Tentang Camping, Gunung, dan Api Unggun



Saya anaknya indoor banget. Kebanyakan kegiatan saya duduk di depan laptop: ngetik buat blog, download &nonton film, ngedit lagu, sama ngedit video youtube. Kalo liburan pun, saya sebenarnya kurang suka kalo temanya seputar gunung dan kemah. Nggak ada alasan khusus, cuma lebih suka ngelakuin hal yang lain aja. Tapi itu dulu.... Semenjak saya mengarungi dunia kerja sebagai guru sekolah alam, saya malah sering bertemu hal yang saya kurang sukai itu. Saya jadi sering ikut camping. Rasanya gimana? Saya berasa cemen, hehe. Saya nggak ngerti cara bikin tenda dari terpal, bikin api unggun, dan tanaman mana yang aman dikonsumsi. Ra mudeng blas. *malu-maluin* Dari acara camping yang banyak itu, saya coba untuk mengerti. Pernah, di acara survival camp buat guru, saya kebingungan bikin tenda dari ponco. Ponco itu semacam jas hujan (kalo temen saya nyebutnya jas hujan betmen). Akhirnya, saat tenda saya jadi, lalu saya coba duduk di dalamnya, pikiran saya cuma satu.... Tenda ini nggak aman sama sekali -,-" Proses trial and error pun berlangsung. Lama-kelamaan bisa juga. Walaupun saat pos terakhir, saya harus diungsikan karena tenda saya bocor dan badan saya basah kuyup.


***




Pada tanggal 12-14 April 2016, acara Character Building Camping (CBC) berlangsung di gunung bunder, Bogor.  

Di sana, saya jadi PAK (Pemandu Anak Kelompok).  

Saya dulu, nggak ngerti soal camping, gunung, dan api unggun, sekarang harus menurunkan ilmu tersebut ke murid-murid.  

Beban?  

Jelas. 

Deg-degan?  

Banget. 

Selama acara, saya mencoba untuk nggak melakukan kesalahan. Dan alhamdulillah... Semuanya lancar dan berhasil.  






Dari CBC SABIT 2016, saya secara resmi termasuk golongan pendidik, tetapi kalo ditanya, apakah saya sudah cukup ilmu tentang perkemahan? Maka saya akan menjawab... Belum. Masih belum. Namun, setidaknya saya sudah belajar. Saya sudah berproses, dan semakin lama, sayasemakin mulai mengerti. Saya yang anaknya indoor banget, ternyata saya bisa melakukan outdoor activity juga. Dan jika itu berlaku buat saya, maka itu berarti berlaku untuk semua anak lainnya.



Follow my blog: aldypradana.com

FB + Instagram + G+

Oh iya, satu lagi. Kegiatan CBC SABIT 2016 sempat saya dokumentasikan, dan saya edit 
menjadi video berjudul "Manfaat Camping Sekolah". Sudah tayang di youtube saya: 


 


Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

TVLOG (TEACHER'S VIDEO BLOG)


Melanjutkan postingan saya sebelumnya Ngevlog Yoh!, saya kemudian mempunyai nama vlog sendiri, yaitu TVLOG.  

Cara bacanya, TV - LOG 

Nanti di sana, saya bercerita tentang kegiatan saya selama menjadi guru di sekolah alam. Kalo youtuber lain bikin VLOG bisa sehari sekali, saya mungkin 1-2 mingguan baruan bisa jadi satu, hehe. Maklum, namanya juga youtuber + vlogger baru. 

Nggak tau kalo vlogger lain, saya bikin TVLOG pake naskah. Saya tulis apa yang mau saya ceritain, terus saya cari, "Saya punya video untuk mendukung cerita ini nggak, ya?" Kalo nggak ada, berarti saya harus bikin dulu videonya. 

Ada juga yang kebalik. Dari video yang terkumpul, saya cari benang merahnya apa, lalu saya bikin naskah ceritanya.  

Naskahnya juga simple beud. Cuma naskah narasi yang bakal saya ucapin (saya berperan sebagai narator), terus udah, rekam deh suaranya pake handphone. Begitu doang. 

Ini saya sudah bikin TVLOG #2 - 14 Hari Terakhir. Editannya masih di bawah rata-rata *jujur akan kemampuan sendiri*, tapi udah agak mendingan dari TVLOG #1. Semoga editan dan kualitas vlog saya bisa berkembang terus yak *amin* 



Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, 
Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Ngevlog Yoh!


Sekarang lagi zaman yang namanya Vlog atau Vlogging. Apa itu vlog? Menurut wikipedia,
Video-Blogging, atau bisa disingkat vlogging (diucapkan Vlogging, bukan V-logging), atau vidblogging, merupakan suatu bentuk kegiatan blogging dengan menggunakan medium video di atas penggunaan teks atau audio sebagai sumber media utama. 
Mengerti? 

