4 Cerita Cinta Tentang Jatuh Cinta Diam-Diam

Nggak disangka, blog ini sudah berumur satu tahun. Blog bernama aldypradana.com ini sempat bernama aldyond.blogspot.com, yang jujur saya sendiri nggak tau kenapa namanya begitu.

Untuk merayakan satu tahunan blog ini (dan sekalian merayakan 200.000 ribu viewers), saya ingin melakukan postingan spesial. 

Rencananya, akan ada empat cerpen, persis kayak judulnya. Cerpen pertama sudah ada di postingan ini, dan cerpen berikutnya, akan diupdate sesuai tanggal yang ditentukan.

Tujuannya, biar beda, dan biar orang ngelirik terus blog ini, hehehe. Dan, tentunya, biar penulisnya (saya, maksudnya) makin rajin nulis di blog ini.

Sekiranya, segitu aja. Nikmati cerpen pertama dari saya, dan jangan lupa buat follow blog ini, ya. 

*tiup terompet* 

*nyanyi lagu selamat ulang tahun*


***



#1  - Bayu dan Gaby




Waktu istirahat. Perpustakaan. Duduk di pojokan dekat rak buku IPA.

Dia selalu di sana.

Gaby selalu di sana.

Dan dalam jarak yang tak begitu jauh, aku mengerjakan tugas sambil melihatnya diam-diam.

Selalu.

Selalu begitu.

Aku mencuri pandangan dalam persembunyian, tak berani mengajaknya ngobrol langsung.

Ingin sekali dapat berdiri di depannya, saling bicara empat mata, lalu akrab kemudian.

Namun, apa yang ingin ku obrolkan?

Game?

Mana mengerti Gaby soal itu.

Politik?

Memangnya Gaby peduli untuk bicara hal yang amburadul seperti itu.

Buku?

Ya. Harusnya, tentang buku. Ia pasti suka bicara tentang buku.

Ia selalu membaca buku di sini.

Bacaannya juga bervariasi. Dari buku pengetahuan, buku islami, sampai novel.

Masalahnya, aku tak suka membaca seperti Gaby.

Aku tak betah lama-lama membaca buku. Hanya komik yang bisa membuatku duduk lama berjam-jam. Membalikkan halaman demi halaman, dari volume 1 sampai volume 10. Aku baca semuanya sekaligus tanpa jeda. Paling hanya rasa lapar atau haus, dan  kebutuhan ke kamar mandi yang mampu memisahkanku dengan komik.

Aku memaksa betah di perpustakaan hanya karena dia.

Menatapnya, senyumku terbentuk sendiri saking senangnya.

Menatapnya, hatiku meleleh, mencair karena bening wajahnya.

Menatapnya, aku merasa tenang. Setenang air sungai yang mengalir pelan.

Aku sudah lama mengaguminya. Dari awal masuk SMA, sejak pertama kali mengenalnya di MOS, aku selalu mengikuti gerak-geriknya. Mungkin, sekarang sudah hampir 1 tahun. Tapi, aku tetap tak berani bilang kalo aku menyukainya. 

Aku belum cukup berani untuk berkata cinta kepadanya.

Mungkin, lain kali. Atau malah, tidak sama sekali.

Aku sudah nyaman dengan situasiku sekarang.

Kita lihat saja nanti perkembangannya.

***

Beberapa hari kemudian saat istirahat kedua, Gaby sudah berada di perpustakaan.

Ia sudah duduk di pojok, menggenggam sebuah buku. Kali ini, sebuah novel dari Dee Lestari, berjudul Filosofi Kopi.

Ia sudah di sana dengan gaya yang sama.

Rambut dikuncir, poni tersisir rapi, jam tangan pink terikat di tangan kiri, dan bahunya  tegak, tak menempel sandaran kursi. Matanya fokus, tak ingin diganggu.

Semuanya sama.

Gaby di sana, dan aku di sini.

Terpaut jarak rak buku, meja, dan kursi.

Semuanya sama.

