Menangkap Momen, Mengabadikan Kenangan


Ingatan. Kenangan. Pengalaman. 

Kita mengingat banyak hal. Puluhan kejadian tak terduga. Ratusan kegiatan yang menyesakkan hati. Ribuan peristiwa bahagia, menyegarkan sanubari. 

Kita mengenang banyak hal. Masa kecil yang sangat ceria. Era remaja yang sok tahu. Dewasa yang mulai bijak. 

Kita mengalami banyak hal. Pengalaman jatuh ke lubang gelap, lalu gagal untuk bangkit. Pengalaman berdiri susah payah, kemudian melihat titik cerah di ujung jalan. Pengalaman berhasil, tapi tak ingin untuk jumawa. 


Dulu. Pernah. Tak akan terulang.

Dulu, langkah kaki terasa lebih ringan. Dulu, hangatnya rumah terlalu sulit untuk ditinggalkan. Dulu, semua mengalir dengan sederhana, tak serumit rumus matematika. 

Pernah di suatu waktu, manusia merindukan waktu yang dulu. Pernah di kala mentari datang menyambut, manusia ingin diam sejenak ketika jiwa sudah terlalu sesak untuk berontak. Pernah di saat dingin menyentuh lara, manusia membayangkan masa lalu, lalu mengharapkannya datang kembali. 

Momen berlalu, tapi teringat selalu di dalam hati. Kejadian terlewati, tapi rasanya diam di tempat, tak mau pergi. Kenangan terbesit, ingin mengalaminya lagi, tapi sadar itu tak akan terulang. 




Ini adalah kumpulan kata-kata yang dapat saya tulis, jika hendak membicarakan momen dan kenangan. Dua kata itu penting untuk saya, yang terlalu kadang terlalu sulit untuk melupakan. 

Saya kemudian diam-diam mengumpulkan, mengoleksi, dan mengurutkan dalam susunan waktu. Koleksi foto yang ada, rekaman peristiwa yang tersimpan. 

Kisah selama saya kecil, remaja, hingga dewasa direkam dalam gambar. Kalau suatu waktu rindu datang ingin mengenang, saya lalu membuka dan menatapnya. Flashback berputar sekilas dalam hitungan detik, tapi momennya, kenangannya, mengisahkan cerita yang tak terhitung. 

Makanya, saya membuat video dengan judul yang sama. Video yang berkisah tentang koleksi momen yang saya simpan, tentang kenangan yang tidak ingin saya hilangkan. 

Semoga bisa bermanfaat, dan selamat menyaksikan. 




Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Cerita di Sekitar Masjid


Saya sekarang memiliki ikatan tersendiri dengan masjid. Semacam, kalau tidak mengunjungi hati terasa kurang. Padahal, dulu saya tidak seperti itu. Memasukinya cuma sekali seminggu. Jika saya melewatinya, lalu saat azan berkumandang, niatan untuk menghampirinya pun tidak ada. 



Di postingan ini, saya ingin berbagi cerita seputar masjid. 


Beberapa cerita yang berkesan untuk saya, yang mungkin dapat membekas untuk semua.



1) Saya ingat, sewaktu kecil dan remaja, di kepala saya solat di masjid itu hanya solat Jum'at. Kalau Bulan Ramadan menaungi, ya berarti ditambah dengan solat tarawih. Sudah, itu saja. Tidak ada yang lain. Saya sebelumnya tidak tahu kalau solat berjamaah di masjid adalah "sunah muakad" bagi laki-laki. 

Hati saya juga belum merekah untuk membagi waktu di tempat itu.

Namun, semua itu berubah ketika ibu saya pergi. 

Kepergian beliau mengubah pola hidup dan pola pikir saya.

Terutama tentang sudut pandang saya tentang agama.

Saya lebih dekat denganNya karena sesudah beliau tiada, tak ada lagi tempat untuk bercerita. Dan dari situlah, saya mulai mengenal masjid.


2) Pertama kali meniatkan untuk rutin solat berjamaah di masjid itu tidak mudah. Begitu saat meniatkan rutin untuk mengaji, dan amalan-amalan sunah yang ada. 

