Kucing Bawel Katy


Sebelum membaca ini, sebaiknya baca cerita sebelumnya.

TAK ada yang lebih menyenangkan selain duduk santai di teras rumah sambil memandangi pemandangan yang ada. Apalagi terdapat sebuah cangkir dengan teh hangat di atas meja, menemani hari yang cerah saat itu.

Namun, berbeda dengan Katy, seekor kucing gembul berwarna orange di sekujur tubuhnya. Bagi dia, tak ada yang lebih menyenangkan selain duduk tenang di teras majikan, dan mendapatkan makanan gratis dari pemilik rumah.

“Hidup bagaikan raja kalo seperti ini.” katanya sambil mengunyah nasi bercampur potongan ikan pemberian tuan rumah.

Selesai makan, ia lalu duduk di depan pagar dengan pose seperti patung Sphinx sambil memejamkan mata. Katy menikmati udara pagi hari dengan kondisi perut sudah terisi.

Selama disana, biasanya ada beberapa manusia berjalan di depannya. Ada yang berlalu menghiraukan Katy, ada juga yang mencoba menarik perhatian Katy dengan mengucapkan kalimat, “Puss… Puss… Puss…” dengan suara halus, tapi lebih sering Katy hiraukan, karena dia bukan kucing murahan.

Katy sering nongkrong di depan pagar. Meski kerjaan paling cuma duduk-duduk, ia suka melihat seksama manusia-manusia yang melewatinya.

Ia sering melihat anak dengan baju bebas berangkat dan pulang sekolah berseliweran di depannya. Itu wajar. Di dekat rumah majikannya memang ada sebuah sekolah. Katy mengenal beberapa anak dari sekolah itu, karena ada yang pernah menggodanya.

“Aku paling benci sama bocah yang nggak tau cara mendekati kucing dengan baik.” gerutu Katy, mengingat berandalan itu. ”Bukannya memberikanku sebuah makanan, mereka malah menyentuh badan berbuluku ini dengan kayu panjang. Emangnya aku cewek apaan!”

Makanya, setiap ada anak dari sekolah itu berlari mendekatinya, Katy dengan kaki kecilnya, segera masuk ke dalam, bersembunyi di balik pagar.

Manusia lain yang jadi perhatiannya adalah manusia pengguna motor.

Motor selalu menakutkan bagi kucing.

Motor + manusia alay jauh lebih menakutkan lagi bagi kucing.

Mengendara seenaknya sendiri dan knalpot yang suaranya kayak nyentil gendang telinga adalah perpaduan yang amat buruk. Setiap mereka lewat, Katy yang lagi jalan-jalan sore di sekitar rumah, pasti harus menyelamatkan diri agar nggak kelindes. Atau, kalo lagi asik tiduran, Katy pasti terbangun kaget sampai bulunya tegak berdiri. Itu semua karena ulah pengendara ababil tersebut.

“Aku nggak pernah suka sama mereka.” batin Katy, menatap kejam pengguna motor ugal-ugalan yang sedang lewat.

“Manusia pengguna motor yang sok nguasain jalanan!”

“Entah anak kecil yang belum cukup umur buat naik motor, om-om kumisan pake motor gedenya, atau cabe-cabean yang pake hotpants duduk bertiga. Mereka semua sama aja!”

“Benci, deh, sama mereka!” tutup Katy, emosi.

Melihat musuhnya sudah pergi jauh tampak punggung, Katy pun mencoba meredam emosinya.

Ia mulai melemaskan otot-otot wajahnya karena tegang ketika musuhnya lewat. Sedikit demi sedikit, tampang Katy yang sesungguhnya pun kembali terlihat: menggemaskan dengan pipi chubby dan senyum simpulnya.

Sudah rileks, Katy pun tak ingin membuang-buang waktu lagi. Ia lalu melingkarkan badannya, dan menaruh kepalanya di atas tangannya. Perlahan, ia memejamkan mata. Akhirnya, Katy pun bersiap melaksanakan kegiatan wajib para kucing pada umumnya, yaitu tidur siang.

***



PADA suatu pagi, Katy sedang mandi (baca: menjilat-jilat badannya sendiri) di kursi rotan yang terletak di teras. Selagi memandikan punggung tangan kanannya, Katy melihat ada seorang cowok tinggi kurus melewati rumahnya.

