Dwilogi Cinta Yang Tak Biasa (Saat Rasa Sayang Tidak Sesuai Dengan Semestinya)



Karena sebelumnya pernah menulis banyak veri cerita cinta-cintaan ala remaja, sekarang saya mau nyoba nulis cerpen fiksi cinta dengan tema yang berbeda. Semoga tetap menarik untuk dibaca, dan bisa diambil pesan-pesan yang terselip di dalamnya. Selamat membaca :)



#1 Kerja Sepenuh Hari

[prolog]
Seorang Ayah yang terlalu mencintai pekerjaannya, selalu mengajar untuk anak orang lain, tapi tanpa sadar, menghiraukan perkembangan anaknya sendiri.


"Mau kemana, pa?" tanya Ibu.

"Ini mau ngelesin Matematika, ada beberapa murid minta les tambahan di salah satu rumah mereka." jawab sang Ayah sambil sibuk mempersiapkan motor untuk pergi.

"Ngurusin anak orang lain melulu, ngurus anak sendiri kapan?" bilang Ibu, judes.

"Lho, kan, ada kamu."

"Papa tau nggak berapa nilai ulangan Matematikanya di Rinto?"

"Tau." Ayah terdiam sejenak.

"Terus?"

"Mama bisa mulai jam belajarnya, kasih soal tambahan, kasih ...."

"Yang Rinto butuhin itu bukan tambahan soal atau tambahan belajar." potong Ibu. "Yang Rinto butuhin itu kamu. Bapaknya." 

Seketika muncul keheningan di antara mereka berdua.

"Rinto lebih nyaman belajar sama kamu." tambah Ibu, mencoba memecah jeda yang ada.

Ayah tak membalas kata-kata Ibu.

Ia hanya menghela nafas dengan berat. Tanpa menengok, ia lalu membuka pagar rumahnya, dan mendorong motornya keluar.

"Papa berangkat dulu. Assalamu'alaikum." Ayah mengendarai motornya menjauhi rumah menuju ke rumah muridnya.

"Wa'alaikumussalam." jawab Ibu, lalu menutup pagar rumahintu rumah, berharap suaminya sadar suatu waktu nanti.


***

"Oke, coba mari kita koreksi." ucap Ayah, yang sekarang menjadi Pak Guru bagi murid-muridnya. "Soal nomor 1, jawabannya berapa?"

"33!" jawab serempak oleh para murid.

"Betul! Sudah pada mengerti berarti, ya. Soal nomor 2?"

"74!" masih dijawab serempak oleh para murid.

"Benar! Kalo soal nomor 3?"

"98!" jawab satu murid.

"Kok 98? 49 kali." murid yang lain menimpali.

"Bukan, yang bener itu 98!" murid-murid mulai bersitegang, mencoba mempertahankan jawabannya masing-masing.

"Sudah, sudah." Pak guru dengan sigap memotong. "Berarti ada yang belum mengerti, coba kita bahas dulu ya. Rumus segitiga kan, alas kali tinggi bagi 2. Coba alasnya berapa?"

Salah satu murid membalas, "7, pak guru."

"Terus tingginya 14. Jadi 14x7= 98." kata Pak guru.

"Tuh, kan bener." teriak salah satu murid, bangga.

"Eits, tunggu dulu. Kan belum dibagi." Pak guru memotong. "98 dibagi 2 terlebih dahulu, baru ketemu jawabannya 49. Kamu udah betul 98 nya, tapi masih belum dibagi."

"Oh, iya, ya, hehehehehe." ia menggaruk-garuk kepalanya sambil tersipu malu.

Pak guru lalu berkata, "Ya sudah, silakan dibenarkan dulu." 

Menunggu muridnya membenarkan jawabannya, beliau bertanya kepada murid yang punya rumah, "Kamu di rumah sama siapa aja?"

"Sama Bapak, Ibu, terus sama Kakak." jawab si murid.

"Tapi, kok rumahmu sepi sekali?"

"Iya, soalnya Ibu kerja sampe malem, terus Bapak kerjanya sampe ke luar kota. Jadi jarang di rumah." bilangnya dengan raut muka sedikit sendu.

