Do You Believe in Luck?



Postingan ini awalnya mau dibikin versi video ala podcast tapi setelah dipikir-pikir, lebih pas versi tulisan aja. Dan disinilah saya, berbagi tentang tulisan mengenai keberuntungan.

Sebelumnya, mari kita kesampingkan dulu faktor agama di sini.

Karena saya akan membahas LUCK dari sudut pandang filosofi.

Filosofi saya tentang keberuntungan yang kita dapatkan di dunia ini.

Menurut saya, 

Keberuntungan hanya akan didapatkan bagi manusia yang telah berjuang. Yang telah mengerahkan kemampuan, tekad, dan usaha. 

Telah, ya, bukan sedang.

Mereka yang sudah berusaha, sudah melakukan yang mereka bisa, berbuat yang terbaik, akhirnya mendapatkan "keberuntungan" untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Contohnya begini:

Saya tersesat di suatu daerah. Saya mencoba memutar balik ke jalan yang saya ketahui, tapi saya makin nyasar. Bertanya ke orang, bukannya nemu jalan keluar, malah semakin mbruwet. Sampai akhirnya, saya mencoba istirahat dulu dengan minum di warung pinggir jalan. Saat meminum teh botol dengan perlahan, segerombolan motor melewati jalan. Salah satu dari mereka, teriak, "Ayo kita ke kota! Nonton tim kebanggaan kita! Mendengar itu, saya langsung gercep mengikuti mereka (tentunya bayar tehnya dulu). Saya mengikuti mereka, karena mereka pasti hendak menuju stadion, dan saya kenal daerah situ, berarti saya bisa lolos dari ketersesatan ini. Akhir cerita, saya pun sukses menemukan jalan keluar.


Itu adalah cerita saya.




Usaha maksimalnya dimana?

1. Mencoba memutar balik
2. Bertanya ke orang

Keberuntungannya?

Secara tidak sengaja, saya berhenti di tempat yang ternyata dilewati oleh segerombolan motor yang ingin menonton pertandingan bola. Yang kemudian, memberi jalan keluar dari masalah saya.

Saya ada beberapa contoh lain, tapi inti ceritanya sama.

Usaha terlebih dahulu, keberuntungan datang kemudian.

Tentunya, ini adalah filosofi saya. Apa yang saya percaya dari pengalaman saya. Yang mungkin, wajar jika berbeda pendapat dengan yang lainnya.




Semoga tulisan ini bermanfaat:)




- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com

Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

IGTV, Saingan Youtube?


Instagram meluncurkan IGTV beberapa minggu yang lalu. Sebagai orang yang ingin mengikuti perkembangan zaman dan tentunya mencoba terus mengerti bagaimana sosial media ke depannya nanti, saya pun mencoba membuat video IGTV. 

Semua orang tahu tentang video vertikal yang berlaku di IGTV. 

Vertikal.

Potrait.

Bukan landscape. Bukan pula horizontal video.

Saya pun mencoba yang mudah buat saya dulu, yaitu dengan handphone. Saya mendokumentasikan kegiatan pembelajaran saya, wawancara bahasa inggris.





Saya mengupload video pada dua tempat sekaligus.

IGTV dan Youtube.

Bagi saya, sebagai pembuat, sensasinya memang berbeda.

Karena dari dulu terbiasa video yang melebar ke samping. Sekarang, malah panjang ke atas (atau ke bawah). 

Dulu, susah sekali mendapatkan full body seseorang. Sekarang, jadi lebih mudah karena sistem vertikalnya.

Saya masih belum bisa memutuskan apakah IGTV bisa menjadi saingan Youtube.

Tapi, satu hal yang pasti, video vertikal pasti menjadi tren tersendiri ke depannya.

Dan tidak ada yang lebih baik, video vertikal dan horizontal itu sama baiknya. Sama kerennya. 

Buat orang yang tempat kerjanya di social media, atau mendapatkan rezeki dari media sosial, cobalah IGTV. Jangan sampai ketinggalan. Manfaatkan semua keunggulan dari IGTV dan youtube. Karena video vertikal juga bisa diupload ke youtube juga.

Itu saja dari saya. 

Semoga postingan ini bermanfaat.




- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com

Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

Pentingnya Storytelling di Social Media


Dulu nganggep Instagram itu ya tempat share foto. Nomor 1 itu foto, caption berada di nomor sekian. Tapi, makin ke sini, makin berubah pendapatnya. Caption atau cerita bisa jadi nilai plus tersendiri.

Apalagi zaman sekarang, beberapa selebgram (cielah, seleb-gram) ada yang nulis caption bisa panjang banget. Nyeritain kejadian di foto, behind the scene foto tersebut, atau cerita yang berhubungan sama fotonya. 

Dan kalo dipraktekkin, ke jualan. Cerita jadi magnet buat pembeli.

Kayak A jualan jam tangan, isi feed IG cuma berbagai jam difoto diambil dari angle yang sama, captionnya pun cuma nama jam + harganya. Malah ada yang harga nggak dicantumin biar pada DM dulu (lhah).

