kreator bebas menentukan karya apa yang ditawarkan, menyajikan karya dengan cara seperti apa dan mengatur harga tiap karyanya sendiri. 

“Bebas. Mau bentuknya novel, komik, foto, webtoon, pdf, psd, embed video YouTube, kelas atau konsultasi online pakai link Google Meeet atau Zoom. Bahkan, upload lagu atau file audio, kami ada player dan viewer-nya. Jadi para pendukung tinggal menikmati karyanya,” jelas Ario.

Di KaryaKarsa, kita bisa membayar (dan dibayar) tiap konten per satuan, atau konten paketan. Pembayarannya bisa OVO, GoPay, dan semua bank.

Kreator akan mendapatkan 90% dari setiap transaksi yang terjadi pada halaman KaryaKarsanya. KaryaKarsa mengambil potongan 10% yang digunakan untuk penyelenggaraan platform.

Penasaran dengan platform ini, saya pun mencoba untuk membuat konten di sana.

Saya dulu pernah menulis buku non fiksi dan hendak saya ajukan ke penerbit. Tetapi, setelah lama berjuang, buku saya akhirnya ditolak. 

Makanya, saya coba upload cerpen-cerpennya di KaryaKarsa. Tentunya saya revisi kembali. Saya juga memindahkan cerpen terbaik dan yang bagus dari blog saya ini, ke KaryaKarsa.


Setelah saya menaruhnya di sana, dan terdapat data statistiknya.

Tiap konten saya ada viewnya. Berapa yang melihat konten saya (entah konten saya yang gratis dan yang berbayar).

Saya punya cerpen yang gratis, bisa diakses, dibaca, dan di download tanpa harus membayar. Ada opsi untuk memberikan tip dari 5 ribu sampai 20 ribu. Saya juga ada konten eksklusif, di mana harus membayar dulu baru bisa membacanya.

Saya punya 2 konten, berbayar dan gratis. Saya menaruh harga per 1 konten ekslusif, ada pula paket berlangganan untuk mengakses semua konten eksklusif selama 30 hari.

Untuk uji coba, saya minta Amel untuk membeli konten saya. Setiap pembelian atau tip yang diberikan, saya mendapatkan e-mail dari KaryaKarsa. Di KaryaKarsa saya akan tertulis, ada berapa uang yang masuk, dan di konten mana yang dibeli orang.


Uang yang masuk terbagi secara spesifik. Ada jumlah semua uang yang ada sekarang, ada uang yang dibayar per konten ekslusif, ada uang tip yang diberikan dari konten gratisan.  


Katanya, setiap tanggal 25 akan saya mendapat gaji saya. Syarat dan ketentuannya berlakunya: jika pendapatan di atas 100 ribu. (Mungkin saya salah, lengkapnya bisa lihat di website KaryaKarsa.com)


Jadi, mari saling mendukung. Semoga kita bisa mendapat yang sepantasnya dari karya kita. 


Berikut adalah apa yang saya taruh di KaryaKarsa saya.

https://karyakarsa.com/aldypradana17

Bab 1 - Ceritanya Perkenalan

Dulu sekali pernah menulis buku personal literature (2013-2015).


Buku itu saya coba ajukan ke penerbit Gagasmedia/Bukune. Saya sempat pergi ke Solo, Yogya, bahkan Jakarta.


Ini adalah cerita perjuangan saya menjadi penulis buku.


https://karyakarsa.com/aldypradana17/bab-1-ceritanya-perkenalan


Bab 2 - Manusia Putih Biru


Manusia Putih Biru adalah bab pertama yang saya tulis bersama editor Gagasmedia/Bukune.


Bab ini mengikuti saran editor: tema adaptasi secara luas & karakter ndeso yang ingin gaul. Ini adalah cerita SMP saya. 


Ketika saya ingin “eksis” di sekolah elit dengan melakukan hal keren, seperti ngeband dan ngemall. Tapi, justru selalu menemukan kesialan yang menghadang.


https://karyakarsa.com/aldypradana17/bab-2-manusia-putih-biru


Bab 3 - History of Spepy


Cerita tentang saya dan teman SMP- SMA saya, ingin membuat klub futsal. 


