5 Alasan Kamu Harus Liburan ke Melbourne

foto:wikipedia.org - Block Arcade

Melbourne, kota terbesar kedua di Australia, kota yang wajib banget dikunjungi kalau kamu sedang berada di Negeri Kanguru ini.

Ada banyak hal menarik yang bisa kamu temui di Melbourne, mulai dari pemandangan kota yang indah, sampai aneka ragam tempat olahraga ada di sini. Karena itu, tiket pesawat ke Australia tujuan kota ini ditawarkan oleh banyak maskapai, untuk mengakomodasi para pelancong yang ingin datang ke sana.

Nah, di postingan ini, saya akan memberikan 5 alasan kenapa kamu harus liburan ke Melbourne. Buat kamu yang bingung mau libur kemana tahun ini, silakan baca postingan berikut ini. ðŸ˜Ž


#1 

Pesona Melbourne bukan hanya sekedar menikmati keindahan di lautan lepas dengan pemandangan senja nan memukau, lho, tapi juga jalan setapak yang ada di tengah kota, yang pasti membuatmu betah jalan-jalan seharian di sana.

Contohnya, di jalan setapak di kawasan Flinders Station. Di sana, kamu bisa menelusuri Degraves Street yang dihiasi aneka graffiti memikat di setiap sudutnya. Kamu juga bisa menjelajahi Collins Street yang punya Block Arcade memukau. 

#2 

Melbourne punya banyak banget pilihan menu yang tersedia di café, restoran, dan tempat makan kaki lima yang murah meriah. Berbagai makanan tersedia, dari makanan dengan cita rasa Vietnam, India, Meksiko, Itali, dan tentunya, makanan khas dari Australia. Itu masih belum semuanya, masih banyak lagi pilihan kuliner lainnya yang bisa kamu temukan di tepi jalan. 

Kamu juga bisa mendapatkan makanan lezat di lorong-lorong kota Melbourne yang cantik. Perut kenyang, hati senang. Mata pun terpuaskan melihat pemandangan di sekitar yang memikat. Seru sekali, bukan?

foto:concreteplayground.com - the imperial melbourne

#3 

Ada Skybar (cafe teras atap) yang tersebar di berbagai penjuru kota Melbourne, menyajikan pemandangan indah dari puncak gedung. Sinar mentari menerangi gedung-gedung mencakar langit, memberikan pemandangan yang elok dan tak terlupakan. 

Ketika mentari mulai terbenam, langit senja mulai menerangi seluruh penjuru kota. Berpadu dengan hiasan cahaya yang menyeruak di antara gedung-gedung bertingkat. Pemandangan seperti ini, hanya dapat kamu abadikan dengan sempurna di Skybar, Melbourne.

Datanglah sebelum senja benar-benar tenggelam dan siapkan kameramu untuk membidik panorama yang luar biasa cantik ini. ðŸ“·


#4 

sumber:ppa.org - victoria market

Melbourne adalah kota yang tepat untuk berbelanja aneka barang menarik di Australia. Bukan di toko besar atau mall, tetapi di pasar tradisional seperti 
Queen Victoria Market yang berada di Southern Hemishpere. Di sini, kamu bisa menemukan aneka barang kerajinan hasil karya seniman setempat dan juga aneka makanan hasil penduduk sekitar. Barang dengan gaya kekinian hingga koleksi vintage ada di sini dan bisa kamu bawa pulang sebagai oleh-olehYang hobi belanja ria, wajib ke sini! ðŸ‘

#5 

Bukan tanpa alasan mengapa Melbourne dijuluki sebagai pusat olahraga dunia. Aneka macam tempat olahraga ada di sini, mulai dari stadion sepakbola, lapangan kriket kelas dunia, sampai Australian Grand Prix yang menjadi ajang lomba bergengsi di kalangan pebalap dari seluruh penjuru Bumi. 

Aneka pertandingan olahraga kelas dunia hadir di Melbourne menjadi pemicu tiket pesawat ke Australia ludes tiap kali musimnya tiba.

sumber:sfcmelbourne.com.au - australian grand prix
Orang Indonesia lebih memilih untuk membeli tiket pesawat ke Australia tujuan Sydney karena kepopuleran Sydney Opera House serta keindahan pantai Bondi yang menggoda dengan Lifeguard-nya. Namun tidak ada salahnya untuk melirik kota indah Melbourne yang jaraknya hanya 2 jam perjalanan dengan pesawat dari Sydney.

Nah, bagaimana?

Tertarik pergi ke Melbourne? ðŸ˜ƒ


Bisikan Percuma Dari Mereka


Manusia berdiri di tempat mereka berada. Melangkah pagi, terbenamkan sore. Mencari makna dalam hari. Mengais arti pada waktu. 

