3 Bukti Kalo Jatuh Cinta Itu Awal Dari Patah Hati Yang Menyakitkan


Sebenarnya, gue ingin memberi judul postingan ini dengan “Memang Benar, Jatuh Cinta Itu Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri”, tapi karena takut membawa banyak pertanyaan, gue memutuskan mengganti judul tersebut.

Lalu kenapa gue ingin ngasih judul postingan ini mirip dengan novel terbarunya Bernard Batubara? Karena inspirasi postingan ini, datang dari judul buku itu.

Gue setuju dengan premis dari Mas Bara. Gue setuju kalo jatuh cinta itu nggak cuma pengalaman indah yang berbunga-bunga, atau bahagia di akhir cerita. Ada kalanya, jatuh cinta membuat sakit tak terkira. Bahkan, sampai merasa kehilangan nyawa.

Gue pernah mengalaminya,

Misalnya,

Saat Bertemu Putri

Terjadi saat SMP, gue menyukai seorang cewek bernama Putri. Perempuan ini cukup tinggi, kulitnya hampir seputih susu, rambut hitamnya panjang menutupi punggungnya. Kadang, ia memakai bando ungu mengikat rambutnya yang lurus itu.

Sebagai secret admirer, gue cuma bisa menyukainya dari jauh. Ibarat bahasa anak muda sekarang, gue sedang mengalami jatuh cinta diam-diam.

Layaknya orang yang suka dengan seseorang, gue lalu mencari banyak hal tentangnya. Nama lengkapnya siapa, ke sekolah naik apa, dan tentunya, nomor handphonenya berapa.

Saat sudah mendapatkan nomornya, gue pengin banget sms dia. Permasalahan pun timbul: “Gimana SMSnya ya?”  

Gue inget, gue mencari-cari kalimat pembuka yang pas. Muncul beberapa opsi seperti:

-          Halouw, Leh kNaL??
-          Km cAntiQ bGt Sih, KnaLan DoNnngGGx!!
-          AiiyaNkk CinTaquUUuuH BdAdaRiQ ,,,,,,

Dulu, pas SMP, cara sms kayak begini ngetren dan terkesan gaul banget. Gue ikutin itu, dan gue ngerasa gaul. Sekarang, mengingat kejadian itu, gue ngerasa jijik sendiri.

Akhirnya, terpilih kalimat yang lebih pas dan simple,

        “Hai, Aq Aldy, Km PutRi y?”

Sms terkirim. Badan langsung panas dingin.

“Dibales nggak, ya?” kalimat yang terngiang-ngiang terus berputar di kepala.

Satu jam berlalu.

Masih nggak dibales.

Dua jam berlalu.

Ada sms masuk.

Gue buka dengan semangat, dan baca pelan-pelan isi pesannya, “ISI ULANG Rp 50RB sd 10 Januari …”

Monyet. Ternyata dari operator.

Tiga jam berlalu.

Akhirnya, ada sms lagi. Gue buka agak males sambil berharap sms ini bukan lagi dari operator.

“Y, iNi PutRi, iNi ALdY Sp yAch?”

Yes! Dia bales sms gue!

Gue balas smsnya, “InI AlDy kelas 8D, kTa sAtu SekoLaH”

Dan dimulai dari sms itu, gue pun mulai dekat dengan cewek yang gue suka (lewat SMS).

Hampir tiap hari, kami ngobrol lewat ketikan SMS. Topiknya macam-macam, bisa tentang soal ulangan yang susah banget, tentang film Indonesia paling lucu, dan paling aneh, tentang kucing kawin di depan rumah gue.

Semua sms itu gue lalui dengan perasaan senang. Sesenang Marlin waktu menemukan anaknya, Nemo. Sesenang anak kecil yang dibelikan es krim cokelat oleh ibunya. Pokoknya, semua terasa bahagia saat itu.

Gue inget, gue pernah menggambar sosok Putri di buku catatan gue. Yang kemudian, diliat temen sebangku gue, Abid.

“Gimana, Bid?” gue menunjukkan gambar Putri kepadanya. “Bagus, kan? Cantik, sama kayak aslinya?”

Abid memandang gue sinis, “Ho’oh, Dy, Cantik. Koyo ibu perawan tua sing ra tau dijamah.”

“Asem.” kata gue, singkat. Lalu, menutup buku catatan gue dan memasukkannya ke dalam tas.

“Jek smsan karo Putri, Dy?” tanyanya, mengganti topik pembicaraan.