Seketika Pak guru Matematika ini lalu teringat dengan kondisinya sendiri di rumah.

"Terus kamu kalo belajar gitu sama siapa?" tanya beliau.

"Kadang sama Kakak. Tapi Kakak sekarang lagi sibuk kuliah, jadi belajar sendiri deh. Makanya ini aku dikasih les tambahan sama Pak guru, biar nggak ketinggalan pelajarannya."

Kata-kata muridnya barusan menambah kuat ingatan Pak guru tentang rumah, terutama tentang anaknya, Rinto. Yang seringnya, ia lupakan karena terlalu sibuk bekerja. Ironisnya, ia bahkan lebih condong "dekat" dengan anak orang lain, daripada dengan anaknya sendiri. 

Kenyataan ini menampar keras benak Pak Guru.

"Pak guru..." salah satu murid menyela, menghamburkan pikirannya pada rumah dan anaknya. "Sudah selesai saya koreksi, pak."

"Oh, o-oke. Kalo begitu, kita bahas soal selanjutnya."

Sore berlanjut dengan ilmu yang terus bertambah. Matematika untuk para murid, dan keluarga untuk Pak Guru.


***

Matahari terbenam, kilau sinarnya tak tampak sejauh mata memandang. Bulan pun beralih mengisi langit di antara bintang-bintang. Pada saat ini, sudah menjadi jadwal rutin Rinto untuk belajar di rumah. .

"Ayo, Rinto, waktunya belajar." ajak Ibu, memanggil dari ruang tengah

"Iya, Ma." jawab Rinto, berdiri dari kursi di kamarnya. Ia lalu bersiap mengambil alat tulis dari dalam tasnya.

"Ada PR, nggak?" tanya Ibu.

"Ada bu." kata Rinto, lalu ia berkata dengan tidak semangat. "Matematika...."

Ibu menyadari perubahan suara Rinto, mencoba menenangkannya, "Ya sudah, sini yuk. Mari kita kerjain bareng."

Rinto kemudian membawa PR dan alat tulisnya mendekati Ibu.



Beberapa selang kemudian, terdengar suara motor tua. Suaranya agak kasar dan tak beraturan. Mendengarnya saja sudah terbayang berapa banyak kebulan asap yang keluar dari knalpotnya. Meskipun begitu, suara ini sudah menjadi ciri khas dan penanda kalo Ayah sudah sampai di depan rumah.

"Assalamu'alaikum." salam Ayah, membuka pintu rumah.

"Wa'alaikumussalam." jawab Ibu dan Rinto di ruang tengah, masih sibuk mengerjakan PR Matematika.

Ibu lalu berdiri dan bilang, "Papa mau teh anget?"

"Boleh."

Ayah melihat Ibu berjalan menuju dapur, meninggalkan Rinto berkumpul dengan buku yang berserakan. Dia lalu mendekati anaknya, merangkul bahunya, dan duduk di sebelahnya. "Kamu lagi ngerjain apa?" tanyanya.

"Ngerjain PR Matematika, Pa." jawab sang anak, tak semangat. "Susah."

"Masa, sih, susah? Coba Papa liat mana yang susah." ucap Ayah.

"Yang ini." tunjuk Rinto pada suatu gambar bangun datar. "Yang disuruh cari luas segitiga."

"Oh, yang itu. Coba sini Papa bantu." 

Ia lalu menatap langsung anaknya, dan bilang dengan perlahan. "Kamu tau rumus segitiga?"

"Tau. Alas x tinggi, kan?" jawab Rinto.

"Itu betul, tapi masih belum sepenuhnya benar."

"Maksudnya?" tanyanya, bingung.

"Lebih tepatnya itu..... Alas x tinggi bagi 2."

"Ooh, ada bagi duanya?"

"Yap, betul." Ayah mengangguk. "Kamu bisa kalikan dulu, lalu dibagi 2 atau kamu bisa bagi 2 salah satu angkanya dulu, baru dikalikan. Tinggal pilih, mana yang menurut kamu lebih mudah. Sekarang coba kamu kerjakan."