Kami ingin membuat nama klub yang bagus, dan desain jersey yang keren, tapi saat diskusi, yang keluar malah ide random yang tidak ada keren-kerennya sama sekali.


https://karyakarsa.com/aldypradana17/bab-3-history-of-spepy


Bab 4 - Bocah Ajaib


Cerita saya yang tidak begitu menyukai anak kecil. Saya sukanya ketenangan, dia malah memberi keributan. 


Ini adalah cerita saya dengan sepupu saya, Mera (nama disamarkan). 


https://karyakarsa.com/aldypradana17/bab-4-bocah-ajaib


Bab 5 - Dunia Mahasiswa


Cerita sangat pendek seputar Mahasiswa.


Berkisah tentang saya kuliah di kampus yang kurang terkenal, dengan teman sekelas yang lebih banyak perempuannya


https://karyakarsa.com/aldypradana17/dunia-mahasiswa


Bab 6 - Ranger Merah Sidoarjo


Cerita nonfiksi yang paling banyak unsur fiksi dan hiperbolanya. 


Cerita saya teater di TK dan kuliah benar-benar terjadi, tapi kata editor butuh drama kuat untuk menguatkan ceritanya. 


Jadilah banyak bumbu drama cukup tersebar di cerpen kali ini. 


Inti cerita: Saya punya pengalaman buruk di dunia teater, tapi dipaksa ikut teater dengan memerankan tokoh yang sangat tidak cocok dengan saya: germo. 


https://karyakarsa.com/aldypradana17/bab-6-ranger-merah-sidoarjo


Bab 7 - Audisi Stand Up Comedy


Cerita saya saat iseng mengikuti audisi stand up comedy. Ini sebenarnya ditolak editor, karena bisa merusak esensi di bab sebelumnya, Ranger Merah Sidoarjo. 


Saya kembali masukkan di sini, karena memang ingin membuat cerita yang runtut, dari saya SMP - SMA - kuliah - kerja. 


Inti cerita: Saya baru belajar komedi, iseng ingin mencoba audisi stand up comedy. Selama proses menuju audisi, saya mengalami pengalaman yang tidak mendukung. Seperti, tidak lucu saat open mic sehari sebelum audisi, dan nyasar menuju lokasi audisi. 


https://karyakarsa.com/aldypradana17/bab-7-audisi-stand-up-comedy


Bab 8 - Pertama Kali Menjadi Guru


Pada tahun 2014, saya masih berjuang menjadi penulis buku dan sedang menanti kabar dari pihak editor: apakah buku saya akan terbit atau tidak.


Sembari menunggu, saya diberitahu bahwa ada pekerjaan menjadi guru. Saya pun memutuskan untuk mencoba. Tidak disangka, saya bertemu anak yang sangat-sangat-sangat spesial di sekolah itu.


https://karyakarsa.com/aldypradana17/bab-8-pertama-kali-menjadi-guru


Bab 9 - Ketika Seorang Guru Ingin Mencari Oleh-Oleh Untuk Muridnya


Sesuai judul, ini adalah cerita saya saat pulang kampung (Solo). Setelah semua kegiatan saya selesai, saya baru teringat harus membawa oleh-oleh untuk murid di kelas saya.


Bersama teman SMP saya, kami mencari cendera mata yang paling tepat. Yaitu, oleh-oleh khas Solo dan (semoga) disukai anak-anak.


https://karyakarsa.com/aldypradana17/bab-9-ketika-guru-ingin-mencari-oleh-oleh-untuk-muridnya


Bab 10 - Kamu Nanti Mau Jadi Apa?


Inspirasi cerita ini adalah guru sekolah saya bertanya ke seluruh kelas, dan bertanya, “Kamu Nanti Mau Jadi Apa?”


Saya yang tidak tahu mau jadi apa di masa depan, akhirnya mencoba banyak hal untuk menemukan jawabannya. 


Yang ternyata, butuh perjuangan ekstra yang tak terduga.


