Cerita Yang Tak Terpakai (1)

Kalo misalkan kalian udah membaca postingan gue tentang perjuangan menjadi penulis buku (part 1 dan part 2), kalian pasti ngerti gue sedang rajin-rajinnya membuat cerita komedi. Nah, dari sekian banyak cerita yang gue tulis, ada satu cerpen yang kata Mas Syafial harus dirubah total. 

Menurut beliau, cerpen ini gak berasa seperti 'cerpen'. Jatuhnya lebih ke jurnal pribadi. Dan setelah gue baca-baca lagi, ternyata memang bener. Lebih kayak catatan pribadi atau diary gitu, gak ada konflik dan semacamnya. Oleh karena itu, cerpennya harus dirubah. Mengambil premis kecil dari salah satu adegan di 'cerpen tapi bukan' tadi, Mas Syafial menyuruh gue untuk mengembangkannya, dimana sedang gue kerjakan sekarang.

Lalu, ada pertanyaan dari hati, "Terus 'cerpen tapi bukan' ini gimana? Dibuang sayang, masa gak kepake?"

Akhirnya, gue mengambil jalan untuk menaruh cerita itu di blog. Disini. Di blog gue. Mungkin, akan banyak kekurangan di 'cerpen tapi bukan' ini, tapi gapapa, karena ini merupakan cerpen pertama yang gue buat dalam naskah ini. Hanya sekitar 20% dari cerita dibawah ini, yang gue putuskan untuk 'tetap ada', dan sisanya harus terhapus tombol backspace di laptop adik gue. 

Perjuangan Menjadi Penulis Buku (part 2)

Melanjutkan dari kisah sebelumnya, ternyata gue masih perlu menguras otot dan keringat lagi untuk mewujudkan salah satu cita-cita gue ini.  

Di Jakarta, atau lebih tepatnya di Bekasi, gue tinggal bersama ayah. Sedangkan adik gue, Ardy, sekolah di Jakarta, tinggal bareng tante gue, dan baru bergabung bersama keluarga aslinya waktu liburan aja.  

Di cerita sebelumnya, naskah gue udah di acc sama Mas Bara, lalu tahap berikutnya, naskah itu masih harus dirapatkan lagi di kantor pusat, kantor gagasmedia Jakarta, dirundingkan soal kelayakannya terbit atau tidak. Nah, jika ternyata udah 'deal' buat diterbitkan, barulah naskah tadi diperlanjutkan ke tahap editing yang bakalan 'duet' bareng editor.

Dan dari hasil rapat mengenai naskah gue adalah ..... 


Gak ada.  


Mas Bara lupa bawa naskah gue saat rapat bulanan naskah baru itu. Jadinya, gue harus mengulang lagi, ngeprint lagi, dan ke penerbit lagi, demi mendapatkan ucapan, "Naskah kamu akan kami terbitkan, Aldy.'' 


Hidup itu susah ya jenderal. *puk puk kepala sendiri*

Cinta Tanpa Rasa

Pada beberapa hari yang lalu, Koh @amrazing memberikan tantangan menulis ke followernya. Tantangan begini: 

Buatlah cerita yang berpremis:  

What if you're think you're in love but the truth is you just don't wanna be alone? 
What if the love you think deserve is merely a companionship?  
What if someday it really hits you hard that you never love the one you're with, you just think you did?  
What if you keep the relationship just because people around you think you two are meant to be while you feel don't belong?  
What if when you tried to walk away from the one you think you love but you couldn't because s/he genuinely loves you? 

Kompleks ya? Penulis profesional emang jago bener bikin ginian. 

4 Kriteria Film Berkualitas


Hai! Udah gak lama gak update blog kayaknya. Sebagai comeback yang manis ke dunia penulisan di blog cantik nan membahana ini, gue ingin membagi pikiran soal ''Kriteria Film itu Bagus atau Jelek'' versi gue. Isinya jelasin kenapa gue suka sama film si A, si B, judul C, dan judul D. Kenapa film A lebih bagus dari film B, dan lain-lain. Tanpa banyak kata-kata lagi, langsung aja lanjut ke nomor 1. 
munggah