"Iya, pa." Rinto mengerjakan soal barusan. Dia memutuskan membagi 2 dulu, karena ia rasa lebih mudah begitu. 

Tak lama kemudian, Rinto memberikan soal jawabannya, "Ini bener nggak, Pa?" 

"Wah, cepat sekali." Ayah mengambil kertas Rinto, lalu memeriksanya.

"Jawabanmu sudah benar, Rinto."

"Udah bener?"

"Iya, sudah tepat sekali."

Ekspresi Rinto berubah perlahan, sendu yang sebelumnya tertanam, hilang digantikan senyuman kecil yang cerah.

Kemudian, Ibu datang membawa secangkir teh hangat untuk Ayah, "Ini Pa."

"Makasih, ya, Ma." tangannya meraih teh hangat tersebut, dan menyeruput sedikit demi sedikit. "Enak. Manisnya pas."

"Ma...." potong Rinto. "Barusan aku udah bisa ngerjain soal luas segitiganya. Ternyata gampang banget, Ma."

"Wah, hebatnya!" jawab Ibu, sumringah. "Ya udah dilanjutkan lagi ngerjainnya."

"Oke Ma!" Rinto lalu membaca soal berikutnya, siap mengerjakan dengan lebih semangat.

Ayah dan Ibu saling menengok, lalu menatap dalam-dalam. Seketika, Ayah mengangguk pelan ke arah Ibu, kemudian merangkul anaknya sambil melihat soal berikutnya. Ibu membalas anggukan tadi dengan senyum simpul dan rasa tenang yang hangat di dalam. Akhirnya, salah satu doanya sudah terwujud.


#2 Superhero Aktif Kreatif

[prolog]

Seorang anak yang suka superhero, setiap hari menggambar tokoh superhero favoritnya. Tapi, suatu hari, orang tuanya melarang ia menggambar superhero lagi karena menganggap itu bukan ciri anak yang pintar.


Umumnya, orang setelah bangun tidur itu mengecek handphone atau langsung ke kamar mandi karena kebelet, tapi tidak dengan Tony. Ia malah mengambil pensil dan buku gambar, mencoret-coret lembaran kosong dengan muka masih merah mengantuk.

"Karakter ini namanya Ice Kids."

"Anak kecil yang kena energi kuantum saat lagi buka kulkas di rumahnya." tambahnya.

"Kalo yang ini Target." Tony melanjutkan. "Anak yang punya kekuatan nembak ketapel selalu tepat sasaran."

Ini adalah keseharian rutin tiap pagi bagi Tony. Menuangkan mimpi yang tersirat, agar tidak cuma numpang lewat. Untuknya, mimpi memberinya segudang ide. Karakter baru, pemandangan baru, kekuatan baru.

Sesudahnya, ia menaruh buku gambar tempatnya menaruh dunia ciptaannya.  Lalu, ia pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk ibadah.

Tony melangkah dengan senyum ringan karena idenya sudah tertanam rapi di bukunya, tapi tidak dengan ibunya. Ibunya melihat buku gambar anaknya dengan sinis, masih tidak mengerti kenapa anaknya suka menggambar. 


***

"Papa udah bilang ke Tony?" tanya Ibu, sambil mengunyah sarapannya.

"Bilang apa?" 

"Itu, bentar lagi kan mau ujian sekolah. Tony harus fokus belajar."

"Oh, itu." Ayah berhenti sejenak untuk menyeruput kopi hitamnya di meja. "Nanti sore setelah Papa pulang kerja, pasti papa ingetin."

Ibu mengambil sesendok nasi gorengnya, sebelum bersiap untuk menyantapnya, ia berkata lagi, "Bagus, deh, kalo gitu. Terus soal gambarnya gimana?" 

"Kenapa emang gambarnya?"

Ibu melahap sesuap nasi goreng buatannya, kemudian menjawab, "Gambarnya juga harus dikondisikan. Gimana mau fokus ujian, kalo masih suka gambar?"

Ayah menghela napas.

