- Suka pencet klakson padahal rambu masih merah.
- Klakson panjang padahal nggak nggak perlu-perlu amat.
- Mengendara sambil merokok.
- Bara api rokok kena muka.
- Pas mau dinasehatin, malah orangnya lebih galak.
- Suara knalpot modif memecah gendang telinga.
- Knalpot modif terdengar berisik, pas lewat ternyata cuma motor bebek biasa.
- Ngebut-ngebutan.
- Maksa nyalip di kala macet.
- Maksa nyalip, terus nyenggol spion.
- Motoran bertiga, tanpa helm semua.
- Dua motor bersampingan, ngobrol memenuhi jalan.
- Menerobos lampu merah.
- Pas diklaksonin, malah melengos begitu saja.
- Lambat, tapi di tengah jalan.
- Cepet, tapi awut-awutan.
- Lampu sen ke kanan, tapi belok ke kiri.
- Lampu sen ke kiri, tapi belok ke kanan.
- Nggak nyalain lampu sen, terus tiba-tiba belok.
19 Ciri Pengendara Motor Yang Berpotensi Merusak Harimu
Netflix: Film & Serial Yang Banyak dan Kurang Familiar, Bikin Bingung Mau Nonton Yang Mana
Saya sekarang berada di Sidoarjo. Tinggal bersama Bude saya.
Di sana, ada Wi-Fi dan Netflix. Berbeda dengan rumah saya dulu di Bekasi, hanya bermodalkan kuota malam untuk download film.
Saya menyalakan TV, membuka Netflix, dan hendak memilih film atau serial TV yang tersedia.
Ada pilihan Netflix Original. Film yang sedang populer. Serial TV yang baru saja tayang.
Belum lagi kategori film: Action, Drama, Comedy, Thriller, Horror, Superhero, Romance, bahkan Animation. Apalagi, serial TVnya yang banyak sekali. Black Mirror, Kingdom, Money Heist, Sex Education, Stranger Things, dan masih ada drama korea yang lagi naik-naiknya.
Dari semua pilihan yang ada. Dari semua film dan serial TV yang tersedia. Akhirnya, saya memilih ...
Avatar: The Last Airbender
(The Legend of Aang - bukan film yang busuk itu).
Padahal serial ini dulu pernah tayang di Global TV.
Kenapa saya memilih itu? Karena saya sudah tahu kualitasnya. Saya sudah paham model action dan komedinya.
Saya memilih yang familiar. Maklum, saya butuh tontonan yang pasti menghibur.
Itu menjelaskan kenapa punya rekomendasi film atau serial TV di Netflix yang cocok sesuai selera itu penting.
Percuma ada teman bilang, “Kingdom bagus banget, bro!”
Terus saat ditonton, ternyata tidak suka cerita zombie. Tidak suka unsur korea. Tidak suka darah-berdarah.
“Aku pikir filmnya tentang kerajaan Inggris.” Katanya polos, tanpa dosa. Ya mentang-mentang judulnya “Kerajaan” dalam bahasa Inggris, bukan berarti begitu juga dong.
Kalau dari saya, berarti untuk berlangganan Netflix dan sejenisnya, harus punya rekomendasi yang pasti cocok sesuai selera. Saya bisa, sih, mencoba satu-satu, tapi saya tidak semenganggur itu juga.
Ditambah, sekarang sudah hadir Disney + Hotstar dengan semua koleksi film & animasi Disney yang super komplit dan familiar, ini pasti jadi pertimbangan sendiri.
Saya saja yang sempat coba trial Apple TV (gratis) selama setahun, kemungkinan besar tidak akan saya lanjutkan langganannya. Serial TV originalnya kurang banyak, dan sistem filmnya adalah bayar tiap satu film. Sewa film bayar, beli film bayar.
Sekian dari saya. Saya ingin kembali menonton Aang. Dia sudah ahli mengendalikan air dan batu, tinggal api saja yang belum dikuasai.
Instagram: @arsenio.store.id
Tokopedia: Arsenio Apparel Store
- short description about the writer-
Mencoba Disney + Hotstar dan Melihat Seberapa Banyak Film & Serial TV Yang Ditawarkan
Di Twitter, beberapa hari ini cukup heboh dengan hadirnya Disney +.