Cowok ini memakai sepeda berwarna biru bermerek Polygon. Menggendong tas hitam berbintik abu-abu, dia terlihat ngos-ngosan memacu sepedanya. Di depan rumah Katy (majikannya, sih, lebih tepatnya), memang ada sebuah tanjakan yang cukup miring, hampir 70 derajat. Tanjakan itu juga cukup panjang, mungkin ada sekitar 200 meter.

Lelaki ini mengayuh sepedanya selama menaiki tanjakan tersebut. Tampak dari nafasnya yang terengah-engah, kalo dia cukup kesusahan menanjaki jalan itu. Tapi, cowok ini tetap mengayuh agar bisa naik ke tujuan. Entah pergi kemana.

Mencoba cuek, Katy pun melanjutkan mandinya. Sekarang, giliran punggung tangan kirinya untuk disiram dengan lidah Katy.

Beberapa jam berlalu, akhirnya mentari berada di puncaknya. Terang dan panasnya menyelimuti hari itu, merangsang keringat keluar lebih cepat jika tak ada kipas angin yang menemani.

Katy keluar rumah setelah selesai makan nasi bercampur abon buatan majikan.
Sekarang, waktunya Katy ‘bermain’.

Katy bermain bersama ayam yang masuk ke halaman rumah majikannya.

Ia berusaha mengusirnya dengan menakut-nakuti ayam tersebut.

Katy mengejarnya, mengeluarkan cakar di kedua tangannya, dan mencoba menerkamnya. Seandainya, Katy bisa masak sendiri, ia mungkin sudah menangkap ayam itu dari tadi. Sayangnya, Katy tak tau cara menguliti dan menggoreng ayam. Itulah alasan kenapa masakan ala Chef Katy takkan pernah terwujud.

Selesai ‘bermain’ dengan ayam, Katy lalu berjemur di luar rumah. Berpose seperti model Baywatch, Katy menggeliat di atas tanah bercampur kerikil.

Lagi-lagi, cowok bersepeda Polygon melewati rumahnya lagi.

Sekarang, cowok ini datang dari atas, lalu menuruni jalan. Berbeda dengan pagi tadi, dia sama sekali nggak kesulitan, karena tanpa mengayuh pun, sepedanya bisa melaju cepat menuruni jalanan depan rumah Katy.

Wus!

Sepeda tersebut melesat kencang hampir mengenai Katy.

Dari posisi tertidur, Katy lalu melakukan roll belakang bertransisi posisi menjadi tegak berdiri (maksudnya berdiri ala kucing: 4 kaki).

Katy pun akhirnya berhasil menghindar.

Tapi, ada beberapa serpihan kerikil, yang tergesek roda sepeda itu, terlempar menerpa badannya Katy.

Meski tak begitu melukainya, itu cukup membuat Katy kesal.

“Tambah lagi salah satu musuhku.” gumamnya sambil memicingkan mata.

“Manusia nggak ada yang becus make kendaraan!” tambah Katy.

Karena sering melewati rumah Katy, cowok ini akhirnya masuk dalam pengawasan Katy selama beberapa hari kemudian. Katy mengamatinya dari teras. Mencoba mengobservasi musuh barunya ini.

Cowok ini selalu keringetan saat menanjaki jalan pagi-pagi. Lalu, cowok ini melaju cepat menuruni jalan siang-siang. Begitu terus tiap hari. Dan setiap siang, setiap ia menuruni jalan, ia selalu hampir menabrak Katy. Yang cuma bisa Katy bales dengan mengeong-ngeong tanda marah.

Sampai di hari Jum’at siang, cowok berambut cepak ini kembali menuruni jalan depan rumah Katy. Sekarang, dia berjalan kaki menggandeng tangan kedua anak kecil. Salah satu anak yang digandeng berkata, “Kak Aldy, kita lewat jalan pintas aja.”

“Nggak.” jawab si cowok, pelan. “Kita lewat jalan ini aja. Lebih cepet.”

“Nggak, Kak. Kalo lewat sini, malah lebih jauh.” jawab si anak tadi, menggerutu.

Si cowok lalu membalas dengan menggeleng kepala. Tak menyetujui ide salah satu anak yang berjalan di sebelahnya.

“Yaaaah.” balas si anak sambil merengut.