"Kayaknya, nggak ada yang salah kalo Tony masih suka menggambar. Toh, dia masih bisa belajar seperti biasa, kan. Gambar nggak pernah ganggu kegiatan belajar dia, kok."

"Yakin?" Tanya Ibunya dengan tatapan tajam. "Tapi bisa aja, kan?"

Ibu menambahkan, "Ada kemungkinan gambar bisa mengganggu dia fokus. Bikin pikirannya kepecah. Lagipula gambar juga nggak bakalan bikin dia kemana-mana."

"Cuma kemungkinan, kan." potong Ayah.

"Tapi kemungkinan mengandung resiko, Pa. Kalo nilai dia jelek gimana? Kalo dia nggak lulus gimana?"

"Kalo misalkan dia tetep gambar, dan Tony tetep lulus dengan nilai bagus, gimana? Kita kan harus liat dari dua sisi juga." tambah Ayah, sekali lagi.

Ayah lalu menunjuk ke arah lemari di sebelah kanannya. Di meja bundar tempat mereka berada, terdapat lemari kaca di dekatnya. Tempat piala Tony terpajang. Terisi penuh dari rak paling atas sampai bawah. Ada yang juara satu, dua, bahkan tiga.

"Kamu liat itu?" Bilang Ayah. "Itu hasil dari kesukaan anak kamu, lho."

"Hasil dari dia menuangkan kesukaannya yang diseriusin."

"Buat Tony, gambar udah bagian dari hidupnya." jelas Ayah.

Ibu menyelesaikan sarapannya, lalu mendorong piringnya ke tengah meja dengan pelan. "Tapi piala-piala itu nggak bisa bikin nilai Matematikanya bagus. Nggak bisa bikin dia lulus ujian. Itu cuma hobi. Cuma maen-maen. Ujian bukan sesuatu yang bisa dilalui dengan maen-maen."

Ayah lalu mendorong kursinya ke belakang, meninggalkan kopinya yang masih terisi setengah gelas. Ia tak mengeluarkan kata-kata balasan untuk ucapan istrinya.


***

"Lho kenapa, Ma???" teriak Tony.

"Kamu baru baru boleh ngelanjutin gambar kalo ujian sekolah udah selesai." jawab Ibunya, tegas.

"Emang kenapa sama gambaranku?"

Ibu menjawab, "Nggak ada yang salah sama gambaranmu. Hanya sekarang bukan saat yang tepat buat ngegambar."

Tony lalu memeluk bukunya. "Nggak mau, Ma. Gambaran ini penting buat aku."

"Sudah, sini mana bukunya!" Ibu lalu mencoba meraih buku tersebut. "Sekarang itu waktunya belajar."

Tony menepis tangan ibunya.

Tak mau kalah, Ibu kemudian meraih dengan paksa buku itu.

Dengan segenap tenaga yang tersisa, Tony mempertahankan bukunya. Tempat imajinasinya tertangkap dan terabadikan.

Sampai akhirnya...

Buku itu terlepas karena tarikan yang terlalu kuat.

Buku tersebut terlempar ke atas. Menyebarkan kertas-kertas ke langit-langit kamar. Dengan lembaran kertas yang masih berjatuhan secara perlahan, Tony dan Ibunya saling tatapan penuh emosi. Satunya ingin mempertahankan mimpi dan masa depannya, satunya ingin merebut, karena itu bukan masa depan yang tepat bagi anaknya.

Kertas-kertas tadi pun mendarat di lantai kamar Tony. Hasil gambar buatan Tony menjadi berantakan karena ternyata ada beberapa kertas yang tersobek. Melihat hal itu, Tony tersimpuh, menundukkan mukanya, mencoba membereskan kertas-kertas tersebut. Air mata menetes pelan dari pipinya, hingga terjatuh mengenai kertas gambarannya.

Ayah yang mendengar keributan, lalu datang menghampiri.

"Sudah, Ma." bilangnya, menjemput Ibu untuk keluar dari kamar.

Ibunya pun mau tidak mau menuruti Ayah. 

