Kamu Nanti Mau Jadi Apa?



Guru SD saya pernah bertanya,  "Apa cita-cita kamu? Tuliskan di buku tulismu. Tuliskan kamu nanti besarnya mau jadi apa." 

Saya yang belum tau cita-cita saya, yang belum paham saya nanti mau jadi apa ke depannya, akhirnya cuma bisa tengok kanan dan kiri.


Kamu Nanti Mau Jadi Apa?

Kamu Nanti Mau Jadi Apa?

Kamu Nanti Mau Jadi Apa?


Itu terngiang-ngiang di kepala saya, dan membuat kepikiran terus sampai saya akhirnya saya menemukannya pada beberapa tahun belakangan ini.

***

Barusan adalah kalimat pengantar yang berujung pada sebuah video yang saya buat. Saya mengalami banyaaaak sekali naik dan turun di kehidupan, dan saya putuskan untuk dijadikan sebuah video. Tujuannya adalah sebagai pengingat buat saya, bahwa alam semesta punya caranya sendiri untuk memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. 

Kadang, kita yakin akan sesuatu, dan berharap sekali dengan sesuatu itu. Tapi jika memang "itu" bukan jalan yang tepat buat kita, kita pasti akan diarahkan ke jalan yang lebih cocok olehNya.

Kemudian, masuk ke videonya sendiri.


A stop motion movie.

Saya nggak tahu kenapa, saya suka stop motion.

Saya pertama kali nyoba stop motion itu dulu pas zaman vine. Video 6 detik isinya gerakin mobil langkah per langkah, seolah-olah mobil-mobilannya jalan beneran. Cuma begitu doang, tapi seneng aja rasanya bikin video sesederhana itu. 

Pada film stop motion berjudul Kamu Nanti Mau Jadi Apa? ini, saya menggambar dan menulis semua "properti" yang ada di video ini. Hasil jepretan dibantu oleh adik saya, Ardy, yang juga membantu proses mempersiapkan properti yang dibutuhkan.


Terdapat sekitar 180 foto yang diambil menggunakan iPhone untuk membuat video stop motion seperti ini. Dibutuhkan sekitar 1-2 jam untuk pengambilan gambar dan sekitar 3 jam lebih untuk pengeditannya. 

Cerita didalam video ini pun semua berasal dari my true story

Semoga dibalik kerja keras dalam pembuatan #stopmotion ini, bisa diambil hikmahnya dan bisa pula bermanfaat buat semua. Dan buat semua orang yang masih belum menemukan nantinya mau jadi apa, semoga film pendek ini bisa membantu.



Audisi Stand Up Comedy Story: https://goo.gl/rEQmzB

Perjuangan Menjadi Penulis Buku: https://goo.gl/C4kL3u






- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini


Sirkuit Setan



Sirkuit menurut kamus adalah jalan melingkar atau berbentuk lingkaran, dipakai untuk berbagai perlombaan. 1 Sirkuit mempunyai jalan yang sama. 

Pada 500 meter pertama, ada belokan ke kiri, kemudian ada tikungan tajam ke kanan, lalu ada jalan lurus sekitar 100 meter. Sama. Tiap awal lap (atau lomba) akan bertemu seperti itu terus. Tiap 500 meter pertama, selalu bertemu belokan ke kiri, tikungan tajam ke kanan, lalu jalan lurus ke depan.

Kita akan bertemu jalan yang berbeda, ketika berada di sirkuit yang berbeda. 

Jika kita di sirkuit A, maka jalannya ya gitu terus. Tapi, kita akan menemui hal yang berbeda, jika kita berada di sirkuit B, C, atau D.


Sama seperti di kehidupan.


Di kehidupan, pada suatu tempat, kita akan menemui beraneka ragam manusia. 

Orang yang suka menolong. Yang suka ngomongin orang dari belakang. Yang suka ngritik, tapi tidak berbuat apa-apa. Yang suka beribadah murni karena ikhlas. Yang beribadah kalo diingetin doang. Yang bilang peduli sama kesehatan, tapi ngerokok. Yang bermuka dua, dan seterusnya. Banyak banget ciri manusia bertebaran di luar sana.



Misal,

Di tempat A.


Isinya orang yang suka menunda.

Orang yang suka marah-marah.

Orang yang pamer di IG.


Kalo kita berada di tempat A setiap hari, maka kita akan ketemu sama orang seperti itu terus. Suka menunda, suka marah, suka pamer. Tiap hari. Dari pagi sampe sore. Mau ketemu orang-orang yang kayak gitu terus?

