3 Hal Yang Perlu Kamu Hindari Saat First Date


MEMBERI kesan yang baik pada kekasih adalah sebuah keharusan. Apalagi pada sebuah first date, pria membuat takjub wanitanya sudah seperti tugas negara. Penting banget cuy!

Itu yang gue rasakan saat sudah bersama dia

Hubungan kami sudah menjajaki level yang lebih tinggi, tapi sampai sekarang, kami belum pernah ngedate. Makanya, gue sedang mengusahakan untuk membuat first date yang berkesan agar dia merasa nyaman bersama gue.

Untuk first date ini, gue memikirkan banyak rencana sebenernya. Gue sudah mengajukan beberapa rencana tersebut ke dia. Gue pernah mengajaknya nonton film di bioskop, tapi sayangnya, dia berkata lain.

“Gimana kalo first date kita itu nonton film aja, yang?”

“Nonton apa?” tanyanya.

“Ini ada film judulnya Hijab. Katanya, sih, bagus.”

“Oh, Hijab. Iya, itu emang bagus, kok.”

“Nah, berarti beneran bagus.” kata gue, bersemangat. “Tunggu, kamu kok yakin banget kalo filmnya bagus?”

Uti tersenyum lebar ke gue, “Aku kan udah nonton.”

“Yah…” bilang gue, kecewa.

“Kalo gitu jangan nonton itu. Masa kamu nonton Hijab dua kali? Itu kayak kamu cuma nemenin aku nonton doang dong.”

“Terus nonton apa, ya?” Gue menggaruk kepala, memikirikan film apa yang menarik.

Dia bertanya, “Ada film horror nggak?”

“Bentar.” Gue mengambil tablet gue, membuka browser, lalu membuka situs 21 cineplex. Setelah terbuka situsnya, gue lalu menjawab pertanyaannya.

“Nggak ada, tuh.” ucap gue sambil menggeleng.

“Kenapa? Kamu suka film horror?”

Uti tertawa kecil, “Nggak, hehehe. Aku kan penakut. Kalo kamu?”

“Nggak juga. Aku juga penakut. Aku aja terakhir nonton film horror itu SMP.”

“Jadi, kalo kita nonton film horror kita bakalan takut bareng-bareng dong?” bilangnya setengah bercanda.

“Lucu deh kayaknya.” lanjutnya, tersenyum sendiri

Gue menepuk jidat melihat responnya.

Karena tak mendapatkan film yang tepat, ide menonton pun resmi gue hapus.

Gue lalu mencari ide kedua, yaitu makan bareng.

Dengan muka sumringah, gue bertanya, “Gimana kalo makan, yang?”

“Boleh, mau makan dimana?” Dia bertanya balik.

“Kalo Di Pizza Hut gimana?”

“Aku lagi nggak pengin pizza, nih.”

“Kalo di KFC?”

“Aku juga lagi nggak pengin ayam goreng.”

“Kalo di McD?”

“Kan aku udah bilang aku lagi nggak pengin ayam.” jawabnya, menghela nafas. “Kok kamu nawarinnya fast food semua sih?”

“Lha terus dimana dong?”

Kami diam sebentar. Seperti mendapatkan ide dari langit, dia memberi saran, “Gimana kalo Burger King?”

“Itu fast food JUGA kali!”

“Oh, iya, ya.” jawabnya, polos.

Ide makan pun sekali lagi harus dihapus.



Gue kembali menguras otak, mencari apa yang tepat untuk first date kami.

Akhirnya, pada salah satu hari Senin di bulan Februari, gue mendapatkan ide cemerlang. Tanpa menunda-nunda, gue lalu membagi ide tersebut ke dia.

“Yang, aku ada ide lagi!” kata gue penuh semangat.

“Apa?”

“Gimana kalo kita ke Gramedia? Kamu kan suka buku, aku juga suka buku. Kamu suka aku, aku juga suka kamu… “

“Langsung to the point aja kenapa, sih?”