“Masih. Ngopo?”

Abid menatap gue serius, “Kasih something ngono, Dy, spesial buat Putri. Mosok mung smsan terus?”

“Bener juga.” Gue manggut-manggut.

Perkataan Abid membuat gue berpikir. Gue harus ngasih something yang pas buat Putri.

Beberapa menit berlalu, gue mendapatkan ide. Nggak tau kenapa, gue pengin ngasih dia VCD MP3. Mungkin berdasarkan observasi gue, gue merasa dia cukup dekat dengan ‘musik’.

Gue pernah ngeliat dia jadi keyboardis saat pensi. Gue inget, dia ngebawain lagunya Ungu - Seperti yang dulu. Gue juga ingat dia pernah smsan seperti ini, “Aq LaGi SKa sAmA lAguNyA AstRid niCh. YaNG JdikAn aKU yG keDua.”

Dari situ, gue cukup yakin, MP3 adalah something yang tepat buat Putri.

Dasar nggak bakat bikin surprise, gue malah ngasih tau kalo mau kalo ngasih dia sesuatu.

*karena sms alay ternyata membuat sakit mata sang penulis, penulis memutuskan untuk menuliskan dengan bahasa Indonesia yang normal dan sehat*

“Aku pengin ngasih kamu sesuatu, lho.”
“Apa?”
“MP3 lagu Indonesia.”
“Aku nggak gitu suka sama lagu Indonesia, Aldy.”
“Lho, bukannya kamu pernah ngomong suka lagunya Astrid – Jadikan Aku Yang Kedua?”
“Iya, sih, tapi, aku lebih suka lagu barat.”
“Kayak?”
“Simple Plan, Good Charlotte, Green Day, gitu.”
“Oh gitu. Ya udah, aku kasih kamu MP3 lagu yang campur Indonesia-Barat aja.”

Setelah percakapan lewat sms itu, dengan cepat, gue pergi ke Solo Grand Mall, mencari MP3 kesukaannya Putri tersayang.

***

Besoknya, gue membawa something  buat Putri, sebuah MP3 berisi lagu-lagu kesukaannya. Hari itu, gue bersiap untuk pertama kalinya bertemu dan ngobrol langsung sama Putri.

Sesudah pulang sekolah, Putri sms, “Mana MP3nya?”

“Ada, nih, kamu kesini aja, ke gerbang ke sekolah.”

Gue lalu memasukkan handphone ke dalam kantong celana, menanti Putri datang. Selama menunggu, jujur, gue deg-degan. Jantung kayak lagi mainin musik heavy metal. Keringat mengucur deras mirip genteng bocor pas hujan. Gue grogi.

Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya Putri pun tiba.

Rambutnya dibiarkan teruai tertiup angin. Jaket hitamnya tertutup rapi, tanda bersiap untuk pulang. Dia, tampak cantik seperti biasanya. Dan, itulah pertama kalinya gue melihat Putri sedeket itu.

Ia lalu membuka tangan kanannya, menagih MP3.

Gue masih diem. Mlongo. Terlalu takjub sama kecantikannya Putri.

“Aldy, mana MP3nya?” katanya, dengan suara imut ala Catherine Wilson.

“Oh, iya.” Gue kembali ke dunia nyata, lalu membuka tas punggung gue. 

“Nih, Put, semua lagu favoritmu ada disitu.”

“Oke. Makasih, ya, Al.” ia tersenyum, lalu meninggalkan gue, menunggu dijemput orang tuanya di bawah pohon depan sekolah.

Gue sendiri masih meleleh karena bisa sedeket itu dengannya.

Walaupun sebenernya, gue ngarep pertemuan kami bisa lebih daripada itu. Gue ngarep bisa ngobrol lebih lama, lebih deket, dan lebih intim.

Saat masih membayangkan harapan yang ketinggian bersama Putri, gue melihat Putri dijemput. Biasanya, memakai motor Honda Supra Fit, orang tuanya yang menjemput, kadang ayah atau ibunya.

Tapi kali ini beda, yang menjemput, terlihat lebih muda. Seorang cowok dengan badan gagah, menggunakan banyak gelang di pergelangan tangannya, dan memakai seragam serta celana pendek warna biru. Motornya juga Satria F modifan dengan knalpot bersuara seberisik petasan.

Gue liat lebih teliti cowok itu.

Sekali lagi, gue liat lebih detail dari atas sampai bawah cowok itu.

Lalu, gue sadar.

