Sunset di Pulau Seribu



Pinggir pantai terpenuhi orang-orang dengan kamera di tangan. Mengabadikan momen terbenamnya sang surya bersama orang yang dicinta. Berlarian ke sana kemari, mencari sudut yang tepat. Jari menyentuh pasir, lalu menuliskan nama orang yang disayang. Diantara kerumunan itu, terselip dua orang yang sudah melakukan itu semua.


“Udah foto-fotonya?” lirik sang pria, dengan tatapan satir.

“Belum, emang kenapa?”

“Selfie melulu dari tadi. Sampe lupa kalo ada orang di sebelahnya.”

“Kamu juga dari tadi ngerekam video juga, kan, buat vlog.”

“Tapi, kan cuma sebentar, nggak kayak kamu. Lama.” tangannya lalu menengadah. “Mana coba liat hasil selfienya.”

“Nggak, ah, nanti kamu suka.” menolak tangannya, lalu memasukkan hp ke kantong celana.

“Halah.”

“Hihihihi. Udah, yuk, makan. Laper.”

“Kamu aja yang pesen. Aku masih kenyang.”

“Oke deeh….” bilangnya, sambil menjauh dari kursi kayu.



-10 menit berlalu-



Dengan posisi tertidur, dan mata terbuka cuma segaris, ia bertanya, “Pesen apa?”

“Cuma kentang goreng sama es kelapa.”

“Ada gitu kentang goreng di pantai?” ucapnya, heran.

“Ada kok. Barusan aku beli.”

“Kayaknya nggak cocok makan french fries di pantai.”

“Biarin. Kamu bawel, deh.”

Sang pria lalu mendekat, dan berbisik tepat di telinga, “Inget, bawel-bawel gini, orang ini lho yang ngasih cincin di jari manis kamu.”

“Iye-iye.” balasnya sambil mendorong muka pasangannya jauh-jauh.

“Hehehehe.” tawanya, dengan nada mengejek. ”Terus, gimana???”

“Gimana apanya?”

Mengubah posisi duduknya, sang pria bertatap muka dengan sang perempuan.

“Kita. Ke depannya.”

“Ke depan maksudnya? Kalo ngomong yang jelas napa?”

Duduk semakin bergeser, mendekati pasangannya,



“Itu lho…”



“Anak…”



“Baru juga mulai, udah mikirin anak aja.” katanya, cuek. Seolah tak peduli.

“Lha terus apa dong? Nikah udah, honeymoon udah, ya berarti selanjutnya, anak.”

“Udah, santai aja. Mending liat tuh sunsetnya. Udah mulai tenggelem.”

Alisnya mengkerut, “Kalo ngomongin soal anak, ya harus serius dong, masa santai.”

Sang perempuan berdiri, kemudian mengeluarkan hp dari kantong celananya, “Udah ah, bye. Mau selfie dulu.”

“Hih, malah ditinggal, tungguin dong.”



Dan mereka berdua meninggalkan tempat duduknya, lalu menyatu di pinggir pantai. Membekukan keindahan matahari yang terbenam pelan, seolah-olah tak ingin berhenti menyinari lautan. Warna oranye dan biru bersatu, menjadi saksi dari pasangan yang baru saja mengikat janji. Janji setia yang terikat melalui hati.






Cerpen fiksi ini terinspirasi ketika saya liburan ke Pulau Seribu. Sebenarnya saya mau ngeshare cerita perjalanan liburannya, tapi karena sudah divideokan lewat VLOG, jadi sepertinya tidak perlu dibuat lagi versi tulisannya.

Untuk videonya bisa dlihat di sini 

TVLOG - Pulau Seribu

Kalo ingin melihat kumpulan fotonya bisa dilihat di sini 



Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store




Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂




- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

When She Doesn't Love You Anymore



For some people, "home" doesn't means house.

It can be means family, friends who do a lot of crazy things, lovely pet with cute eyes, and ... It can be means someone you love.

Someone who can calm you down, by one smile.

Someone who can fix your broken world, by one touch.

Someone who can make you feel free, by stay with you, forever.

I've been there. I have my own "home". Whenever, I'm happy, or sad, or maybe, don't feel both, I come to her, and share my story. Whatever it is. Sometimes, she tell her story. And I, become her "home".

Home.

A simple word, but has complicated things inside it.

It's not like a conspiracy theory. It just, when you go to your home, to her, sometimes, you make a moment with her. An unforgettable moment. A moment, you and her will always remember.

Sometimes, there is no moment. There is no laugh together, and end up kiss each other with romantic song. Nothing. You and her sit together, in the very same couch. No talk, just sit side by side. But, still, it's a lovely thing to do.

And the last, sometimes, you fight. You fight her because a silly thing, and then, you wanna prove who is right, and who is wrong. That's okay. Even in your home, a little fire can slip quietly into your home. (Note: just don't let the fire burns your home, and destroy everything.)

The problem is....

What if, your beloved one, doesn't wanna be your "home"?

What if, she decided to goes to different path, and leave you alone?