“Oke, oke.”

Gue mengangkat kedua tangan, lalu menjelaskan ide gue kata demi kata.

“Gramedia.”

“Berdua.”

“Nyari buku bareng.”

Gue mengangkat kedua alis mata gue, berharap ia menyetujui ide tadi, “Gimana?”

Dia mengernyitkan dahi, berpikir benarkah itu ide yang baik.

“Hmmmm.”

Gue lalu menunggu jawaban darinya.




5 menit berlalu.




10 menit berlalu.




2 bulan berlalu.




Akhirnya, Muti memberikan jawaban yang sudah lama gue tunggu-tunggu.

“Boleh.” katanya, pendek.

Gue mengepalkan tangan kanan, “Yes!”

Kemudian, dengan perasaan lagi senang-senangnya, gue menanyainya, “Tapi, kapan?”

“Sekarang aja.” jawabnya cepat.

“Sekarang?”

Dia menjelaskan, “Iya, kita kan abis pulang kerja. Terus lagi nunggu angkot. Ya udah, sekarang aja. Mumpung aku lagi nggak ada acara juga.”

Gue nggak mampu membalas kalimatnya.

Saat masih membisu, bingung harus berkata apa, sebuah angkot berwarna orange datang menghampiri.

Angkot itu berhenti tepat di depan kami. Mengajak kami masuk menjadi penumpang dari angkot yang masih kosong itu.

Dia bergegas naik, lalu duduk di belakang sopir.

“Ayo naik.” ujarnya setelah memangku tas punggungnya.

Tak bisa menolak ajakannya, gue lalu naik dan duduk di dekat pintu.

Dengan perasaan bercampur aduk, gue berharap semoga first date gue berjalan lancar. 

***

Angkot berjalan lambat menyusuri jalan berlubang mencari penumpang.

Setiap ada orang berdiri di pinggir jalan, sang sopir menghentikan angkotnya, lalu bilang, “Ayo, naik!” kepada mereka.

Tetapi, kebanyakan dari mereka menjawab tanpa suara, hanya menggelengkan kepala, menolak ajakan sopir.

Di dalam angkot tersebut, duduklah kami saling berhadapan. Memangku tas masing-masing.

Akhirnya, kami ngedate.

Tapi tidak seperti pasangan pada umumnya, kalo ngedate naik mobil atau motor, kami berdua naiknya…




Angkot.




Sungguh tidak elit sekali.




Sebagai cowok, gue agak malu sebenernya.

Harusnya, gue mengajaknya dengan menaiki motor keren seperti motor balapnya Valentino Rossi, atau agar lebih keren lagi, dengan menaiki limosin. Full AC, atap bisa terbuka secara otomatis, lalu disuguhi minuman chocolate chip coffe with extra caramel (entah minuman apa itu, tapi terdengar sangat keren).

Tapi, apa daya, tak ada satu imajinasi gue itu yang terwujud. Yang kesampaian malah kami duduk berdua, bersama penumpang lainnya, saling berdempetan bahu di angkot tercinta.

Ini bukanlah cara yang bagus untuk sebuah date. Tambah lagi, belum ada setengah jalan, gue sudah ngantuk duluan.

Mata mulai menutup, gue bertanya pelan, “Jadi begini kebiasaanmu selama berangkat atau pulang kerja? Hoaaeemm.“ Gue menguap, kepala gue terkantuk-kantuk, “Duduk di angkot selama 1 jam? Nggak bosen?”

“Aku aja ini udah ngantuk.” lanjut gue sambil menyandarkan kepala ke belakang.

“Bosen banget.”

“Makanya, pasti bawa cemilan dari rumah. Biar nggak ngantuk di angkot.”

Dia lalu membuka tas, menunjukkan isi tas berisi banyak jajanan. “Mau?”

Seperti melihat sebuah emas, kepala gue langsung bangkit dari sandaran.