Saya waktu datang ke masjid untuk solat dzuhur berjamaah itu rasanya bingung. 

Adzan sudah berkumandang, terus kapan iqamahnya? Kapan solatnya? 

Hati dan kepala tidak berpadu karena memang ini bukan suatu kebiasaan saya dulu.

Saya melihat sekitar, ada beberapa solat sunah 2 rekaat, beberapa mengaji, lalu lainnya, menengadahkan kedua tangannya lalu berdoa dalam hati. Mencermati itu, saya pun melakukannya. Saya mengisi waktu di antara adzan dan iqamah dengan solat sunah. Jika masih ada waktu, saya sempatkan mengaji (kalau membawa Al-Qur'an). Kalau tidak dengan berdoa, entah doa seperti doa untuk kedua orang tua, atau sekedar curhat menuangkan kegelisahan dari dalam dada.

Waktu berlalu, rasa bingung pun hilang. Rasa takut, grogi, dan tak tahu harus berbuat apa di masjid akhirnya menghilang seiring dengan pengalaman. Meski itu di masjid dekat rumah, atau masjid yang saya lewati di kala sedang perjalanan, saya tahu apa yang harus perbuat.

Dan saya tahu, saya merasakan kenyaman saat berada di masjid.


3) Pendekatan kepada Sang Maha Kuasa ini, kalau tidak salah, umur saya sekitar 18-19 tahunan. Bisa dikatakan ini memang sedikit terlambat. Teman-teman saya sudah mengenalNya jauh lebih dulu, bahkan saya pernah berguru kepada salah satu teman saya untuk mengejar ketertinggalan saya.

Iya, memang setiap orang menggendong ceritanya masing-masing. Ada yang memang dari keluarganya, agama sudah menjadi pondasi penting. Ada yang menganggap agama tidak seperti itu. Keluarga saya, contohnya. 

Tapi sesudah sadar, saya mencoba memahami betul dan melengkapi kekurangan saya. 


4) Saya pernah ibadah di masjid, di kota yang pernah saya hampiri atau singgahi. Saya pernah berada di Solo, Semarang, Sidoarjo, Surabaya, Jakarta, dan sekarang di Bekasi/Bogor. 

Di setiap kota punya ceritanya masing-masing. 

Saya pernah karena masjid terlalu penuh dan sayanya memang telat, saya akhirnya solat jum'at di tangga masjid sebelum pintu masuk. Karena kurang ideal tempatnya, posisi solat pun "harus disesuaikan" agar dapat beribadah.


Pesan moralnya, jangan pernah telat mendatangi masjid. (reminder to myself too)


Saya ingat, ada orang yang mendatangi masjid dengan kruk. Kruk itu semacam alat bantu berjalan. Salah satu kakinya di gips, dan kruk itu yang membantunya melangkah menuju masjid. Rumahnya sepertinya memang dekat dengan masjid, dan pria ini berjuang sendirian agar sampai ke masjid.

Saya tidak tahu kenapa kakinya di gips, tapi saya tahu, beliau ini lekat dengan masjid. Setiap hari "berjalan" ke masjid, dan beribadah dengan duduk (bisa dengan kursi atau duduk di bawah).

Sampai suatu hari, saya melihatnya lagi di masjid yang sama.

Kali ini, tanpa kruk, tanpa alat bantu berjalan.

Beliau sepertinya sudah sehat betul, sehingga mampu melangkah tanpa bantuan alat.

Orang-orang seperti ini memang termasuk sering saya temui di masjid. Yang kifosis (bungkuk), yang kakinya tidak mampu bertumpu dengan benar sehingga ia berjalan menggunakan dengan tangannya, dan lain-lain.

Mungkin orang-orang ini sependapat dengan saya, bahwa serumit apa pun kondisi manusia, kembali kepadaNya adalah suatu keharusan.



5) Beberapa masjid terdapat lapangan di lingkungannya. Bisa lapangan basket, atau lapangan badminton. Lapangan ini biasanya diisi oleh anak-anak tiap sorenya, bermain bersama dan berbagi canda. Permainan mereka akan terhenti kala adzan merambat, memberi tahu sudah waktunya solat.