Dengan langkah sedikit lunglai, Ibu melihat anaknya masih mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Emosinya mereda. Nafas panjang ia hembuskan. Sekarang, ia paham, pintar bukan cuma sekedar matematika. Masa depan bukan sekedar nilai. Biarkan masa depan anaknya ditentukan oleh mimpi dan cita-cita anaknya sendiri. Bukan harus mengikuti kemauan atau paksaan dari orang tuanya.




========================================



Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store




Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂




- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Pengalaman Memakai Pulsar 180


Jadi ceritanya saya baru membeli motor bekas, atau bahasa keren sekarang, motor second. Rencana pertama saya sebenernya beli motor modelnya kayak honda megapro jadul, rx king, atau suzuki thunder. Pokoknya motor lama, yang kemudian saya modif kayak motor perang ala royal enfield atau triumph. Tapi, karena tak kunjung dapet, akhirnya pilihan saya jatuh ke motor yang bisa saya dapetin, yaitu motor ini, Bajaj Pulsar 180.

Langsung aja, berikut plus minus pengalaman saya pake motor Pulsar 180 UG4 selama beberapa minggu terakhir:

1. (-) Motornya berat. Hehehe. Katanya beratnya sampe 140 kg. Waktu pertama kali make kerasa banget beratnya, dan susah buat bergesit ria. 
(+) Setelah berapa kali nyobain, lama-lama terbiasa dengan beratnya. Mau belok, atau nyalip jadi mudah setelah adaptasi. Keuntungan lain, ada perkembangan otot bisep dan trisep. Tangan jadi lebih kekar, hehe. 

2. (-) Susah netral. Motor pulsar (motor India) punya sistem yang berbeda dengan motor Jepang. Jadi kalo mau netral tidak bisa menggunakan rumus yang sama dengan motor honda, yamaha, dan suzuki (motor Jepang). 
(+) Triknya, lebih mudah netral dari gigi 2 daripada dari gigi 1. Dan itu harus ada ngegasnya dikit. Kalo motor lagi berhenti, sulit banget netralinnya. Harus ada proses "jalannya". Atau dengan cara lain, cara yang lebih sering saya gunakan, matikan dulu motornya, baru netralin. Dijamin lebih mudah. 


3. (-) Gigi 1, 2, 3 ternyata pendek. Tidak seperti bayangan saya, yang mungkin agak panjangan dari motor "biasa".
(+) Panjangnya justru di gigi 4 dan 5. Kalo nemu trek yang pas, motornya enak buat diajak ngebut. 

4. (-) Karena ukurannya yang besar dan berat, lumayan susah buat di jalan kecil dan saat macet. Mau nyelip diantara mobil jadi ribet karena takut kena spion mobil. 
(+) Motor ini cocok buat touring. Trek lurus. Jalanan panjang dan lebar. Ntap. 

5. (-) Bajaj sudah dinyatakan "nggak tinggal" lagi di Indonesia. Beberapa orang yang punya pulsar jadi kayak anak yang kehilangan induknya. Onderdilnya lumayan susah dicari. Kalo di Kawasaki, adanya cuma Kawasaki Pulsar 200, yang hasil kerja sama. Selain itu nggak ada. 
(+) Onderdil bisa dicari di bengkel-bengkel besar. Biasanya sih mesen dulu. Atau bengkel kecil, tapi punya "link". Bengkel ini punya berbagai macam onderdil untuk beragam edisi bajaj. Mas-masnya tinggal mesen ke "linknya", terus ada deh.  


6. (-) Bagian perkabelan tidak seperti motor Jepang. Kabelnya kurang dibungkus rapi, sehingga kalo dicuci (apalagi pake steam) bisa berpotensi merusak kelistrikan motor. 
(+) Baiknya mencuci sendiri motornya. Dan paham betul daerah mana yang "rawan" perkabelannya.  

7. (+) Lampu sennya punya teknologi yang cukup unik. Ketika saya lagi belok kanan (dengan lampu sen kanan menyala), lalu saat stang kembali lurus, lampu sen bisa mati sendiri. Sesudah lampu sen mati, bisa dipencet sampe bunyi klik untuk menetralkan lampu sennya. 
(-) kadang teknologi ini tidak bekerja. Mungkin karena stangnya kurang belok, atau gimana, saya sendiri kurang paham. Jadi kadang harus saya netralin lampu sennya (lampu sen nggak otomatis mati sendiri).  

