Syukurlah, Masih Ada Orang Yang Takut Akan Corona



Sehabis itu, saya pergi lagi dari Surabaya ke Solo, karena harus mengurus berkas administrasi.

Tentunya, khawatir itu ada. Makanya, saya menginap di rumah pakde, bukan di hotel. Saya beli makanan jarang sekali di warung, cafe, restoran yang ramai. Seringkali masak mie di rumah, atau beli jajanan yang cukup untuk mengisi perut.

Selama di sana, saya pun memakai masker dan membawa dua hand sanitizer. Tiap sampai suatu tempat, cuci tangan. Tiap hendak mau pergi ke suatu tempat, cuci tangan.

Menariknya, ketika saya bertanya kabar kepada teman saya di Solo, mereka selalu khawatir dengan “bepergiannya” saya dari kota ke kota.

Sesuatu yang pantas disyukuri, masih ada orang yang takut akan Corona. Dihajar dengan teori konspirasi, dihajar dengan pelonggaran protokol kesehatan, dihajar orang yang cuek dan tak peduli. Tetapi, masih banyak yang mau menjaga diri. Memakai masker, cuci tangan, dan jaga jarak.

Baguslah, ternyata saya berada di lingkaran pertemanan yang benar.





Post a Comment

munggah