Kata orang, "Masjid diidentikan dengan orang yang sudah sepuh." 

Kalimat itu pun lenyap, saat mereka, anak-anak ini, mendatangi masjid untuk beribadah bersama.


Sama seperti masjid megah pada umumnya, masjid yang tinggi dan besar ini tak jarang mempunyai desain arsitektur yang menggoda mata. Lengkap dengan AC dan lantai bertingkat dua hingga tiga, masjid punya fitur modern yang memberi kenyamanan lebih pada penghuninya.

Saya mendapati masjid-masjid seperti ini di lingkungan saya. 

Masjidnya begitu sejuk dan indah untuk dipandang. 

Di rak-rak bukunya, terdapat Al-Qur'an dan buku-buku islami untuk menambah ilmu.

Masjid-masjid tersebut menurut saya, memberikan kesempatan lebih agar mereka datang dan beribadah di sana. Fasilitasnya tidak hanya cukup, tapi sangat memadai. 

Namun, tidak bisa dipungkiri, masjid bukanlah urusan mewah atau megah, tapi lebih ke urusan hati. 

Terlebih lagi, urusan kenyamanan ketika sedang beribadah kepadaNya. 

DenganNya itu lebih ke menentramkan jiwa. 

Menikmati setiap doa yang terucap. Meninggalkan yang lain, mengutamakanNya terlebih dahulu.

Dimanapun letak tempat beribadahnya, bagaimanapun tempat beribadahnya, ingatlah agar terus beribadah kepadaNya.











*cerita ini hanya bermaksud menceritakan, tanpa maksud berlebih. Jika ada salah kata, saya minta maaf. Dan semoga setiap huruf yang tertulis di sini, punya makna lebih bagi pembacanya.







- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com


Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini


Berkendara Sendiri

http://www.tanahnusantara.com/wp-content/uploads/2017/07/Wisata-bekasi.jpg


Ada suatu waktu ketika saya menikmati kesendirian.

Memainkan gitar, mengulik lagu ternama. Membaca buku, meresap kata bermakna. Atau cuma sekedar duduk diam, menikmati waktu berlalu sepersekian detiknya.

Penyendiri. Iya, betul sekali. Saya memang seseorang yang seperti itu.

Tapi bukan berarti, saya kesepian. Karena sendiri dan sepi itu tidak sama artinya.

Malah, seringkali saya merasa sepi di kerumunan orang ramai, di antara tawa mereka yang tidak bisa saya ikuti.

Bagi saya, menyendiri adalah sesuatu yang saya butuhkan. Semacam obat yang menyembuhkan luka secara perlahan.

Kemarin, saya kembali menikmati nyamannya menyendiri.

Saya berkendara sendiri untuk membeli sepasang sepatu di suatu mall, di tengah kota Bekasi. Sepatu hitam slip on, yang bertujuan untuk mempermudah urusan mengikat tali sepatu, karena hidup sudah ribet, tidak usahlah dibuat kompleks dengan harus mengikat tali sepatu.

Sepatunya terbeli, ukuran 44 (dimana saya masih heran kenapa ukuran kaki saya terus bertambah), yang kemudian langsung saya coba untuk merasakan empuknya.

Saya keluar dari mall tersebut, mengendarai motor dengan lebih santai. Lampu-lampu jalan menemani, bersama dengan angin malam yang terlalu sejuk untuk dilupakan.

Tarikan gas melaju perlahan, macetnya jalan saya lalui dengan tenang tanpa harus membunyikan klakson tiap 5 detik sekali.

Saya lihat gedung tinggi mencabik langit, menarik sekali untuk diabadikan. Pikiran saya mengawang, “Seandainya saya bawa kamera saya, pasti saya sudah di tepi jalan memotret puluhan foto gedung itu.”

Saya lihat warung dengan format lesehan, mengingatkan saya dengan kampung halaman. Pikiran saya kembali ke masa lalu, “Seandainya saya bisa pulang ke Solo, bertemu lagi sahabat di sana, pasti hari itu menjadi hari terbaik dalam hidup saya.”