Mungkin segitu aja pengalaman yang bisa saya ceritakan. Saya bukan orang yang ahli motor, jadi kalo ada salah kata, ya mohon maaf. Namanya juga pemula, baru belajar. :)

Semoga tulisan saya ini bisa membantu buat pengguna pulsar baru maupun lama. Kalo ada pengguna pulsar yang mau sharing, bisa tulis di kolom komentar. 



========================================

- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Ramadan Story: Indahnya Saling Memaafkan



#1 Jus Mangga

Saya ingat, saya mulai belajar puasa itu awal-awal SD. 

Saya belajar puasa tidak langsung full puasa satu hari penuh. Tetapi, dimulai dari yang mudah dulu. Puasa setengah hari, atau cuma sampai dzuhur. Itu pun pake diiming-imingi hadiah.

Jadi, karena proses belajar, kalo saya berhasil puasa akan diberikan uang.
  •         Puasa sampai dzuhur: 500 rupiah
  •         Puasa sampai asar: 750 rupiah
  •         Puasa sampai maghrib: 1.000 rupiah

Ini memang cukup efektif buat saya, karena waktu awal belajar, puasa memang terasa susah sekali. Hadiah cuma menambah motivasi tambahan. Karena pas udah gedenya, puasa jadi terasa gampang, dan nggak butuh hadiah berupa uang lagi.


Itu cerita saya.


Sekarang, saat sudah dewasa, sudah bekerja, saya melihat murid-murid saya yang baru belajar puasa.


Ada yang TK sudah belajar puasa, walaupun baru setengah hari. Ada juga SD kelas kecil sudah puasa full satu hari penuh. Luar biasa memang teman-teman kecil kita ini.

Saya ada cerita sewaktu mengajar Bahasa Inggris di kelas kecil.

Ada dua murid saya, mari kita sebut mereka: Adam Levine dan Jackie Chan. (Iya, satunya jago nyanyi, dan satunya jago kungfu).

Mereka duduk bersebelahan, dan sama-sama cerita kalo mereka sedang belajar puasa. Katanya, nanti mereka akan buka saat jam setengah dua belas nanti.

Adam Levine berkata, “Nanti aku mau buka pake jus mangga.” (suaranya biasa saja, tidak melengking seperti saat ia lagi nyanyi)

“Kalo aku pake spaghetti.” balas Jackie Chan, sambil mengepalkan tangan ke udara.

Saya hanya membalas dengan senyum simpul dan menggangguk pelan.

Saat pelajaran saya selesai, break time pun tiba.

Adam Levine lalu mengambil botol minumnya, sambil bersiul lagu Maroon 5. Jackie Chan mengikuti dengan mengambil tempat makanannya, sambil salto 2 putaran.

Mereka sibuk dengan santapan berbuka masing-masing, sedangkan saya membereskan berkas-berkas worksheet dan bersiap untuk keluar.

Saat hendak berjalan meninggalkan kelas, tiba-tiba ada bunyi botol terjatuh.

BRUK!

Ternyata, jus mangga Adam Levine tumpah.

Isinya menyeruak ke lantai kelas, botolnya menggelinding ke bawah meja.

“Yaaah, jus manggaku…” ucap Adam Levine, lemas.

“Kok kamu jatuhin sih?” Adam Levine menengok ke arah Jackie Chan.

“Aku nggak sengaja, kayaknya kesenggol tanganku pas lagi makan deh.”

Adam Levine merengut.

Saya mendekati mereka, “Sudah, sudah, kan tidak sengaja. Sekarang coba kita bersihkan bareng-bareng ya tumpahannya.”

Jackie Chan gercep mengambil kain pel, lalu melap jus mangga yang tumpah.

“Adam jangan marah, kan Jackie tidak sengaja. Coba sini maafan dulu.”

Jackie Chan membuka tangan kanannya, dan disambut oleh Adam Levine.

