Karena sebelumnya pernah menulis banyak veri cerita cinta-cintaan ala remaja, sekarang saya mau nyoba nulis cerpen fiksi cinta dengan tema yang berbeda. Semoga tetap menarik untuk dibaca, dan bisa diambil pesan-pesan yang terselip di dalamnya. Selamat membaca :)
Seketika muncul keheningan di antara mereka berdua.
Ia hanya menghela nafas dengan berat. Tanpa menengok, ia lalu membuka pagar rumahnya, dan mendorong motornya keluar.
Menunggu muridnya membenarkan jawabannya, beliau bertanya kepada murid yang punya rumah, "Kamu di rumah sama siapa aja?"
"Ayo, Rinto, waktunya belajar." ajak Ibu, memanggil dari ruang tengah
"Iya, Ma." jawab Rinto, berdiri dari kursi di kamarnya. Ia lalu bersiap mengambil alat tulis dari dalam tasnya.
"Ada PR, nggak?" tanya Ibu.
"Ada bu." kata Rinto, lalu ia berkata dengan tidak semangat. "Matematika...."
Rinto kemudian membawa PR dan alat tulisnya mendekati Ibu.
Beberapa selang kemudian, terdengar suara motor tua. Suaranya agak kasar dan tak beraturan. Mendengarnya saja sudah terbayang berapa banyak kebulan asap yang keluar dari knalpotnya. Meskipun begitu, suara ini sudah menjadi ciri khas dan penanda kalo Ayah sudah sampai di depan rumah.
"Assalamu'alaikum." salam Ayah, membuka pintu rumah.
"Wa'alaikumussalam." jawab Ibu dan Rinto di ruang tengah, masih sibuk mengerjakan PR Matematika.
Ibu lalu berdiri dan bilang, "Papa mau teh anget?"
"Boleh."
Ayah melihat Ibu berjalan menuju dapur, meninggalkan Rinto berkumpul dengan buku yang berserakan. Dia lalu mendekati anaknya, merangkul bahunya, dan duduk di sebelahnya. "Kamu lagi ngerjain apa?" tanyanya.
"Ngerjain PR Matematika, Pa." jawab sang anak, tak semangat. "Susah."
"Masa, sih, susah? Coba Papa liat mana yang susah." ucap Ayah.
"Yang ini." tunjuk Rinto pada suatu gambar bangun datar. "Yang disuruh cari luas segitiga."
"Oh, yang itu. Coba sini Papa bantu."
Ia lalu menatap langsung anaknya, dan bilang dengan perlahan. "Kamu tau rumus segitiga?"
"Tau. Alas x tinggi, kan?" jawab Rinto.
"Itu betul, tapi masih belum sepenuhnya benar."
"Maksudnya?" tanyanya, bingung.
"Lebih tepatnya itu..... Alas x tinggi bagi 2."
"Ooh, ada bagi duanya?"
"Yap, betul." Ayah mengangguk. "Kamu bisa kalikan dulu, lalu dibagi 2 atau kamu bisa bagi 2 salah satu angkanya dulu, baru dikalikan. Tinggal pilih, mana yang menurut kamu lebih mudah. Sekarang coba kamu kerjakan."
"Iya, pa." Rinto mengerjakan soal barusan. Dia memutuskan membagi 2 dulu, karena ia rasa lebih mudah begitu.
Tak lama kemudian, Rinto memberikan soal jawabannya, "Ini bener nggak, Pa?"
"Wah, cepat sekali." Ayah mengambil kertas Rinto, lalu memeriksanya.
"Jawabanmu sudah benar, Rinto."
"Udah bener?"
"Iya, sudah tepat sekali."
Ekspresi Rinto berubah perlahan, sendu yang sebelumnya tertanam, hilang digantikan senyuman kecil yang cerah.
Kemudian, Ibu datang membawa secangkir teh hangat untuk Ayah, "Ini Pa."
"Makasih, ya, Ma." tangannya meraih teh hangat tersebut, dan menyeruput sedikit demi sedikit. "Enak. Manisnya pas."
"Ma...." potong Rinto. "Barusan aku udah bisa ngerjain soal luas segitiganya. Ternyata gampang banget, Ma."
"Wah, hebatnya!" jawab Ibu, sumringah. "Ya udah dilanjutkan lagi ngerjainnya."
"Oke Ma!" Rinto lalu membaca soal berikutnya, siap mengerjakan dengan lebih semangat.
Ayah dan Ibu saling menengok, lalu menatap dalam-dalam. Seketika, Ayah mengangguk pelan ke arah Ibu, kemudian merangkul anaknya sambil melihat soal berikutnya. Ibu membalas anggukan tadi dengan senyum simpul dan rasa tenang yang hangat di dalam. Akhirnya, salah satu doanya sudah terwujud.