Menarik sekali, memang.

Berkendara sendiri, menatapi tiap detil yang terlewati dapat membuat pikiran terbang ke awan.

Saya bisa merasa senang, karena apa yang saya temui mengingatkanku dengan sesuatu.

Saya juga merasa sedih, karena apa yang saya lihat mengingatkanku dengan seseorang.

Apa pun itu, perasaan nostalgia atau fantasi masa depan yang belum tercapai, menjadi perjalanan yang melekat di pikiran.

Dan saya menikmati sekali perjalanan kemarin.




Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Kamu Nanti Mau Jadi Apa?



Guru SD saya pernah bertanya,  "Apa cita-cita kamu? Tuliskan di buku tulismu. Tuliskan kamu nanti besarnya mau jadi apa." 

Saya yang belum tau cita-cita saya, yang belum paham saya nanti mau jadi apa ke depannya, akhirnya cuma bisa tengok kanan dan kiri.


Kamu Nanti Mau Jadi Apa?

Kamu Nanti Mau Jadi Apa?

Kamu Nanti Mau Jadi Apa?


Itu terngiang-ngiang di kepala saya, dan membuat kepikiran terus sampai saya akhirnya saya menemukannya pada beberapa tahun belakangan ini.

***

Barusan adalah kalimat pengantar yang berujung pada sebuah video yang saya buat. Saya mengalami banyaaaak sekali naik dan turun di kehidupan, dan saya putuskan untuk dijadikan sebuah video. Tujuannya adalah sebagai pengingat buat saya, bahwa alam semesta punya caranya sendiri untuk memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. 

Kadang, kita yakin akan sesuatu, dan berharap sekali dengan sesuatu itu. Tapi jika memang "itu" bukan jalan yang tepat buat kita, kita pasti akan diarahkan ke jalan yang lebih cocok olehNya.

Kemudian, masuk ke videonya sendiri.


A stop motion movie.

Saya nggak tahu kenapa, saya suka stop motion.

Saya pertama kali nyoba stop motion itu dulu pas zaman vine. Video 6 detik isinya gerakin mobil langkah per langkah, seolah-olah mobil-mobilannya jalan beneran. Cuma begitu doang, tapi seneng aja rasanya bikin video sesederhana itu. 

Pada film stop motion berjudul Kamu Nanti Mau Jadi Apa? ini, saya menggambar dan menulis semua "properti" yang ada di video ini. Hasil jepretan dibantu oleh adik saya, Ardy, yang juga membantu proses mempersiapkan properti yang dibutuhkan.


Terdapat sekitar 180 foto yang diambil menggunakan iPhone untuk membuat video stop motion seperti ini. Dibutuhkan sekitar 1-2 jam untuk pengambilan gambar dan sekitar 3 jam lebih untuk pengeditannya. 

Cerita didalam video ini pun semua berasal dari my true story. 

Semoga dibalik kerja keras dalam pembuatan #stopmotion ini, bisa diambil hikmahnya dan bisa pula bermanfaat buat semua. Dan buat semua orang yang masih belum menemukan nantinya mau jadi apa, semoga film pendek ini bisa membantu.



Audisi Stand Up Comedy Story: https://goo.gl/rEQmzB

Perjuangan Menjadi Penulis Buku: https://goo.gl/C4kL3u




Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store





Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂




- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Pertama Kali Menjadi Wedding Photographer/Videographer


Semua bermula dari lamaran salah satu saudara di puncak. 

Di sana, saya membawa kamera saya. 

Selama acara berlangsung, saya mendokumentasikan dari foto dan video. Saya belum pernah merekam acara lamaran, saya jadi tertantang untuk mencoba. Apalagi di situ, ada tim dokumentasinya beneran. Yang bawa kamera yang jauh lebih gede, lebih canggih, lebih yahud daripada punya saya.

Gapapa. Nanti pasti bakal kebeli kok kamera kayak gitu (asek). 