Sekelompok berkumpul, lalu satu pergi. Yang tersisa bicara sana sini, menyebar aura hitam merusak hati. Tawa mereka penuh benci, menggoyahkan apa-apa yang tersusun rapi. Satu pun datang kembali, kemudian mereka mengganti diri. Topeng pelangi terpasang, menutupi jiwa yang sudah lama terbenam. 

Manusia di pagi hari, binatang di sore hari. Kata terlontar seindah puisi, hati tertumpuk rasa benci. 

Sekelompok datang lagi, sekarang memenuhi ruangan sepi. Mereka bilang begini, juga begitu. Mereka protes ini, juga itu. Bulan tampak, mereka masih melanjutkan, tak henti-hentinya bercuap. Hingga pagi datang, cuma itu yang sekelompok barusan lakukan. Mengeluarkan kata, tapi tanpa rasa. Hanya bicara, tapi tanpa aksi yang nyata. 

Manusia berangkat perang, lalu berguguran di tengah medan. Manusia terbangun dalam mimpi, lalu hanya tidur di dunia nyata. 

Manusia, dasar manusia. 

Diberi tangan besi, otak berlian, tapi kenapa bisikan percuma yang digunakan?






- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini



Menangkap Momen, Mengabadikan Kenangan


Ingatan. Kenangan. Pengalaman. 

Kita mengingat banyak hal. Puluhan kejadian tak terduga. Ratusan kegiatan yang menyesakkan hati. Ribuan peristiwa bahagia, menyegarkan sanubari. 

Kita mengenang banyak hal. Masa kecil yang sangat ceria. Era remaja yang sok tahu. Dewasa yang mulai bijak. 

Kita mengalami banyak hal. Pengalaman jatuh ke lubang gelap, lalu gagal untuk bangkit. Pengalaman berdiri susah payah, kemudian melihat titik cerah di ujung jalan. Pengalaman berhasil, tapi tak ingin untuk jumawa. 


Dulu. Pernah. Tak akan terulang.

Dulu, langkah kaki terasa lebih ringan. Dulu, hangatnya rumah terlalu sulit untuk ditinggalkan. Dulu, semua mengalir dengan sederhana, tak serumit rumus matematika. 

Pernah di suatu waktu, manusia merindukan waktu yang dulu. Pernah di kala mentari datang menyambut, manusia ingin diam sejenak ketika jiwa sudah terlalu sesak untuk berontak. Pernah di saat dingin menyentuh lara, manusia membayangkan masa lalu, lalu mengharapkannya datang kembali. 

Momen berlalu, tapi teringat selalu di dalam hati. Kejadian terlewati, tapi rasanya diam di tempat, tak mau pergi. Kenangan terbesit, ingin mengalaminya lagi, tapi sadar itu tak akan terulang. 




Ini adalah kumpulan kata-kata yang dapat saya tulis, jika hendak membicarakan momen dan kenangan. Dua kata itu penting untuk saya, yang terlalu kadang terlalu sulit untuk melupakan. 

Saya kemudian diam-diam mengumpulkan, mengoleksi, dan mengurutkan dalam susunan waktu. Koleksi foto yang ada, rekaman peristiwa yang tersimpan. 

Kisah selama saya kecil, remaja, hingga dewasa direkam dalam gambar. Kalau suatu waktu rindu datang ingin mengenang, saya lalu membuka dan menatapnya. Flashback berputar sekilas dalam hitungan detik, tapi momennya, kenangannya, mengisahkan cerita yang tak terhitung. 

Makanya, saya membuat video dengan judul yang sama. Video yang berkisah tentang koleksi momen yang saya simpan, tentang kenangan yang tidak ingin saya hilangkan. 

Semoga bisa bermanfaat, dan selamat menyaksikan. 










- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini


Cerita di Sekitar Masjid


Saya sekarang memiliki ikatan tersendiri dengan masjid. Semacam, kalau tidak mengunjungi hati terasa kurang. Padahal, dulu saya tidak seperti itu. Memasukinya cuma sekali seminggu. Jika saya melewatinya, lalu saat azan berkumandang, niatan untuk menghampirinya pun tidak ada. 



Di postingan ini, saya ingin berbagi cerita seputar masjid. 


Beberapa cerita yang berkesan untuk saya, yang mungkin dapat membekas untuk semua.



1) Saya ingat, sewaktu kecil dan remaja, di kepala saya solat di masjid itu hanya solat Jum'at. Kalau Bulan Ramadan menaungi, ya berarti ditambah dengan solat tarawih. Sudah, itu saja. Tidak ada yang lain. Saya sebelumnya tidak tahu kalau solat berjamaah di masjid adalah "sunah muakad" bagi laki-laki. 

