Ketika Seorang Guru Ingin Membelikan Oleh-Oleh Untuk Muridnya

Beberapa hari yang lalu, saya sempet pulang kampung ke Solo. Kegiatannya berupa kunjungan ke kerabat terdekat, ngecek rumah peninggalan eyang, dan tentunya nyekar. Pas semua kegiatan itu udah selesai, baru, deh, kepikiran satu hal, “Mau kasih oleh-oleh apa, ya, buat anak-anak?”

Sempet nanya ke Abid, dan ia menjawab, “Wayang, Dy.”

“Wayang, kan, khas Solo.”

Masuk akal.

Tapi, beli wayang apa? Werkudara? Semar? Atau Gatotkaca?

Dan kira-kira berapa uang yang akan dikeluarkan buat beli wayang?

Feeling saya langsung deg-deg ser.

“Bid, ketoke kui terlalu mahal. Budgetku terbatas.” kata saya.

Lha budgetmu piro? 200 ribu? 100 ribu?”

*cek dompet*

“Kalo 10 ribu bisa buat beli apaan, ya, Bid?”

“TENANAN WAE 10 RIBU! EMANGE MEH TUKU PULSA?”

“Santai, Bid, santai.” respon saya dengan kedua tangan berlagak menenangkan anjing liar yang ingin mengamuk.

“50 ribu wes. Iso, kan?” tanya saya.

Abid menjawab, “Nah, kui lagi masuk akal. 10 ribu? Guru, kok, pelit banget.”
“Bid, tujuanmu ning kene kui untuk membantu, bukan menghina.” balasku, datar.

Kami lalu memacu motor kami masing-masing. Namun, tujuan kami bukanlah wayang seperti pendapat Abid. Sekarang berubah menjadi Serabi Notosuman. Hati saya lebih sreg ke makanan daripada wayang. Mungkin, faktor perut yang lapar juga ikut mempengaruhi.

***

Sesudah melewati gang demi gang, menyalip becak demi becak, dan menjumpai bendera merah putih berulang-ulang (kejadian ini terjadi tepat pada 17 Agustus 2015), saya lalu memberhentikan motor, dan bicara pelan ke Abid, 

“Oi, Bid…”

“Opo?”

“Kayaknya, aku lupa jalannya.”

Abid memasang muka masam, “Ealah, tag pikir kowe mudeng.

“Emange kowe mudeng, Bid?”

“Ora i.” jawabnya menggeleng.

“PODO WAE!”

Dua cowok asli Solo tak tau tempat makanan khas Solo dijual. Benar-benar tragedi yang luar biasa.

Abid lalu bertanya kepada tukang becak dengan bahasa Jawa krama inggil. Tukang becak sudah sepuh tersebut menjawab dengan menunjuk sebuah jalan. Abid mengangguk. Saya, yang tidak tau apa-apa, ikut-ikutan mengangguk.

Bapak tadi kembali mengarahkan. Tangannya maju ke depan, menukik tajam ke bawah, lalu ngedrift ke kanan. Mulutnya terbuka lebar, tapi tak ada silauan gigi Pepsodent terpancar. Kami berdua tidak merespon berlebihan, hanya senyum tipis, lalu mengangguk berjamaah dengan khidmat.

“Ikuti aku, Dy…” bilang Abid dengan sok keren.

10 menit berlalu, kami berdua sampai ke tujuan.

Serabi Notosuman.

Rame tenan.

“BAPAK BUDI! BAPAK BUDI!” teriak salah satu penjaga toko.

Seorang bapak-bapak lalu datang menghampiri, mengambil serabi dan membayar dengan sejumlah uang.

“Ternyata, harus mesen, sek, Bid.”

Yo, wes, mesen o.”

Saya melihat sekitar dengan seksama, “Tapi, nek pesen sekarang, bisa-bisa baru besok dapetnya, Bid.”

Abid mengelus-ngelus jenggotnya. Matanya memicing. Bulu hidungnya memanjang keluar.

“Berarti ojo serabi. Ganti sing liyane, Dy.”

Sing enek ning toko iki wae. Kan jualan e ra mung serabi tok, to?”

Memang, ada etalase kaca memuat banyak makanan di sana. Tapi, barang dagangan paling laris tetaplah serabi.

Saya bertanya, “Nek menurutmu opo, Bid? Sing khas Solo dan mantep.”

“Abon?”

“Di Bekasi ada abon, Bid.”

“Kerupuk?”

“Di Bekasi ada kerupuk, Bid.”

“Teh Pucuk?”

“Di Bekasi ada teh pucuk, Bid. WOI SERIUS WOI!”

Abid lalu berjalan. Meliuk-liuk melewati kumpulan orang yang duduk rapi menunggu serabi pesanannya. Tangannya lalu mengambil sebuah kotak kecil, dan diangkatnya ke atas.

Bakpia.

Hmmm…

Bakpia?

Hmmm…

Boleh juga.

Terpilihlah bakpia sebagai oleh-oleh. Dengan budget 50 ribu, terbeli dua kotak kecil. Kemudian, dua jam dari toko Serabi Notosuman itu, saya berangkat ke Bekasi menggunakan bis Pahala Kencana.

***

“Kalian tau ini apa?” ucap guru kelas.

“Oleh-olehnya Kak Aldy!” jawab anak-anak serempak.

“Benar sekali.” kata Bu Guru. “Ini Bakpia dari Kak Aldy yang kemarin sempat pulang kampung ke Solo.”

“Tiap anak akan mendapatkan dua, ya.”

“Iya, Bu!” jawab mereka, lagi-lagi serempak seperti paduan suara.

Tiba-tiba, salah satu anak berkata, “Tapi, Bu…”

“Boleh tau rasa bakpianya apa?”

“Soalnya, saya nggak suka bakpia rasa kacang ijo.” terang anak tersebut.

“Saya juga, Bu!” anak lain ikut menyaut.

“Saya juga!”

“Saya juga!”

Mayoritas berkata tidak suka bakpia rasa kacang ijo.

Lalu, Bu Guru melihat bungkus depannya dan tertulis dengan gagah dan amat jelas.

BAKPIA RASA KACANG IJO

DDDDDDDDDDDDDOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOONNNNNNNNNGGGGGG!!!!!!!!

Saya pun pingsan seketika.






Kesalahan saya, saya tidak sempat mengabadikan satu pun adegan di postingan ini. Ya, sudah, saya upload saja apa yang ada di handphone saya.








Semuanya kebanyakan kegiatan di luar kelas (outbond).
Ada Trust Hold (bener, nggak, tuh, tulisannya) dan ada Blind Track. 
Sangat menyenangkan saat melihat mereka bermain hal-hal yang menyenangkan.





Dan oh, iya, setelah anak-anak memakan bakpia rasa kacang ijonya, terutama yang bilang nggak suka, mereka semua mengeluarkan ekspresi aneh, dan berkata cukup mengejutkan,


"Kok rasanya enak ya...."


Hehehehehehehehehehehehehehehe :D





Bisa follow blog saya dengan menekan mouse anda di sini, lho. Atau like page FB juga bisa, kok. Terima kasih :))))


2 comments

guru yang patut di jadikan contoh itu gan , nice ..

Reply

guru yang bener bener harus di contoh sama guru guru lain,,terimaksih informasinya gan..

Reply

Post a Comment

munggah