Selesai dari sana, akhirnya, saya edit fotonya, saya edit pula videonya. Videonya kemudian, saya share di FB saya. (Link)

Beberapa hari kemudian sesudah diposting, banyak yang komen. Alhamdulillah komen yang positif. Bagus katanya.

Dan salah satu yang komen bagus, adalah Bu Eca. Perempuan yang fotonya kalian lihat di awal postingan.

Bu Eca, menawari saya menjadi wedding photographer/videographer. Menarik, sih, apalagi saya memang belum pernah.

Sempat ada intrik, karena bentrok hari pernikahan dengan acara di sekolah. Tapi semua terlaksana dengan saya mengambil jalan tengahnya. Setengah hari pertama, saya berada di pernikahan Bu Eca, kemudian sisanya saya berada di sekolah. Dan Voila! Semuanya sukses terabadikan dengan baik.

Singkat videonya bisa dilihat di sini.



Pengalaman yang menarik. Saya sadar masih baru belajar, tapi saya pastinya akan terus berusaha agar bisa berkembang terus skillnya sebagai wedding photographer/videographer.

Terima kasih Bu Eca telah mempercayakan saya. 


Happy Wedding, and let the happily ever after begin.



- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com

Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

Blackout



I think that was the first time ever, I felt the experience of blackout (passed out).

Kejadiannya di hari Minggu, 28 Januari 2018. Jam dinding menunjukkan waktu sekitar pukul 17.30. Saya lagi di rumah, nonton series Black Mirror sambil makan mie rebus.

Selesai makan, saya langsung cuci piringnya. Sewaktu jalan, langkah kaki terasa agak lemes, kayak mau jatuh. Tapi saya tetep lanjut jalan, nggak ada pikiran aneh-aneh. Paling cuma kaget karena abis duduk langsung berdiri dan jalan agak cepet. Itu yang terlintas di pikiran saya.

Sesampainya di dapur, saya taruh piring di wastafel, buka keran, lalu air mengucur deras. Kondisi sedang mencuci piring, tiba-tiba kaki lemes. Nggak ada tenaga buat mopang seluruh tubuh. Badan langsung jatuh. 

Gelap. 

Blank item semua.

Pas buka mata, bangun-bangun udah ketiban sepeda.

Malah bangunnya pun bukan karena sakit kena sepeda, tapi karena tulang deket leher sakit kena gundukan lantai.


Saya membuka mata, dengan pikiran yang agak bingung. Saya liat sekeliling, saya sudah tiduran di lantai. Sepeda menimpa kaki saya. Beberapa barang jatuh di dekat saya berantakan.



Ardy, adik saya, dateng nolongin. Ia ngangkat sepedanya, matiin air keran, sama ngasih air minum.

Padahal itu cuma mau nyuci piring, pake acara passed out segala.
Apa karena abis nonton Black Mirror? (Apa pula hubungannya?)

Dengan bantuan Ardy, saya bangun terus tiduran di ruang tengah.

Saat jalan ke ruang tengah, kaki terasa lunglai, sedikit tergopoh-gopoh, kepala agak puyeng.

Badan kemudian merasa tenang setelah leher bertemu bantal. 

What an experience.

Barusan saya pingsan?

I think that was the first time ever, I felt the experience of blackout (passed out).

Lalu, saya mikir kenapa saya bisa pingsan. Apa karena belum sarapan? Kurang minum? Saya memang belum makan dari pagi sampai sore tadi. Makan paling cuma makanan ringan seperti roti dan kue cokelat.

Mungkin, ini efek kecapean dan kurang nutrisi. Mungkin pikiran saya berkata, saya fine-fine aja. Tapi sayang, badan saya mengatakan sebaliknya.

Apapu itu, saya lalu berpendapat, "Knowing how passed out felt like. Healthy is a must."


- short description about the writer -

Guru Bahasa Inggris & Komputer | Movienthusiast
Follow my blog: aldypradana.com
Instagram: https://www.instagram.com/aldy_pradana17/
Facebook Page: https://www.facebook.com/Aldy-Pradana-859453137453349/

Kumpulan postingan, label, dan kategori bisa dilihat di sini

munggah