What if, she doesn't love you anymore?

Try to imagine that.

When you go to her, bring some great story to tell, and bright smile in your face. You speak your story loudly. You describe everything, from the big thing until the small thing. In fact, you put your heart in the story.

Then, after the story is finished, you look at her, expect for a reaction, and ... 



Nothing.



There is no reaction.

On the top of that, she doesn't interested at all. 



No look back into your eyes.

No words from her mouth.



Nothing.



She, plain face, doesn't care about you.



You realize something wrong. You realize something happen. So, you try to get in into her "house", to find out what is going on with her. 

You knock her door few times, hoping she will open it, and let you come in to her house. But, knock after knock, she won't open it. She doesn't bother you. She let you stay in the outside, feel the cold, and still, know nothing.

You won't give up. Now, you try to break in the house.

You try from a window, but is locked.

You wanna try to hit it with a rock, but then you think, it's excessive. 

You put back the rock, and try something else. You climb the house, and jump into the chimney like a Santa Claus. 



It works!



You finally meet her, and her truth.

You meet her, someone you love, busy cleaning something. 

"What's the matter?" asked you.

She keep doing what she doing, put things into a trash can.

"Can you look at me, just a second?" said you with a deep voice.

And again, she doesn't care. 

Curious, you walk closer, and take a look what is in the can.


There are lying photos. Memories. Moments.

Scenes about you and her.

She throws away everything about you.

She tries to change everything.

From an unforgettable moment to a forgettable moment.

From a moment, you and her will always remember, to a moment she will always forget.

From laugh together to laugh just herself.

From kiss each other to no kiss at all. 

Because for her, right now, doing nothing is better than doing something with you. 

She is different person now.

Suddenly, inside your heart, appear a black hole. This hole scratch your feeling, and let the wound wide open. The black hole effects your though to a disaster. It continues its force by steal your smile and happiness.

Question marks spread inside your head, spin your brain like a storm. You know, only a little explanation from her that can help you right now.

"Wha-what happened? Talk to me, darling. Did I make a mistake? Did I say something wrong? Did I hurt you? If the answer is yes, I'm sorry. I'M S-O-R-R-Y. Forgive me, and please, give me a chance to fix it. I can fix it. We, can fix it."

"It's not you." said her. "It's me."

"What do you mean?"

"I think, we can't stay together anymore."

Then, the black hole is getting bigger. It swallows your heart. Grab your mind. Drain your energy.

You try to speak, but your teardrop stream in your cheek, vanish the words from your mouth.

"Goodbye. And, good luck." said her.

She leaves you alone. 

You stand still, watching your home gone to another world.

You can't do anything.

You even let the black hole control you. You let its army: loneliness, sadness, depression, attack your heart and rule you soul.

You still won't accept it, but the truth is, you know that she doesn't love you anymore.

And only by time, you finally accept the truth. You realize, life must goes on, with or without her. If you can through it alone, you know, you must walk strongly to your new adventure. Your new journey. To find, a new home to live inside it.


- @aldypradana17
Follow my Blog: aldypradana.com


4 Cerita Tentang Jatuh Cinta Diam-Diam

Nggak disangka, blog ini sudah berumur satu tahun. Blog bernama aldypradana.com ini sempat bernama aldyond.blogspot.com, yang jujur saya sendiri nggak tau kenapa namanya begitu.

Untuk merayakan satu tahunan blog ini (dan sekalian merayakan 200.000 ribu viewers), saya ingin melakukan postingan spesial. 

Postingan berisi kumpulan cerpen tentang segala kemungkinan dari jatuh cinta diam-diam. Yang baik, yang buruk, bahkan yang terduga. 

Sekiranya, segitu aja. Nikmati cerpen pertama dari saya, dan jangan lupa buat follow blog ini, ya. 

*tiup terompet* 

*nyanyi lagu selamat ulang tahun*


***


#1  - Bayu dan Gaby

Waktu istirahat. Perpustakaan. Duduk di pojokan dekat rak buku IPA.

Dia selalu di sana.

Gaby selalu di sana.

Dan dalam jarak yang tak begitu jauh, aku mengerjakan tugas sambil melihatnya diam-diam.

Selalu.

Selalu begitu.

Aku mencuri pandangan dalam persembunyian, tak berani mengajaknya ngobrol langsung.

Ingin sekali dapat berdiri di depannya, saling bicara empat mata, lalu akrab kemudian.

Namun, apa yang ingin ku obrolkan?

Game?

Mana mengerti Gaby soal itu.

Politik?

Memangnya Gaby peduli untuk bicara hal yang amburadul seperti itu.

Buku?

Ya. Harusnya, tentang buku. Ia pasti suka bicara tentang buku. Ia selalu membaca buku di sini. Bacaannya juga bervariasi. Dari buku pengetahuan, buku islami, sampai novel.

Masalahnya, aku tak suka membaca seperti Gaby.