Kecuali, satu hal.

Sekarang, ada seorang cowok duduk di sebelahnya.

Aku mengernyitkan dahi.

Siapa dia?

Kenapa dia duduk di sana?

Kenapa dia bisa duduk di sebelah Gaby yang aku sukai?

Cowok itu lalu memanggil Gaby. Gaby menengok sambil menutup bukunya.

Ini hal yang cukup aneh. Karena biasanya, teman dekatnya saja selalu ia acuhkan kalo sudah asyik membaca. Tetapi sekarang, Gaby berbeda. Dengan cowok itu, ia berbeda.

Mereka lalu mengobrol akrab. Tawa, senyum, sentuhan halus pada lengan menyelip saat mereka saling bicara.

Kemudian, mataku merekam kejadian mengejutkan.

Saat mereka saling berpandangan, tangan mereka menyatu di bawah meja. Sembunyi-sembunyi agar tak diketahui orang banyak di perpustakaan.

Dan saat itu terjadi, badanku menggigil. Hawa dingin merangkul tubuh, membekukanku hingga membatu.

Aku pun merasa sepi.

Diantara orang yang berlalu lalang di tempat ini, diantara wangi parfum ruangan yang tersebar bersama angin AC, diantara kata-kata yang samar terucap, aku tiba-tiba merasa kosong.

Aku terdiam seperti telah terinfeksi sebuah penyakit parah, yang menyerang langsung di bagian hati.

Mungkin, inilah akibat dari jatuh cinta diam-diam.

Tak kunjung berkata apa yang sudah tersarang di hati, akhirnya malah sakit hati sendiri.

Dengan keadaan kepala masih dirubung awan hitam, aku pun beranjak dari kursi, lalu menuju pintu keluar.

Mungkin, ini sudah saatnya aku mencari perempuan lain.

Mungkin, aku akan mendapatkan pengganti Gaby yang jauh lebih baik.


Dan bila nanti aku menemukannya, aku harus berani bilang cinta kepadanya.

***


#2 - Derita Cinta Aldo
(1/6/2015)




“Gimana nanti? Jadi, kan, kita nonton bareng?” kata Aldo sambil menyenggol Elma.

“Jadi dong. Langsung kumpul di XXI aja, ya.” balas Elma. “Gue nanti yang beliin tiketnya, lo pada langsung dateng on time jam 7.”

Elma menunjuk dua lelaki jomlo dengan tatapan tajam, “Dan, jangan lupa gantiin uang tiketnya. Harus bayar sebelum masuk studio, nggak pake acara utang-utangan!”

“Siap nyonya!” Aldo dan Bahri memberikan hormat ala pasukan tentara saat bertemu dengan komandannya.

Bel sekolah berbunyi, mereka lalu masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing. Sesuai kebiasaan, Aldo dan Bahri duduk paling belakang, lalu Elma dan Windi duduk paling depan. Untuk urusan seperti ini, mereka memang  berkebalikan.

Elma dan Windi rajin mengerjakan PR, Aldo dan Bahri rajin mencoret-coret meja kelas.

Elma dan Windi rajin mendapatkan nilai sempurna, Aldo dan Bahri rajin mendapatkan remedial.

Elma dan Windi rajin mencatat materi pelajaran, Aldo dan Bahri rajin tidur di kelas.

Di kelas, mereka memang berkebalikan. Tapi, di luar kelas, mereka banyak kesamaan.

Sama-sama suka karaokean.

Sama-sama suka nonton bareng.

Sama-sama suka nongkrong bareng

Lucunya, dalam kelompok ini, ada yang satu orang yang menyukai teman dalam kelompoknya sendiri. Orang itu bernama Aldo. Ia menyukai sahabatnya, dan sampai sekarang, belum berani menyatakan rasa cintanya.

Aldo menyukai Elma.

Jelas.

Elma cantik, ramping, berkulit cokelat mirip Agnez Mo (tapi tanpa otot kekarnya).

