PEMBERANI & TANGGUH (short films about never giving up)


Saya lupa kapan tanggalnya, yang jelas harinya itu Jum'at dan saya memulai shooting untuk membuat film pendek PEMBERANI ini. 

Awalnya, film pendek ini bercerita tentang 3 siswa dengan 3 kegiatan yang berbeda. Sepak bola, Memanah, dan Wall Climbing. Tapi, karena ternyata durasi terlalu panjang. Akhirnya, videonya dipisah menjadi dua bagian.

PEMBERANI dan TANGGUH.

PEMBERANI fokus pada Nayif (striker) yang ingin menciptakan gol ke kiper yang sangat jago (Reyner). Bagaimanakah cara Nayif untuk menembus gawang kiper tersebut?

TANGGUH punya metode yang sama. Cuma bedanya, ada Radit (wall climbing) dan Azka (memanah). 

Inti film pendek ini memang ingin berbagi pesan bahwa kita harus berani menyelesaikan suatu tantangan, dengan terus bekerja keras dan pantang menyerah.




Saya bersama Nayif dan Reyner (SD 6 - 2018/2019), shooting ini sekitar 45 menit (sesi pertama) dan 1 jam (sesi kedua). Menggunakan jam pelajaran saya, di saat siswa SD 6 yang lain mengerjakan  soal, kami shooting dengan waktu yang seefektif mungkin.

Saat saya bersama Radit dan Azka (SD 6 - 2018/2019), shooting ini lebih singkat lagi waktunya. Untuk Azka, saya hanya punya waktu tidak sampai 30 menit. 

Yang sulit adalah saat tembakan panahan harus mengarah ke tengah sasaran. Tembakan Azka sudah cukup bagus, tapi buat saya masih kurang tengah, hehe. Jadi, dibantu Coach panahannya agar sesuai dengan keingingan saya.

Sedangkan untuk Radit, dia harus 4 kali menaiki wall climbing agar punya footage yang banyak dan menarik. Tapi ternyata, ada beberapa adegan yang tidak bisa masuk karena Radit, tidak memakai helm saat shooting. Jadi, footagenya lebih sedikit.

Hasilnya, lumayan. Walaupun, saya juga merasa, seharusnya bisa lebih baik. Tapi, untuk awalan, ini buat saya, sudah lebih cukup. Nanti diperbaiki pada kesempatan berikutnya.






Untuk filmnya bisa dicek di video di atas, atau ke sini juga bisa: youtube.com/c/aldypradana17 


- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

Festival Literasi SABIT 2019 (Sekolah Alam Bambu Item)


Sabtu, 23 Maret 2019, Sekolah Alam Bambu Item (SABIT) mengadakan acara puncak dari Festival Literasi SABIT 2019. Pada hari itu, teman-teman dipersilakan untuk memakai pakaian sesuai dengan buku cerita buatan mereka. Diperbolehkan juga memakai kostum dari film/buku/tokoh kesukaan.

Akhirnya beragam kostum dari pemadam kebakaran, polisi, tentara, kelinci, pejuang, putri, penyihir, dan masih banyak lagi

Acara dimulai jam 8, Miss Semi membuka acara sebagai MC pada hari itu. Lalu, Falhan (SD 4) & Sasa (SD 5) membacakan tilawah dan sari tilawah. Pak Juli, selaku kepala sekolah SABIT, memberikan beberapa kata untuk menyambut para orang tua dan siswa yang telah datang. Dengan resmi, Festival Literasi SABIT 2019 dibuka dengan Pak Juli memotong pita emas yang terbentang di atas panggung.

Untuk membakar semangat, tim perkusi SABIT (Gema Suara Percussion) menggebrak dengan memberikan beberapa lagu. Kali ini tim perkusi diisi dari kombinasi guru dan murid agar memberikan suasana yang berbeda. (Tim perkusi: Khanza, Fina, Azka, Rayyis, Pak Hadi, Bu Maulida, Bu Ifa)

Setelah perkusi, diumumkan pemenang dari lomba yang sudah dilaksanakan. Ada lomba mendongeng, mengeja, dan banyak lagi. Teman-teman SABIT maju sesuai dengan urutan, memamerkan buku buatannya. Pada tahun ini, buku bikinan para siswa SABIT bermacam-macam, membahas dari pengalaman pribadi, cerita fiksi, hewan kesukaan, sampai cerita fabel.


Pak Rahman mengisi salah satu sesi pada Festival Literasi kemarin. Pak Rahman menjadi pendongeng, memberikan peran kepada teman-teman SABIT untuk menyuguhkan sandiwara di panggung.


Ada yang jadi petani, tentara, pedagang, dan Raja. Video FULLnya bisa dilihat di YouTube Sekolah Alam Bambu Item.


Selama Festival Literasi SABIT berlangsung, teman-teman SABIT boleh membaca hasil tulisan yang terdapat di reading corner tiap kelas. Contohnya, seperti Nadya dan Nafeeza ini. Mereka membaca buku karya teman-teman SABIT sambil bersantai di reading corner kelas 4.


Tidak hanya teman-teman SABIT, para orang tua pun ikut membaca hasil tulisan para siswa Sekolah Alam Bambu Item. Pada acara kemarin, para fasilitator SABIT membuat reading corner semenarik dan senyaman mungkin agar menjadi tempat yang menyenangkan untuk membaca buku




Reading corner dengan ciri khas masing-masing, tersusun rapi dari TK, SD 1-5 di dekat saung kelas SD. Menjadi tempat terpajangnya buku-buku teman SABIT, juga menjadi spot yang enak untuk membaca.

Alhamdulillah, semua berjalan dengan lancar. Semua berkat kerja sama kita semua. Dari para fasilitator SABIT, orang tua murid, dan teman-teman SABIT.



Acara Festival Literasi memang sudah selesai, tetapi semangat membaca harus tetap membara. Terus membaca buku, terus menulis cerita. Sampai jumpa di Festival Literasi berikutnya.



Tulisan di atas adalah tulisan saya, yang menjadi 9 postingan secara terpisah di instagram @sekolahalambambuitem




- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

munggah