“LHAH, ITU KAN KAKAK KELAS!” ucap gue dalam hati, terkejut.

Putri duduk dibelakang, lalu merangkul sang kakak kelas. Mereka berdua berpacu mesra diatas motor, meninggalkan gue yang cuma bengong.

“YA ALLAAAAHHH, KOOOK JAADDIIII GGIIINNNNIIIII?????????”

Gue nggak ngerti. Setau gue, Putri nggak punya pacar, dan nggak lagi deket sama cowok. Tapi, tiba-tiba dia bermesraan dengan cowok lain, tepat setelah gue ngasih sesuatu ke dia. Tepat, disaat gue ngarep lebih ke dia.

Gue menarik nafas dalam-dalam, mencoba mengerti apa yang terjadi, mencoba mengurangi rasa sakit di dada ini.

Tak tau harus berbuat apa lagi, gue memutuskan untuk pulang. Gue memutuskan untuk melupakan semua ini. Dan selama berjalan menuju tempat parkir sepeda, gue baru ngerti kalo jatuh cinta itu bisa membuat luka sesakit ini.



Saat Bertemu Terry

Lagi di Mupi, sebuah tempat rental DVD & VCD, gue bersama Terry masing-masing sedang mencari film favorit untuk dipinjam.

“Bang, kata temenku, film ini bagus lho.” katanya, menunjuk sebuah cover film horror. “Pinjem, yuk!”

Gue melihat apa yang ditunjuk Terry, lalu berkata, “Ogah, ah. Mending pinjem yang lain.”

“Bilang aja Abang takut nonton film horror. Iya, kan?” ucapnya, meledek.

“Nggak, kok.” Gue ngeles, padahal aslinya emang takut.

“Udah, ngaku aja, TAKUT KAN??” Terry makin menjadi-jadi. Mukanya jadi ngeselin, minta ditampol pake buku telepon.

Gue mencubit pipinya yang mirip bakpau itu, “DIEM NAPE! BERISIK BANGET, SIH!”

“Aduh, sakit ih, Abang jahat!” bilangnya, sambil mukulin tangan gue.

Dan disanalah, dua orang yang habis patah hati, mencoba mencari kesenangan berdua. Gue habis diputusin, dan Terry, pacarnya habis selingkuh sama temennya sendiri. Sebagai duo jomlo sakit hati, jelas kami cocok satu sama lain. Terutama soal cinta. Kami meyakini, jatuh cinta itu memang menyenangkan, tapi kalo patah hati itu sakitnya setengah mati.

Karena kami satu sekolah, tak jarang, kami berdua pulang bareng, lalu meminjam film di rentalan seperti saat ini.

“Ini aja, Ter, lucu filmnya!” Gue mengambil VCD berjudul Despicable Me, lalu memamerkannya ke Terry.

“Nggak mau, ah.” Dia menggeleng. “Abang pasti minjem film kartun melulu, kayak anak kecil!”

Gue memencet hidung peseknya, kemudian mendorongnya ke atas. Sekarang, bentuk hidungnya mirip hidung Cu Pat Kai. “Anak ini kalo ngomong kenapa mesti nyelekit, sih.”

“Ih, apaan sih, Abang.” tangan kirinya menepis tangan gue. “Udah, sana cepetan mau pinjem apa. Mesti kalo pinjem, milihnya lama banget.”

“Oke, oke.”

Gue lalu mencari lagi. Mondar-mandir dari pojok ke pojok tempat rental itu.

Sampai akhirnya, mata gue menemukan sesuatu yang menarik. Sebuah film drama romantis, diperankan oleh Joseph Gordon Levitt dan Zooey Deschanel. Sebuah film berjudul 500 Days of Summer.

“Ini aja, Ter, kayaknya bagus filmnya.”

“Ya, udah, cepet yuk.”

Lalu, kami berdua menuju ke mas-mas berbaju hitam. Terry meminjam film horror yang ia tunjuk tadi, dan gue meminjam film 500 Days of Summer.

Kami lalu keluar ke parkiran. Gue mengambil motor, kemudian bertanya ke Terry, “Kita ke rumahmu sekarang?”

“Bentar, aku mau potong rambut dulu. Temenin ya.”

“Oke.”

Mengendarai motor motor Supra hitam, kami berdua menuju salon yang berada didekat itu. Sesampainya disana, kami mengantri terlebih dahulu.

Duduk bersebelahan dengan Terry, gue menengok, memperhatikan rambutnya, 

“Bukannya rambutmu udah pendek ya?”