Aldo tidak mungkin suka dengan Windi karena ia sudah punya pacar, dan juga bukan kriterianya. Aldo juga tidak mungkin suka dengan Bahri. Karena kalo itu terjadi, cerita ini berakhir sekarang juga.

Aldo hanya suka dengan Elma.

Cuma Elma seorang.

Elma orangnya tomboy dan blak-blakan. Beberapa cowok menghindari tipe cewek seperti ini, tapi tidak dengan Aldo. Dia suka dengan cewek gagah seperti Elma. Menantang, katanya.

“Abis kita nonton, gue bakal ngomong jujur sama Elma.” seru Aldo saat sedang pelajaran di kelas.

“Ini beneran bakal kejadian?” tanya Bahri, sedikit meledek. “Soalnya, lo sering banget ngomong gitu, tapi ujungnya, tetep nggak ngomong-ngomong, tuh.”

Aldo mengepalkan tangan, matanya memicing, “Yakin! Karena sekarang, gue yakin Elma bakal nerima gue!”

“Kepedan.” bilang Aldo sambil mengupil.

“Gue yakin banget, Ri. Kita makin hari makin akrab, Elma juga makin ngasih kode-kode gitu, Ri.”

“Kode morse maksud lo?”

Aldo membalas, “Ah, lo jomlo udah kelamaan, sih. Nggak ngerti bahasa tubuh perempuan.”

Bahri hanya mengangkat bahu, lalu memeperkan upilnya di kolong meja.

“Santai aja.” Aldo menepuk bahu Bahri, “Gue pasti diterima, dan buat wujudin itu, gue butuh bantuan lo.”

“Hhhmmm.” ucap Bahri, lalu mengupil lagi di lubang hidung satunya.

Aldo menatap jijik, “Lo bisa nggak, sih, nggak ngupil dulu? Gue lagi serius, nih.”

Bahri masih asyik menggali, “Enak, men. Coba, deh.”

“Ogah.”

“Jangan munafik.”

“Ogah.”

“Ini surga dunia, lho.”

“Stop! Stop!” Aldo menghentikan obrolan tidak penting barusan. “Kita ini mau ada misi penting, kenapa malah ngomongin upil, sih?”

Aldo menghela nafas.

“Ri…” ujar Aldo, serius. “Gue butuh bantuan lo. Abis keluar studio, tolong sibukin si Windi, kasih gue waktu berdua sama Elma. Pas udah dapet momennya, gue bakal ngungkapin perasaan gue ke dia.”

“Gitu doang rencana lo? Nggak ada romantis-romantisan?” tanya Bahri.

Aldo menggeleng sambil menyilangkan tangan, “Nggak usah. Tau sendiri, kan, Elma orangnya kayak gimana. Dia nggak suka gituan. Norak katanya. Dia itu beda. Cewek lain suka drama korea, dia sukanya film action kayak the raid. Karena dia itu beda, gue juga harus nembak dengan cara yang beda juga.”

“Terserah, lo, deh. Gue bantu sebisa gue ya.” ujar Bahri sambil memeperkan upilnya ke kolong meja lagi.

***

Lokasi: XXI

Pukul: sore yang di ujung tanduk, mau bertransisi menjadi malam hari.

Status: cabe-cabean mulai menggerayangi studio bioskop.


“Gue udah beli tiketnya, nih. Ayo cepetan ganti dulu uangnya. Baru gue kasih tiketnya.” kata Elma, dengan tangan siap menerima lembaran uang.

“Oki doki, non.” Aldo membuka dompet, memberikan uangnya, lalu mengedip genit ke Elma.

“Ih, apaan, sih, lo.” kata Elma, merasa terganggu. “Jijik banget, Do.”

Uang sudah terkumpul di tangan, Elma lalu berniat menghitungnya. Ia menempelkan jarinya ke lidah, lalu menggeser tiap lembar dengan jarinya yang basah. Lagaknya mirip ibu-ibu penjual sayur lagi ngitung keuntungan.