Saya sendiri sebenarnya kurang tertarik. Namun, harganya yang sangat murah, membuat hati saya tidak bisa menolak. Bisa jadi, ini solusi dari tidak bisa menonton bioskop. Ditambah, faktor cara pembayarannya yang cukup beragam.
Oke, saya akan bahas secara urut. Dimulai dari yang mendasar.
Saya download aplikasinya. Saya buka, dan muncul tampilan beranda. Saya coba sign in. Dan diminta memberikan nomor handphone. Lalu, isi data singkat.
Dan...
Sudah.
Selesai.
Sudah terdaftar ke aplikasinya.
Tanpa sign in sebenarnya sudah bisa membuka aplikasi dan melihat filmnya.
Entah untuk berapa lama, sekarang sedang ada beberapa film gratis yang bisa dilihat (tanpa membayar, tanpa daftar akun).
Filmnya seperti:
Black Panther, Thor: Ragnarok, Cars 3, Star Wars: The Force Awakens, Cinderella, Danur, Warkop DKI Reborn (part 1), Titanic.
Itu semua gratis. Bisa ditonton langsung di aplikasinya.
Sekarang, mari kita ulas film yang tersedia.
Marvel Cinematic Universe. Lengkap.
Star Wars. Lengkap.
X-Men. Lengkap.
Film Indonesia. Lumayan.
Film Disney. Tentunya lengkap.
Film Pixar. Lengkap pula.
Serial TV dari FOX beberapa ada di sini.
Semua film animasi Disney dari zaman dahulu kala, sampai yang terakhir. Ada di sini. Dari Dalmation 101, Toy Story 1-4, Frozen 1-2. Mau yang musikal juga ada. Lion King (dan sekuelnya yang tidak perlu itu), Micky Mouse, Donald Duck.
Sesuai nama aplikasinya, semua yang berhubungan dengan Disney itu ada di sini. Jadi, bisa dipertimbangkan sendiri. Ada kemungkinan, anda mengenal lebih banyak film dan serial TV di Disney + dibanding di Netflix.
Sekarang, kita bicara soal pembayaran.
Saya pengguna Apple. Saya tanpa perlu memasukkan ABCD, pembayaran langsung dipotong dari DANA.
Kalau mau pembayaran yang lain juga bisa, dan beragam.
Kartu kredit: Visa, MasterCard, American Union, Union Pay.
Wallet: Doku, OVO.
Virtual Account: Permata, Danamon, BNI, CIMB Niaga, Mandiri.
Indomaret dan Alfamart juga bisa untuk pembayaran.
Harganya 39 ribu/bulan atau 199 ribu/tahun. Tapi, saya kurang tahu itu hanya khusus tahun pertama ini, atau nanti tahun depan akan ada perubahan.
Untuk penggunaannya, saya sendiri puas. Dibanding Apple TV yang mahal dan sedikit itu, Disney + Hotstar jelas jauh banget (iyalah). Lebih banyak, lebih familiar. Aplikasinya oke. Pilihan subtitle ada, dubbing juga ada, hehe. Untuk kualitas video hanya tersedia High, Medium, Low.
Film pertama yang coba adalah Sabar Ini Ujian.
Sepertinya ekslusif di Disney. Itu juga oke. Filmnya bagus. Selama menonton aplikasinya tidak force close dan tidak aneh-aneh.
Kita lihat saja ke depannya bagaimana persaingan dunia streaming ini. Terutama, saat pandemi masih menyerang dunia perbioskopan kita saat ini.
Instagram: @arsenio.store.id
Tokopedia: Arsenio Apparel Store
- short description about the writer-
Protokol Kesehatan di Masjid
Bisa tetap beribadah di kala pandemi menjadi kenikmatan tersendiri.
Tapi, protokol kesehatan harus jadi landasan yang utama.
Alhamdulillah, di masjid di dekat rumah sekarang, Masjid Salahudin, sudah termasuk ketat soal ini. Saya akan terangkan protokolnya dengan harap menjadi semangat untuk semua. Agar ibadah jalan, protokol kesehatan juga dipatuhi.
Saya berangkat ke masjid dengan kondisi sudah wudhu. Sajadah kecil sudah di berada dalam pegangan. Masker terpasang menutupi hidung dan mulut. Sampai di lokasi, pertama akan ada pengecekan suhu oleh penjaga masjid.
Saya lalu dipersilakan untuk cuci tangan terlebih dahulu. Sudah tersedia tempat cuci tangan cukup banyak, lengkap dengan sabun tangan.