Apa? Nggak ngerti?

Oke, versi gampangnya begini. Dari sudut pandang ane nih, ya. Vlog itu versi videonya blog. Jadi kalo di blog ada judul postingan, "33 Bahaya Deadpool Untuk Anak-Anak!" Ya udah, isinya TULISAN berhubungan sama judulnya. Nah, kalo di vlog, isi postingannya berupa VIDEO, bukan tulisan. Gitu. 

Ngerti, kan? 

Sip. 

Vlog bisa sketsa, film pendek, bahkan daily life. Kalo di Indonesia, vlog terkenal itu kayak Raditya Dika, Bayu Skak, Skinny Indonesia 24, dll. Nah, saya mau nyoba bikin vlog juga. Dimulai yang paling gampang, vlog saya pertama-tama tentang daily life. Memang saya bukan artis, kehidupan saya juga kurang begitu penting. Jadi, saya akan berusaha membuat video semenarik mungkin. *bersumpah di depan bendera merah putih* 

Ada juga beberapa alasan lain kenapa saya mau coba Vlog: 

1. Mau nyemplung di Youtube 

Saya merasa blog mulai sepi. Masih banyak pengunjungnya, sih, tapi nggak kayak dulu lagi. Ngehitsnya Youtube, salah satu alasan blog agak turun. Mungkin, sekarang saatnya saya menyelami dunia Youtube *padahal aslinya nggak bisa renang* 

2. Belajar editing 

Saya sekarang baru bisa edit video pake Movie Maker *sedih* Makanya, saya ingin nyoba belajar editing pake software lain yang lebih yahud. Ini penting karena saya ingin.... 

3. Bikin film sendiri 

Film pendek maksudnya. Tapi, film layar lebar boleh juga *ho ho ho* Saya suka banget nonton film, dan pernah kepikiran, "Saya pengin jadi sutradara film!" Saya masih belajar penulisan skenario, lalu sadar betapa susahnya nulis skenario. Jadi, saya mau ngubah yang susah itu jadi mudah, dengan nyicil belajar dari saat ini. Soalnya, kalo nggak dimulai-mulai, nanti mimpinya nggak kesampaian dong. 

4. Berjuang jadi penulis buku 

Premis saya ternyata masih kurang menarik bagi penerbit. Makanya, saya harus menekuni premis baru. Dengan Vlog tentang daily life ini, saya mau angkat temanya tentang guru. Judul vlog saya nanti TVlog atau Teacher's Vlog. Saya mau nyari ide buat buku personal literature tentang guru. Saya harap, ide premis-premis keren muncul seketika lewat Vlog ini. 

5. Dokumentasi 




Begitu. 

Buat temen-temen yang baca, terus tertarik bikin juga, ayo belajar bareng-bareng bikin karya lewat Vlog. 

"Tapi saya kan nggak punya kamera DSLR?" 

Saya juga nggak pake kamera DSLR. Adanya kamera digital bisa (pocket camera) Canon IXUS 175. Harga satu jutaan. Kalo kamera handphone bagus, dipake aja. Emang ada ketentuan harus pake kamera mahal, ya? 

"Tapi yang direkam apa dong? Nggak ada ide." 

Belajar dari idola. Saya Ngevlog pertama bakal kayak RVLOGnya Raditya Dika. Simple. Cuma ngerekam lagi apa, edit, terus upload ke Youtube. Nanti kalo saya udah keren editannya, baru bikin sketsa komedi kayak Youtuber luar negeri, Anna Akana. Kalo udah keren selevel dewa, udah jago banget, baru film pendek kayak Rocket Jump atau Malam Minggu Miko. 

Langsung dicek aja, ini VLOG pertama saya, TVlog - Ketika Guru Ngevlog


https://www.youtube.com/watch?v=H4OJUNCROjc


Like, comment, dan subcribe!

 https://www.youtube.com/c/AldyPradana17

Follow my blog: aldypradana.com
FB + Instagram + G+

2 Cerita Tentang Ketidakpastian (Part 2 : Aku Menunggumu di Halte Sekolah)



Menunggu butuh kesabaran dan kesetiaan.
Aku merasa, aku punya 2 hal itu. Jika tidak, mungkin aku tidak duduk di halte ini, berkawan dengan asap kendaraan dan sengatan matahari.

Keringatku menyatukan seragamku dengan kulitku. Berkali-kali asap rokok menusuk hidungku, berbalas batuk yang menghentak paru-paruku.

Jika bukan karena dia, mana mungkin aku mau menunggu di sini. Di halte ini. Halte sekolah, yang anehnya, tak bersahabat untuk anak sekolah sepertiku.