“Sip! Pas uangnya!” seru Elma.

Ia lalu memasukkan uangnya ke dalam dompet, merogoh celananya untuk memberikan tiket bioskop ke Aldo dan Bahri.

“Cepetan masuk, yuk. Udah dibuka, lho, pintu studionya.” ajak Windi, menarik lengan Elma.

Mereka berempat lalu masuk ke studio. Mereka hendak menonton film ajakan Elma, yang katanya bagus banget. Film itu adalah Mad Max: Fury Road.


Dua jam berlalu, orang-orang bergerombol keluar dari studio.

Aldo dan Elma menyatu diantara kerumunan itu, berjalan bersebelahan, keluar dari XXI. Bahri dan Windi juga ikut berpadu, tapi membelokkan arah ke kamar mandi.

Aldo sekarang berduaan dengan Elma. Sesuai yang direncanakan.

“Nunggu di luar aja, yuk.” ajak Aldo.

Elma mengangguk setuju. Mereka lalu menghampiri pagar kaca, menyandarkan tangan sambil melihat pemandangan dari lantai atas.

“Ini kenapa Bahri sama Windi lama banget, sih?” gerutu Elma.

“Banyak kali yang mau disetorin, hehe.” canda Aldo.

Aldo mengubah raut muka banyolnya menjadi serius. “Eh, Ma, bentar, deh. Gue mau ngasih sesuatu, nih.”

“Ngasih apaan?”

Aldo membuka tas selempangnya, lalu mengambil kado terbungkus kado. “Nih, buat lo.”

Elma mengambil kado itu sambil kebingungan, “Lo kenapa, sih, hari ini? Aneh banget perasaan.”

“Nggak usah bawel, deh. Coba buka.”

Tanpa pikir panjang, Elma menurutinya, menyobek bungkusan kadonya. Saat sudah terbuka seutuhnya, Elma tercengang dengan isinya. “Gila! Ini DVD The Raid 2? Ada acara apaan lo ngasih ginian?”

Aldo tersenyum, “Coba liat back cover DVD-nya.”

Elma membalikkan DVD-nya, lalu melihat sebuah kertas pink tertempel di sana. Ada tulisan spidol tertulis rapi, langsung menghentakkan Elma seketika.



Elma,

I LOVE YOU

- Aldo




“A-apaan, ini?” tanya Elma, bingung.

Aldo menggenggam tangan Elma, “Elma, gue suka sama lo. Mau nggak lo jadi pacar gue?”


Elma terdiam cukup lama.

Alisnya mengkerut. Senyumnya lenyap entah kemana setelah mendengar kalimat Aldo. Beberapa detik kemudian, Elma memejamkan mata, lalu menarik nafas dalam-dalam. Lalu, keluarlah kata-kata dari mulut Elma.

“Nggak, Do.” Ia menggeleng.

“Gue nggak mau jadi pacar lo.”

“Dan gue nggak bisa jadi pacar lo, sampai kapan pun.”
Aldo kaget mendengarnya, ia lalu membalas dengan panik, “K-kok gitu? K-kenapa?”

“Karena gue pengin persahabatan kita tetep utuh, Do.”

“Karena kalo kita beneran jadian, itu bisa ngaruh ke persahabatan kita juga. Persahabatan kita berempat.”

Aldo berkata dengan nada meninggi, “Lo ngomong apa, sih, Ma? Kalo kita jadian, semua bakal baik-baik aja. Semua bakal jalan kayak biasanya. Persahabatan kita tetep bakal utuh.”

Elma memalingkan muka, tak mau menatap Aldo langsung. “Kalo pas kita lagi fine-fine aja, emang nggak bakalan kenapa-kenapa. Tapi, kalo kita lagi berantem? Kalo lagi marahan? Atau kita putus nanti? Apa yang mungkin kejadian? Kita saling jauh-jauhan, dan persahabatan kita juga bisa jadi korban.”

“Lo mikirnya kejauhan. Elma, tenang, semua bakal baik-baik aja.” ucap Aldo sambil mencengkeram tangan Elma lebih erat.