“Aku pengin potong lagi.” Dia lalu merapikan rambutnya. “Ini udah kebiasaanku, Bang. Abis putus, aku pasti potong rambut. Kayak buang sial gitu, deh. Ngerti kan?”

“Oooh…”

Gue memperhatikannya sekali lagi. Rambutnya hitam bergaya bob ala polwan ini sudah cukup pendek. Gaya rambutnya yang seperti itu membuat pipinya tampak chubby, dan tentunya, tomboi. Apalagi, ia suka memakai sneakers butut yang sudah bolong-bolong dan baju hitam bertuliskan Green Day. Membuatnya terlihat jauh lebih laki daripada gue.

“Kenapa, Bang? Kok ngeliatin aku terus? Aku cantik ya?” ucapnya, super pede.

“Cih.  Jempolnya Luna Maya jauh lebih cantik kali dari kamu.”

Dia lalu cemberut, memasang muka ngambek ke gue.

Cuek dengan ekspresinya, gue lalu memegang ujung rambutnya. “Emang kalo potong rambut bisa ngilangin sial gitu?”

Masih cemberut, Terry menjawab, “Bisalah. Kan beban jadi kepala jadi lebih enteng. Kerasa lebih fresh. Sama bikin aku cepet move on sama sakit hatiku yang dulu.”

“Ngaruh gitu?”

“Kalo buat aku ngaruh, Abang coba aja.” Terry memaksa gue.
Gue menolak, “Nggak, ah.”

Lalu, datang suara dari ibu-ibu pemotong rambut, “Yak, selanjutnya.”

“Tuh, giliranmu.” Gue memberitahu Terry. Dia lalu berdiri, menghampiri suara tadi. Tiba-tiba ia berhenti, lalu menengok melihat gue, “Abang, nggak mau sekalian potong rambut?”

Gue menggeleng, “Kamu aja.”

“Ya, udah. Tungguin ya.”

“Iya.”

Dia lalu duduk, bersiap untuk potong rambut. Sempat-sempatnya, ia melihat gue, lalu tersenyum lebar. Entah apa maksudnya. Gue cuma membalasnya dengan senyuman tipis.

Setelah itu, gue akhirnya duduk sendirian di sofa cokelat, menunggu seorang cewek yang berusaha move on dengan memotong rambutnya.

Cara yang lucu, pikir gue.

Ada-ada aja ya cara untuk menyembuhkan patah hati.

Gue lalu mengingat-ngingat apa yang gue lakukan saat gue patah hati. Potong rambut? Jelas nggak. Duduk di kamar sambil menatap ke luar jendela dengan ratapan sedih? Emm, pernah, sih, sejujurnya. Dengerin lagu mellow? Iya. Lagu favorit: D’masiv – Cinta Ini Membunuhku. Pas dengerin, gue mengangkat tangan ala Ryan D’masiv. Waktu itu, gue emang galau akut, sih.

Maklum, pacaran pertama kali diakhiri dengan cara yang menyakitkan.

Itu terjadi …

Saat Bertemu Ayu

Dia adalah pacar pertama gue.

Gue baru pertama kali pacaran kelas 1 SMA, umur 16 tahun. Agak telat emang. Apalagi, kalo ngeliat anak muda sekarang, anak SD aja udah banyak pacaran. Ckckck. Perkembangan zaman melaju begitu cepat ternyata.

Dari percakapan lewat SMS, kami berdua secara alami menjadi pasangan. Tanpa proses penembakan, tanpa harus ada kalimat, “Kamu mau nggak jadi pacarku?”

Di sms, kami memanggil satu sama lain dengan panggilan, “Beibh”. Masih alay memang, tapi nggak sealay panggilan “Ayah-Bunda”.

Gue inget, pacaran pertama kali itu saat nonton Twilight, film yang katanya romantis itu.

Selama di studio bioskop, gue jujur nggak ngerti sama jalan ceritanya. Gue bertanya-tanya dimana bagian romantis dari film ini? Gue cari dari adegan ke adegan, tetep nggak ketemu. Bahkan, sampai umur gue 22 (sekarang), gue masih nggak ngerti bagusnya dimana tuh film.

Ayu mengelus tangan gue, “Yang, filmnya bagus ya?”

“Iya, yang. Bagus banget.” Gue berbohong. “Pantes filmnya booming, ya. He-he-he-he.” lanjut gue diakhiri tawa yang agak maksa.