Aku tak betah lama-lama membaca buku. Hanya komik yang bisa membuatku duduk lama berjam-jam. Membalikkan halaman demi halaman, dari volume 1 sampai volume 10. Aku baca semuanya sekaligus tanpa jeda. Paling hanya rasa lapar atau haus, dan  kebutuhan ke kamar mandi yang mampu memisahkanku dengan komik.

Aku memaksa betah di perpustakaan hanya karena dia.

Menatapnya, senyumku terbentuk sendiri saking senangnya.

Menatapnya, hatiku meleleh, mencair karena bening wajahnya.

Menatapnya, aku merasa tenang. Setenang air sungai yang mengalir pelan.

Aku sudah lama mengaguminya. Dari awal masuk SMA, sejak pertama kali mengenalnya di MOS, aku selalu mengikuti gerak-geriknya. Mungkin, sekarang sudah hampir 1 tahun. Tapi, aku tetap tak berani bilang kalo aku menyukainya. 

Aku belum cukup berani untuk berkata cinta kepadanya.

Mungkin, lain kali. Atau malah, tidak sama sekali.

Aku sudah nyaman dengan situasiku sekarang.

Kita lihat saja nanti perkembangannya.

***

Beberapa hari kemudian saat istirahat kedua, Gaby sudah berada di perpustakaan.

Ia sudah duduk di pojok, menggenggam sebuah buku. Kali ini, sebuah novel dari Dee Lestari, berjudul Filosofi Kopi.

Ia sudah di sana dengan gaya yang sama.

Rambut dikuncir, poni tersisir rapi, jam tangan pink terikat di tangan kiri, dan bahunya  tegak, tak menempel sandaran kursi. Matanya fokus, tak ingin diganggu.

Semuanya sama.

Gaby di sana, dan aku di sini. Terpaut jarak rak buku, meja, dan kursi.

Semuanya sama. Kecuali, satu hal.

Sekarang, ada seorang cowok duduk di sebelahnya.

Aku mengernyitkan dahi.

Siapa dia? Kenapa dia duduk di sana? Kenapa dia bisa duduk di sebelah Gaby yang aku sukai?

Cowok itu lalu memanggil Gaby. Gaby menengok sambil menutup bukunya.

Ini hal yang cukup aneh. Karena biasanya, teman dekatnya saja selalu ia acuhkan kalo sudah asyik membaca. Tetapi sekarang, Gaby berbeda. Dengan cowok itu, ia berbeda.

Mereka lalu mengobrol akrab. Tawa, senyum, sentuhan halus pada lengan menyelip saat mereka saling bicara.

Kemudian, mataku merekam kejadian mengejutkan.

Saat mereka saling berpandangan, tangan mereka menyatu di bawah meja. Sembunyi-sembunyi agar tak diketahui orang banyak di perpustakaan.

Dan saat itu terjadi, badanku menggigil. Hawa dingin merangkul tubuh, membekukanku hingga membatu.

Aku pun merasa sepi.

Diantara orang yang berlalu lalang di tempat ini, diantara wangi parfum ruangan yang tersebar bersama angin AC, diantara kata-kata yang samar terucap, aku tiba-tiba merasa kosong.

Aku terdiam seperti telah terinfeksi sebuah penyakit parah, yang menyerang langsung di bagian hati.

Mungkin, inilah akibat dari jatuh cinta diam-diam.

Tak kunjung berkata apa yang sudah tersarang di hati, akhirnya malah sakit hati sendiri.

Dengan keadaan kepala masih dirubung awan hitam, aku pun beranjak dari kursi, lalu menuju pintu keluar.

Mungkin, ini sudah saatnya aku mencari perempuan lain.

Mungkin, aku akan mendapatkan pengganti Gaby yang jauh lebih baik.

Dan bila nanti aku menemukannya, aku harus berani bilang cinta kepadanya.

***

#2 - Derita Cinta Aldo

“Gimana nanti? Jadi, kan, kita nonton bareng?” kata Aldo sambil menyenggol Elma.

“Jadi dong. Langsung kumpul di XXI aja, ya.” balas Elma. “Gue nanti yang beliin tiketnya, lo pada langsung dateng on time jam 7.”

Elma menunjuk dua lelaki jomlo dengan tatapan tajam, “Dan, jangan lupa gantiin uang tiketnya. Harus bayar sebelum masuk studio, nggak pake acara utang-utangan!”

“Siap nyonya!” Aldo dan Bahri memberikan hormat ala pasukan tentara saat bertemu dengan komandannya.

Bel sekolah berbunyi, mereka lalu masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing. Sesuai kebiasaan, Aldo dan Bahri duduk paling belakang, lalu Elma dan Windi duduk paling depan. Untuk urusan seperti ini, mereka memang  berkebalikan.

Elma dan Windi rajin mengerjakan PR, Aldo dan Bahri rajin mencoret-coret meja kelas.

Elma dan Windi rajin mendapatkan nilai sempurna, Aldo dan Bahri rajin mendapatkan remedial.

Elma dan Windi rajin mencatat materi pelajaran, Aldo dan Bahri rajin tidur di kelas.

