Naik Bus Umum ke Zona Hitam



Sekitar akhir Juni 2020, saya harus pergi ke Surabaya karena suatu urusan yang tidak bisa ditinggalkan.


Waktu itu, saya masih ada di pinggiran Bogor dan Bekasi, dimana wilayahnya masih terhitung aman (minim pasien positif COVID19).


Agar aman, saya memutuskan untuk survei bus umum yang menuju ke Surabaya.


Hasilnya adalah bus hanya menampung 50% penumpang dan wajib surat sehat. Tanpa swab test, atau rapid test.


Seminggu kemudian, setelah saya selesai packing dan mengurusi surat sehat, saya kemudian membeli tiket bus umum tersebut. Dan ternyata, penumpang kembali 100%. Artinya, siap menampung bus dengan keadaan terisi penuh. 


Kalau 50% penumpang, setidaknya masih ada jarak antar penumpang. Tapi dengan 100% ini, penumpang bisa duduk bersebelahan selama perjalanan. Bepergian dengan harap-harap cemas.


Mau tak mau, saya tetap harus bepergian dengan bus tersebut.


Dengan memakai masker, surat sehat tersimpan, dan hand sanitizer di kantong, saya berharap semoga penumpang cukup sepi, sehingga kursi di sebelah saya tidak terisi.


Baru duduk di kursi sekitar 20 menit, ternyata datanglah orang yang duduk di sebelah saya. Mengherankan memang, diantara kursi yang ada, kenapa dia memesan kursi di sebelah saya.


Saya lihat, kursi lain beberapa masih kosong. Mungkin sekitar 60% bus saja.

     

Saya pun melihat ke luar jendela, berdoa agar orang di sebelah saya tidak batuk-batuk selama perjalanan.


Sampai suatu di kota, orang ini ternyata turun. Dan harapan saya setidaknya terkabulkan: saya bisa duduk sendiri dan orang ini untungnya sehat tanpa gejala mencurigakan.


Beberapa jam kemudian, saya akhirnya tiba di Surabaya.


Dan sampai saya turun dari bus, tidak ada yang menagih surat sehat yang sudah saya buat.


Tidak pengecekan suhu bagi tiap penumpang. Dari awal berangkat, bahkan saat sudah sampai tujuan. Padahal, pengecekan seperti ini bisa dimulai dari terminal, saat pengambilan penumpang. Dan saat sesi makan, bisa dilakukan pengecekan suhu lagi saat kembali menaiki bus.


Tapi itu semua, sama sekali tidak dilakukan.


Untuk merasa aman, saya memutuskan untuk rapid test, dan untungnya, hasilnya non reaktif. Sampai sekarang, saya masih sehat, dan tidak ada gejala yang mencurigakan.


Perjalanan ini membuat saya terheran-heran, mengingat semakin banyak kasus positif di Indonesia.



Post a Comment

munggah