Bab 10 ini adalah bab terakhir, yang merangkum semua cerita saya di bab-bab saya sebelumnya. 


https://karyakarsa.com/aldypradana17/kamu-nanti-mau-jadi-apa


Pengalaman Aneh Saat Menonton The Raid 1 & 2 di Bioskop


https://karyakarsa.com/aldypradana17/pengalaman-aneh-saat-menonton-the-raid-1-2-di-bioskop


3 Bukti Kalau Jatuh Cinta Itu Awal Dari Patah Hati Yang Menyakitkan


3 cerpen non-fiksi yang diambil dari pengalaman saya dan sekitar saya saat remaja. Temanya seputar jatuh cinta tidak selalu berakhir bahagia.


https://karyakarsa.com/aldypradana17/3-bukti-kalau-jatuh-cinta-itu-awal-dari-patah-hati-yang-menyakitkan


Akibat Gagal Move On


Cerita tentang teman saya yang menyimpan foto perempuan yang ia suka di dompet. Ia menyimpan foto itu dari SMP hingga kuliah. Sampai akhirnya, terjadi suatu peristiwa yang membuat harus merelakan foto tersebut.


https://karyakarsa.com/aldypradana17/akibat-gagal-move-on


4 Cerita Tentang Jatuh Cinta Diam-Diam


Kumpulan cerpen fiksi tentang segala kemungkinan dari jatuh cinta diam-diam. Yang baik, yang buruk, bahkan yang terduga.


#1 Bayu dan Gaby

#2 Derita Cinta Aldo

#3 Dua Sisi Aldrian

#4 Gaby dan Bayu 


https://karyakarsa.com/aldypradana17/4-cerita-tentang-jatuh-cinta-diam-diam



Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Kucing Tanpa Nama



Kucing ini bukan kucing peliharaan. Tapi, tiap hari dateng ke rumah, celingak-celinguk minta makan, atau cuma numpang tidur di ruang tengah. 

Kalo tiap saya mau keluar rumah atau mau masuk ke rumah, saat pintu rumah terbuka, kucingnya tiba-tiba nongol dari antah berantah mencoba menyelinap masuk. 

Kadang, pas abis pulang kerja, saat saya lagi buka pagar, kucing ini tiba-tiba udah di pintu rumah, menunggu dengan setia. Kurang jelas itu maksudnya nunggu saya atau nunggu dikasih makan. 

Kucing ini umumnya binatang yang sopan. Nggak ngeong berisik, atau buang air besar sembarangan di dalam rumah. Tetapi ini berubah ketika saya sedang makan. Dia muterin saya, seolah-olah saya mangsa berikutnya. Ia bahkan pernah duduk siaga, dengan hidung kembang kempis menghirup aroma makanan di piringnya. Seolah berkata, "Ini dia makan malamku."



Yang menyebalkan, kadang ia suka memaksa untuk meraih piring saya. Itu terjadi saat saya sedang berada di meja makan. Dia loncat ke kursi, merayap pelan diantara kursi hingga tiba di pangkuan saya. Saat sedang duduk di pangkuan,  disitulah cakarnya meraih piring saya. Saya pun mengelak, lalu menerbangkannya ke karpet. Ia lalu menatap saya. Saya menatap dia. Kami saling menatap seperti dua orang jago kungfu yang hendak berkelahi. Pertandingan tersebut kemudian saya menangkan dengan menggiringnya keluar rumah. 

Setelah dilatih untuk tidak mendekati saat ada orang yang lagi makan, kucing ini bisa dibilang jadi lebih mudah diatur. Belum bisa jadi kucing peliharaan di rumah, sih, karena ia kadang suka keluar dan kongkow di rumah yang berbeda. Tapi, bagi saya, kucing sudah jadi teman buat di rumah. Sampai sekarang, kucing ini masih tanpa nama, dan saya masih belum dapat ide yang bagus untuk menamainya. Atau mungkin, ada yang mau ngasih ide?




Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Dwilogi Cinta Yang Tak Biasa (Saat Rasa Sayang Tidak Sesuai Dengan Semestinya)



Karena sebelumnya pernah menulis banyak veri cerita cinta-cintaan ala remaja, sekarang saya mau nyoba nulis cerpen fiksi cinta dengan tema yang berbeda. Semoga tetap menarik untuk dibaca, dan bisa diambil pesan-pesan yang terselip di dalamnya. Selamat membaca :)



#1 Kerja Sepenuh Hari

[prolog]
Seorang Ayah yang terlalu mencintai pekerjaannya, selalu mengajar untuk anak orang lain, tapi tanpa sadar, menghiraukan perkembangan anaknya sendiri.


"Mau kemana, pa?" tanya Ibu.

"Ini mau ngelesin Matematika, ada beberapa murid minta les tambahan di salah satu rumah mereka." jawab sang Ayah sambil sibuk mempersiapkan motor untuk pergi.

"Ngurusin anak orang lain melulu, ngurus anak sendiri kapan?" bilang Ibu, judes.

"Lho, kan, ada kamu."

"Papa tau nggak berapa nilai ulangan Matematikanya di Rinto?"

"Tau." Ayah terdiam sejenak.

"Terus?"

"Mama bisa mulai jam belajarnya, kasih soal tambahan, kasih ...."

"Yang Rinto butuhin itu bukan tambahan soal atau tambahan belajar." potong Ibu. "Yang Rinto butuhin itu kamu. Bapaknya." 

Seketika muncul keheningan di antara mereka berdua.

"Rinto lebih nyaman belajar sama kamu." tambah Ibu, mencoba memecah jeda yang ada.

Ayah tak membalas kata-kata Ibu.

Ia hanya menghela nafas dengan berat. Tanpa menengok, ia lalu membuka pagar rumahnya, dan mendorong motornya keluar.

"Papa berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Ayah mengendarai motornya menjauhi rumah menuju ke rumah muridnya.

"Wa'alaikumussalam." jawab Ibu, lalu menutup pagar rumahintu rumah, berharap suaminya sadar suatu waktu nanti.


***

"Oke, coba mari kita koreksi." ucap Ayah, yang sekarang menjadi Pak Guru bagi murid-muridnya. "Soal nomor 1, jawabannya berapa?"

"33!" jawab serempak oleh para murid.

"Betul! Sudah pada mengerti berarti, ya. Soal nomor 2?"

"74!" masih dijawab serempak oleh para murid.

"Benar! Kalo soal nomor 3?"

"98!" jawab satu murid.

"Kok 98? 49 kali." murid yang lain menimpali.

"Bukan, yang bener itu 98!" murid-murid mulai bersitegang, mencoba mempertahankan jawabannya masing-masing.

"Sudah, sudah." Pak guru dengan sigap memotong. "Berarti ada yang belum mengerti, coba kita bahas dulu ya. Rumus segitiga kan, alas kali tinggi bagi 2. Coba alasnya berapa?"

Salah satu murid membalas, "7, pak guru."

"Terus tingginya 14. Jadi 14x7= 98." kata Pak guru.

"Tuh, kan bener." teriak salah satu murid, bangga.

"Eits, tunggu dulu. Kan belum dibagi." Pak guru memotong. "98 dibagi 2 terlebih dahulu, baru ketemu jawabannya 49. Kamu udah betul 98 nya, tapi masih belum dibagi."

"Oh, iya, ya, hehehehehe." ia menggaruk-garuk kepalanya sambil tersipu malu.

Pak guru lalu berkata, "Ya sudah, silakan dibenarkan dulu." 

Menunggu muridnya membenarkan jawabannya, beliau bertanya kepada murid yang punya rumah, "Kamu di rumah sama siapa aja?"

"Sama Bapak, Ibu, terus sama Kakak." jawab si murid.

"Tapi, kok rumahmu sepi sekali?"

"Iya, soalnya Ibu kerja sampe malem, terus Bapak kerjanya sampe ke luar kota. Jadi jarang di rumah." bilangnya dengan raut muka sedikit sendu.

Seketika Pak guru Matematika ini lalu teringat dengan kondisinya sendiri di rumah.

"Terus kamu kalo belajar gitu sama siapa?" tanya beliau.