Saya lepas sandal untuk masuk ke dalam masjid. Terpampang poster besar tentang tata cara beribadah kala pandemi ini. Pakai masker, wudhu dari rumah, bawa sajadah sendiri, ikuti protokol kesehatan: cek suhu dan cuci tangan.
Saat sudah di dalam, AC masjid dimatikan. Hanya mengandalkan kipas angin. Jendela terbuka. Terdapat banyak tanda X di lantai. Menunjukkan tanda mana yang boleh untuk solat, dan mana yang tidak.
Sebagai pengingat, selalu gunakan masker dari berangkat ke masjid. Sampai di masjid. Ketika solat dan sesudah solat. Pulang dari masjid. Selalu pakai masker.
Sesudah selesai sholat, saya melihat bapak-bapak cukup memberi tanda 🙏🏻 sebagai pengganti salaman (jabat tangan). Alhamdulillah sudah termasuk rapi. Orang yang datang juga patuh terhadap peraturan yang ada.
Paling yang agak kurang, kalau ada orang yang baru pertama kali datang ke masjid ini, lalu lepas masker saat solat atau saat selesai solat (dzikir).
Untuk masjid yang di luar sana, yang belum mengikuti protokol kesehatan seperti di atas, mungkin bisa dijadikan contoh. Selalu pakai masker saat beribadah. Baiknya, wudhu dari rumah. Bawa sajadah (bisa ukuran besar atau kecil). Patuhi aturan yang berlaku: jaga jarak mengikuti tanda mana yang boleh untuk solat. Mau cek suhu tubuh. Mau cuci tangan saat diminta penjaga masjid.
Sekian dari saya. Semoga bermanfaat.
Apakah Tahun 2020 Sudah Bukan Lagi Era Band?
Kemarin, saya mencoba mengcover lagu-lagu dari band .Feast.
Di Padang Lumpuh. Kami Belum Tentu. Dan lagu barunya, Komodifikasi.
Saya bikin cover sederhananya menggunakan GarageBand. Lalu, saya upload hasil musiknya full ke Youtube dan Soundcloud. Saya buat cuplikan singkatnya pula di Instagram dan Twitter.
Tapi setelah membuat itu, saya jadi kepikiran. Selain band .Feast ini, siapa lagi band Indonesia yang kuat di tahun 2020 ini?
NOAH mungkin. Mereka dapat bertahan di atas sampai sekarang. Saya pernah mendengar band Kelompok Penerbang Roket. Terus? Setahu saya tidak ada.
Di era yang sangat canggih ini, dimana banyak sekali penyanyi dengan lagu baru muncul terus di tempat musik streaming, saya malah jarang sekali lagu dari band yang naik di era ini.
Apakah memang band sudah kehilangan masa jayanya? Sudah kalah dengan EDM, atau musik zaman now? Atau memang membuat grup musik bergerombol itu tidak efektif lagi?
Saya sendiri kurang paham. Sebelum saya membuat cover lagu .Feast, lagu yang saya cover sebelumnya juga kebanyakan band. Tapi, mundur ke belakang. Seperti PADI, DEWA, Peterpan.
Kalau mau mendengar musik band, pasti band lama dengan lagu lama. Pee Wee Gaskins, Endank Soekamti, Sheila On 7.
Sudahlah, saya hanya penikmat. Mungkin, baiknya ya hanya menikmati.
Semoga ke depannya, band bisa naik lagi, agar musik di Indonesia dapat lebih bervariasi.
- short description about the writer-
Perjuangan Mencari Converse Kembar (dan Review Converse Chuck Taylor 70s)
Saya sebelumnya bercerita tentang keinginan untuk mencari Converse yang berbeda, tapi ternyata Amel ingin sepatu Converse yang kembar. 70s. Warna putih. Jadinya kami mencari-cari Converse Chuck Taylor 70s di sekitar Surabaya.
Agar lebih detail lengkapnya. Saya serahkan pada orang yang punya keinginan. Biarkan Amel saja yang bercerita, tentang perjuangan mencari sepatu dan review sepatunya sendiri.
Halo, namaku Amel.
Aku menulis di blog ini karena pemintaan dari Aldy untuk mereview sepatu baru kami yang kembar.
Aku sendiri tidak jago bercerita dalam tulisan.