Anak yang satunya lagi berkata dengan suara cemprengnya, “Gapapa, lewat sini. Kan seru ada turunannya.”

“Iya, ya.” balas anak yang merengut, lalu menengok ke arah temannya.
Mereka kemudian saling memandang.

Tatapan mereka cukup lama seperti sedang saling bertukar pikiran.

Seperti ada komunikasi lewat kedua mata mereka untuk merencanakan sebuah ide gila.

Lalu, setelah saling setuju akan sebuah ide yang menurut mereka brilian, mereka pun mencari saat yang tepat buat bertindak.

Mereka menunggu.

Dan menunggu.

Merasa momennya tepat, mereka pun bertindak, melakukan apa yang ada di kepala mereka.

“Aliando! Ayo, lari!”

“Ayo!”

“Yeeeeeeaaaaah!” teriak mereka sambil melepaskan genggaman Kak Aldy.

Mereka lalu berlari menuruni jalan, meninggalkan Kak Aldy sambil tertawa dengan riang gembira.

Kaget dengan tingkah mereka, Kak Aldy lalu mengejar mereka sambil teriak, “Aliando! Baim! Jangan lari! Nanti jatuh!”

Tak mempedulikan teriakan itu, dua bocah tadi menuruni jalan dengan rangkaian langkah kecil seperti bebek yang sedang melangkah cepat. Jarak langkah kaki mereka pendek-pendek, tapi geraknya amat cepat.

Masih mengejar dua bocah yang merupakan muridnya sendiri itu, Kak Aldy kembali berkata dengan lantang, “Jangan lari! Nanti kalo jatuh, terus baju kalian kotor, kalian nggak bisa solat Jum’at lho!”

Sekali lagi, dua bocah boncel itu tak menggubris hasutan Kak Aldy. Mereka tetap berlari dan berlari. Sedangkan Kak Aldy, ia mengejar mereka, sebelum ada kendaraan yang mungkin menabrak mereka.

Katy masih melihat mereka dari rumah majikannya, ia pun berkata, “Oh, ternyata cowok itu, guru di sekolah, toh? Nggak nyangka.”

Seiring mereka bertiga menghilang dari pandangan Katy, kucing orange ini pun masuk ke dalam rumah, mencari kehangatan di pelukan majikannya. Sekarang, ia mengerti satu detail penting tentang musuh barunya tersebut.

***


HARI demi hari, Katy terus mengamati Aldy. Seorang guru di sekolah dekat rumahnya. Yang menaiki sepeda Polygon berwarna biru dan yang setiap Jum’at selalu mengantarkan dua murid bandelnya untuk solat Jum’at.

Minggu bahkan bulan berlalu, itu masih menjadi rutinitas Aldy. Tak ada yang berubah darinya. Sang pengamat juga tak mengalami perubahan. Katy, sang kucing chubby, masih kesal dengan Aldy. Karena setiap Aldy pulang sekolah, Aldy masih naik sepeda secara awur-awuran. Dan tak jarang hampir melindes badan Katy.

Namun, akhir-akhir ini ada perubahan. Aldy sudah tak pernah lagi memakai sepedanya lagi. Ia sekarang lebih sering berjalan kaki.

“Kok tumben?” tanya Katy bingung.

“Sepedanya rusak, ya, Mas?” tambah Katy, sinis.

Aldy, yang tentunya nggak mengerti bahasa kucing, menghiraukan perkataan Katy. Ia lalu berjalan menuju sekolah tempat ia mengajar.

Waktu menunjukkan pukul 2 siang, saatnya murid-murid untuk pulang sekolah. Katy yang sudah belajar dari pengalaman, berlindung di balik pagar. Ia menjaga diri agar tak kelindes kendaraan yang lewat. Entah motor, mobil, atau sepeda.

“Nggak ada lagi jemur-jemuran jam segini.” bilang Katy.

Lalu, selama 20 menit kemudian, banyak motor melesat dan banyak mobil melintas. Kedua kendaraan itu silih berganti melewati rumah Katy. Jalan ini memang selalu ramai tiap berangkat maupun pulang  sekolah. Tapi, setelah itu, jalan ini akan kembali sepi seperti semula. Paling hanya beberapa kendaraan yang lewat, walau juga termasuk jarang.