Dia lalu menatap lagi layar bioskop, menikmati tiap detik adegan di film itu. 

Gue, entah kenapa lebih suka menatap muka Ayu, dan menikmati genggaman tangannya selama film berlangsung.

I think, I love her.

Kata gue, dalam hati.

Semenjak itu, gue menikmati momen berdua bersamanya. Saat makan es buah di Kota Barat, saat kumpul bareng temen sekelas di Taman Balekambang, dan saat duduk santai dibawah pohon rindang di sekolah. Semuanya.

Semakin sering gue bertemu dengannya. Semakin gue yakin, kalo gue, sayang dia.

Hampir sebulan berlalu, gue memutuskan memberikan Ayu hadiah spesial. Nggak, bukan sebuah VCD MP3 lagi. Gue sekarang udah tau apa yang harus diberikan kepada seorang perempuan. Kepada Ayu, pacar pertama gue. Benda itu adalah …

Sebuah kalung berwarna perak, yang di tengahnya terdapat bentuk hati yang berkilau.

Gue ingin  memberikan hadiah spesial untuk orang spesial. Dan gue rasa, itulah hadiah yang tepat.

***

Sesudah makan siang di kafe kecil, gue memberikan kalung itu.

“Ini buat kamu.”

“Apa ini?” tanyanya bingung, melihat sebuah kotak abu-abu.

“Kado. Spesial buat 1 bulanan kita.” kata gue, tersenyum.

Ayu membuka kadonya, terkejut. “Kalung?”

“Iya.”

Ayu mengambilnya, mengangkatnya dari kotak, “Bagus kalungnya, yang.”

Ia menengok, memberikannya ke gue, “Tolong, pakein dong.”

Lalu, gue ambil kalung itu. Dari belakang, Gue angkat sedikit rambut yang menutupi lehernya ke atas. Wangi parfumnya menyerbak dari lehernya, semakin membuat gue bersemangat mengalungkannya ke leher Ayu.

Selesai terpasang, gue lalu mencuri ciuman di pipinya.

“Udah, yang.”

Mata kami saling berpadu. “Makasih, ya.” bilangnya, lembut.

Dan hari itu, menjadi salah satu hari terbaik dalam hidup gue.

***

Paginya, gue mencoba sms Ayu, “Yang, nanti pulangnya bareng, nggak?”

Dia nggak membalas. Sampai pulang sekolah, dia tetap nggak ada kabar.

“Mungkin, pulsanya habis. Nanti pulang sekolah, aku beliin pulsa, deh.” ucap gue dalam hati.

Sepulang sekolah, gue menghampiri kelasnya. Tapi, kata temannya, ia sudah pulang duluan. Tanpa perasaan curiga, gue pun pulang ke rumah, “Mungkin, dia lagi ada urusan.”

Sore berlalu, gue sms Ayu, dan tetap, nggak ada balasan. Masih berpikiran positif, gue masih santai-santai dengan hilangnya kabar dari Ayu.

Sampai, tepat jam 9 malam, Ayu akhirnya memberi kabar lewat SMS. Sebuah kabar yang memukul telak hati gue. Sebuah kabar yang membuktikan kalo jatuh cinta itu awal dari patah hati yang menyakitkan.

“Aldy, kayaknya kita nggak usah ketemuan lagi. Aku dari awal nggak pernah bener-bener sayang sama kamu. 

Makasih udah mau nemenin selama sebulan ini, makasih udah mau ngasih yang terbaik buat aku, dan makasih buat kalungnya. Aku bakal simpen kalung pemberianmu ini. 

Maaf, selama ini kamu cuma jadi pelampiasaan aku aja. Aku nggak bisa ngelanjutin hubungan kita. Mulai sekarang, tolong, jangan hubungi aku lagi.”

Membaca sms itu, gue nggak tau harus ngapain.

Bingung mau ngomong apa, bingung harus berbuat apa. Badan gue tiba-tiba terasa lemas seketika.

Gue langsung telepon nomor Ayu, tetapi nomornya sudah nggak bisa dihubungi. Mungkin, dia udah matiin handphonenya, atau malah, dia udah ganti nomor. Gue nggak tau.

Yang gue tau, gue kecewa.

Yang gue tau, gue merasa hampa.

Yang gue tau, pacaran pertama kali gue, ternyata cuma sebuah pelampiasaan doang.

“WOI!”

Terry membuyarkan lamunan gue tentang patah hati pertama gue.

“Abis ngelamun, Bang?”