Dengan sabar, aku menunggu kehadirannya.

Mungkin lebih tepatnya,

Dengan bodoh, aku menunggu kehadirannya.

Aku tidak tau mana yang benar.

Pikirku, menunggunya menunjukkan kesetiaanku kepadanya. Pikirku, menunggunya memberi kesan bahwa aku bisa dipercaya. Pikirku, menunggunya bisa memberikan aku kesempatan berduaan dengannya.

Tetapi, aku tidak sampai pikir kalau harus seperti ini.

Dia tadi bilang, "Tunggu aku di tempat biasa, ya."

Lalu, aku mengangguk.

Tak ada kata yang keluar saat mataku sibuk mengagumi kecantikannya.

Aku tak sempat bertanya, atau membalas kalimatnya.

Aku cukup yakin bahwa yang ia maksud, ya, tempat ini. Halte sekolah ini.

Memangnya ada tempat lain?

Di sini, kita berdua pernah berbagi cerita. Menyalurkan kata diantara tawa. Sibuk mengomentari semua hal dari guru killer, PR bertumpuk-tumpuk, ibu kantin yang suka genit sama murid ganteng, vlog barunya Raditya Dika, sampai go international kayak Grammy awards dan lagu barunya Justin Bieber.

Itu semua terjadi di sini. Di halte sekolah yang jika hujan menyerbu, airnya selalu sukses membasahi para penghuninya. Tempat duduknya yang terbuat dari besi tua, terhias coretan kata-kata kasar dan gambar senonoh.

Biasanya, aku duduk bersebelahan dengannya. Tanpa cela. Tanpa batasan.

Ah, mengingat dia membuatku baper.

Kangen, tapi juga sebal karena ia tak segera datang.

Sepertinya, aku berharap berlebihan. Mungkin, aku akan berperan sebagai teman di matanya untuk waktu yang lama.

Sudahlah, daripada lelah hati, sebaiknya aku pulang dan beristira....

"Rendy!" seseorang memanggilku.

"E-eh, iya?"

"Maaf, ya, nunggu lama. Tadi harus diskusi bentar buat tugas kelompok."

Sandra.

Dengan jaket pink favoritnya, dan poni tersisir rapi menutupi dahinya. Nafasnya agak terengah-engah.

"Nggak lama, kok. Itu mah cuma sebentar, hehe." kataku, berbohong. "Sini, duduk. Cerita dong, emangnya ada tugas kelompok apa?"

Sandra lalu duduk di sebelahku, memangku tasnya, dan siap bercerita.

"Jadi, ya... Ada tugas dadakan gitu di jam terakhir.... "

Aku menatap bola matanya yang bercahaya, memerhatikan tangannya yang ikut menari di tiap kata yang terlontar.

Aku mendengar kisahnya dengan seksama, memastikan kata per kata masuk ke kepala, bukan keluar lagi lewat telinga.

Menunggu memang butuh kesabaran dan kesetiaan.

Dan menunggunya, memang suatu hal yang pantas untuk dilakukan.




Bersambung...




Part 1
Part 2


Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture


Nikah Muda



Menurut saya, kita sudah melewati masa remaja jika sudah memikirkan ke depannya mau jadi orang tua macam apa. 

Apakah: 

Orang tua yang suka memanjakan anaknya, 

Orang tua yang kerja larut malam, lalu sampai rumah tidur dan lupa akan perkembangan anak sendiri, 

Orang tua yang terus meneror anak untuk belajar demi nilai dan prestasi yang wah, 

Atau orang tua yang peduli untuk membagi terus ilmu kepada anaknya. Tidak hanya ilmu  akademis, tapi juga life skill dan tentunya, ilmu agama. 

Nggak tau kenapa, saya sudah mikir sejauh itu. Umur saya 23 tahun, dan saya ingin segera berkeluarga. 

Mungkin, ini efek dari menjadi guru di sekolah alam. 

Saya memang belum menjadi guru kelas, baru menjadi shadow teacher. Sesekali, saya merangkap guru bahasa inggris untuk kelas-kelas tertentu. Meskipun belum berperan sebagai guru kelas, saya tiap hari menemui anak-anak. Ngobrol bareng mereka, bercanda bareng mereka. 

Melihat tingkah lucu mereka, seperti flashback waktu saya masih kecil. 

- Bermain petak umpet, tapi nggak mau jaga pertama. 

- Kalau tanding bola, maunya jadi striker, nggak mau jadi kiper. Gawangnya berupa sandal gunung/sepatu disusun berjejer. Beberapa anak kelas kecil, kalau kalah bola langsung nangis. Ngambek, merasa timnya dicurangi. 