Setelah murid-murid pulang dijemput orang tuanya, sekarang giliran para guru sekolah pulang ke rumah masing-masing. Katy tau mereka itu guru dari pakaian mereka yang rapi. Kebanyakan guru di sekolah itu perempuan, dan Katy, sebagai sesama perempuan, tau mana yang guru dan mana yang bukan, dari cara berpakaian mereka.

“Aku cukup ngerti fashion zaman sekarang. Makanya, aku langsung ngeh mana yang guru di sekolah cuma dalam sekali liat. Cara berpakaian guru itu agak dewasa, menurutku. Itu caraku menilai mereka guru atau bukan.”

Katy menyambungkan,

“Kecuali, cowok bernama Aldy itu…”

“Pakaiannya nggak ada dewasa-dewasanya sama sekali. Tampangnya juga kayak remaja sering nongkrong di Sevel.”

“Aku masih kaget tau kalo dia itu guru.”

Katy menengok ke luar, melihat seseorang yang mau lewat, “Baru diomongin, musuhku langsung nongol.”

Aldy berjalan kaki menuruni jalan. Di sebelahnya ada cewek berwajahnya putih halus dengan bola mata besar dan jernih. Cewek itu memakai kerudung pink ditemani baju berwarna sama yang berbintik putih. Dia menggendong tas merah tua, dan menggunakan celana hitam panjang. Sneakers abu-abu agak kusam ia pake tanpa mengatupkan bagian belakangnya.

Katy mendengar sedikit percakapan mereka.

Aldy berkata, “Oh, iya, nih bukunya, Sabtu Bersama Bapak.”

Tangan kanan Aldy menyerahkan buku ke cewek itu sambil bilang, “Kamu kan yang minta lewat Instagram?”

“Iya, hehe.” balas si cewek sambil mengambil buku tersebut.

“Agak aneh tau cara kamu pinjem buku ini. Kamu follow akunku duluan, kamu ngomen di salah satu foto lamaku, terus kamu bilang mau pinjem bukuku. Wah, jangan-jangan aku di-stalking cewek cakep, nih.” kata Aldysok iye.

Cewek itu menjawab agak malu, “Apaan, sih.”

“Nggak gitu, juga kali…”

Tak ingin lagi mendengarkan percakapan mereka, Katy lalu berprasangka buruk.

“Kok bisa, sih, cewek secantik itu mau jalan sama cowok seberantakan itu???”

“Palingan besok tuh cewek nggak mau lagi jalan sama dia!” ucap Katy, judes.

Sayangnya, prediksi itu meleset.

Sesudah hari itu, mereka berdua selalu jalan bareng.

Bahkan, mereka nggak hanya pulang bareng lagi. Sekarang, tiap sinar mentari baru sepenggalah, mereka juga berjalan bersama menuju sekolah.

Kenapa cewek itu mau jalan sama cowok secemen itu?” tanya Katy kebingungan. “Padahal dari tampangnya, ia bisa dapet cowok seganteng Lee Min Ho.”

“Pasti cowok itu pake dukun, deh!” lagi-lagi Katy menaruh curiga terhadap Aldy.
Kemudian, setiap mereka berdua melewati Katy, kucing ini selalu memasang muka penuh curiga. Pernah, Katy mencoba mengganggu hubungan mereka dengan berteriak.

“Oi, cewek berkerudung merah! Cepatlah sadar! Kamu masih dibawah sihir dukun tau!”

Tapi, bukannya mengerti, cewek itu cuma menatap kucing tersebut dengan tatapan linglung, “Kenapa coba kucingnya ngeong-ngeong gitu?”

“Pengin kawin kali.” jawab Aldy sambil melihat kucing tersebut.

“Emang kucing kalo mau kawin begitu?”

“Setauku, sih, gitu. Kamu nggak tau?”

“Nggak.” Cewek itu menggeleng kepala.

Menunjuk kucing orange itu, Aldy berkata lagi, “Eh, coba liat tuh mukanya. Galak banget, ya?”

“Iya, bener.”

“Pasti premannya daerah sini tuh. Dia bos kucing yang suka malak-malakin kucing lain. Minta ikan asin.”

“Hahaha, bisa aja.” Cewek itu tertawa kecil. “Tapi, bukannya itu kucing cewek, ya?”

Aldy melihat lebih seksama.

“Oh ya?”