“Kalo yang ada hubungannya sama temen-temen gue, gue pasti mikirnya jauh, Do. Dan, gue tetep ngotot untuk nggak mau jadi pacar lo.” jawab Elma, lalu memaksa melepas genggaman Aldo.

“Elma, gue udah suka sama lo dari lama…”

“Gue selalu pendam perasaan gue, dan berusaha nutupin rasa suka gue ke lo…”

“Tapi sekarang, gue putusin buat berubah. Gue putusin buat berani. Berani bilang jujur sama lo. Berani natap lo langsung, dan bilang kalo gue suka sama lo. Karena gue yakin, ini yang terbaik buat gue. Buat lo. Buat kita.” jelas Aldo.

Elma menengok cepat, kembali melihat lawan bicaranya. “Do, makasih atas keberanian lo. Tapi, rasa sayang gue ke lo, cuma bisa sebatas rasa sayang sebagai sahabat. Gue nggak bisa lebih dari itu, Do.”

Aldo terlihat kesal dengan jawaban Elma. Kepalanya menunduk, tangannya bersimpuh di pinggulnya. Bibirnya tertutup rapat, seakan-akan tak ada kata yang mau keluar.

“Dan kalo lo tetep maksa gue buat nerima lo, mungkin, kita baiknya menjauh dulu, Do.” ujar Elma, pelan. “Kita menjauh sampai akhirnya lo sadar mana yang lebih penting, dan mana yang harusnya lo utamain.”

Sesaat kemudian, Windi dan Bahri keluar studio, lalu berjalan menghampiri mereka.

“Sorry, ya, lama. Tadi beli…”

Belum selesai Bahri bicara, Elma lalu memotong, “Win, kita pulang sekarang.”

“Lho? Kenapa, Ma?” tanya Windi, tak mengerti apa-apa.

Elma lalu menarik paksa lengan Windi, “Udah, pokoknya, kita pulang duluan.”

“Oh, ya, satu lagi. Nih…” Elma menempelkan DVD pemberian Aldo ke dada 
Bahri.

“Auh!” teriak Bahri kesakitan. Tangan Bahri lalu merespon, menangkap apa yang diberikan Elma. “Apa ini? DVD?”

Elma lalu pergi bersama Windi menuju ekskalator dengan terburu-buru.

Masih memegang DVD The Raid 2, Bahri hanya berdiri linglung, melepaskan kepergian mereka.

“Ada apa, Do?” tanya Bahri, mendatangi Aldo. “Gagal, ya?”

Aldo tak membalas, tapi raut mukanya menjawab pertanyaan Bahri.

“Harusnya, endingnya nggak kayak gini, Ri.” kata Aldo, lemas sambil menggelengkan kepala pelan.

Bahri ikut berduka dengan derita cinta Aldo. Dia lalu menepuk bahu temannya, berharap itu bisa menenangkan Aldo, meski cuma sedikit.

"Ya... Mungkin, nggak semua rasa suka itu harus diucapin, Do. Mungkin, ada yang harusnya tetep dipendam, dan nggak diungkapin." bilang Bahri, bijak. "Demi kebaikan semuanya."

Aldo mendengarnya sedikit kaget. Temannya bisa berubah motivator cinta dalam sekejap. 

Namun, semua kalimat Bahri memang ada benarnya. 

Tidak semua rasa suka itu harus diungkapkan. Ada yang baiknya harus disembunyikan, dirahasiakan, dan disimpan dalam diam.

Aldo mengerti maksud Bahri, dan akhirnya mengerti juga maksud Elma.

Dia lalu berkata, "Ri, kayaknya gue harus minta maaf sama Elma, deh."

Bahri tersenyum, "Mungkin, itu pilihan yang bagus. Tapi, kayaknya sekarang bukan waktu yang tepat, deh, Do."

"Terus kapan?"

"Mungkin nanti." jawab Bahri. "Kita tunggu aja, sampe dirasa momennya bener-bener pas.