“Mau dong!”

Gue mengambil cepat Fitbar miliknya, lalu membukanya terburu-buru.

Saat mengunyahnya, tiap gigitan terasa seperti sebuah penyegaran di badan. Rasa kantuk sedikit demi sedikit mulai hilang.

Masih dalam keadaan mengunyah, gue bertanya lagi, “Nggak takut kalo naik angkot sendirian? Agak serem tau buat cewek.” Gue berbicara sambil menyemburkan makanan. “Kenapa nggak naik motor aja?”

Dia menghindari semburan gue, “Ikh, jorok banget, sih!”

Tanpa segan, dia lalu menjitak gue.

“Aduh! Iya, maaf-maaf, tapi nggak perlu pake kekerasan juga kali.”

“Kamunya, sih, gitu.” balasnya, jengkel.

Dia lalu menjawab pertanyaan gue tadi, “Aku bisa naik motor. Di rumah juga ada dua motor, Ninja sama Mio.”

“Nah tuh, ada motor di rumah! Pake aja salah satu!” kata gue, semangat.

“Tapi, aku nggak punya SIM.”

Gue lalu memasang raut muka kecewa, “Yaelah. Sama aja bohong.”

Kesal dengan jawaban gue, dia lalu menjitak gue lagi.

“Aduh! Ini kenapa kamu jadi hobi jitak, sih?” Gue lalu mengelus-ngelus kepala, menahan sakit. “Cewek kok barbar gini.”

“Biarin. Kamunya, sih, gitu.” katanya, singkat.

Dalam obrolan penuh jitakan ini, kami melanjutkan perjalanan dengan angkot tercinta menuju Metropolitan Mall di Bekasi.

***

Sesampainya di tempat tujuan, kami turun dari angkot, lalu menyebrang jalanan yang ramai. Gerimis menemani kami berdua melewati mobil-mobil yang terjebak macet. Menghadapi klakson dan genangan air hujan, dengan susah payah akhirnya kami berhasil mencapai pintu masuk Metropolitan Mall.

“Kita kayak abis ngelewatin haling rintang, ya?” ucap gue sambil merapikan rambut yang basah karena rintik hujan.

Dia lalu mengambil tisu dan membersihkan mukanya, “Iya, mau kesini aja, susah banget perjalanannya.”

Melihat itu, gue berkomentar, “Udah, nggak usah dilap pun, kamu tetep cantik kok buat aku.”

“Hih.” katanya, masih mengelap wajahnya.

“Noh, bersihin muka kucelmu.” Dia memberikan tisu bekasnya ke gue.

Gue mengambilnya, lalu segera melap muka gue. Saat membersihkan muka gue yang basah bercampur asap knalpot, gue baru tersadar, “Kok kamu ngasih aku tisu bekasmu, sih? Emang aku tempat sampah?”

Cuma tertawa kecil, dia lalu berjalan masuk, meninggalkan gue.

Sebal, gue lalu membuang tisu tadi ke tempat sampah, dan mengejarnya.

Sudah berada di sebelahnya, dia ngomong, “Cari mushola dulu, yuk. Solat sekalian bersih-bersih.”

Gue mengangguk, lalu mencari dimana mushola berada.



Singkat kata, kami sudah solat dan tampak jauh lebih bersih. Kami pun melangkahkan kaki ke tujuan utama kami, toko buku Gramedia.

“Aku lagi ngincer dua buku, nih. Buku pertama, bukunya Mas Bara, Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri (bukan promo, btw). Terus buku kedua, bukunya Bene, Ngeri-Ngeri Sedap (sekali lagi, ini bukan promo terselubung).”

Gue menambahkan, “Kalo kamu ada buku inceran, nggak?”

“Aku nggak ada, sih. Nanti mau liat-liat dulu, mungkin ada yang cocok.” jawabnya.

Menitipkan barang bawaan kami, kami lalu mendekati rak-rak buku yang berada di Gramedia.