“Berarti itu kucing cewek yang ditinggal suaminya.”

“Suaminya kabur, kawin lagi sama gadis desa. Akhirnya, kucing cewek itu jadi janda tua yang hidup merana. Makanya, mukanya galak gitu. Penuh dendam sama suaminya.” kata Aldy, mengada-ngada.

“Kamu mah kebanyakan nonton sinetron.” Cewek itu memukul pelan Aldy.

“Siapa tau bener, kan?” bilang Aldy.

Cewek itu menjawab, “Udah, ah. Kamu becanda melulu. Jalan lagi, yuk. Nanti telat lho.

“Iya, ya. Udah jam 07.15, nih. Nanti kalo telat dapet potongan lagi." kata Aldy melihat handphonenya. "Ya udah, yuk, kita jalan lagi, yang.”

Mereka lalu kembali melangkah bersama, meninggalkan kucing bawel bernama Katy itu.


1 2 3





-     -     @aldypradana17



Guys, jangan lupa follow blog ane, ya, biar bisa update terus postingan baru ane --> aldypradana.com atau like page ane di Aldy Pradana. Thank you! :D

Tanda-Tanda Pedekate-mu Sudah Berhasil


Untuk mendekati seorang cewek, kamu akan melakukan suatu hal yang bernama, pedekate.

Pedekate bisa berupa ngajak ngobrol duluan, say hello lewat chatting, atau menawarinya pulang bareng.

Tahap yang terakhir, baru aja gue lakukan beberapa hari yang lalu. Gue mengajak perempuan yang gue suka untuk pulang bareng. Dan selama perjalanan itu, inginnya, kami bisa saling mengenal lebih dekat satu sama lain. Saling bertukar cerita antara kami berdua.

Kejadian itu terjadi saat pulang sekolah. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 02.30, para murid sudah pulang, dan sekolah sudah tampak sepi.

Sekolah hanya tersisa beberapa guru yang masih sibuk dengan urusannya masing-masing. Gue yang sudah bersiap pulang, lalu berinisiatif ngewhatsapp dia, “Pulang bareng, yuk.”

Sekian menit kemudian, ada balasan singkat darinya, “Yuk.”

Gue lalu menunggunya di depan sekolah, menanti dia keluar dari perpustakaan.

Rencana gue begini, gue akan mengantarnya ke pasar pocong (iya, namanya emang gitu, dan tidak, disana nggak ada yang jualan pocong), menemaninya ke tempat angkot biasa lewat.

Dia memang berangkat-pulangnya pake angkot. Katanya, butuh satu jam perjalanan untuk sampai dari rumah ke sekolah, dan juga sebaliknya. Seandainya, gue sudah punya motor yang layak pakai, gue akan mengantarnya sampai rumah. Bukan cuma mengantarnya sampai ia naik angkot doang. Ah, gue memang lelaki cemen kurang modal.

Kembali lagi ke sekolah, akhirnya dia keluar dari perpustakaan, berjalan mendekati gue yang sudah menunggu lama.

Melihatnya datang, gue senang sekaligus deg-degan.

Gue kemudian memperhatikan kecantikannya yang kurang ajar itu.

Wajahnya putih halus dengan bola mata besar dan jernih. Ada tai lalat di atas bibir kanannya, membuat dia terlihat khas dibanding perempuan lain. Kain kerudung membungkus kepalanya, menjadikan mukanya tampak bulat dan lucu. Mukanya seperti anak kecil masih SMP, tidak terlihat kalo dia sudah lulus kuliah D3.

Saat itu, dia memakai kerudung pink ditemani baju berwarna sama yang berbintik putih. Dia juga menggendong tas merah tua, dan menggunakan celana hitam panjang. Sneakers abu-abu agak kusam ia pake tanpa mengatupkan bagian belakangnya.

Namanya Muti. Seorang gadis yang mampu membuat gue suka cukup dalam hitungan detik saja.

“Yuk.” kata gue. Dia lalu membalas dengan mengangguk agak malu.

Berjalan keluar sekolah, kami berdua lalu berjalan di jalan yang menurun. Berdiri di sebelah kanannya, gue bertanya, “Kamu tau dari mana sekolah ini?”

“Aku tau dari kakakku.” jawabnya, tanpa menoleh. “Dulu, dia pernah kerja disini. Tapi, udah lama banget.”