"Kadang sama Kakak. Tapi Kakak sekarang lagi sibuk kuliah, jadi belajar sendiri deh. Makanya ini aku dikasih les tambahan sama Pak guru, biar nggak ketinggalan pelajarannya."

Kata-kata muridnya barusan menambah kuat ingatan Pak guru tentang rumah, terutama tentang anaknya, Rinto. Yang seringnya, ia lupakan karena terlalu sibuk bekerja. Ironisnya, ia bahkan lebih condong "dekat" dengan anak orang lain, daripada dengan anaknya sendiri. 

Kenyataan ini menampar keras benak Pak Guru.

"Pak guru..." salah satu murid menyela, menghamburkan pikirannya pada rumah dan anaknya. "Sudah selesai saya koreksi, pak."

"Oh, o-oke. Kalo begitu, kita bahas soal selanjutnya."

Sore berlanjut dengan ilmu yang terus bertambah. Matematika untuk para murid, dan keluarga untuk Pak Guru.


***

Matahari terbenam, kilau sinarnya tak tampak sejauh mata memandang. Bulan pun beralih mengisi langit di antara bintang-bintang. Pada saat ini, sudah menjadi jadwal rutin Rinto untuk belajar di rumah. .

"Ayo, Rinto, waktunya belajar." ajak Ibu, memanggil dari ruang tengah

"Iya, Ma." jawab Rinto, berdiri dari kursi di kamarnya. Ia lalu bersiap mengambil alat tulis dari dalam tasnya.

"Ada PR, nggak?" tanya Ibu.

"Ada bu." kata Rinto, lalu ia berkata dengan tidak semangat. "Matematika...."

Ibu menyadari perubahan suara Rinto, mencoba menenangkannya, "Ya sudah, sini yuk. Mari kita kerjain bareng."

Rinto kemudian membawa PR dan alat tulisnya mendekati Ibu.



Beberapa selang kemudian, terdengar suara motor tua. Suaranya agak kasar dan tak beraturan. Mendengarnya saja sudah terbayang berapa banyak kebulan asap yang keluar dari knalpotnya. Meskipun begitu, suara ini sudah menjadi ciri khas dan penanda kalo Ayah sudah sampai di depan rumah.

"Assalamu'alaikum." salam Ayah, membuka pintu rumah.

"Wa'alaikumussalam." jawab Ibu dan Rinto di ruang tengah, masih sibuk mengerjakan PR Matematika.

Ibu lalu berdiri dan bilang, "Papa mau teh anget?"

"Boleh."

Ayah melihat Ibu berjalan menuju dapur, meninggalkan Rinto berkumpul dengan buku yang berserakan. Dia lalu mendekati anaknya, merangkul bahunya, dan duduk di sebelahnya. "Kamu lagi ngerjain apa?" tanyanya.

"Ngerjain PR Matematika, Pa." jawab sang anak, tak semangat. "Susah."

"Masa, sih, susah? Coba Papa liat mana yang susah." ucap Ayah.

"Yang ini." tunjuk Rinto pada suatu gambar bangun datar. "Yang disuruh cari luas segitiga."

"Oh, yang itu. Coba sini Papa bantu." 

Ia lalu menatap langsung anaknya, dan bilang dengan perlahan. "Kamu tau rumus segitiga?"

"Tau. Alas x tinggi, kan?" jawab Rinto.

"Itu betul, tapi masih belum sepenuhnya benar."

"Maksudnya?" tanyanya, bingung.

"Lebih tepatnya itu..... Alas x tinggi bagi 2."

"Ooh, ada bagi duanya?"

"Yap, betul." Ayah mengangguk. "Kamu bisa kalikan dulu, lalu dibagi 2 atau kamu bisa bagi 2 salah satu angkanya dulu, baru dikalikan. Tinggal pilih, mana yang menurut kamu lebih mudah. Sekarang coba kamu kerjakan."

"Iya, pa." Rinto mengerjakan soal barusan. Dia memutuskan membagi 2 dulu, karena ia rasa lebih mudah begitu. 

Tak lama kemudian, Rinto memberikan soal jawabannya, "Ini bener nggak, Pa?" 