Umumnya, orang setelah bangun tidur itu mengecek handphone atau langsung ke kamar mandi karena kebelet, tapi tidak dengan Tony. Ia malah mengambil pensil dan buku gambar, mencoret-coret lembaran kosong dengan muka masih merah mengantuk.
"Karakter ini namanya Ice Kids."
"Anak kecil yang kena energi kuantum saat lagi buka kulkas di rumahnya." tambahnya.
"Kalo yang ini Target." Tony melanjutkan. "Anak yang punya kekuatan nembak ketapel selalu tepat sasaran."
Sesudahnya, ia menaruh buku gambar tempatnya menaruh dunia ciptaannya. Lalu, ia pergi ke kamar mandi dan bersiap untuk ibadah.
Tony melangkah dengan senyum ringan karena idenya sudah tertanam rapi di bukunya, tapi tidak dengan ibunya. Ibunya melihat buku gambar anaknya dengan sinis, masih tidak mengerti kenapa anaknya suka menggambar.
"Cuma kemungkinan, kan." potong Ayah.
"Tapi kemungkinan mengandung resiko, Pa. Kalo nilai dia jelek gimana? Kalo dia nggak lulus gimana?"
"Kalo misalkan dia tetep gambar, dan Tony tetep lulus dengan nilai bagus, gimana? Kita kan harus liat dari dua sisi juga." tambah Ayah, sekali lagi.
Ayah lalu menunjuk ke arah lemari di sebelah kanannya. Di meja bundar tempat mereka berada, terdapat lemari kaca di dekatnya. Tempat piala Tony terpajang. Terisi penuh dari rak paling atas sampai bawah. Ada yang juara satu, dua, bahkan tiga.
"Kamu liat itu?" Bilang Ayah. "Itu hasil dari kesukaan anak kamu, lho."
"Hasil dari dia menuangkan kesukaannya yang diseriusin."
"Buat Tony, gambar udah bagian dari hidupnya." jelas Ayah.
Ayah lalu mendorong kursinya ke belakang, meninggalkan kopinya yang masih terisi setengah gelas. Ia tak mengeluarkan kata-kata balasan untuk ucapan istrinya.
"Lho kenapa, Ma???" teriak Tony.
"Kamu baru baru boleh ngelanjutin gambar kalo ujian sekolah udah selesai." jawab Ibunya, tegas.
"Emang kenapa sama gambaranku?"
Ibu menjawab, "Nggak ada yang salah sama gambaranmu. Hanya sekarang bukan saat yang tepat buat ngegambar."
Tony lalu memeluk bukunya. "Nggak mau, Ma. Gambaran ini penting buat aku."
"Sudah, sini mana bukunya!" Ibu lalu mencoba meraih buku tersebut. "Sekarang itu waktunya belajar."
Tony menepis tangan ibunya.
Tak mau kalah, Ibu kemudian meraih dengan paksa buku itu.
Dengan segenap tenaga yang tersisa, Tony mempertahankan bukunya. Tempat imajinasinya tertangkap dan terabadikan.
Sampai akhirnya...
Buku itu terlepas karena tarikan yang terlalu kuat.
Buku tersebut terlempar ke atas. Menyebarkan kertas-kertas ke langit-langit kamar. Dengan lembaran kertas yang masih berjatuhan secara perlahan, Tony dan Ibunya saling tatapan penuh emosi. Satunya ingin mempertahankan mimpi dan masa depannya, satunya ingin merebut, karena itu bukan masa depan yang tepat bagi anaknya.
Kertas-kertas tadi pun mendarat di lantai kamar Tony. Hasil gambar buatan Tony menjadi berantakan karena ternyata ada beberapa kertas yang tersobek. Melihat hal itu, Tony tersimpuh, menundukkan mukanya, mencoba membereskan kertas-kertas tersebut. Air mata menetes pelan dari pipinya, hingga terjatuh mengenai kertas gambarannya.
Ayah yang mendengar keributan, lalu datang menghampiri.
"Sudah, Ma." bilangnya, menjemput Ibu untuk keluar dari kamar.
Ibunya pun mau tidak mau menuruti Ayah.
Dengan langkah sedikit lunglai, Ibu melihat anaknya masih mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan. Emosinya mereda. Nafas panjang ia hembuskan. Sekarang, ia paham, pintar bukan cuma sekedar matematika. Masa depan bukan sekedar nilai. Biarkan masa depan anaknya ditentukan oleh mimpi dan cita-cita anaknya sendiri. Bukan harus mengikuti kemauan atau paksaan dari orang tuanya.
========================================
Instagram: @arsenio.store.id
Tokopedia: Arsenio Apparel Store
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂
- short description about the writer-