Uti, panggilannya, melanjutkan, “Lagian, aku juga masih baru disini, nggak mungkin langsung tau sama sekolah ini, kan?”

“Maksudnya, baru?” tanya gue, penasaran.

“Aku kan asli Padang, baru disini sekitar satu bulanan.”

Gue mengangguk, mengerti akan sesuatu, “Oh, Padang…”

 “Horas!

Uti akhirnya menoleh, melihat gue, “Kak Aldy, itu bahasa Batak.”

“Padang pake bahasa Minang.”

“Oh? Salah, ya? Maaf-maaf.” balas gue dengan rasa bersalah bercampur malu.

Gue lalu terdiam. Suasana pun canggung.

Masih menuruni jalan yang lumayan panjang, gue berpikir bagaimana caranya memecahkan keheningan ini. Gue lalu teringat sesuatu. Gue lalu membuka tas punggung gue, mengambil salah satu buku terbitan Gagasmedia (bukan promosi, btw).

“Oh, iya, nih bukunya, Sabtu Bersama Bapak.”

Tangan kanan gue menyerahkan buku ke dia sambil bilang, “Kamu kan yang minta lewat Instagram?”

“Iya, hehe.” balasnya sambil mengambil buku tersebut.

“Agak aneh tau cara kamu pinjem buku ini. Kamu follow akunku duluan, kamu ngomen di salah satu foto lamaku, terus kamu bilang mau pinjem bukuku. Wah, jangan-jangan aku di-stalking cewek cakep, nih.” kata gue, setengah bercanda.

Dia menjawab agak malu, “Apaan, sih.”

“Nggak gitu, juga kali…”

Uti lalu bercerita, menjelaskan proses peminjaman buku Sabtu Bersama Bapak milik gue.

“Aku kan kenal Kak Aldy pas kita pertama ketemu di pelatihan guru kemarin. Waktu itu Kak Aldy ngomong, ‘Nggak bawa buku, ya?’ Dan dari situ, aku hafalin tuh nametag yang nempel di baju Kakak.”

“A-L-D-Y.”

“Nah, sehabis pelatihan itu, aku nyari FB sekolah. Aku follow-in guru-guru yang aku kenal. Nggak sengaja, ketemu tuh nama Kak Aldy, ketemu juga akun Instagramnya. Terus, aku liat-liat foto di Instanya Kakak, aku liat ada foto novel yang judulnya menarik. Udah deh, aku komen, minta pinjem.”

“Gitu.”

“Jadi, jangan mikir yang aneh-aneh, deh. “ tutupnya kesal, tapi malah terkesan lucu.

“Iya-iya.” ujar gue. “Jangan ngambek, dong. Nanti cantiknya ilang, lho.”

Dia hanya diam, tapi tampak ia tersenyum simpul mendengar kalimat gue barusan.

Selesai menuruni jalan, kami pun belok kanan, menginjak jalan yang sudah selesai diaspal. Gue lalu bertanya, “Terus gimana perasaanmu disini?”

“Masih membiasakan diri di perpustakaan. Maklum, masih baru.” ucapnya. ”Seneng juga, karena ketemu banyak anak-anak, tapi harus ngapalin nama anak cepet-cepet.”

“Soalnya, aku pelupaan.”

Gue menenangkannya, “Santai, aja kali. Aku pertama juga bingung ngapalin nama. Tapi, lama-lama juga hafal. Itu emang proses, kok. Nggak bisa langsung hafal seketika.”

“Bener juga, sih.” Dia melanjutkan. “Kalo Kak Aldy ngajar dimana?”

“Aku asisten guru di kelas Transisi. Di SNC, Special Needs Center. Aku ngebimbing anak-anak autis.”

Agak kaget, dia berkata, “Wow, autis? Harus sabar, dong, berarti?”

“Banget.”

Selesai melewati jalan yang baru diaspal, kemudian masuk sebuah perumahan. Ada beberapa anak kecil sedang bermain, salah satu mereka ada anak kecil yang bermain cuma memakai celana dalam doang.

Melihat mereka bermain, gue kembali bicara dengan menggunakan gesture tangan agar terkesan akrab. “Tau, nggak, sih? Dulu, aku pernah beropini kalo ‘aku tuh nggak suka anak kecil’. Aku mikir gitu karena mereka tuh banyak polahnya, bandel, sama nyebelin.”