Tapi...
Karena sudah dibelikan sepatu sama Aldy yang ganteng, baik hati, dan rajin menabung ini, maka dengan senang hati aku akan review sepatu Converse Chuck Taylor 70’s milik kami.
Entah kapan awal mula kepikiran punya sepatu kembar ini, sepertinya saat melihat sepatu converse Aldy yang biru mulai berubah warna jadi abu-abu, hehe.
Aku pun miris melihat sepatu converse hitam lamaku (dari kuliah semester 5, 2015) yang sudah buluk sekali rupanya. Outsolenya juga mulai tipis.
Sebenarnya, aku jarang memakainya. Sehari-hari aku lebih sering memakai sepatu pantofel untuk ngantor. Saat jalan-jalan, aku lebih suka pakai flatshoes karena lebih mudah untuk dilepas dan dipakai lagi.
Nah, setelah melihat sepatu kami berdua yang mulai menua ini, muncul ide dalam kepalaku, “Lucu kali ya kalo kembaran sepatu converse warna putih.”
Begitulah cerita dibalik keinginan punya sepatu kembar ini.
Tempat pertama yang aku dan Aldy kunjungi adalah Tunjungan Plaza yang sudah diceritakan sebelumnya.
Setelah tidak mendapat apa yang kami harapkan, dua minggu berikutnya kami pergi ke Royal Plaza.
Kami langsung menuju sport stationnya. Aku langsung memanggil mas-mas shopkeeper untuk menanyakan ukuran kakiku yaitu antara 36/37 dan ukuran kaki Aldy 44/45.
Setelah dicek stoknya ternyata ukuran sepatuku nihil, masnya bilang kalo agak susah untuk ukuran kecil. Dalam hati aku berbisik, “Yaa Allaah, sedih banget ☹ apakah memang takdirnya nggak ada sepatu kembaran. Padahal juga kan lumayan mumpung dibeliin.”
Sedangkan, untuk Aldy ada ukuran 44, tapi ternyata setelah dicoba lebih pas di ukuran 45 (seperti converse birunya) dan stoknya pun tidak ada.
Lalu, shopkeepernya memberi saran untuk pergi ke GM (Galaxy Mall) atau CW (Ciputra World). Kami pun mengecek diantara 2 mall tersebut mana yang paling dekat.
Akhirnya memutuskan untuk pergi ke CW karena jaraknya (±) 4.5 Km dari Royal Plaza.
Saat perjalanan tak hentinya aku berdo’a semoga saja disana ada ukuran yang pas untuk kami. Aldy pun berharap hal yang sama, jika tidak ada ukurannya, ya sudah berarti tidak membeli sepatu dulu.
Sampai di mall CW, kami segera mencari converse storenya. Aku mengulang pertanyaan yang sama pada mbak-mbak shopkeepernya.
Dan ternyata ada.
Aku awalnya ingin yang Low-Top karena nggak terlalu ribet masangnya. Sayangnya, yang ada High-Top ukuran 37.
Ukuran 45 untuk Aldy juga ada. (High-Top)
Aku mencoba sepatu tersebut.
“Aku yang ini.” Sambil tersenyum lebar, saking senangnya akhirnya menemukan ukuran pas.
Senangnya, setelah pencarian ke beberapa tempat, sepatu kembaran akhirnya bisa tercapai.
Setelah terbeli, kami pun memakainya di perjalanan pulang.
***
First impression, insolenya lebih empuk dari yang basic.
Kakiku aman sekali rasanya. Warna putih gadingnya cocok dipadukan dengan outfit warna apapun. Mungkin ada yang punya pendapat kalo warnanya seperti warna usang.
Menurutku, disitu letak estetikanya. Outsolenya sedikit mengkilap menambah kesan “eye catching”.
Bahan canvasnya terasa lebih kuat daripada yang basic. Sepatunya agak berat. Mungkin karena bahan canvasnya yang beda dan outsole yang lebih tebal.
Aldy bilang ini sepatu Daily Beater. Akupun setuju sama pendapatnya.
Terimakasih Aldy untuk sepatunya, akan dipakai dan dirawat dengan baik. Sekian review sepatu converse chuck taylor 70’s white dari aku.
Semoga bermanfaat.
Instagram: @arsenio.store.id
Tokopedia: Arsenio Apparel Store
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂
- short description about the writer-