Aldo setuju dengan Bahri.

Mereka lalu berjalan, mencari tempat yang dapat menyegarkan kepala mereka.

***


#3 - Dua Sisi Aldrian
(update 19/6/2015)







Versi musikalisasi cerita di bawah ini, ada di soundcloud ini.

Menurutku, tiap orang itu punya banyak topeng. Mereka menaruh topeng-topengnya secara tersembunyi, lalu baru mereka pakai pada saat-saat tertentu.

Misal,

Saat bertemu orang yang mereka tidak sukai, mereka akan memakai topeng bergambar senyum, untuk menyembunyikan rasa jengkelnya.

Atau, saat sedang menggendong sebuah rahasia, mereka akan memakai topeng bergambar muka polos, seakan tidak tau apa-apa.

Atau, saat bertemu bos yang sedang melawak, tapi ternyata jokesnya tidak lucu. Mereka lalu memakai topeng bergambar muka tertawa terbahak-bahak, hanya untuk sekedar menyenangkan hati atasannya.

Setiap orang punya beragam topeng. Tersimpan rapi dalam kantungnya.

Aku pun sama.

Aku juga selalu memakai topeng saat bertemu Ferdi dan Sophie.

Topengku bergambar muka tersenyum lebar, menunjukkan bahwa aku senang atas hubungan mereka. Padahal, dibalik topeng itu, aku sebenarnya tidak setuju. Aku sebenarnya tidak rela dengan hubungan mereka. Karena aku sudah menyukai Sophie sejak lama.

Aku menyebut ini sebagai dosa.

Salah satu dosa terbesarku.

Jika aku mengatakan perasaanku kepada Sophie, maka itu bisa meretakkan hubunganku dengan mereka. Aku tak mau itu terjadi, karena mereka sahabat terbaikku.

Jika aku tidak mengatakannya, maka itu akan menghancurkanku dari dalam. Meruntuhkan semangatku saat harus melihat mereka berdua bahagia. Sedangkan aku, hanya bisa terpojok sendiri dalam sepi.

Aku pun kembali memakai topengku.

Topeng bergambar muka tersenyum lebar.

Menyembunyikan satu sisiku, demi kebahagiaan mereka.

Aku akan terus memakai topeng ini, sampai aku sanggup untuk ikhlas dengan hubungan mereka. Sampai akhirnya, aku benar-benar mampu untuk tersenyum lebar, tanpa harus menggunakan topeng apapun di mukaku. 

***

Versi musikalisasi cerita di atas, ada di soundcloud ini.


#4 - Gaby dan Bayu
(update 21/6/2015)





Mata bicara jauh lebih jujur daripada mulut. Dari mata, terkandung sebuah cerita. Dari mata, tertanam sebuah makna. Dari mata, aku bisa mengetahui isi hati seseorang.

Aku cukup yakin akan itu.

Aku punya pengalaman sendiri saat membaca mata seseorang.

Waktu itu saat istirahat. Aku duduk di pojokan dekat rak buku IPA.

Aku selalu duduk di sana, memandangi huruf-huruf dalam buku, lalu membiarkannya menyerap masuk ke dalam otakku.

Saat sedang membenarkan posisi dudukku, tak sengaja, mataku menangkap seseorang sedang mengamatiku. Seorang cowok. Rambutnya rapi. Lumayan tinggi dan agak kurus.

Aku lalu berpura-pura membaca, menutupi mukaku dengan buku sambil mengintip orang itu lebih jauh. Aku memang orangnya gampang penasaran.

Ia duduk tak begitu jauh dariku. Di mejanya, ada buku tulis dan buku pelajaran. Sepertinya. Aku tak dapat melihatnya secara jelas, tapi aku cukup kenal dengan cover buku pelajaran itu.

Meski ia tampak sibuk menulis, seringkali matanya melirik ke arahku. Seakan-akan aku bagaikan candu baginya.

Aku biarkan saja selama itu tak menggangguku.