“Tapi sekarang, setelah masuk sekolah ini, aku jadi ketemu terus sama anak kecil. Jadinya? Aku malah suka sama anak kecil. Aneh ya?”

“Kamu juga gitu, nggak?”

Dia menoleh, “Aku di rumah kakak, ada dua anak kecil. Ya gitu, juga. Kadang, mereka tuh bandel sama nyebelin banget. Tapi ujungnya, pasati ngangenin. Jadi, kalo aku udah betah sama anak kecil.”

Gue menggangguk setelah mendengar penjelasannya. Melihat ujung jalan, tangan gue menunjuk ke depan, “Nah, itu, udah keliatan pasar pocong.”

Kemudian, kami keluar dari perumahan, menyebrangi jalan yang berlubang.

“Nggak enak, nih lewat sini. Jalannya becek sama nggeronjal.” kata gue, berjinjit menghindari kubangan air.

“Emang.” Dia melompati lobang besar berisi genangan air cokelat. “Apalagi kalo abis hujan gini.”

Sampai di seberang jalan, kami lalu melanjutkan perjalanan kami. Angkutan umum dan motor menemani langkah kami waktu itu. Suasana ramai pasar membuat kami berhenti mengobrol beberapa detik. Dia berjalan di depan gue. Meski kakinya termasuk pendek, jalannya sungguh cepat sekali.

Tertinggal di belakangnya, gue memprotes jalannya yang ngebut itu.

“Kamu sadar nggak, sih, kalo jalanmu itu cepet banget?” seru gue, mengejarnya dari belakang. “Aku harus ngikutin tempo jalan cepatmu, nih.”

Sadar akan kalimat gue barusan, dia lalu memelankan gerak kakinya. Sekarang, kami sudah sejajar lagi. Ia pun kembali berdiri di sebelah kiri gue.

“Udah kebiasaan. Kalo jalan sendiri, pasti jalan cepet begini.”

Gue menjawab dengan niat melucu, “Kirain karena kamu ngerasa ilfil sama aku, terus jalan cepet, biar bisa segera nyingkirin aku.”

“Nggak, kok, kak.” bilangnya. “Malah enak, sekarang kalo jalan, ada yang nemenin.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, dia tersenyum malu. Gue yang mendengarkannya juga senyum-senyum malu. Kode banget ini mah!

Sesudah sampai ke pertigaan, kami belok kiri, dan menunggu disana. Di tempat itu, memang sudah jadi langganan dimana angkotnya datang. Kami menunggu sebentar, lalu datanglah angkot berwarna orange agak kumuh itu.

Angkot itu berhenti di depan kami. Sebelum menaiki angkot tersebut, ia menoleh, menatap mata gue cukup dalam, dan berkata, “Makasih, ya, udah mau nemenin.”

Gue tersenyum, “Iya, sama-sama.”

Uti lalu masuk dan duduk di belakang sopir. Sedangkan gue, masih berdiri di luar, menunggu angkot yang dinaikinya berjalan. Kami masih melihat satu sama lain. Mata kami masih saling bertatapan seperti tidak mau lepas. Dalam tatapan itu, timbul suatu rasa di hati gue, dan mungkin di hati dia juga. Suatu rasa yang dialami oleh orang yang sedang jatuh cinta. Suatu rasa yang menyelimuti hati orang yang sedang kasmaran.

Kemudian, dia melambaikan tangannya sambil mengucapkan “Dadah” dengan suara pelan. Gue lalu membalasnya dengan mengucapkan kata yang sama.

Beberapa detik berlalu, angkot itu akhirnya berjalan meninggalkan gue sendirian.

Saat memandanginya yang mulai menjauh, gue mencoba mengerti beberapa tanda yang dia berikan. Melihat dari ekspresinya, gerak-geriknya, dan cara bicaranya, gue pun tau,

Itulah tanda pedekate gue berhasil.  

Itulah tanda dia telah membuka hatinya.

Itulah tanda dia menyukai gue.







*postingan ini khusus buat kamu yang tertulis di cerita ini*


1 2 3


- @aldypradana17



Follow blog ane, gan, biar bisa update terus postingan baru ane --> aldypradana.com atau like page ane di Aldy Pradana. Thank you! :D
munggah