“Sini, makan spaghettinya berdua yuk.” tawar Jackie.

Adam Levine yang semula ogah-ogahan, akhirnya mau mengambil sendok dan ikut makan berdua bersama Jackie Chan.

Mereka makan dengan akrab, dan beberapa saat kemudian, kembali ceria lagi seperti sedia kala.


#2 Sliding Tackle

Ada beberapa pilihan untuk berbuka puasa.

Buka puasa bareng temen atau bareng keluarga. Di rumah atau food court. Nyari yang makanan yang mahal atau cari takjil gratisan di masjid.

Untuk menunggu buka puasa juga banyak pilihannya.

Nongkrong di depan TV atau maen game. Ngaji atau membaca buku. Ngobrol dengan keluarga atau tidur sampai adzan berkumandang.

Sewaktu SMA, saya dan teman-teman saya mencoba nungguin buka puasa dengan cara yang berbeda. Kami memutuskan untuk menunggu buka dengan cara olahraga: futsal. 

Kami futsal dari sekitar jam setengah 5an, dan selesai satu jam kemudian. Jam setengah 6.

Ini memang unik. Karena umumnya, orang-orang menunggu buka dengan bersantai ria, kami malah dengan membuang keringat.

***

Seperti biasa, futsal dibagi 2 tim, 1 tim terisi 5 orang.

Saya biasanya menjadi bek. Tugasnya cuma merebut dan membuang bola. Kalo lagi posisi prima, saya bisa sekalian berperan sebagai playmaker (pengatur tempo dan serangan).

Begini, orang bilang bek itu maennya kasar. Nubruk, nendang kaki, mencederai lawan.

Dari sudut saya, yang sudah lama menjadi bek, kami para bek bukannya kasar, tapi memang sedang berusaha keras untuk merebut bola. Yang secara tidak sengaja menyentuh kaki lawan itu sendiri.

Saya kalo ketemu lawan yang dribelnya selevel Lionel Messi, ngotot banget ngerebutnya. Nggak mau sampai lolos, apalagi sampai dilewatin sama tuh orang.

Kalo ketemu lawan yang tembakannya kayak CR7, juga ngotot. Secepat kilat tutup ruangan tembaknya, jangan sampe lawan sempet buat nembak.

Saya baru nggak ngotot maennya, saat bertemu lawan yang kalo dribel keserimpet kakinya sendirinya. Atau pas mau nendang, bukannya bola yang melayang, tapi malah sepatunya sendiri.



And finally, the game is on.


Permainan dimulai dengan oper-operan bertempo pelan.

Tim lawan mengoper ke temannya, tanpa ada niatan untuk menyerang.

Saat sudah “terbuka”, barulah mereka menyerbu dengan kekuatan penuh.
Mereka bergerak ke bagian pertahanan saya.

Ada dua orang, dengan kekompakan selevel Tsubasa-Misaki.  Oper kanan, oper kiri. Giring kanan, giring kiri. Kalo Tsubasa maju ke depan, Misaki lalu gerak ke samping. Begitu sebaliknya. Mereka kompak kayak udah jadi pasangan seumur hidup.

Tsubasa (well, namanya bukan tsubasa, sih) mendribel, mencoba melewati saya.


Dia mau lewat kiri, saya tutup.

Dia mau lewat kanan, saya tutup.

Pokoknya mau lewat kemana, saya coba tutup. Kalo perlu pake portal sekalian.

Tsubasa lalu mengeluarkan trik, bolanya melambung ke atas melewati saya, kemudian ia menyalip dari samping.

Tsubasa berhasil menerobos pertahanan saya!

Danger alert! Danger alert! Danger alert! – isi kepala berbunyi mendadak seperti notifikasi sosmed pada handphone.

Saya mengejarnya.

Sadar sudah hampir tertinggal jauh, saya mencoba menekelnya dari belakang.
Saya melompat lalu melakukan sliding tackle. Saya tekel bolanya ke samping, hingga keluar lapangan.

Alhasil, bolanya out, Tsubasa kaget dan terjatuh.

Mission complete. Kata saya dalam hati.

