4 Cerita Tentang Jatuh Cinta Diam-Diam

Nggak disangka, blog ini sudah berumur satu tahun. Blog bernama aldypradana.com ini sempat bernama aldyond.blogspot.com, yang jujur saya sendiri nggak tau kenapa namanya begitu.

Untuk merayakan satu tahunan blog ini (dan sekalian merayakan 200.000 ribu viewers), saya ingin melakukan postingan spesial. 

Postingan berisi kumpulan cerpen tentang segala kemungkinan dari jatuh cinta diam-diam. Yang baik, yang buruk, bahkan yang terduga. 

Sekiranya, segitu aja. Nikmati cerpen pertama dari saya, dan jangan lupa buat follow blog ini, ya. 

*tiup terompet* 

*nyanyi lagu selamat ulang tahun*


***


#1  - Bayu dan Gaby

Waktu istirahat. Perpustakaan. Duduk di pojokan dekat rak buku IPA.

Dia selalu di sana.

Gaby selalu di sana.

Dan dalam jarak yang tak begitu jauh, aku mengerjakan tugas sambil melihatnya diam-diam.

Selalu.

Selalu begitu.

Aku mencuri pandangan dalam persembunyian, tak berani mengajaknya ngobrol langsung.

Ingin sekali dapat berdiri di depannya, saling bicara empat mata, lalu akrab kemudian.

Namun, apa yang ingin ku obrolkan?

Game?

Mana mengerti Gaby soal itu.

Politik?

Memangnya Gaby peduli untuk bicara hal yang amburadul seperti itu.

Buku?

Ya. Harusnya, tentang buku. Ia pasti suka bicara tentang buku. Ia selalu membaca buku di sini. Bacaannya juga bervariasi. Dari buku pengetahuan, buku islami, sampai novel.

Masalahnya, aku tak suka membaca seperti Gaby.

Aku tak betah lama-lama membaca buku. Hanya komik yang bisa membuatku duduk lama berjam-jam. Membalikkan halaman demi halaman, dari volume 1 sampai volume 10. Aku baca semuanya sekaligus tanpa jeda. Paling hanya rasa lapar atau haus, dan  kebutuhan ke kamar mandi yang mampu memisahkanku dengan komik.

Aku memaksa betah di perpustakaan hanya karena dia.

Menatapnya, senyumku terbentuk sendiri saking senangnya.

Menatapnya, hatiku meleleh, mencair karena bening wajahnya.

Menatapnya, aku merasa tenang. Setenang air sungai yang mengalir pelan.

Aku sudah lama mengaguminya. Dari awal masuk SMA, sejak pertama kali mengenalnya di MOS, aku selalu mengikuti gerak-geriknya. Mungkin, sekarang sudah hampir 1 tahun. Tapi, aku tetap tak berani bilang kalo aku menyukainya. 

Aku belum cukup berani untuk berkata cinta kepadanya.

Mungkin, lain kali. Atau malah, tidak sama sekali.

Aku sudah nyaman dengan situasiku sekarang.

Kita lihat saja nanti perkembangannya.

***

Beberapa hari kemudian saat istirahat kedua, Gaby sudah berada di perpustakaan.

Ia sudah duduk di pojok, menggenggam sebuah buku. Kali ini, sebuah novel dari Dee Lestari, berjudul Filosofi Kopi.

Ia sudah di sana dengan gaya yang sama.

Rambut dikuncir, poni tersisir rapi, jam tangan pink terikat di tangan kiri, dan bahunya  tegak, tak menempel sandaran kursi. Matanya fokus, tak ingin diganggu.

Semuanya sama.

Gaby di sana, dan aku di sini. Terpaut jarak rak buku, meja, dan kursi.

Semuanya sama. Kecuali, satu hal.

Sekarang, ada seorang cowok duduk di sebelahnya.

Aku mengernyitkan dahi.

Siapa dia? Kenapa dia duduk di sana? Kenapa dia bisa duduk di sebelah Gaby yang aku sukai?

Cowok itu lalu memanggil Gaby. Gaby menengok sambil menutup bukunya.

Ini hal yang cukup aneh. Karena biasanya, teman dekatnya saja selalu ia acuhkan kalo sudah asyik membaca. Tetapi sekarang, Gaby berbeda. Dengan cowok itu, ia berbeda.

Mereka lalu mengobrol akrab. Tawa, senyum, sentuhan halus pada lengan menyelip saat mereka saling bicara.