Gue, yang fokus mencari buku inceran gue, berjalan sendiri untuk menemukan dua buku itu.

Mendekati rak buku fiksi, gue lalu melihat seksama deretan buku disana. Tangan gue menyentuh salah satu buku, gue perhatikan judul bukunya.

“Bukan ini.” kata gue dalam hati.

Gue membentuk dua jari gue, telunjuk dan jari tengah, seperti dua kaki jenjang yang sedang berlari. Kedua jari gue ini, menjelajah dari baris paling atas, berpetualang dari ujung kiri sampai ujung kanan.

Kalo nggak ketemu, dua jari gue meloncat ke baris bawahnya, lalu berlari lagi sampai ketemu buku yang gue incar. Begitu terus sampai baris terbawah.

Setelah kelelahan mencari, kedua jari tadi akhirnya menghentikan langkahnya tanpa menghasilkan apa-apa.

“Kok nggak ada, ya?” bilang gue sambil mengusapkan keringat di dahi.

Akhirnya, gue mencari petugas Gramedia, bertanya adakah stok buku inceran gue.

Salah satu petugas mengetik judul buku di komputer, lalu bicara, “Kalo Ngeri-Ngeri Sedapnya, stoknya sudah habis, Mas. Tapi, kalo Jatuh Cinta itu masih ada.”

Ia lalu meninggalkan komputernya, “Sebentar, saya carikan dulu.”

Gue menunggu cemas. Padahal, cuma buku bacaan doang, tapi bisa juga bikin gelisah.

Petugas itu kembali membawa buku bercover ungu, “Ini, Mas.”

“Makasih, ya, mbak.”

Gue mengambilnya dengan muka sumringah.

Saat hati gue lagi seneng-senengnya, gue baru sadar, “Lho, si dia mana, ya?”

Karena terlalu fokus dengan buku inceran gue, gue lupa kalo lagi first date sama dia. Harusnya, kan, nyari buku berdua, tapi kenapa malah nyari buku sendiri-sendiri begini?

Agak panik, mata gue menelesuri tiap sudut Gramedia.

“Perempuan berkerudung merah, kamu dimana?”

Mata gue sampai melotot, tapi tetap tak menemukannya.

Gue memutuskan mencari dari rak satu ke rak lain. Memegang buku Mas Bara, gue setengah berlari mencari dimana dia berada. First date yang absurd, pikir gue.



Gue mencari di rak buku agama.

Nggak ada.



Di rak buku memasak.

Nggak ada.



Di rak buku dewasa.

Nggak ada.



Saat memasuki rak merajut, ada tangan menyentuh bahu gue.

“Abis dari mana aja, kok keringetan gitu?”

Gue membalikan badan.

Ah! Dia ternyata ada disini!

Gue ingin meluk dia seketika, tapi sebelum itu kejadian, dia bicara, “Heh, jangan deket-deket. Badanmu bau.”

Asem.

“Kamu kemana aja? Aku dari tadi nyariin kamu.” tanya gue.

“Aku dari tadi disini. Kan kamu yang ninggalin aku, kan?”

Iya, juga, sih.

Gue menggaruk kepala, menutupi rasa bersalah.

“Ya, udah, abis ini, kita nyari bukunya berdua, ya.” jelas gue. “Kamu udah dapet bukunya?”

“Belum, nih. Masih cari-cari. Kalo kamu?”

“Nih.” Gue menunjukkan buku yang gue bawa. “Tapi, baru satu, buku inceranku satunya, nggak ada. Kayaknya, bakal ganti buku inceran, nih.”

“Ayuklah, kita nyari bukunya berdua.” katanya, jalan menghampiri rak buku lain.

“Oke.”

Kami lalu mendatangi rak-rak lain untuk mencari buku yang paling sreg untuk kami.

***

“Akhirnya, selesai juga.”