Hati saya juga belum merekah untuk membagi waktu di tempat itu.

Namun, semua itu berubah ketika ibu saya pergi

Kepergian beliau mengubah pola hidup dan pola pikir saya.

Terutama tentang sudut pandang saya tentang agama.

Saya lebih dekat denganNya karena sesudah beliau tiada, tak ada lagi tempat untuk bercerita. Dan dari situlah, saya mulai mengenal masjid.


2) Pertama kali meniatkan untuk rutin solat berjamaah di masjid itu tidak mudah. Begitu saat meniatkan rutin untuk mengaji, dan amalan-amalan sunah yang ada. 

Saya waktu datang ke masjid untuk solat dzuhur berjamaah itu rasanya bingung. 

Adzan sudah berkumandang, terus kapan iqamahnya? Kapan solatnya? 

Hati dan kepala tidak berpadu karena memang ini bukan suatu kebiasaan saya dulu.

Saya melihat sekitar, ada beberapa solat sunah 2 rekaat, beberapa mengaji, lalu lainnya, menengadahkan kedua tangannya lalu berdoa dalam hati. Mencermati itu, saya pun melakukannya. Saya mengisi waktu di antara adzan dan iqamah dengan solat sunah. Jika masih ada waktu, saya sempatkan mengaji (kalau membawa Al-Qur'an). Kalau tidak dengan berdoa, entah doa seperti doa untuk kedua orang tua, atau sekedar curhat menuangkan kegelisahan dari dalam dada.

Waktu berlalu, rasa bingung pun hilang. Rasa takut, grogi, dan tak tahu harus berbuat apa di masjid akhirnya menghilang seiring dengan pengalaman. Meski itu di masjid dekat rumah, atau masjid yang saya lewati di kala sedang perjalanan, saya tahu apa yang harus perbuat.

Dan saya tahu, saya merasakan kenyaman saat berada di masjid.


3) Pendekatan kepada Sang Maha Kuasa ini, kalau tidak salah, umur saya sekitar 18-19 tahunan. Bisa dikatakan ini memang sedikit terlambat. Teman-teman saya sudah mengenalNya jauh lebih dulu, bahkan saya pernah berguru kepada salah satu teman saya untuk mengejar ketertinggalan saya.

Iya, memang setiap orang menggendong ceritanya masing-masing. Ada yang memang dari keluarganya, agama sudah menjadi pondasi penting. Ada yang menganggap agama tidak seperti itu. Keluarga saya, contohnya. 

Tapi sesudah sadar, saya mencoba memahami betul dan melengkapi kekurangan saya. 


4) Saya pernah ibadah di masjid, di kota yang pernah saya hampiri atau singgahi. Saya pernah berada di Solo, Semarang, Sidoarjo, Surabaya, Jakarta, dan sekarang di Bekasi/Bogor. 

Di setiap kota punya ceritanya masing-masing. 

Saya pernah karena masjid terlalu penuh dan sayanya memang telat, saya akhirnya solat jum'at di tangga masjid sebelum pintu masuk. Karena kurang ideal tempatnya, posisi solat pun "harus disesuaikan" agar dapat beribadah.


Pesan moralnya, jangan pernah telat mendatangi masjid. (reminder to myself too)


Saya ingat, ada orang yang mendatangi masjid dengan kruk. Kruk itu semacam alat bantu berjalan. Salah satu kakinya di gips, dan kruk itu yang membantunya melangkah menuju masjid. Rumahnya sepertinya memang dekat dengan masjid, dan pria ini berjuang sendirian agar sampai ke masjid.

Saya tidak tahu kenapa kakinya di gips, tapi saya tahu, beliau ini lekat dengan masjid. Setiap hari "berjalan" ke masjid, dan beribadah dengan duduk (bisa dengan kursi atau duduk di bawah).

Sampai suatu hari, saya melihatnya lagi di masjid yang sama.

Kali ini, tanpa kruk, tanpa alat bantu berjalan.

Beliau sepertinya sudah sehat betul, sehingga mampu melangkah tanpa bantuan alat.

Orang-orang seperti ini memang termasuk sering saya temui di masjid. Yang kifosis (bungkuk), yang kakinya tidak mampu bertumpu dengan benar sehingga ia berjalan menggunakan dengan tangannya, dan lain-lain.

Mungkin orang-orang ini sependapat dengan saya, bahwa serumit apa pun kondisi manusia, kembali kepadaNya adalah suatu keharusan.



5) Beberapa masjid terdapat lapangan di lingkungannya. Bisa lapangan basket, atau lapangan badminton. Lapangan ini biasanya diisi oleh anak-anak tiap sorenya, bermain bersama dan berbagi canda. Permainan mereka akan terhenti kala adzan merambat, memberi tahu sudah waktunya solat.