Di kelas, mereka memang berkebalikan. Tapi, di luar kelas, mereka banyak kesamaan.

Sama-sama suka karaokean. Sama-sama suka nonton bareng. Sama-sama suka nongkrong bareng

Lucunya, dalam kelompok ini, ada yang satu orang yang menyukai teman dalam kelompoknya sendiri. Orang itu bernama Aldo. Ia menyukai sahabatnya, dan sampai sekarang, belum berani menyatakan rasa cintanya.

Aldo menyukai Elma.

Jelas.

Elma cantik, ramping, berkulit cokelat mirip Agnez Mo (tapi tanpa otot kekarnya).

Aldo tidak mungkin suka dengan Windi karena ia sudah punya pacar, dan juga bukan kriterianya. Aldo juga tidak mungkin suka dengan Bahri. Karena kalo itu terjadi, cerita ini berakhir sekarang juga.

Aldo hanya suka dengan Elma.

Cuma Elma seorang.

Elma orangnya tomboy dan blak-blakan. Beberapa cowok menghindari tipe cewek seperti ini, tapi tidak dengan Aldo. Dia suka dengan cewek gagah seperti Elma. Menantang, katanya.

“Abis kita nonton, gue bakal ngomong jujur sama Elma.” seru Aldo saat sedang pelajaran di kelas.

“Ini beneran bakal kejadian?” tanya Bahri, sedikit meledek. “Soalnya, lo sering banget ngomong gitu, tapi ujungnya, tetep nggak ngomong-ngomong, tuh.”

Aldo mengepalkan tangan, matanya memicing, “Yakin! Karena sekarang, gue yakin Elma bakal nerima gue!”

(Lanjutannya hanya tersedia di konten berbayar di KaryaKarsa: https://karyakarsa.com/aldypradana17/4-cerita-tentang-jatuh-cinta-diam-diam



Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

3 Hal Yang Perlu Kamu Hindari Saat First Date


MEMBERI kesan yang baik pada kekasih adalah sebuah keharusan. Apalagi pada sebuah first date, pria membuat takjub wanitanya sudah seperti tugas negara. Penting banget cuy!

Itu yang gue rasakan saat sudah bersama dia. 

Hubungan kami sudah menjajaki level yang lebih tinggi, tapi sampai sekarang, kami belum pernah ngedate. Makanya, gue sedang mengusahakan untuk membuat first date yang berkesan agar dia merasa nyaman bersama gue.

Untuk first date ini, gue memikirkan banyak rencana sebenernya. Gue sudah mengajukan beberapa rencana tersebut ke dia. Gue pernah mengajaknya nonton film di bioskop, tapi sayangnya, dia berkata lain.

“Gimana kalo first date kita itu nonton film aja, yang?”

“Nonton apa?” tanyanya.

“Ini ada film judulnya Hijab. Katanya, sih, bagus.”

“Oh, Hijab. Iya, itu emang bagus, kok.”

“Nah, berarti beneran bagus.” kata gue, bersemangat. “Tunggu, kamu kok yakin banget kalo filmnya bagus?”

Uti tersenyum lebar ke gue, “Aku kan udah nonton.”

“Yah…” bilang gue, kecewa.

“Kalo gitu jangan nonton itu. Masa kamu nonton Hijab dua kali? Itu kayak kamu cuma nemenin aku nonton doang dong.”

“Terus nonton apa, ya?” Gue menggaruk kepala, memikirikan film apa yang menarik.

Dia bertanya, “Ada film horror nggak?”

“Bentar.” Gue mengambil tablet gue, membuka browser, lalu membuka situs 21 cineplex. Setelah terbuka situsnya, gue lalu menjawab pertanyaannya.

“Nggak ada, tuh.” ucap gue sambil menggeleng.

“Kenapa? Kamu suka film horror?”

Uti tertawa kecil, “Nggak, hehehe. Aku kan penakut. Kalo kamu?”

“Nggak juga. Aku juga penakut. Aku aja terakhir nonton film horror itu SMP.”

“Jadi, kalo kita nonton film horror kita bakalan takut bareng-bareng dong?” bilangnya setengah bercanda.

“Lucu deh kayaknya.” lanjutnya, tersenyum sendiri

Gue menepuk jidat melihat responnya.

Karena tak mendapatkan film yang tepat, ide menonton pun resmi gue hapus.

Gue lalu mencari ide kedua, yaitu makan bareng.

Dengan muka sumringah, gue bertanya, “Gimana kalo makan, yang?”

“Boleh, mau makan dimana?” Dia bertanya balik.

“Kalo Di Pizza Hut gimana?”

“Aku lagi nggak pengin pizza, nih.”

“Kalo di KFC?”

“Aku juga lagi nggak pengin ayam goreng.”

“Kalo di McD?”

“Kan aku udah bilang aku lagi nggak pengin ayam.” jawabnya, menghela nafas. “Kok kamu nawarinnya fast food semua sih?”

“Lha terus dimana dong?”

