Cerita di Sekitar Masjid


Saya sekarang memiliki ikatan tersendiri dengan masjid. Semacam, kalau tidak mengunjungi hati terasa kurang. Padahal, dulu saya tidak seperti itu. Memasukinya cuma sekali seminggu. Jika saya melewatinya, lalu saat azan berkumandang, niatan untuk menghampirinya pun tidak ada. 



Di postingan ini, saya ingin berbagi cerita seputar masjid. 


Beberapa cerita yang berkesan untuk saya, yang mungkin dapat membekas untuk semua.



1) Saya ingat, sewaktu kecil dan remaja, di kepala saya solat di masjid itu hanya solat Jum'at. Kalau Bulan Ramadan menaungi, ya berarti ditambah dengan solat tarawih. Sudah, itu saja. Tidak ada yang lain. Saya sebelumnya tidak tahu kalau solat berjamaah di masjid adalah "sunah muakad" bagi laki-laki. 

Hati saya juga belum merekah untuk membagi waktu di tempat itu.

Namun, semua itu berubah ketika ibu saya pergi

Kepergian beliau mengubah pola hidup dan pola pikir saya.

Terutama tentang sudut pandang saya tentang agama.

Saya lebih dekat denganNya karena sesudah beliau tiada, tak ada lagi tempat untuk bercerita. Dan dari situlah, saya mulai mengenal masjid.


2) Pertama kali meniatkan untuk rutin solat berjamaah di masjid itu tidak mudah. Begitu saat meniatkan rutin untuk mengaji, dan amalan-amalan sunah yang ada. 

Saya waktu datang ke masjid untuk solat dzuhur berjamaah itu rasanya bingung. 

Adzan sudah berkumandang, terus kapan iqamahnya? Kapan solatnya? 

Hati dan kepala tidak berpadu karena memang ini bukan suatu kebiasaan saya dulu.

Saya melihat sekitar, ada beberapa solat sunah 2 rekaat, beberapa mengaji, lalu lainnya, menengadahkan kedua tangannya lalu berdoa dalam hati. Mencermati itu, saya pun melakukannya. Saya mengisi waktu di antara adzan dan iqamah dengan solat sunah. Jika masih ada waktu, saya sempatkan mengaji (kalau membawa Al-Qur'an). Kalau tidak dengan berdoa, entah doa seperti doa untuk kedua orang tua, atau sekedar curhat menuangkan kegelisahan dari dalam dada.

Waktu berlalu, rasa bingung pun hilang. Rasa takut, grogi, dan tak tahu harus berbuat apa di masjid akhirnya menghilang seiring dengan pengalaman. Meski itu di masjid dekat rumah, atau masjid yang saya lewati di kala sedang perjalanan, saya tahu apa yang harus perbuat.

Dan saya tahu, saya merasakan kenyaman saat berada di masjid.


3) Pendekatan kepada Sang Maha Kuasa ini, kalau tidak salah, umur saya sekitar 18-19 tahunan. Bisa dikatakan ini memang sedikit terlambat. Teman-teman saya sudah mengenalNya jauh lebih dulu, bahkan saya pernah berguru kepada salah satu teman saya untuk mengejar ketertinggalan saya.

Iya, memang setiap orang menggendong ceritanya masing-masing. Ada yang memang dari keluarganya, agama sudah menjadi pondasi penting. Ada yang menganggap agama tidak seperti itu. Keluarga saya, contohnya. 

Tapi sesudah sadar, saya mencoba memahami betul dan melengkapi kekurangan saya. 


4) Saya pernah ibadah di masjid, di kota yang pernah saya hampiri atau singgahi. Saya pernah berada di Solo, Semarang, Sidoarjo, Surabaya, Jakarta, dan sekarang di Bekasi/Bogor. 

Di setiap kota punya ceritanya masing-masing. 

Saya pernah karena masjid terlalu penuh dan sayanya memang telat, saya akhirnya solat jum'at di tangga masjid sebelum pintu masuk. Karena kurang ideal tempatnya, posisi solat pun "harus disesuaikan" agar dapat beribadah.


Pesan moralnya, jangan pernah telat mendatangi masjid. (reminder to myself too)


Saya ingat, ada orang yang mendatangi masjid dengan kruk. Kruk itu semacam alat bantu berjalan. Salah satu kakinya di gips, dan kruk itu yang membantunya melangkah menuju masjid. Rumahnya sepertinya memang dekat dengan masjid, dan pria ini berjuang sendirian agar sampai ke masjid.

Saya tidak tahu kenapa kakinya di gips, tapi saya tahu, beliau ini lekat dengan masjid. Setiap hari "berjalan" ke masjid, dan beribadah dengan duduk (bisa dengan kursi atau duduk di bawah).

Sampai suatu hari, saya melihatnya lagi di masjid yang sama.