Kalo iya, silakan diam di tempat. Kalo nggak, silakan pindah sirkuit.



Contoh lain,

Di tempat B.


Isinya orang yang suka tersenyum.

Yang kerjanya setengah hati.

Yang ternyata, suka ngomongin keburukan orang lain.


Kalo kita berada di tempat B setiap hari, kita akan bertemu sama orang seperti itu terus. Mungkin bukan cuma ketemu, tapi malah, ketularan!


Lho, tunggu dulu. Tapi kan tersenyum kan baik???? Gapapa dong ketularan???


Betul, tapi apakah kerja setengah hati itu baik? Ngomongin keburukan orang lain?

Silakan pilih, mau tetap di situ, atau mau pindah sirkuit?

Anda bisa pilih:

  • Saya di sana aja gapapa.
  • Saya pindah aja, tempatnya kurang sreg buat saya.
  • Saya tetap karena saya yakin bisa mengubah lingkungan di tempat itu

Mau pilih yang pertama, boleh.
Mau pilih yang kedua, boleh.
Mau pilih yang terakhir, boleh banget!



***


Saya menuliskan ini, karena ternyata saya sedang berada di sirkuit setan. Ternyata, banyak orang di sekitar memiliki kebiasaan yang buruk bagi saya, yang mungkin bisa membawa saya ke jalan yang tidak benar. 

Pilihan saya pun terbagi: tetap di tempat, pindah, atau tetap di tempat dengan niatan bisa mengubah lingkungan itu.

Saya pilih yang terakhir.

Susah, dan terkesan impossible, memang.

Tapi, layak dicoba.

Karena kita sedang berada di sirkuit kehidupan. Pasti ada yang baik atau yang buruk. Tinggal gimana kitanya untuk tetap berada di jalur baik, dan berani memperbaiki yang buruk.

Sekian dari saya, semoga tulisan curhatan ini bermanfaat.



- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

Kucing Tanpa Nama



Kucing ini bukan kucing peliharaan. Tapi, tiap hari dateng ke rumah, celingak-celinguk minta makan, atau cuma numpang tidur di ruang tengah. 

Kalo tiap saya mau keluar rumah atau mau masuk ke rumah, saat pintu rumah terbuka, kucingnya tiba-tiba nongol dari antah berantah mencoba menyelinap masuk. 

Kadang, pas abis pulang kerja, saat saya lagi buka pagar, kucing ini tiba-tiba udah di pintu rumah, menunggu dengan setia. Kurang jelas itu maksudnya nunggu saya atau nunggu dikasih makan. 

Kucing ini umumnya binatang yang sopan. Nggak ngeong berisik, atau buang air besar sembarangan di dalam rumah. Tetapi ini berubah ketika saya sedang makan. Dia muterin saya, seolah-olah saya mangsa berikutnya. Ia bahkan pernah duduk siaga, dengan hidung kembang kempis menghirup aroma makanan di piringnya. Seolah berkata, "Ini dia makan malamku."



Yang menyebalkan, kadang ia suka memaksa untuk meraih piring saya. Itu terjadi saat saya sedang berada di meja makan. Dia loncat ke kursi, merayap pelan diantara kursi hingga tiba di pangkuan saya. Saat sedang duduk di pangkuan,  disitulah cakarnya meraih piring saya. Saya pun mengelak, lalu menerbangkannya ke karpet. Ia lalu menatap saya. Saya menatap dia. Kami saling menatap seperti dua orang jago kungfu yang hendak berkelahi. Pertandingan tersebut kemudian saya menangkan dengan menggiringnya keluar rumah. 

Setelah dilatih untuk tidak mendekati saat ada orang yang lagi makan, kucing ini bisa dibilang jadi lebih mudah diatur. Belum bisa jadi kucing peliharaan di rumah, sih, karena ia kadang suka keluar dan kongkow di rumah yang berbeda. Tapi, bagi saya, kucing sudah jadi teman buat di rumah. Sampai sekarang, kucing ini masih tanpa nama, dan saya masih belum dapat ide yang bagus untuk menamainya. Atau mungkin, ada yang mau ngasih ide?




- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini


Belajar Sambil Bermain (Fun Learning)



Saya inget banget pas SMP pelajaran ekonomi. Isinya cuma ngerangkum doang. Bab 1, ngerangkum. Bab 2, ngerangkum. Bab 3, ngerangkum. Gitu terus tiap pertemuan. Gitu terus tiap pembelajaran. 