“Hah? Eng-enggak, k-kok.” jawab gue, salah tingkah.

Gue lalu menyadarkan diri untuk kembali ke dunia sekarang. Setelah sadar gue siapa dan gue dimana, kemudian gue melihat Terry sudah selesai potong rambut.

“Rambutmu kok pendek banget?”

“Tapi, tetep cantik, kan?” lagi-lagi ia super pede.

Gue lalu berdiri, “Ya, ya, terserah kamu, deh.” Lalu, keluar dari salon tersebut, 

“Udah yuk, pulang. udah sore, nih.”

“Oke!” bilangnya, semangat.

Gue lalu mengantarkan Terry pulang.

Sehabis potong rambut, raut mukanya berubah. Ia jadi lebih sering tersenyum lebar. 

Mungkin, potong rambut itu benar-benar berpengaruh untuk dia. Dan ngeliat dia seseneng itu, ternyata bikin gue ikutan seneng. Walau kalo buat gue, mungkin potong rambut nggak akan ngefek sama sekali. Karena cara orang untuk move on pasti beda-beda.

Dan bagi gue sekarang, cara gue buat move on adalah tetap dekat dengannya. Karena tawa-tawa kecil bersamanya, mampu menyembuhkan patah hati gue.




(*)
Cerita bersama Terry barusan adalah prekuel dari salah satu bab di buku gue yang berjudul “Abang Tersayang”.

Sedangkan, buku gue sendiri akan berjudul …

Oh, iya, baru inget, gue masih belum nemu judul buat buku gue sendiri.

Pokoknya, ada bab yang berisi kelanjutan kisah gue dan Terry disitu. Sampai saat ini, bab tersebut masih belum sempet direvisi sama Mas Edo. Jadi, mari kita berdoa bersama-sama agar Mas Edo cepet ngerevisinya ya. Al Fatihah…







Para pembaca sekalian, boleh, lho follow blog ane --> aldypradana.com atau like page ane di Aldy Pradana juga tambah boleh. Thank you! :D

3 Pengalaman Aneh Saat Nonton Film di Bioskop


Gue punya hobi nonton film di bioskop sendirian. Bukan karena faktor jomlo, atau nggak punya temen, tapi gue merasa ada suatu keseruan tersendiri saat nonton sendirian. Nggak ribet, dan nggak perlu sibuk menanggapi pertanyaan dari temen, “Eh, kok dia bisa hidup lagi, sih, Dy? Jelasin dong.”

Kalo nonton sendirian, semua terasa lebih tenang dan jadi bisa lebih fokus sama cerita filmnya.

Dari kebiasaan gue ini, gue menemukan beberapa pengalaman yang cukup nyeleneh.

Misalnya,

Saat nonton The Raid

Gue inget, gue nonton di hari pertama film itu tayang, tanggal 21 Maret 2012. Di bioskop 21, Solo Grand Mall, penonton memenuhi studio itu. Gue mendapatkan posisi tempat duduk yang enak, kalo nggak salah di tengah, di kursi D.

Film dimulai, semua berjalan normal seperti seharusnya.

Iko Uwais aktingnya masih datar waktu itu. Saking datarnya, bahkan ada yang ngira kalo tokoh utamanya bukan dia, tapi Joe Taslim. Pas adegan Joe Taslim dibunuh sama Mad Dog, gue denger ada salah satu penonton ngomong, “Lho, kok jagoannya mati?”

Ternyata, tampang dan akting Joe Taslim jauh lebih jagoan daripada Iko Uwais.

Memang sih, aktingnya jauh lebih meyakinkan daripada Iko. Raut mukanya Iko kayak Kristen Stewart. Datar, dan tanpa ekspresi.

Saat asik menonton, gue memperhatikan di sebelah kanan gue ada seorang cowok berumur 30an. Memakai jaket berwarna putih, berkacamata, beramput hitam cepak. Tiap adegan sadis terpampang, tangannya selalu meremas sandaran kursi studio. Kadang, ia menutup mata, tanda kengerian.

Dan setiap ia melakukan itu, gue selalu bilang dalam hati, “Hih, dasar cowok cemen.”

Songong, ye? Hehehe.

Namun, ada orang yang jauh lebih songong dari gue waktu itu. Orang itu duduk di sebelah kiri gue. Cowok, berumur sekitar 17 taunan. Gayanya modis, tapi cenderung alay. Di sebelah kirinya, ada pacarnya, yang memeluk erat tangan cowoknya.