Kami diam sebentar. Seperti mendapatkan ide dari langit, dia memberi saran, “Gimana kalo Burger King?”

“Itu fast food JUGA kali!”

“Oh, iya, ya.” jawabnya, polos.

Ide makan pun sekali lagi harus dihapus.



Gue kembali menguras otak, mencari apa yang tepat untuk first date kami.

Akhirnya, pada salah satu hari Senin di bulan Februari, gue mendapatkan ide cemerlang. Tanpa menunda-nunda, gue lalu membagi ide tersebut ke dia.

“Yang, aku ada ide lagi!” kata gue penuh semangat.

“Apa?”

“Gimana kalo kita ke Gramedia? Kamu kan suka buku, aku juga suka buku. Kamu suka aku, aku juga suka kamu… “

“Langsung to the point aja kenapa, sih?”

“Oke, oke.”

Gue mengangkat kedua tangan, lalu menjelaskan ide gue kata demi kata.

“Gramedia.”

“Berdua.”

“Nyari buku bareng.”

Gue mengangkat kedua alis mata gue, berharap ia menyetujui ide tadi, “Gimana?”

Dia mengernyitkan dahi, berpikir benarkah itu ide yang baik.

“Hmmmm.”

Gue lalu menunggu jawaban darinya.




5 menit berlalu.




10 menit berlalu.




2 bulan berlalu.




Akhirnya, Muti memberikan jawaban yang sudah lama gue tunggu-tunggu.

“Boleh.” katanya, pendek.

Gue mengepalkan tangan kanan, “Yes!”

Kemudian, dengan perasaan lagi senang-senangnya, gue menanyainya, “Tapi, kapan?”

“Sekarang aja.” jawabnya cepat.

“Sekarang?”

Dia menjelaskan, “Iya, kita kan abis pulang kerja. Terus lagi nunggu angkot. Ya udah, sekarang aja. Mumpung aku lagi nggak ada acara juga.”

Gue nggak mampu membalas kalimatnya.

Saat masih membisu, bingung harus berkata apa, sebuah angkot berwarna orange datang menghampiri.

Angkot itu berhenti tepat di depan kami. Mengajak kami masuk menjadi penumpang dari angkot yang masih kosong itu.

Dia bergegas naik, lalu duduk di belakang sopir.

“Ayo naik.” ujarnya setelah memangku tas punggungnya.

Tak bisa menolak ajakannya, gue lalu naik dan duduk di dekat pintu.

Dengan perasaan bercampur aduk, gue berharap semoga first date gue berjalan lancar. 

***

Angkot berjalan lambat menyusuri jalan berlubang mencari penumpang.

Setiap ada orang berdiri di pinggir jalan, sang sopir menghentikan angkotnya, lalu bilang, “Ayo, naik!” kepada mereka.

Tetapi, kebanyakan dari mereka menjawab tanpa suara, hanya menggelengkan kepala, menolak ajakan sopir.

Di dalam angkot tersebut, duduklah kami saling berhadapan. Memangku tas masing-masing.

Akhirnya, kami ngedate.

Tapi tidak seperti pasangan pada umumnya, kalo ngedate naik mobil atau motor, kami berdua naiknya…




Angkot.




Sungguh tidak elit sekali.




Sebagai cowok, gue agak malu sebenernya.

Harusnya, gue mengajaknya dengan menaiki motor keren seperti motor balapnya Valentino Rossi, atau agar lebih keren lagi, dengan menaiki limosin. Full AC, atap bisa terbuka secara otomatis, lalu disuguhi minuman chocolate chip coffe with extra caramel (entah minuman apa itu, tapi terdengar sangat keren).

Tapi, apa daya, tak ada satu imajinasi gue itu yang terwujud. Yang kesampaian malah kami duduk berdua, bersama penumpang lainnya, saling berdempetan bahu di angkot tercinta.

Ini bukanlah cara yang bagus untuk sebuah date. Tambah lagi, belum ada setengah jalan, gue sudah ngantuk duluan.

Mata mulai menutup, gue bertanya pelan, “Jadi begini kebiasaanmu selama berangkat atau pulang kerja? Hoaaeemm.“ Gue menguap, kepala gue terkantuk-kantuk, “Duduk di angkot selama 1 jam? Nggak bosen?”

“Aku aja ini udah ngantuk.” lanjut gue sambil menyandarkan kepala ke belakang.

“Bosen banget.”

“Makanya, pasti bawa cemilan dari rumah. Biar nggak ngantuk di angkot.”

Dia lalu membuka tas, menunjukkan isi tas berisi banyak jajanan. “Mau?”

Seperti melihat sebuah emas, kepala gue langsung bangkit dari sandaran.

“Mau dong!”

Gue mengambil cepat Fitbar miliknya, lalu membukanya terburu-buru.

Saat mengunyahnya, tiap gigitan terasa seperti sebuah penyegaran di badan. Rasa kantuk sedikit demi sedikit mulai hilang.