"Wah, cepat sekali." Ayah mengambil kertas Rinto, lalu memeriksanya.

"Jawabanmu sudah benar, Rinto."

"Udah bener?"

"Iya, sudah tepat sekali."

Ekspresi Rinto berubah perlahan, sendu yang sebelumnya tertanam, hilang digantikan senyuman kecil yang cerah.

Kemudian, Ibu datang membawa secangkir teh hangat untuk Ayah, "Ini Pa."

"Makasih, ya, Ma." tangannya meraih teh hangat tersebut, dan menyeruput sedikit demi sedikit. "Enak. Manisnya pas."

"Ma...." potong Rinto. "Barusan aku udah bisa ngerjain soal luas segitiganya. Ternyata gampang banget, Ma."

"Wah, hebatnya!" jawab Ibu, sumringah. "Ya udah dilanjutkan lagi ngerjainnya."

"Oke Ma!" Rinto lalu membaca soal berikutnya, siap mengerjakan dengan lebih semangat.

Ayah dan Ibu saling menengok, lalu menatap dalam-dalam. Seketika, Ayah mengangguk pelan ke arah Ibu, kemudian merangkul anaknya sambil melihat soal berikutnya. Ibu membalas anggukan tadi dengan senyum simpul dan rasa tenang yang hangat di dalam. Akhirnya, salah satu doanya sudah terwujud.


#2 Superhero Aktif Kreatif

[prolog]

Seorang anak yang suka superhero, setiap hari menggambar tokoh superhero favoritnya. Tapi, suatu hari, orang tuanya melarang ia menggambar superhero lagi karena menganggap itu bukan ciri anak yang pintar.


Umumnya, orang setelah bangun tidur itu mengecek handphone atau langsung ke kamar mandi karena kebelet, tapi tidak dengan Tony. Ia malah mengambil pensil dan buku gambar, mencoret-coret lembaran kosong dengan muka masih merah mengantuk.

"Karakter ini namanya Ice Kids."

"Anak kecil yang kena energi kuantum saat lagi buka kulkas di rumahnya." tambahnya.

"Kalo yang ini Target." Tony melanjutkan. "Anak yang punya kekuatan nembak ketapel selalu tepat sasaran."

Ini adalah keseharian rutin tiap pagi bagi Tony. Menuangkan mimpi yang tersirat, agar tidak cuma numpang lewat. Untuknya, mimpi memberinya segudang ide. Karakter baru, pemandangan baru, kekuatan baru.

Sesudahnya, ia menaruh buku gambar tempatnya menaruh dunia ciptaannya.  Lalu, ia pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk ibadah.

Tony melangkah dengan senyum ringan karena idenya sudah tertanam rapi di bukunya, tapi tidak dengan ibunya. Ibunya melihat buku gambar anaknya dengan sinis, masih tidak mengerti kenapa anaknya suka menggambar. 


***

"Papa udah bilang ke Tony?" tanya Ibu, sambil mengunyah sarapannya.

"Bilang apa?" 

"Itu, bentar lagi kan mau ujian sekolah. Tony harus fokus belajar."

"Oh, itu." Ayah berhenti sejenak untuk menyeruput kopi hitamnya di meja. "Nanti sore setelah Papa pulang kerja, pasti papa ingetin."

Ibu mengambil sesendok nasi gorengnya, sebelum bersiap untuk menyantapnya, ia berkata lagi, "Bagus, deh, kalo gitu. Terus soal gambarnya gimana?" 

"Kenapa emang gambarnya?"

Ibu melahap sesuap nasi goreng buatannya, kemudian menjawab, "Gambarnya juga harus dikondisikan. Gimana mau fokus ujian, kalo masih suka gambar?"

Ayah menghela napas.

"Kayaknya, nggak ada yang salah kalo Tony masih suka menggambar. Toh, dia masih bisa belajar seperti biasa, kan. Gambar nggak pernah ganggu kegiatan belajar dia, kok."

"Yakin?" Tanya Ibunya dengan tatapan tajam. "Tapi bisa aja, kan?"