Gue menghempaskan badan ke kursi, menaruh kantung plastik bertuliskan Gramedia di meja kayu berbentuk bundar.

“Capek ya tadi nungguin aku?” tanyanya, ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan gue.

“Nggak juga, sih.” Gue membenarkan posisi duduk. “Cuma dari tadi kan muter-muter terus, nggak sempet duduk.”

Gue lalu merenggangkan kaki, melemaskan otot-otot setelah berjalan mencari buku selama 2 jam terakhir. Dia membuka kantung plastik, lalu mengambil bukunya.

“Makasih, ya, udah bayarin.” bilangnya, tersenyum.

“Iya, santai ajalah sama aku.” Gue menyombongkan diri seakan-akan telah melakukan hal keren, padahal setelah bayarin, duit gue sekarang hanya tersisa 20 ribu.

Masih senyum-senyum kecil bangga terhadap diri sendiri, gue bertanya, “Buku apa sih itu? Aku kayaknya pernah liat covernya, deh.”

“How to be Interesting.” Dia menunjukkan cover bukunya ke gue. “Cara Menjadi Menarik Dalam 10 Langkah Sederhana.”





Tangan kanan gue mengambil buku itu, “Oh, ini…”

Gue membukanya, memindahkan halamannya dengan cepat, “Dulu aku pernah baca ini. Nggak sempet beli, sih, cuma liat doang. Bukunya isinya kalimat motivasi singkat terus ada lingkarannya.”

“Kenapa kamu beli buku ini? Kamu mau jadi menarik? Ngapain?” Gue mengembalikan bukunya. “Kamu kan udah menarik buat aku.”

Gue lalu mengedipkan mata kiri gue.

“Mulai deh.” Muti memasang muka jijik.

Mengambil buku lalu menaruhnya dalam tas, dia menjawab, “Lucu aja judulnya. Terus penasaran juga sama isi bukunya. Ya, udah, akhirnya beli, deh.”

“Kalo kamu? Jadinya nambah buku apa?”

Gue mengambil salah satu buku dari kantung plastik, “Jadinya ini.”

“Komik Indonesia gitu, judulnya Juki Komikstrip.” Gue membolak-balik bukunya. “Nambah satu ini soalnya aku butuh komedi buat nyaingin novel serius punyanya Mas Bara.”

“Mau baca?”

“Nggak, ah. Lagi nggak minat sama komik.” balasnya.

Ia lalu menengok melihat jejeran donat di sebelah kirinya, “Kan sekarang kita udah di J.Co, nih, beli yuk. Kamu kan yang minta kesini, masa kita nggak beli? Cuma duduk-duduk doang, gitu?”

“Ya udah, sana beli. Aku donat cokelat, pokoknya, ya.”

Kemudian, gue mengambil dompet untuk memberikan uang untuknya.

Tapi, setelah melihat isinya, gue baru sadar kalo uang gue nggak cukup. Dalam dompet  gue hanya ada satu lembar 20 ribuan. Sendirian. Tanpa teman. Paling ada beberapa recehan menememani, tapi sama sekali tak menambah banyak.


Gue menelan ludah.


20 ribu emangnya cukup buat beli donat buat dua orang?


Aldy, kamu sungguh memalukan.


Tak ada yang bisa gue lakukan, selain berkata jujur, dan berharap dia mau membayar makanan dan minuman nanti.

Astaga, membiarkan perempuan membayar ngedate? Predikat gue sebagai lelaki jelas perlu dipertanyakan.

“Eeee… Yang…” bilang gue, grogi.

“Uangku, ternyata nggak cukup, nih.”

“Pake uangmu, dulu, ya.” kata gue dengan keringat mengucur deras beserta jantung berdentum keras.

Sesudah kata-kata itu keluar dari mulut, gue berharap cemas.



Semoga aja dia nggak ilfil dengan kalimat gue barusan.



Beberapa detik kemudian, dia menatap gue, mulutnya mulai membuka pelan, hendak menjawab kalimat gue barusan.