Masih dalam keadaan mengunyah, gue bertanya lagi, “Nggak takut kalo naik angkot sendirian? Agak serem tau buat cewek.” Gue berbicara sambil menyemburkan makanan. “Kenapa nggak naik motor aja?”

Dia menghindari semburan gue, “Ikh, jorok banget, sih!”

Tanpa segan, dia lalu menjitak gue.

“Aduh! Iya, maaf-maaf, tapi nggak perlu pake kekerasan juga kali.”

“Kamunya, sih, gitu.” balasnya, jengkel.

Dia lalu menjawab pertanyaan gue tadi, “Aku bisa naik motor. Di rumah juga ada dua motor, Ninja sama Mio.”

“Nah tuh, ada motor di rumah! Pake aja salah satu!” kata gue, semangat.

“Tapi, aku nggak punya SIM.”

Gue lalu memasang raut muka kecewa, “Yaelah. Sama aja bohong.”

Kesal dengan jawaban gue, dia lalu menjitak gue lagi.

“Aduh! Ini kenapa kamu jadi hobi jitak, sih?” Gue lalu mengelus-ngelus kepala, menahan sakit. “Cewek kok barbar gini.”

“Biarin. Kamunya, sih, gitu.” katanya, singkat.

Dalam obrolan penuh jitakan ini, kami melanjutkan perjalanan dengan angkot tercinta menuju Metropolitan Mall di Bekasi.

***

Sesampainya di tempat tujuan, kami turun dari angkot, lalu menyebrang jalanan yang ramai. Gerimis menemani kami berdua melewati mobil-mobil yang terjebak macet. Menghadapi klakson dan genangan air hujan, dengan susah payah akhirnya kami berhasil mencapai pintu masuk Metropolitan Mall.

“Kita kayak abis ngelewatin haling rintang, ya?” ucap gue sambil merapikan rambut yang basah karena rintik hujan.

Dia lalu mengambil tisu dan membersihkan mukanya, “Iya, mau kesini aja, susah banget perjalanannya.”

Melihat itu, gue berkomentar, “Udah, nggak usah dilap pun, kamu tetep cantik kok buat aku.”

“Hih.” katanya, masih mengelap wajahnya.

“Noh, bersihin muka kucelmu.” Dia memberikan tisu bekasnya ke gue.

Gue mengambilnya, lalu segera melap muka gue. Saat membersihkan muka gue yang basah bercampur asap knalpot, gue baru tersadar, “Kok kamu ngasih aku tisu bekasmu, sih? Emang aku tempat sampah?”

Cuma tertawa kecil, dia lalu berjalan masuk, meninggalkan gue.

Sebal, gue lalu membuang tisu tadi ke tempat sampah, dan mengejarnya.

Sudah berada di sebelahnya, dia ngomong, “Cari mushola dulu, yuk. Solat sekalian bersih-bersih.”

Gue mengangguk, lalu mencari dimana mushola berada.



Singkat kata, kami sudah solat dan tampak jauh lebih bersih. Kami pun melangkahkan kaki ke tujuan utama kami, toko buku Gramedia.

“Aku lagi ngincer dua buku, nih. Buku pertama, bukunya Mas Bara, Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri (bukan promo, btw). Terus buku kedua, bukunya Bene, Ngeri-Ngeri Sedap (sekali lagi, ini bukan promo terselubung).”

Gue menambahkan, “Kalo kamu ada buku inceran, nggak?”

“Aku nggak ada, sih. Nanti mau liat-liat dulu, mungkin ada yang cocok.” jawabnya.

Menitipkan barang bawaan kami, kami lalu mendekati rak-rak buku yang berada di Gramedia.

Gue, yang fokus mencari buku inceran gue, berjalan sendiri untuk menemukan dua buku itu.

Mendekati rak buku fiksi, gue lalu melihat seksama deretan buku disana. Tangan gue menyentuh salah satu buku, gue perhatikan judul bukunya.

“Bukan ini.” kata gue dalam hati.

Gue membentuk dua jari gue, telunjuk dan jari tengah, seperti dua kaki jenjang yang sedang berlari. Kedua jari gue ini, menjelajah dari baris paling atas, berpetualang dari ujung kiri sampai ujung kanan.

Kalo nggak ketemu, dua jari gue meloncat ke baris bawahnya, lalu berlari lagi sampai ketemu buku yang gue incar. Begitu terus sampai baris terbawah.

Setelah kelelahan mencari, kedua jari tadi akhirnya menghentikan langkahnya tanpa menghasilkan apa-apa.

“Kok nggak ada, ya?” bilang gue sambil mengusapkan keringat di dahi.

Akhirnya, gue mencari petugas Gramedia, bertanya adakah stok buku inceran gue.

Salah satu petugas mengetik judul buku di komputer, lalu bicara, “Kalo Ngeri-Ngeri Sedapnya, stoknya sudah habis, Mas. Tapi, kalo Jatuh Cinta itu masih ada.”

Ia lalu meninggalkan komputernya, “Sebentar, saya carikan dulu.”