Kenapa gue tau sedetail itu? Karena gue memang sengaja untuk tau cowok norak ini. Gue ingin tau gimana bentuk cowok kemaki ini.

Cowok ini duduk dengan menyandarkan kakinya di kursi yang berada di depannya. Saat itu kursi depannya emang kosong, tapi tetep aja, melanggar etika menonton di bioskop.

Tiap ada adegan sadis, ia ngomong, “Anjing! Sadis banget!”

Tiap ada adegan berantem yang seru, ia teriak, “Gila, keren banget gerakannya.” Kemudian, ia meniru gerakan yang ia rasa keren, sambil mengeluarkan efek suara sendiri, “Duak! Duak! Duak!”

Pacarnya menoleh, lalu berkata, “Yang, apaan sih? Nontonnya yang tenang.” sambil menarik tangan kiri cowoknya. Tapi tetap, cowoknya nggak menggubris. Ia tetap nonton seakan-akan studio itu miliknya sendiri.

Dasar kampret.

Pengin banget negur cowok alay itu, “Mas, tolong kakinya turunin sama tingkahnya lebih sopan dikit. Ini studio bioskop, bukan kebun binatang. Pertama kali nonton di bioskop, ya?”

Tapi, kayaknya ia nggak bakalan dengerin kata-kata gue. Biasa, cowok alay kalo dinasehatin, bukannya ngebenerin perbuatannya, malah makin jadi dan makin ngeselin.

Akhirnya, gue cuma bisa pasrah dengan gayanya heboh itu. Merasa rugi telah membayar 25 ribu untuk pengalaman nonton seperti itu.

Muka gue selama nonton

Saat nonton Wreck-It Ralph

Lain lagi saat nonton film kartun ini. Gue inget, gue menonton film ini di  Cito, Surabaya. Studio itu cukup sepi, hanya sekitar 10 orang doang.

Gue (masih) menonton sendirian, dan duduk di kursi B bagian tengah. Penonton lain juga memilih bagian tengah, entah di kursi A, C, atau D. Studio yang sepi, selalu dimanfaatkan untuk mendapatkan tempat duduk yang enak.

Namun, ada yang berbeda pendapat sama opini gue barusan.

Ada satu pasangan, cowok-cewek (ya, iyalah, masak cowok-cowok, hembrong dong) yang milih kursi di bagian pojok kiri atas. Studio yang sebegitu besarnya, lalu sepi pula, bukannya dimanfaatkan untuk dapet kursi yang enak buat nonton, tapi malah milih kursi yang paling nggak enak.

Yaitu, di pojok kiri atas.

Apakah gue curiga dengan mereka?

Jelas.

Dua anak SMA, yang masih mengalami masa-masa puber, kasmaran, dan otaknya dipenuhi nafsu cinta yang menggebu-gebu. Duduk berdua di tempat sepi, gelap, dan dingin. Apa yang bisa mereka lakukan selain saling menghangatkan?

Gue coba menepis pikiran kotor itu.

Gue nikmati aja film Wreck-It Ralph sampai selesai.

Filmnya rampung, gue pun puas. Ternyata, filmnya bagus banget. Gue langsung memasukkan film ini sebagai salah satu film terbaik menurut gue.

Gue lalu berdiri, bersiap keluar dari studio. Gue melirik ke kursi bagian kiri atas, mencuri pandang kepada pasangan SMA tadi. 

Gue liat, si cewek membenarkan jaketnya. Ia menutup resleting jaket hitamnya, lalu merapikan rambutnya yang agak berantakan. Sedangkan si cowok, ia mengeluarkan seragamnya, kemudian mengencangkan ikat pinggangnya.

Gue mengembalikan pandangan ke depan, mencari tanda EXIT di studio.

Keluar dari studio, gue berkata dalam hati, “Kayaknya, pasangan tadi puas banget, deh.” sambil mencoba nggak iri karena nonton film ini sendirian.

bayangin sendiri aja mereka ngapain, nggak perlu pake gambarnya, kan?


Saat nonton The Raid 2

Ini terjadi pada Jum’at, 28 Maret 2014. 

Gue dan Abid berencana nonton The Raid 2 di hari pertama penayangan, dan di jam pertama tayang, yaitu jam 12.45. 

Masalahnya, itu sehabis solat Jum’at. Berarti, kami mau nggak mau harus ngebut, karena di jam berikutnya, kami berdua nggak bisa nonton karena punya acara lain.

Jam dinding menunjukkan pukul 12.00

Adzan sudah selesai, sekarang Khotib bersiap berceramah di atas mimbar.