Kemudian, mataku merekam kejadian mengejutkan.

Saat mereka saling berpandangan, tangan mereka menyatu di bawah meja. Sembunyi-sembunyi agar tak diketahui orang banyak di perpustakaan.

Dan saat itu terjadi, badanku menggigil. Hawa dingin merangkul tubuh, membekukanku hingga membatu.

Aku pun merasa sepi.

Diantara orang yang berlalu lalang di tempat ini, diantara wangi parfum ruangan yang tersebar bersama angin AC, diantara kata-kata yang samar terucap, aku tiba-tiba merasa kosong.

Aku terdiam seperti telah terinfeksi sebuah penyakit parah, yang menyerang langsung di bagian hati.

Mungkin, inilah akibat dari jatuh cinta diam-diam.

Tak kunjung berkata apa yang sudah tersarang di hati, akhirnya malah sakit hati sendiri.

Dengan keadaan kepala masih dirubung awan hitam, aku pun beranjak dari kursi, lalu menuju pintu keluar.

Mungkin, ini sudah saatnya aku mencari perempuan lain.

Mungkin, aku akan mendapatkan pengganti Gaby yang jauh lebih baik.

Dan bila nanti aku menemukannya, aku harus berani bilang cinta kepadanya.

***

#2 - Derita Cinta Aldo

“Gimana nanti? Jadi, kan, kita nonton bareng?” kata Aldo sambil menyenggol Elma.

“Jadi dong. Langsung kumpul di XXI aja, ya.” balas Elma. “Gue nanti yang beliin tiketnya, lo pada langsung dateng on time jam 7.”

Elma menunjuk dua lelaki jomlo dengan tatapan tajam, “Dan, jangan lupa gantiin uang tiketnya. Harus bayar sebelum masuk studio, nggak pake acara utang-utangan!”

“Siap nyonya!” Aldo dan Bahri memberikan hormat ala pasukan tentara saat bertemu dengan komandannya.

Bel sekolah berbunyi, mereka lalu masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing. Sesuai kebiasaan, Aldo dan Bahri duduk paling belakang, lalu Elma dan Windi duduk paling depan. Untuk urusan seperti ini, mereka memang  berkebalikan.

Elma dan Windi rajin mengerjakan PR, Aldo dan Bahri rajin mencoret-coret meja kelas.

Elma dan Windi rajin mendapatkan nilai sempurna, Aldo dan Bahri rajin mendapatkan remedial.

Elma dan Windi rajin mencatat materi pelajaran, Aldo dan Bahri rajin tidur di kelas.

Di kelas, mereka memang berkebalikan. Tapi, di luar kelas, mereka banyak kesamaan.

Sama-sama suka karaokean. Sama-sama suka nonton bareng. Sama-sama suka nongkrong bareng

Lucunya, dalam kelompok ini, ada yang satu orang yang menyukai teman dalam kelompoknya sendiri. Orang itu bernama Aldo. Ia menyukai sahabatnya, dan sampai sekarang, belum berani menyatakan rasa cintanya.

Aldo menyukai Elma.

Jelas.

Elma cantik, ramping, berkulit cokelat mirip Agnez Mo (tapi tanpa otot kekarnya).

Aldo tidak mungkin suka dengan Windi karena ia sudah punya pacar, dan juga bukan kriterianya. Aldo juga tidak mungkin suka dengan Bahri. Karena kalo itu terjadi, cerita ini berakhir sekarang juga.

Aldo hanya suka dengan Elma.

Cuma Elma seorang.

Elma orangnya tomboy dan blak-blakan. Beberapa cowok menghindari tipe cewek seperti ini, tapi tidak dengan Aldo. Dia suka dengan cewek gagah seperti Elma. Menantang, katanya.

“Abis kita nonton, gue bakal ngomong jujur sama Elma.” seru Aldo saat sedang pelajaran di kelas.

“Ini beneran bakal kejadian?” tanya Bahri, sedikit meledek. “Soalnya, lo sering banget ngomong gitu, tapi ujungnya, tetep nggak ngomong-ngomong, tuh.”

Aldo mengepalkan tangan, matanya memicing, “Yakin! Karena sekarang, gue yakin Elma bakal nerima gue!”

(Lanjutannya hanya tersedia di konten berbayar di KaryaKarsa: https://karyakarsa.com/aldypradana17/4-cerita-tentang-jatuh-cinta-diam-diam

munggah