Ibu menambahkan, "Ada kemungkinan gambar bisa mengganggu dia fokus. Bikin pikirannya kepecah. Lagipula gambar juga nggak bakalan bikin dia kemana-mana."

"Cuma kemungkinan, kan." potong Ayah.

"Tapi kemungkinan mengandung resiko, Pa. Kalo nilai dia jelek gimana? Kalo dia nggak lulus gimana?"

"Kalo misalkan dia tetep gambar, dan Tony tetep lulus dengan nilai bagus, gimana? Kita kan harus liat dari dua sisi juga." tambah Ayah, sekali lagi.

Ayah lalu menunjuk ke arah lemari di sebelah kanannya. Di meja bundar tempat mereka berada, terdapat lemari kaca di dekatnya. Tempat piala Tony terpajang. Terisi penuh dari rak paling atas sampai bawah. Ada yang juara satu, dua, bahkan tiga.

"Kamu liat itu?" Bilang Ayah. "Itu hasil dari kesukaan anak kamu, lho."

"Hasil dari dia menuangkan kesukaannya yang diseriusin."

"Buat Tony, gambar udah bagian dari hidupnya." jelas Ayah.

Ibu menyelesaikan sarapannya, lalu mendorong piringnya ke tengah meja dengan pelan. "Tapi piala-piala itu nggak bisa bikin nilai Matematikanya bagus. Nggak bisa bikin dia lulus ujian. Itu cuma hobi. Cuma maen-maen. Ujian bukan sesuatu yang bisa dilalui dengan maen-maen."

Ayah lalu mendorong kursinya ke belakang, meninggalkan kopinya yang masih terisi setengah gelas. Ia tak mengeluarkan kata-kata balasan untuk ucapan istrinya.


***

"Lho kenapa, Ma???" teriak Tony.

"Kamu baru baru boleh ngelanjutin gambar kalo ujian sekolah udah selesai." jawab Ibunya, tegas.

"Emang kenapa sama gambaranku?"

Ibu menjawab, "Nggak ada yang salah sama gambaranmu. Hanya sekarang bukan saat yang tepat buat ngegambar."

Tony lalu memeluk bukunya. "Nggak mau, Ma. Gambaran ini penting buat aku."

"Sudah, sini mana bukunya!" Ibu lalu mencoba meraih buku tersebut. "Sekarang itu waktunya belajar."

Tony menepis tangan ibunya.

Tak mau kalah, Ibu kemudian meraih dengan paksa buku itu.

Dengan segenap tenaga yang tersisa, Tony mempertahankan bukunya. Tempat imajinasinya tertangkap dan terabadikan.

Sampai akhirnya...

Buku itu terlepas karena tarikan yang terlalu kuat.

Buku tersebut terlempar ke atas. Menyebarkan kertas-kertas ke langit-langit kamar. Dengan lembaran kertas yang masih berjatuhan secara perlahan, Tony dan Ibunya saling tatapan penuh emosi. Satunya ingin mempertahankan mimpi dan masa depannya, satunya ingin merebut, karena itu bukan masa depan yang tepat bagi anaknya.

Kertas-kertas tadi pun mendarat di lantai kamar Tony. Hasil gambar buatan Tony menjadi berantakan karena ternyata ada beberapa kertas yang tersobek. Melihat hal itu, Tony tersimpuh, menundukkan mukanya, mencoba membereskan kertas-kertas tersebut. Air mata menetes pelan dari pipinya, hingga terjatuh mengenai kertas gambarannya.

Ayah yang mendengar keributan, lalu datang menghampiri.

"Sudah, Ma." bilangnya, menjemput Ibu untuk keluar dari kamar.

Ibunya pun mau tidak mau menuruti Ayah. 

Dengan langkah sedikit lunglai, Ibu melihat anaknya masih mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Emosinya mereda. Nafas panjang ia hembuskan. Sekarang, ia paham, pintar bukan cuma sekedar matematika. Masa depan bukan sekedar nilai. Biarkan masa depan anaknya ditentukan oleh mimpi dan cita-cita anaknya sendiri. Bukan harus mengikuti kemauan atau paksaan dari orang tuanya.




========================================



Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store




Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂




- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

munggah