“Menurutmu bakal tekan, Dy?” tanya Abid.

Tekan. Masjid iki biasane cepet, kok.” jawab gue, singkat.

15 menit berlalu, Khotib masih bersemangat berceramah.

25 menit berlalu, Khotib masih berceramah dengan menggebu-gebu.

“Hoi, ngomongmu cepet? Opone sing cepet?” tanya Abid, meledek.

“Biasane cepet, sih. Palingan abis ini selesai.” gue menjawab sambil melihat jam dinding. "Nah, kui wes rampung. Ayo, geg ndang solat, geg ndang mangkat."

Kami pun solat solat Jum'at berjamaah. Dan akhirnya, baru selesai pukul 12.35.

"10 menit sebelum film tayang, dan kita bahkan belum nyampe di bioskop XXI lho, Dy." seru Abid, lagi-lagi meledek.

"Tenang." kata gue. "Solo Square deket kok dari sini, 5 menit nyampe. Tapi, tetep, kita harus ngebut."

Dengan cepat, kami menuju parkiran motor, dan siap menuju lokasi. 

Kami melalui jalan raya yang cukup rame waktu itu. Layaknya game Minion Rush, kami meliuk-liuk melewati mobil demi mobil. Saat jalanan sepi, meski cuma beberapa meter doang, kami manfaatkan dengan menancapkan gas semaksimal mungkin.

Saking ngototnya saat ngebut, tanpa sadar, kami menyenggol salah satu spion motor. 

"HEH!" teriak sang sopir. "Padakke ki dalane mbahmu!"

Kami pun segera minta maaf (dalam hati), lalu melengos pergi masuk ke Solo Square.

Jam menunjukkan pukul 12.40

"Beneran kan 5 menit." kata gue, menoleh ke Abid. "Sekarang, tinggal beli tiketnya. Moga aja masih kebagian tempat duduk yang enak."

"Ho'oh, 5 menit. Nyopirmu ugal-ugalan ngono kui, kok." balasnya, emosi.

Gue membalas pelan, "Demi The Raid 2, Bid. Nggak pengin duduk depan sendiri, kan? Rugi lho, Bid."

"Betul juga. Nonton ndangak kui ra penak tenan."  

Sadar, misi belum selesai. Kami pun berlari ke studio XXI. Serius. Kami berlari.

Dari parkiran, kami berlari bagaikan atlet lari. Bedanya, atlet  berlari demi mengharumkan nama bangsanya. Kami berlari demi mendapatkan tiket The Raid 2. Sungguh, perbedaan yang jomplang sekali.

Saat lagi naik ke jalanan yang cukup sempit menuju pintu belakang Solo Square, ada mobil barang berjalan mundur ke arah kami.

“Awas, Bid.”

Kami lalu menempelkan diri ke dinding, menghindari mobil tadi.

Entah sopirnya lagi ngantuk atau abis minum oplosan, setirannya hampir membuat mobil itu mengenai badan kami.

What the…” bilang gue, kaget ada mobil mau menyet badan kami.

Kami lalu berusaha mengubah badan kami seperti lidi agar nggak gempeng.

“Woi, Dy.” Di sela-sela kejadian itu, sempat-sempatnya Abid memanggil. “Kita emang mau nonton The Raid, tapi ra sah ngubah uripku koyo The Raid!”

Gue cuma diam, bingung mau ngerespon apa di tengah-tengah kejadian yang aneh itu. 

Jam menunjukkan pukul 12.44

Selamat dari serangan mobil, kami langsung melanjutkan misi ke XXI.

Sampai disana, kami berjalan ke mbak-mbak penjual tiket.

“The Raid 2, mbak.” kata gue, ngos-ngosan gara-gara lari.

Mbak-mbak bermake up tebal itu lalu menunjukkan layar tempat duduk. Serentak, kami menengok ke layar.

“Oi, Bid…”

“Ternyata, The Raid 2-nya masih sepi, hehe.” sambung gue, polos.

Abid menatap tajam penuh dendam, “Asem tenan koe, Dy.” 

Kami lalu membayar dan segera masuk ke studio.

Di studio, kami berdua menikmati setiap adegan dari The Raid. Jelas, nonton film nggak pernah seribet ini sebelumnya. 







Jangan lupa follow blog ane, ya, biar bisa update terus postingan baru ane --> aldypradana.com atau like page ane di Aldy Pradana. Thank you! :D
munggah