Kali ini, tanpa kruk, tanpa alat bantu berjalan.

Beliau sepertinya sudah sehat betul, sehingga mampu melangkah tanpa bantuan alat.

Orang-orang seperti ini memang termasuk sering saya temui di masjid. Yang kifosis (bungkuk), yang kakinya tidak mampu bertumpu dengan benar sehingga ia berjalan menggunakan dengan tangannya, dan lain-lain.

Mungkin orang-orang ini sependapat dengan saya, bahwa serumit apa pun kondisi manusia, kembali kepadaNya adalah suatu keharusan.



5) Beberapa masjid terdapat lapangan di lingkungannya. Bisa lapangan basket, atau lapangan badminton. Lapangan ini biasanya diisi oleh anak-anak tiap sorenya, bermain bersama dan berbagi canda. Permainan mereka akan terhenti kala adzan merambat, memberi tahu sudah waktunya solat.

Kata orang, "Masjid diidentikan dengan orang yang sudah sepuh." 

Kalimat itu pun lenyap, saat mereka, anak-anak ini, mendatangi masjid untuk beribadah bersama.


Sama seperti masjid megah pada umumnya, masjid yang tinggi dan besar ini tak jarang mempunyai desain arsitektur yang menggoda mata. Lengkap dengan AC dan lantai bertingkat dua hingga tiga, masjid punya fitur modern yang memberi kenyamanan lebih pada penghuninya.

Saya mendapati masjid-masjid seperti ini di lingkungan saya. 

Masjidnya begitu sejuk dan indah untuk dipandang. 

Di rak-rak bukunya, terdapat Al-Qur'an dan buku-buku islami untuk menambah ilmu.

Masjid-masjid tersebut menurut saya, memberikan kesempatan lebih agar mereka datang dan beribadah di sana. Fasilitasnya tidak hanya cukup, tapi sangat memadai. 

Namun, tidak bisa dipungkiri, masjid bukanlah urusan mewah atau megah, tapi lebih ke urusan hati. 

Terlebih lagi, urusan kenyamanan ketika sedang beribadah kepadaNya. 

DenganNya itu lebih ke menentramkan jiwa. 

Menikmati setiap doa yang terucap. Meninggalkan yang lain, mengutamakanNya terlebih dahulu.

Dimanapun letak tempat beribadahnya, bagaimanapun tempat beribadahnya, ingatlah agar terus beribadah kepadaNya.











*cerita ini hanya bermaksud menceritakan, tanpa maksud berlebih. Jika ada salah kata, saya minta maaf. Dan semoga setiap huruf yang tertulis di sini, punya makna lebih bagi pembacanya.






- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini


Berkendara Sendiri

http://www.tanahnusantara.com/wp-content/uploads/2017/07/Wisata-bekasi.jpg


Ada suatu waktu ketika saya menikmati kesendirian.

Memainkan gitar, mengulik lagu ternama. Membaca buku, meresap kata bermakna. Atau cuma sekedar duduk diam, menikmati waktu berlalu sepersekian detiknya.

Penyendiri. Iya, betul sekali. Saya memang seseorang yang seperti itu.

Tapi bukan berarti, saya kesepian. Karena sendiri dan sepi itu tidak sama artinya.

Malah, seringkali saya merasa sepi di kerumunan orang ramai, di antara tawa mereka yang tidak bisa saya ikuti.

Bagi saya, menyendiri adalah sesuatu yang saya butuhkan. Semacam obat yang menyembuhkan luka secara perlahan.

Kemarin, saya kembali menikmati nyamannya menyendiri.

Saya berkendara sendiri untuk membeli sepasang sepatu di suatu mall, di tengah kota Bekasi. Sepatu hitam slip on, yang bertujuan untuk mempermudah urusan mengikat tali sepatu, karena hidup sudah ribet, tidak usahlah dibuat kompleks dengan harus mengikat tali sepatu.

Sepatunya terbeli, ukuran 44 (dimana saya masih heran kenapa ukuran kaki saya terus bertambah), yang kemudian langsung saya coba untuk merasakan empuknya.

Saya keluar dari mall tersebut, mengendarai motor dengan lebih santai. Lampu-lampu jalan menemani, bersama dengan angin malam yang terlalu sejuk untuk dilupakan.

Tarikan gas melaju perlahan, macetnya jalan saya lalui dengan tenang tanpa harus membunyikan klakson tiap 5 detik sekali.

Saya lihat gedung tinggi mencabik langit, menarik sekali untuk diabadikan. Pikiran saya mengawang, “Seandainya saya bawa kamera saya, pasti saya sudah di tepi jalan memotret puluhan foto gedung itu.”