Beberapa hari kemudian, cowok itu terus melakukan hal yang sama.

Membawa buku tulis dan buku pelajaran, menulis sesuatu, dan melirikku sebisa mungkin. Matanya yang polos terus mencoba menarik perhatianku. Kedua bola matanya menyapa ramah, namun malu-malu. Matanya suka menatapku, tapi saat aku menatapnya balik, pandangan berganti arah seketika.

Aku kenal pandangan itu.

Aku tau arti dari mata itu.

Namun, sayang, aku tak berminat dengan cowok seperti itu.

Aku hanya berminat dengan cowok yang tegas. Yang berani mengajakku bicara, bukan bersembunyi sambil mencuri pandangan.

Apa yang sebenarnya diharapkan dari cowok seperti dia?

Berharap cewek yang disukainya sadar ada seseorang yang terus meliriknya, lalu sang cewek mengajaknya bicara duluan?

Yang benar saja.

Akh, kenapa aku terlalu memikirkannya.

Aku diamkan saja orang itu.

Lebih baik aku sibuk dengan buku bacaanku.

***

Hari berganti, kalender telah berkali-kali dibalik.

Seperti biasa, aku menjalankan hobiku saat istirahat sekolah: membaca buku di perpustakaan

Aku  sudah duduk di pojok, menggenggam sebuah novel yang masih baru. Novel pemberian seseorang yang berjudul Filosofi Kopi.

Biasanya, saat sudah berbaur dengan novel, aku tak ingin diganggu. Aku lebih suka menyendiri agar aku dapat masuk ke dalam cerita novel yang kubaca.

Tapi, kali ini beda.

Sekarang, ada seorang cowok duduk di sebelahku.

Bukan, cowok ini bukanlah cowok yang suka mencuri pandangan yang pernah aku ceritakan.

Cowok ini orang yang berbeda.

Cowok ini datang tiba-tiba, lalu mengetuk pintu hatiku.

Aku yang tak bisa menolak kehadirannya, mempersilakannya masuk, dan mengajaknya duduk berdua bersamaku.

Jika ditanya, apa kelebihan cowok ini?

Aku akan menjawab, aku suka dia apa adanya. Aku menyukai semuanya dari dia, bahkan sampai kebiasaan jeleknya. (FYI, kebiasaan jeleknya itu malas mandi. Tak jarang, ia berangkat ke sekolah, tanpa mandi dan sikat gigi. Ia cuma menyemprotkan parfum dan menguyah permen karet untuk menutupi bau tubuhnya. Benar-benar pemalas.)

Meski aku bilang aku menyukai semuanya dari dia, aku punya hal favorit darinya.

Aku paling suka saat ia melihatku langsung.

Aku paling suka saat mata kami saling bertemu, saling bertukar cerita, tanpa mengeluarkan kata.

Aku paling suka saat mata kami saling berpadu, mengait satu sama lain, lalu mengisi ruang kosong dalam hati.

Cara matanya berbicara, membuatku jatuh cinta dengan mudahnya.

“Gaby, gimana bukunya?” Ia memanggilku.

“Oh, ini?” Aku menunjuk novel Filosofi Kopi pemberiannya. “Bagus. Aku suka.”

Ia tak membalas hanya tersenyum kecil.

Aku lalu melayangkan senyum kecil juga sebagai balasannya.

Saat menengok ke pintu perpustakaan, aku melihat cowok yang selalu mengintipku pergi. Sewaktu menutup pintu perpustakaan, ia sempat melirikku. 

Matanya menitipkan pesan kalo dia sedang marah. Hatinya sedang kacau.

Mungkin, setelah melihatku bersama Aldo membuatnya sakit hati.

Tetapi, apa peduliku.


Anggap saja itu sebagai dosanya karena telah jatuh cinta diam-diam.




Follow blog ane, ya, biar bisa update terus postingan baru ane --> aldypradana.com atau like page ane di Aldy Pradana. Thank you! :D

Post a Comment

munggah