- Anak-anak kelas kecil ada yang masih ditemenin ibunya selama sekolah. Sama kayak saat saya pertama kali masuk SD, Ibu pokoknya harus ada di luar kelas, kalau nggak ada, saya nggak mau sekolah. 

- Jika bertemu mainan baru (entah cuma kayu berbentuk pistol), langsung pada berebutan. 

Melihat itu semua, hasrat untuk punya anak langsung memuncak tinggi. Apalagi saat menyaksikan anak-anak ini dijemput orang tuanya. Wajah mereka begitu sumringah ketika menemui orang tuanya. Bawaannya, ingin nikah muda secepat-cepatnya. Namun, bagaimana mau nikah muda? Calon istri aja belum ada. 

*curhat colongan*

Karena tujuannya sudah untuk menikah, mencari calon ibu dari anak-anak saya jadi sangat selektif. Uniknya, kecantikan berada di nomor sekian. Poin utama malah di ilmunya. Akhlaknya. Pengetahuannya menjadi ibu dan anak-anak. Serta, agamanya. 

Tapi, itu juga bikin saya mikir. Memangnya saya layak jadi suami dari perempuan sesempurna itu? Memangnya saya bisa mengimbangi dia dengan ilmu saya yang masih pas-pasan ini? 

Saya merenung lama memikirkan ini.

Itu berarti, saya harus mulai mempersiapkannya dari sekarang. Mulai melatih diri agar siap menjadi orang tua. Mulai mencari ilmu dari mana saja agar siap menjadi suami hebat untuk istri saya kelak. Mulai membenahi apa yang kurang dari diri saya agar dapat menjadi pemimpin luar biasa untuk keluarga saya ke depannya. Pembentukan diri dimulai dari detik ini. 

Bismillahhirrahmanirrohim.

33 Bahaya Deadpool Untuk Anak-Anak!



Postingan ini dibuat karena banyak orang tua yang membawa anaknya ke film dengan rating 17+. Berikut alasan kenapa Deadpool berbahaya untuk anak-anak.  

  1. Nggak ada Aliando 
  2. Nggak ada Sule 
  3. Nggak ada Raffi Ahmad 
  4. Apalagi istrinya 
  5. Juga anaknya 
  6. Banyak adegan kekerasan  
  7. Pemukulan 
  8. Pembunuhan 
  9. Percintaan (tapi nggak secihuy drama korea) 
  10. Banyak darah bercipratan 
  11. Mayat berjatuhan  
  12. Dan sianida bertebaran (hmmm...) 
  13. Deadpool bukan Spider-Man 
  14. Di film ini, Deadpool nggak temenan sama Captain America 
  15. Deadpool nggak follow akun twitternya Iron Man 
  16. Nggak juga kongkow sama Avengers dkk, dll, dst, dsb. 
  17. Rating film Deadpool itu DEWASA 
  18. DEWASA! 
  19. D-E-W-A-S-A! 
  20. Nggak percaya? Coba buka situs bioskop twenty one 
  21. Atau tanya mbak-mbak cakep (tapi ada yang nggak cakep juga, sih) di bioskop 
  22. Banyak kata-kata kasar 
  23. Bernuansa kebun binatang  
  24. Serta sumpah serapah  
  25. Pokoknya, kata-kata yang kalo keluar di tv swasta Indonesia langsung diganti dengan, "TIIIIIIIT", "TUUUUUUUUT", atau malah di-mute 
  26. Film ini nggak bahas Rio Haryanto tampil di F1 
  27. Nggak ada cuplikan berita super mega heboh saat ini: "Saiful Jamil Tersangka Cabul!"  
  28. Nggak ada Pak Haji nongol di ending film terus jelasin pesan moral yang bisa dipetik 
  29. Sama sekali nggak ada suara menolak LGBT 
  30. Intinya, film ini tidak cocok dengan budaya Indonesia 
  31. Terus kenapa bisa tayang di tanah air tercinta ini? Karena ini semua salah Jokowi 
  32. Sama seperti kenapa banjir mendera Jakarta, macet tiada hentinya, mantan jalan sama cowok barunya, follower instagram nggak bertambah satu angka, gaji nggak sampai 3 juta, pokoknya  semuanya salah Jokowi 
  33. Bagaimana? Sudah mengerti kenapa Deadpool bahaya untuk anak-anak? Kalo belum, coba tanya Ahmad Dhani yang katanya mau jadi Gubernur Jakarta itu. Dia terlihat cerdas dengan kepalanya yang plontos kayak Professor X. 

Semoga tulisan ini mampu menyadarkan para orang tua agar tidak membawa anaknya menonton film Deadpool. Sekian dan terima kasih. 



Follow my blog: aldypradana.com
FB + Instagram + G+
munggah