Gue menunggu cemas. Padahal, cuma buku bacaan doang, tapi bisa juga bikin gelisah.

Petugas itu kembali membawa buku bercover ungu, “Ini, Mas.”

“Makasih, ya, mbak.”

Gue mengambilnya dengan muka sumringah.

Saat hati gue lagi seneng-senengnya, gue baru sadar, “Lho, si dia mana, ya?”

Karena terlalu fokus dengan buku inceran gue, gue lupa kalo lagi first date sama dia. Harusnya, kan, nyari buku berdua, tapi kenapa malah nyari buku sendiri-sendiri begini?

Agak panik, mata gue menelesuri tiap sudut Gramedia.

“Perempuan berkerudung merah, kamu dimana?”

Mata gue sampai melotot, tapi tetap tak menemukannya.

Gue memutuskan mencari dari rak satu ke rak lain. Memegang buku Mas Bara, gue setengah berlari mencari dimana dia berada. First date yang absurd, pikir gue.



Gue mencari di rak buku agama.

Nggak ada.



Di rak buku memasak.

Nggak ada.



Di rak buku dewasa.

Nggak ada.



Saat memasuki rak merajut, ada tangan menyentuh bahu gue.

“Abis dari mana aja, kok keringetan gitu?”

Gue membalikan badan.

Ah! Dia ternyata ada disini!

Gue ingin meluk dia seketika, tapi sebelum itu kejadian, dia bicara, “Heh, jangan deket-deket. Badanmu bau.”

Asem.

“Kamu kemana aja? Aku dari tadi nyariin kamu.” tanya gue.

“Aku dari tadi disini. Kan kamu yang ninggalin aku, kan?”

Iya, juga, sih.

Gue menggaruk kepala, menutupi rasa bersalah.

“Ya, udah, abis ini, kita nyari bukunya berdua, ya.” jelas gue. “Kamu udah dapet bukunya?”

“Belum, nih. Masih cari-cari. Kalo kamu?”

“Nih.” Gue menunjukkan buku yang gue bawa. “Tapi, baru satu, buku inceranku satunya, nggak ada. Kayaknya, bakal ganti buku inceran, nih.”

“Ayuklah, kita nyari bukunya berdua.” katanya, jalan menghampiri rak buku lain.

“Oke.”

Kami lalu mendatangi rak-rak lain untuk mencari buku yang paling sreg untuk kami.

***

“Akhirnya, selesai juga.”

Gue menghempaskan badan ke kursi, menaruh kantung plastik bertuliskan Gramedia di meja kayu berbentuk bundar.

“Capek ya tadi nungguin aku?” tanyanya, ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan gue.

“Nggak juga, sih.” Gue membenarkan posisi duduk. “Cuma dari tadi kan muter-muter terus, nggak sempet duduk.”

Gue lalu merenggangkan kaki, melemaskan otot-otot setelah berjalan mencari buku selama 2 jam terakhir. Dia membuka kantung plastik, lalu mengambil bukunya.

“Makasih, ya, udah bayarin.” bilangnya, tersenyum.

“Iya, santai ajalah sama aku.” Gue menyombongkan diri seakan-akan telah melakukan hal keren, padahal setelah bayarin, duit gue sekarang hanya tersisa 20 ribu.

Masih senyum-senyum kecil bangga terhadap diri sendiri, gue bertanya, “Buku apa sih itu? Aku kayaknya pernah liat covernya, deh.”

“How to be Interesting.” Dia menunjukkan cover bukunya ke gue. “Cara Menjadi Menarik Dalam 10 Langkah Sederhana.”





Tangan kanan gue mengambil buku itu, “Oh, ini…”

Gue membukanya, memindahkan halamannya dengan cepat, “Dulu aku pernah baca ini. Nggak sempet beli, sih, cuma liat doang. Bukunya isinya kalimat motivasi singkat terus ada lingkarannya.”

“Kenapa kamu beli buku ini? Kamu mau jadi menarik? Ngapain?” Gue mengembalikan bukunya. “Kamu kan udah menarik buat aku.”

Gue lalu mengedipkan mata kiri gue.

“Mulai deh.” Muti memasang muka jijik.

Mengambil buku lalu menaruhnya dalam tas, dia menjawab, “Lucu aja judulnya. Terus penasaran juga sama isi bukunya. Ya, udah, akhirnya beli, deh.”

“Kalo kamu? Jadinya nambah buku apa?”

Gue mengambil salah satu buku dari kantung plastik, “Jadinya ini.”

“Komik Indonesia gitu, judulnya Juki Komikstrip.” Gue membolak-balik bukunya. “Nambah satu ini soalnya aku butuh komedi buat nyaingin novel serius punyanya Mas Bara.”

“Mau baca?”

“Nggak, ah. Lagi nggak minat sama komik.” balasnya.

Ia lalu menengok melihat jejeran donat di sebelah kirinya, “Kan sekarang kita udah di J.Co, nih, beli yuk. Kamu kan yang minta kesini, masa kita nggak beli? Cuma duduk-duduk doang, gitu?”