Kata orang, "Masjid diidentikan dengan orang yang sudah sepuh." 

Kalimat itu pun lenyap, saat mereka, anak-anak ini, mendatangi masjid untuk beribadah bersama.


Sama seperti masjid megah pada umumnya, masjid yang tinggi dan besar ini tak jarang mempunyai desain arsitektur yang menggoda mata. Lengkap dengan AC dan lantai bertingkat dua hingga tiga, masjid punya fitur modern yang memberi kenyamanan lebih pada penghuninya.

Saya mendapati masjid-masjid seperti ini di lingkungan saya. 

Masjidnya begitu sejuk dan indah untuk dipandang. 

Di rak-rak bukunya, terdapat Al-Qur'an dan buku-buku islami untuk menambah ilmu.

Masjid-masjid tersebut menurut saya, memberikan kesempatan lebih agar mereka datang dan beribadah di sana. Fasilitasnya tidak hanya cukup, tapi sangat memadai. 

Namun, tidak bisa dipungkiri, masjid bukanlah urusan mewah atau megah, tapi lebih ke urusan hati. 

Terlebih lagi, urusan kenyamanan ketika sedang beribadah kepadaNya. 

DenganNya itu lebih ke menentramkan jiwa. 

Menikmati setiap doa yang terucap. Meninggalkan yang lain, mengutamakanNya terlebih dahulu.

Dimanapun letak tempat beribadahnya, bagaimanapun tempat beribadahnya, ingatlah agar terus beribadah kepadaNya.











*cerita ini hanya bermaksud menceritakan, tanpa maksud berlebih. Jika ada salah kata, saya minta maaf. Dan semoga setiap huruf yang tertulis di sini, punya makna lebih bagi pembacanya.







- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini


Berkendara Sendiri

http://www.tanahnusantara.com/wp-content/uploads/2017/07/Wisata-bekasi.jpg


Ada suatu waktu ketika saya menikmati kesendirian.

Memainkan gitar, mengulik lagu ternama. Membaca buku, meresap kata bermakna. Atau cuma sekedar duduk diam, menikmati waktu berlalu sepersekian detiknya.

Penyendiri. Iya, betul sekali. Saya memang seseorang yang seperti itu.

Tapi bukan berarti, saya kesepian. Karena sendiri dan sepi itu tidak sama artinya.

Malah, seringkali saya merasa sepi di kerumunan orang ramai, di antara tawa mereka yang tidak bisa saya ikuti.

Bagi saya, menyendiri adalah sesuatu yang saya butuhkan. Semacam obat yang menyembuhkan luka secara perlahan.

Kemarin, saya kembali menikmati nyamannya menyendiri.

Saya berkendara sendiri untuk membeli sepasang sepatu di suatu mall, di tengah kota Bekasi. Sepatu hitam slip on, yang bertujuan untuk mempermudah urusan mengikat tali sepatu, karena hidup sudah ribet, tidak usahlah dibuat kompleks dengan harus mengikat tali sepatu.

Sepatunya terbeli, ukuran 44 (dimana saya masih heran kenapa ukuran kaki saya terus bertambah), yang kemudian langsung saya coba untuk merasakan empuknya.

Saya keluar dari mall tersebut, mengendarai motor dengan lebih santai. Lampu-lampu jalan menemani, bersama dengan angin malam yang terlalu sejuk untuk dilupakan.

Tarikan gas melaju perlahan, macetnya jalan saya lalui dengan tenang tanpa harus membunyikan klakson tiap 5 detik sekali.

Saya lihat gedung tinggi mencabik langit, menarik sekali untuk diabadikan. Pikiran saya mengawang, “Seandainya saya bawa kamera saya, pasti saya sudah di tepi jalan memotret puluhan foto gedung itu.”

Saya lihat warung dengan format lesehan, mengingatkan saya dengan kampung halaman. Pikiran saya kembali ke masa lalu, “Seandainya saya bisa pulang ke Solo, bertemu lagi sahabat di sana, pasti hari itu menjadi hari terbaik dalam hidup saya.”

Menarik sekali, memang.

Berkendara sendiri, menatapi tiap detil yang terlewati dapat membuat pikiran terbang ke awan.

Saya bisa merasa senang, karena apa yang saya temui mengingatkanku dengan sesuatu.

Saya juga merasa sedih, karena apa yang saya lihat mengingatkanku dengan seseorang.

Apa pun itu, perasaan nostalgia atau fantasi masa depan yang belum tercapai, menjadi perjalanan yang melekat di pikiran.

Dan saya menikmati sekali perjalanan kemarin.







- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

munggah