Saya lihat warung dengan format lesehan, mengingatkan saya dengan kampung halaman. Pikiran saya kembali ke masa lalu, “Seandainya saya bisa pulang ke Solo, bertemu lagi sahabat di sana, pasti hari itu menjadi hari terbaik dalam hidup saya.”

Menarik sekali, memang.

Berkendara sendiri, menatapi tiap detil yang terlewati dapat membuat pikiran terbang ke awan.

Saya bisa merasa senang, karena apa yang saya temui mengingatkanku dengan sesuatu.

Saya juga merasa sedih, karena apa yang saya lihat mengingatkanku dengan seseorang.

Apa pun itu, perasaan nostalgia atau fantasi masa depan yang belum tercapai, menjadi perjalanan yang melekat di pikiran.

Dan saya menikmati sekali perjalanan kemarin.







- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

Kamu Nanti Mau Jadi Apa?



Guru SD saya pernah bertanya,  "Apa cita-cita kamu? Tuliskan di buku tulismu. Tuliskan kamu nanti besarnya mau jadi apa." 

Saya yang belum tau cita-cita saya, yang belum paham saya nanti mau jadi apa ke depannya, akhirnya cuma bisa tengok kanan dan kiri.


Kamu Nanti Mau Jadi Apa?

Kamu Nanti Mau Jadi Apa?

Kamu Nanti Mau Jadi Apa?


Itu terngiang-ngiang di kepala saya, dan membuat kepikiran terus sampai saya akhirnya saya menemukannya pada beberapa tahun belakangan ini.

***

Barusan adalah kalimat pengantar yang berujung pada sebuah video yang saya buat. Saya mengalami banyaaaak sekali naik dan turun di kehidupan, dan saya putuskan untuk dijadikan sebuah video. Tujuannya adalah sebagai pengingat buat saya, bahwa alam semesta punya caranya sendiri untuk memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. 

Kadang, kita yakin akan sesuatu, dan berharap sekali dengan sesuatu itu. Tapi jika memang "itu" bukan jalan yang tepat buat kita, kita pasti akan diarahkan ke jalan yang lebih cocok olehNya.

Kemudian, masuk ke videonya sendiri.


A stop motion movie.

Saya nggak tahu kenapa, saya suka stop motion.

Saya pertama kali nyoba stop motion itu dulu pas zaman vine. Video 6 detik isinya gerakin mobil langkah per langkah, seolah-olah mobil-mobilannya jalan beneran. Cuma begitu doang, tapi seneng aja rasanya bikin video sesederhana itu. 

Pada film stop motion berjudul Kamu Nanti Mau Jadi Apa? ini, saya menggambar dan menulis semua "properti" yang ada di video ini. Hasil jepretan dibantu oleh adik saya, Ardy, yang juga membantu proses mempersiapkan properti yang dibutuhkan.


Terdapat sekitar 180 foto yang diambil menggunakan iPhone untuk membuat video stop motion seperti ini. Dibutuhkan sekitar 1-2 jam untuk pengambilan gambar dan sekitar 3 jam lebih untuk pengeditannya. 

Cerita didalam video ini pun semua berasal dari my true story

Semoga dibalik kerja keras dalam pembuatan #stopmotion ini, bisa diambil hikmahnya dan bisa pula bermanfaat buat semua. Dan buat semua orang yang masih belum menemukan nantinya mau jadi apa, semoga film pendek ini bisa membantu.



Audisi Stand Up Comedy Story: https://goo.gl/rEQmzB

Perjuangan Menjadi Penulis Buku: https://goo.gl/C4kL3u






- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini


Sirkuit Setan

https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2016/07/11/49/1122778/stoner-nilai-sirkuit-red-bull-ring-bisa-bikin-pembalap-tewas-ffY.jpg

Sirkuit menurut kamus adalah jalan melingkar atau berbentuk lingkaran, dipakai untuk berbagai perlombaan. 1 Sirkuit mempunyai jalan yang sama. 

Pada 500 meter pertama, ada belokan ke kiri, kemudian ada tikungan tajam ke kanan, lalu ada jalan lurus sekitar 100 meter. Sama. Tiap awal lap (atau lomba) akan bertemu seperti itu terus. Tiap 500 meter pertama, selalu bertemu belokan ke kiri, tikungan tajam ke kanan, lalu jalan lurus ke depan.

Kita akan bertemu jalan yang berbeda, ketika berada di sirkuit yang berbeda. 

Jika kita di sirkuit A, maka jalannya ya gitu terus. Tapi, kita akan menemui hal yang berbeda, jika kita berada di sirkuit B, C, atau D.


Sama seperti di kehidupan.


Di kehidupan, pada suatu tempat, kita akan menemui beraneka ragam manusia. 