Contoh lain, ada B, sama jualan jam tangan, tapi bedanya B punya cerita. Cerita kenapa membuat jam, cerita tentang filosofi waktu, cerita tentang pemilihan warna di jam tangan, cerita tentang pake jam menambah oke fashion seseorang.

The art of storytelling. Bukan sekedar jualan, tapi juga personal branding.

Salah satu yang suka adalah akun dari nah project



Saya termasuk ngikutin mereka dari awal banget, waktu jenis sepatunya masih dikit. Sekarang yang dijual banyak banget jenis sepatunya, dan keren-keren.

Yang bikin mereka beda itu adanya transparansi harga.

Dapet harga 300 ribu itu darimana, dijelasin semua sama mereka.

Cerita pembuatan sepatunya, kenapa begini, begitu, dijelasin.

Kenapa kolaborasi dengan si A, B, C, dijelasin.

Semuanya ada ceritanya. 

Jadi, menguatkan brandnya. Menguatkan "dagangannya".

Dan saya belajar banget dari akun ini.

Karena saya lagi giat-giatnya belajar tentang digital marketing, saya coba analisa luar dalem teknik yang mereka pake di social media. Yang saya harap bisa saya pake di kemudian hari.








- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com

Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

Ketemu Bule


Jum'at (20 Juli 2018), sekolah alam bambu item kedatangan tamu dari yayasan tamu baca dan beberapa mahasiswa dari Amerika (Will, Kasey, Brent dan Isaac) yang sedang liburan.

Selaku fasilitator SABIT, saya dan guru lainnya berbagi tentang apa itu sekolah alam, pembelajaran belajar bersama alam, wall climbing, dan berkebun.


Ada satu sesi (foto pertama), saya berkesempatan untuk ngobrol bersama salah satu tamu untuk menjelaskan tentang dapur kreasi SABIT. 




Kalimat pertama yang ada di kikiran saya itu "This is our kitchen."



Tapi, kalimat yang keluar malah, "This is our chicken." 


(efek grogi sepertinya)😂


Untungnya, abis itu nggak ada belepotan lagi. Lancar, dan kadang masih ada proses mikir beberapa detik dulu sebelum menjawab. Maklum, namanya juga masih belajar.


Saat mereka ke sekolah, murid-murid SABIT itu banyak yang menghampiri mereka. Ada yang ngeliat jauh, tapi penasaran. Ada yang ngedeketin, tapi liat-liat aja. Ada juga yang deketin, terus beneran ngajak ngobrol. 

Yang ngajak ngobrol pun banyak ragamnya. Ada yang beneran pake bahasa inggris, tapi ada yang manggil mereka dengan "Om, om." 

(bule dipanggil om mana ngerti 😅)

Tapi itu lucunya, sih. 

Reaksi anak-anak itu unik-unik banget. Sayangnya memang di faktor durasi yang cuma setengah jam doang, coba lebih panjang. Mungkin interaksi antara para tamu dengan anak-anak bakal lebih banyak.


Btw, karena pengalamannya cukup berkesan, saya bikin dua video tentang ini. Satu diupload di youtube saya, satunya di youtubenya sekolah. Inti ceritanya sama, tapi masing-masing punya momen spesial tersendiri.















- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com

Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

Kenapa Suka Buku Motivasi?

gramedia.com

Dari dulu suka heran kenapa ya saya suka banget sama buku motivasi.

Apa karena saya orangnya butuh banget didorong dengan kalimat motivasi? Butuh banget baca kata-kata puitis agar semangat terus?


gramedia.com
Dulu saya bertanya-tanya sampai sebegitunya, sampai akhirnya masuk ke sekolah dan ngajar. Ternyata ilmu dari baca buku motivasi terpakai saat mengajar.

"Ayo, kalian pasti bisa!"

"Semuanya, mari kita coba sekali lagi, dengan jauh lebih semangat!"

"Kalo gagal, coba lagi. Masih gagal, coba lagi. Coba lagi, terus sampai bisa. Sampai terbiasa!"

Dan itu tentunya bukan sekedar kalimat motivasi, tapi juga ada actionnya. Dengan tindakan nyata, dengan aksi yang sesungguhnya.




Ada anak yang takut berenang, saya lalu memberi contoh dengan beneran nyemplung ke kolam renang, agar anak yang takut renang ini merasa lebih baik.

Ada anak yang kesusahan saat wall climbing, saya lalu memberi contoh dengan beneran wall climbing, agar anak mendapatkan contoh gimana cara naiknya.

Ada anak yang kesulitan saat berada di gunung, saya lalu memberi contoh dengan menjadi kuat saat lagi di gunung, agar anak yang belum pernah ke gunung sebelumnya, menjadi kuat juga.





Hebat memang, bagaimana dunia bekerja. Dulu cuma sekedar baca buku motivasi, sekarang harus memotivasi atau menasehati. Akhirnya, ilmu dari buku motivasinya terpakai.




(tambahan: akan jauh lebih baik, kalo membaca buku motivasi itu nggak cuma sekedar dibaca, tapi juga dipraktekkan. Entah buku motivasi tentang bisnis atau kesuksesan. Dipraktekkan, agar ilmunya terpakai dengan baik.)






- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com

Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini
munggah