Saya lalu mengangkat badannya, dan mengepalkan tangan untuk tos dengan Tsubasa. Ia membalas dengan serupa. Tangan kami beradu, menandakan bahwa tadi cuma bagian dari permainan. Bukan dendam, bukan emosi.


Permainan berlanjut lagi sampai adzan berkumandang.



Allahu Akbar, Allahu Akbar…
Allahu Akbar, Allahu Akbar…



Pertanda permainan harus selesai, dan ditutup dengan berbuka puasa.

Kami berbuka dengan air putih dan sedikit jajanan kecil yang tersedia di tempat futsal. Kami berbuka sambil mengobrolkan pertandingan tadi.

Selesainya berbuka, kami lalu pulang ke rumah.

Kami memutuskan sholat maghrib di rumah, karena di lapangan futsal tidak ada mushola.

Kami lalu saling bersaliman, bermaafan kalo ada salah di pertandingan tadi, kemudian meninggalkan lapangan menuju rumah untuk beristirahat.


NB:  (Sliding tackle – menekel dengan cara meluncur sambil menjatuhkan badan) Sebenarnya, cara ini  tidak boleh di futsal. Namun, karena ini cuma maen biasa, kami mensahkan cara ini.


#3 Lebaran

Di Solo, saat lebaran, ada tradisi yang biasanya kami lakukan di kampung.

Dari saya SD sampai saya SMA tradisi itu terus berjalan.

Tradisinya adalah sesudah sholat Ied, saya sekeluarga muterin kompleks (biasanya cuma satu RT), kami masukin dari rumah ke rumah. Setiap masuk ke satu rumah, anggota keluarga dari rumah itu akhirnya ikut untuk mengunjungi ke rumah berikutnya. Dan begitu seterusnya.

Saya ingat, ketika masih SD, ulang tahun saya berdekatan dengan hari lebaran. Jadinya, setiap masuk ke rumah tetangga, selau ada kalimat template yang selalu keluar.

“Aldy minggu ini ulang tahun lho!”

“Wah, slamet ya, Dy. Semoga panjang umur ya!”

“Ya udah ini, Pakde kasih kado (amplop berisi duit) buat kamu!”

“Makasih, ya, Pakde.” bilang saya, tersenyum bahagia.

Kalimat-kalimat template tadi terus menerus berulang dari rumah ke rumah. Kebayang, kan, bisa ngumpulin berapa duit? Hehehehehe.

Enaknya masuk dari rumah ke rumah, selain faktor dapet “amplop”, juga dapet makanan. Cemilan berjejer di meja tamu, siap untuk disantap, juga siap untuk dibawa pulang.


Terkadang, ada tuan rumah yang menawari opor ayam. Kami sungkan, karena masih berkeliling ke rumah berikutnya. Tetapi, tuan rumah sampai memberikan piring ke tiap orang berisi kupat dan irisan ayam.

Karena takut mubazir, akhirnya kami makan (tentunya dengan lahap).


Dan dari semua hal yang istimewa dari tradisi ini adalah saat sesi maaf-maafannya. 

It feels good. Ketika saya bersalaman dengan niatan memaafkan dan dimaafkan. Rasanya adem di hati, saat tangan saling bersapa dan senyum terbagi ke seluruh ruangan.

Yang mungkin, sebelumnya ada salah, ada momen yang tidak mengenakkan di hati, pada saat itulah, semuanya selesai. Emosi mereda, dendam turun seketika. Ujungnya, damai yang dinanti pun datang, menghampiri kami semua.

Buku pun ditutup dengan akhir manis.

Tawa yang meluas.

Dan bahagia yang membekas.



Mohon Maaf Lahir & Batin


"Saya Aldy Pradana, mengucapkan Minal aidzin wal faidzin. Mohon maaf lahir dan batin kepada semua orang yang membuka dan membaca blog ini. Kalo ada salah kata tertulis, saya minta maaf. Semoga saya bisa menulis dengan lebih baik ke depannya. Amin."



You can follow my blog by click this link :) aldypradana.com  



Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store




Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂




- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

munggah