Entah kenapa, adegan itu terasa lambat dan mendebarkan.



Kira-kira apa ya jawabannya?


Apakah dia akan menjawab “YA”?


Atau, apakah dia akan menjawab “TIDAK”?



Saksikan di KATAKAN CINTA minggu depan!



Halah. Opo sih iki.



Akhirnya, dia membuka lebar mulutnya. Tampak gigi bawahnya putih cemerlang, dan lidahnya bergoyang kecil.

Keringat gue mengucur pelan dari dahi menuju pipi, menyaksikannya penuh perhatian.

Bibirnya sedikit monyong ke depan, membuat sebuah kata yang ia akan bicarakan.

Badan gue mendekat ke arah meja, melihatnya lebih seksama dan lebih dekat. Tak sabar dengan adegan slow motion ini.

Dan keluarlah kalimat darinya…




“Oke.”





Muti lalu beranjak dari kursi, memesan donat dan minuman. Sedangkan gue, mencoba menenangkan jantung karena kejadian mendebarkan tadi. 




Setelah berbincang-bincang sambil menguyah donat yang dibelikan dia, kami pun pulang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, mungkin tidak terlalu malam, tapi bagi dia ini sudah melebihi jam malamnya.

Kaki kami menginjakkan genangan air ketika keluar dari Metropolitan Mall. Berjalan bersebalahan, rintik hujan menyambut kami dengan sentuhannya yang halus. Air yang turun begitu lembut seperti ingin menambah keromantisan dari first date kami.

Sama seperti tadi, jalanan masih ramai. Motor menyelip diantara mobil-mobil, dan angkot menunggu di sebelah kiri jalan, menunggu datangnya penumpang. Sekarang, kami berada di pinggir jalan, dekat rambu lalu lintas.

Untuk menaiki angkot tujuan pulang, kami harus menyebrang terlebih dahulu, dan menaiki angkot yang lagi ngetime di sebelah sana.

“Mana tanganmu?”

Tangan kiri gue terbuka lebar.

Ia menanggapi, “Kenapa? Kan, payung kamu yang pegang. Mau aku bukain?”

“Nggak usah pake payung. Cepetan siniin tanganmu.”

Agak bingung, dia lalu memberikan tangan kirinya.

Tangan kiri gue meraih tangan kanannya, menyatukan tangan berjari panjang gue dengan tangan berjari mungilnya dia. Tangan kami berpadu di tengahnya riuhnya jalanan yang basah akan hujan. Seperti tak peduli, seperti dunia milik sendiri.

Rambu hijau yang tadi menyala, sekarang meredup. Lalu, rambu merah bersinar dengan terangnya, memberi kode untuk kami berjalan ke seberang.

Masih berpegangan tangan, kami melintas di atas zebra cross yang hampir memudar. Kami seperti berbinar karena terkena lampu motor dan mobil. Terang lampunya seakan ingin membuat akhir yang manis untuk first date kami. 


Sampai di ujung jalan, genggaman tangan kami mau tidak mau harus berpisah, melepaskan paduan tangan yang sempat memiliki momen romantis saat menyebrang. 


Kami lalu menaiki angkot, duduk paling di belakang, dan sekali lagi berhadap-hadapan. Mata kami bertemu, tapi tak ada kata yang keluar. Kami cuma tersenyum setelah mengalami banyak hal pada hari ini. 


Melihatnya senyumannya, gue merasa sangat gembira. Karena first datenya tidak berjalan sesuai yang gue harapkan, malah cenderung absurd dan nyeleneh. Tetapi, setidaknya, date kami ini bisa berakhir manis seperti yang gue butuhkan.




1 2 3





- @aldypradana17




Karena blog ini tidak menentu postingan barunya, kamu bisa follow blog ini biar nggak ketinggalan saat ada postingan baru. Monggo :D

2 comments

Post a Comment

munggah