Efeknya, saya jadi nggak suka pelajaran ekonomi. Kepala kayak udah overload, tangan udah keriting. Mau belajar pun bukan males lagi, tapi udah ogah. 

Sama dengan beberapa pelajaran lain, isinya cuma nyatet dan ngerjain soal. Seharian duduk di bangku kelas, badan gatel pengen gerak. Rasanya tuh bosen melakukan hal yang sama terus menerus. Coba seandainya belajar itu nggak cuma duduk dan nyatet, pasti pelajarannya bisa jauh lebih menarik. 

Dari kegelisahan itulah saya membuat video ini. 



Dan dari kegelisahan itu juga yang menginspirasi saya untuk memberikan metode pembalajaran yang bervariasi. 


Intinya sih gini, kegiatan pembelajaran itu nggak hanya nyatet, ngerjain soal, dan ngerangkum. Itu kegiatan yang bagus. Namun, belajar bisa jauh lebih berkembang daripada itu. Kita semua bisa kok ngajarin dengan cara yang menarik. Kita semua bisa mengajar siapapun itu (murid, anak, adik, dll) dengan cara yang jauh lebih seru dan menghibur. 

Jadi, mari membuat kegiatan pembelajaran yang inovatif. 😀👍





- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com

Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

Berkembang Adalah Suatu Keharusan



Dulu, saya cuma penonton. Saya cuma orang yang hanya melihat, belum melakukan. 


"Widih, bandnya keren banget!"

"Lucu banget tuh comediannya!"

"Bagus banget barusan filmnya!"


Saya cuma penonton yang duduk dan menyaksikan. Cuma orang yang diam di tempat, tapi masih belum bertindak. 

Entah ini kenaikan atau penurunan,  saya pernah jadi kritikus. Blog ini pertama dibikin untuk bahas film. Ngereview satu film terus dibedah cerita dan bagian di dalamnya. 

Kadang, saya berkomentar soal yang lain juga. 


"Harusnya tuh si A ngambil angle nya begini."

"Kalo reffnya pake biola pasti lebih nendang."

"Comedian kok bahas itu melulu. Yang lebih berbobot kek. "


Yang awalnya cuma nonton, sekarang ikut berkomentar. Tapi tetap sama aja. Belum ada aksi yang berarti. 



Sampai akhirnya, saya nyoba sendiri. 



Saya coba ngeband. Stand up comedy. Bikin vlog. Nulis cerpen di blog. Bikin tim futsal. Ngajuin buku ke penerbit. 

Apakah ada yang sukses besar? 

Belum. 

Hehe. 

Tapi setidaknya, saya naik tingkat. Dari yang cuma nonton, jadi yang melakukan. Dari yang cuma duduk, sekarang beraksi. Dari yang cuma tukang komen, sekarang aktif bergerak. 


Berkembang adalah suatu keharusan. 


Kemarin, setelah saya bikin puluhan vlog di akun youtube saya. Saya kemudian nyoba video iklan. Video mempromosikan sekolah alam bambu item. 









Hasilnya mungkin masih standar dan biasa aja. Namun, sekali lagi, ini tetaplah suatu perkembangan. Karena, saya sudah bukan lagi penonton yang hanya duduk dan menyaksikan, sekarang saya membuat dan melakukan. 

Pertama Kali Menjadi Wedding Photographer/Videographer


Semua bermula dari lamaran salah satu saudara di puncak. 

Di sana, saya membawa kamera saya. 

Selama acara berlangsung, saya mendokumentasikan dari foto dan video. Saya belum pernah merekam acara lamaran, saya jadi tertantang untuk mencoba. Apalagi di situ, ada tim dokumentasinya beneran. Yang bawa kamera yang jauh lebih gede, lebih canggih, lebih yahud daripada punya saya.

Gapapa. Nanti pasti bakal kebeli kok kamera kayak gitu (asek). 

Selesai dari sana, akhirnya, saya edit fotonya, saya edit pula videonya. Videonya kemudian, saya share di FB saya. (Link)

Beberapa hari kemudian sesudah diposting, banyak yang komen. Alhamdulillah komen yang positif. Bagus katanya.

Dan salah satu yang komen bagus, adalah Bu Eca. Perempuan yang fotonya kalian lihat di awal postingan.

Bu Eca, menawari saya menjadi wedding photographer/videographer. Menarik, sih, apalagi saya memang belum pernah.

Sempat ada intrik, karena bentrok hari pernikahan dengan acara di sekolah. Tapi semua terlaksana dengan saya mengambil jalan tengahnya. Setengah hari pertama, saya berada di pernikahan Bu Eca, kemudian sisanya saya berada di sekolah. Dan Voila! Semuanya sukses terabadikan dengan baik.