Orang yang suka menolong. Yang suka ngomongin orang dari belakang. Yang suka ngritik, tapi tidak berbuat apa-apa. Yang suka beribadah murni karena ikhlas. Yang beribadah kalo diingetin doang. Yang bilang peduli sama kesehatan, tapi ngerokok. Yang bermuka dua, dan seterusnya. Banyak banget ciri manusia bertebaran di luar sana.



Misal,

Di tempat A.


Isinya orang yang suka menunda.

Orang yang suka marah-marah.

Orang yang pamer di IG.


Kalo kita berada di tempat A setiap hari, maka kita akan ketemu sama orang seperti itu terus. Suka menunda, suka marah, suka pamer. Tiap hari. Dari pagi sampe sore. Mau ketemu orang-orang yang kayak gitu terus?

Kalo iya, silakan diam di tempat. Kalo nggak, silakan pindah sirkuit.



Contoh lain,

Di tempat B.


Isinya orang yang suka tersenyum.

Yang kerjanya setengah hati.

Yang ternyata, suka ngomongin keburukan orang lain.


Kalo kita berada di tempat B setiap hari, kita akan bertemu sama orang seperti itu terus. Mungkin bukan cuma ketemu, tapi malah, ketularan!


Lho, tunggu dulu. Tapi kan tersenyum kan baik???? Gapapa dong ketularan???


Betul, tapi apakah kerja setengah hati itu baik? Ngomongin keburukan orang lain?

Silakan pilih, mau tetap di situ, atau mau pindah sirkuit?

Anda bisa pilih:

  • Saya di sana aja gapapa.
  • Saya pindah aja, tempatnya kurang sreg buat saya.
  • Saya tetap karena saya yakin bisa mengubah lingkungan di tempat itu

Mau pilih yang pertama, boleh.
Mau pilih yang kedua, boleh.
Mau pilih yang terakhir, boleh banget!



***


Saya menuliskan ini, karena ternyata saya sedang berada di sirkuit setan. Ternyata, banyak orang di sekitar memiliki kebiasaan yang buruk bagi saya, yang mungkin bisa membawa saya ke jalan yang tidak benar. 

Pilihan saya pun terbagi: tetap di tempat, pindah, atau tetap di tempat dengan niatan bisa mengubah lingkungan itu.

Saya pilih yang terakhir.

Susah, dan terkesan impossible, memang.

Tapi, layak dicoba.

Karena kita sedang berada di sirkuit kehidupan. Pasti ada yang baik atau yang buruk. Tinggal gimana kitanya untuk tetap berada di jalur baik, dan berani memperbaiki yang buruk.

Sekian dari saya, semoga tulisan curhatan ini bermanfaat.



- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

Kucing Tanpa Nama



Kucing ini bukan kucing peliharaan. Tapi, tiap hari dateng ke rumah, celingak-celinguk minta makan, atau cuma numpang tidur di ruang tengah. 

Kalo tiap saya mau keluar rumah atau mau masuk ke rumah, saat pintu rumah terbuka, kucingnya tiba-tiba nongol dari antah berantah mencoba menyelinap masuk. 

Kadang, pas abis pulang kerja, saat saya lagi buka pagar, kucing ini tiba-tiba udah di pintu rumah, menunggu dengan setia. Kurang jelas itu maksudnya nunggu saya atau nunggu dikasih makan. 

Kucing ini umumnya binatang yang sopan. Nggak ngeong berisik, atau buang air besar sembarangan di dalam rumah. Tetapi ini berubah ketika saya sedang makan. Dia muterin saya, seolah-olah saya mangsa berikutnya. Ia bahkan pernah duduk siaga, dengan hidung kembang kempis menghirup aroma makanan di piringnya. Seolah berkata, "Ini dia makan malamku."



Yang menyebalkan, kadang ia suka memaksa untuk meraih piring saya. Itu terjadi saat saya sedang berada di meja makan. Dia loncat ke kursi, merayap pelan diantara kursi hingga tiba di pangkuan saya. Saat sedang duduk di pangkuan,  disitulah cakarnya meraih piring saya. Saya pun mengelak, lalu menerbangkannya ke karpet. Ia lalu menatap saya. Saya menatap dia. Kami saling menatap seperti dua orang jago kungfu yang hendak berkelahi. Pertandingan tersebut kemudian saya menangkan dengan menggiringnya keluar rumah. 

Setelah dilatih untuk tidak mendekati saat ada orang yang lagi makan, kucing ini bisa dibilang jadi lebih mudah diatur. Belum bisa jadi kucing peliharaan di rumah, sih, karena ia kadang suka keluar dan kongkow di rumah yang berbeda. Tapi, bagi saya, kucing sudah jadi teman buat di rumah. Sampai sekarang, kucing ini masih tanpa nama, dan saya masih belum dapat ide yang bagus untuk menamainya. Atau mungkin, ada yang mau ngasih ide?




- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini


munggah