“Ya udah, sana beli. Aku donat cokelat, pokoknya, ya.”

Kemudian, gue mengambil dompet untuk memberikan uang untuknya.

Tapi, setelah melihat isinya, gue baru sadar kalo uang gue nggak cukup. Dalam dompet  gue hanya ada satu lembar 20 ribuan. Sendirian. Tanpa teman. Paling ada beberapa recehan menememani, tapi sama sekali tak menambah banyak.


Gue menelan ludah.


20 ribu emangnya cukup buat beli donat buat dua orang?


Aldy, kamu sungguh memalukan.


Tak ada yang bisa gue lakukan, selain berkata jujur, dan berharap dia mau membayar makanan dan minuman nanti.

Astaga, membiarkan perempuan membayar ngedate? Predikat gue sebagai lelaki jelas perlu dipertanyakan.

“Eeee… Yang…” bilang gue, grogi.

“Uangku, ternyata nggak cukup, nih.”

“Pake uangmu, dulu, ya.” kata gue dengan keringat mengucur deras beserta jantung berdentum keras.

Sesudah kata-kata itu keluar dari mulut, gue berharap cemas.



Semoga aja dia nggak ilfil dengan kalimat gue barusan.



Beberapa detik kemudian, dia menatap gue, mulutnya mulai membuka pelan, hendak menjawab kalimat gue barusan.

Entah kenapa, adegan itu terasa lambat dan mendebarkan.



Kira-kira apa ya jawabannya?


Apakah dia akan menjawab “YA”?


Atau, apakah dia akan menjawab “TIDAK”?



Saksikan di KATAKAN CINTA minggu depan!



Halah. Opo sih iki.



Akhirnya, dia membuka lebar mulutnya. Tampak gigi bawahnya putih cemerlang, dan lidahnya bergoyang kecil.

Keringat gue mengucur pelan dari dahi menuju pipi, menyaksikannya penuh perhatian.

Bibirnya sedikit monyong ke depan, membuat sebuah kata yang ia akan bicarakan.

Badan gue mendekat ke arah meja, melihatnya lebih seksama dan lebih dekat. Tak sabar dengan adegan slow motion ini.

Dan keluarlah kalimat darinya…




“Oke.”





Muti lalu beranjak dari kursi, memesan donat dan minuman. Sedangkan gue, mencoba menenangkan jantung karena kejadian mendebarkan tadi. 




Setelah berbincang-bincang sambil menguyah donat yang dibelikan dia, kami pun pulang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, mungkin tidak terlalu malam, tapi bagi dia ini sudah melebihi jam malamnya.

Kaki kami menginjakkan genangan air ketika keluar dari Metropolitan Mall. Berjalan bersebalahan, rintik hujan menyambut kami dengan sentuhannya yang halus. Air yang turun begitu lembut seperti ingin menambah keromantisan dari first date kami.

Sama seperti tadi, jalanan masih ramai. Motor menyelip diantara mobil-mobil, dan angkot menunggu di sebelah kiri jalan, menunggu datangnya penumpang. Sekarang, kami berada di pinggir jalan, dekat rambu lalu lintas.

Untuk menaiki angkot tujuan pulang, kami harus menyebrang terlebih dahulu, dan menaiki angkot yang lagi ngetime di sebelah sana.

“Mana tanganmu?”

Tangan kiri gue terbuka lebar.

Ia menanggapi, “Kenapa? Kan, payung kamu yang pegang. Mau aku bukain?”

“Nggak usah pake payung. Cepetan siniin tanganmu.”

Agak bingung, dia lalu memberikan tangan kirinya.

Tangan kiri gue meraih tangan kanannya, menyatukan tangan berjari panjang gue dengan tangan berjari mungilnya dia. Tangan kami berpadu di tengahnya riuhnya jalanan yang basah akan hujan. Seperti tak peduli, seperti dunia milik sendiri.

Rambu hijau yang tadi menyala, sekarang meredup. Lalu, rambu merah bersinar dengan terangnya, memberi kode untuk kami berjalan ke seberang.

Masih berpegangan tangan, kami melintas di atas zebra cross yang hampir memudar. Kami seperti berbinar karena terkena lampu motor dan mobil. Terang lampunya seakan ingin membuat akhir yang manis untuk first date kami. 


Sampai di ujung jalan, genggaman tangan kami mau tidak mau harus berpisah, melepaskan paduan tangan yang sempat memiliki momen romantis saat menyebrang. 


Kami lalu menaiki angkot, duduk paling di belakang, dan sekali lagi berhadap-hadapan. Mata kami bertemu, tapi tak ada kata yang keluar. Kami cuma tersenyum setelah mengalami banyak hal pada hari ini. 


Melihatnya senyumannya, gue merasa sangat gembira. Karena first datenya tidak berjalan sesuai yang gue harapkan, malah cenderung absurd dan nyeleneh. Tetapi, setidaknya, date kami ini bisa berakhir manis seperti yang gue butuhkan.




1 2 3

Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

munggah