Singkat videonya bisa dilihat di sini.



Pengalaman yang menarik. Saya sadar masih baru belajar, tapi saya pastinya akan terus berusaha agar bisa berkembang terus skillnya sebagai wedding photographer/videographer.

Terima kasih Bu Eca telah mempercayakan saya. 


Happy Wedding, and let the happily ever after begin.



- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com

Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

Barang Impian



Saya membagi target dalam beberapa kategori. 

- Ada target hidup (sukses dalam berkarir, nikah, punya anak, dll). 
- Target liburan (ke luar pulau, ke luar negeri, atau bahkan cuma sekedar liburan dalam kota). 
- Dan yang terakhir, target barang. 

Saya punya target barang impian. Dulu saya pernah menargetkan memiliki kamera DSLR, dan akhirnya terkabulkan pada tahun kemarin. 

Sekarang, saya punya target barang impian di tahun 2019. Iya, 2019. Bukan, 2018. Karena tahun ini, saya mau fokus menyelesaikan motor saya dulu. Dari bagian dalem sampai luar motor, harus segera dituntaskan di 2018 ini. 

Nah, pada tahun 2019, tema barang impian saya lebih ke arah kamera. Tahun lalu, saya beli Canon 1200D, dan sampai sekarang saya tidak pernah upgrade aksesoris atau barang tambahan yang menunjang kamera saya. Entah dari segi photography maupun videography. 

Makanya, tahun depan adalah waktunya untuk menambah maenan saya di bidang perkameraan. Incaran saya yang pertama adalah lensa 50 mm STM.  



Lensa saya sekarang cuma 2: 18-55 mm (lensa bawaan) dan 75-300 mm (lensa tele). Lensa tele ini pemberian ayah saya. Yang katanya dulu pernah beli pas lagi diskon dan dipake waktu kerja dulu. Cukup sering saya pake, tapi hanya untuk acara-acara tertentu. Belum bisa jadi lensa andalan saya. 

Menurut review yang saya baca, lensa fixed ini adalah lensa yang melebihi harganya. Lensa ini tidak sampai 2 jutaan. Bagi orang awam, lensa dengan harga segitu pasti bikin bertanya-tanya. 

"Kok mahal amat lensa doang 2 jutaan"

Ketahuilah, harga segitu sudah termasuk murah dibandingkan lensa yang lain. Banyak lensa lainnya yang lebih maaaahaaaal lagi. 

Kedua, kamera baru. 

Saya kemarin beli Canon 1200D dengan harga second cuma sekitar 3 jutaan. Itu kamera pertama saya. Nah, karena sudah mengerti (dikit sih) tentang kamera. Saya mau ngincer kamera baru. Ada body nya canon 700D, mirrorless canon m10 dan m3. 

canon m3

canon m10

canon 700D


Apakah saya mau beli semuanya? 

Nggak lah. 

Cukup salah satu diantara itu. 

Itu semua rentang harganya 5-6 juta. Punya salah satu diantara itu bisa langsung menjadi my main camera. 1200D akan turun sebagai my secondary camera. 

Kenapa saya butuh kamera baru? Padahal harganya juga termasuk lumayan mahal?

Karena, ternyata eh ternyata, saya dapat pemasukan sampingan dari foto ataupun video yang saya buat. Nggak begitu banyak, tapi lumayan buat nambahin tabungan. 

Kalo saya lebih seriusin lagi, mungkin tambahan saya bisa lebih banyak (amin). Itulah kenapa saya ngebet sama kamera. Selain karena suka, saya juga bisa dapet tambahan dari situ. 

Terakhir, mic external. 


Untuk kebutuhan dokumentasi video, merekam suara yang jernih ialah keharusan. 

Apalagi kalo melihat para vlogger di luar sana. Hampir semua kamera mereka terdapat mic external. Dan memang iya, hasil suara dengan tambahan mic itu jauh lebih bagus, lebih jernih, dan tidak ada angin yang masuk. 

Ini akan berguna buat dokumentasi pribadi saya (TVLOG series) atau dokumentasi untuk kerjaan (acara wedding atau event tertentu). 

Seperti yang saya lakukan di dream note saya dulu, saya menempel gambar print-print an barang impian saya di dinding kamar saya. Agar saya liat terus barang yang saya mau, saya keinget terus target-target barang idaman saya, dan tanpa sadar, barang impian saya terkabulkan seiring waktu berjalan. 

Amin. 






- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com

Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

munggah