Generasi Gampang Tersinggung



Banyak social media beredar di sekitar kita.


Hadirnya social media, mendatangkan pengguna yang beragam.


User aktif yang selalu update postingan. Dari postingan endorse sampai postingan kopi kenangan, lengkap dengan caption yang tidak ada hubungannya dengan kopi.


Atau, user yang tidak pernah posting (akun palsu, biasanya), dan suka stalking akun-akun tertentu.


Tapi dari social media ini, ada bagian bernama kolom komentar. Mau di Facebook, Twitter, Instagram, TikTok, kolom komentar menjadi tempat unik tersendiri. Biasanya, jadi tempat untuk tersinggung akan segala hal.



“Sekedar mengingatkan, sebaiknya jangan postingan berbau kekayaan. Masih ada orang kesusahan di luar sana.”


“Hei, banyak orang susah di pandemi ini, malah beli sepeda mahal-mahal. Sadar diri dong!”


“Selfie nggak pake masker? Nggak takut Corona ya?” 




Banyak komentar tertampung, banyak kata-kata menyinggung.


Kadang, antar pengguna, saling berdebat membela komentar masing-masing.




“Lho, terserah dia dong. Kan uang-uang dia. Mau beli sepeda, mau beli motor. Apa urusannya sama lu?”


“Bisa jadi, dia foto tanpa masker karena tuntutan endorse an. Kita kan nggak pernah tahu.”



Di kolom komentar, saling berdebat karena saling tersinggung. Yang punya akun tempat mereka saling melempar komentar, mungkin tidak membaca komentar-komentar mereka.


Dan buat beberapa orang, ada saja yang suka membaca celotehan emosi seperti ini. Seakan-akan keributan ini lebih menarik daripada drama-drama di serial TV.




Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂





- short description about the writer-

I talk & write about sneakers, movies, and pop culture

Instagram: @aldy_pradana17
KaryaKarsa: @aldypradana17
FB Page: Aldy Pradana
Medium: Aldy Pradana (sekarang lagi sering update blog Medium)
Podcast: Spotify & Anchor & Apple Podcast
SoundCloud: @aldypradana17
Youtube: Aldy Pradana 

Olahraga di Kala Pandemi



Pakai masker dan jaga jarak.


Aturan sederhana demi kepentingan bersama.


Dari penglihatan saya, terutama saat jogging di pagi hari, sudah banyak yang mengikuti hal ini.


Masker tertutup rapi, jogging dengan sepatu olahraga, dan setiap berpapasan dengan orang, akan menjaga jarak secara otomatis.


Tapi ada pula yang menggunakan masker secara asal.


Pakai masker, tapi hidung nongol di ujung masker. Hanya menutup mulut, tapi membiarkan hidung terekspor dunia luar. Seperti tak sadar fungsi masker secara seutuhnya.


Ada juga yang tidak memakai masker dan tidak jaga jarak.


Salah satu contohnya, kumpulan remaja.


Bergerombol, tertawa riang sambil mengobrol, bahkan saling berbagi botol minum ke antar teman. Mungkin, mereka sedang menantang maut.


Belum lagi pesepeda yang sedang tren.


Ada pesepeda dengan keluarga, lengkap dari ayah, ibu, anak. Ada pesepeda sendiri, dengan pakaian pesepeda dan helmnya. Ada juga pesepeda yang menguasai jalanan. Ramai hingga menutupi setengah jalan, dan tidak mematuhi aturan lalu lintas. Lampu merah dilewati, cafe dimasuki.


Lucu memang, pandemi membuat banyak yang berolahraga. Tapi seperti lupa, masih ada pandemi di luar sana.




Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂





- short description about the writer-

I talk & write about sneakers, movies, and pop culture

Instagram: @aldy_pradana17
KaryaKarsa: @aldypradana17
FB Page: Aldy Pradana
Medium: Aldy Pradana (sekarang lagi sering update blog Medium)
Podcast: Spotify & Anchor & Apple Podcast
SoundCloud: @aldypradana17
Youtube: Aldy Pradana 

Naik Bus Umum ke Zona Hitam



Sekitar akhir Juni 2020, saya harus pergi ke Surabaya karena suatu urusan yang tidak bisa ditinggalkan.


Waktu itu, saya masih ada di pinggiran Bogor dan Bekasi, dimana wilayahnya masih terhitung aman (minim pasien positif COVID19).


Agar aman, saya memutuskan untuk survei bus umum yang menuju ke Surabaya.


Hasilnya adalah bus hanya menampung 50% penumpang dan wajib surat sehat. Tanpa swab test, atau rapid test.


Seminggu kemudian, setelah saya selesai packing dan mengurusi surat sehat, saya kemudian membeli tiket bus umum tersebut. Dan ternyata, penumpang kembali 100%. Artinya, siap menampung bus dengan keadaan terisi penuh. 


Kalau 50% penumpang, setidaknya masih ada jarak antar penumpang. Tapi dengan 100% ini, penumpang bisa duduk bersebelahan selama perjalanan. Bepergian dengan harap-harap cemas.


Mau tak mau, saya tetap harus bepergian dengan bus tersebut.


Dengan memakai masker, surat sehat tersimpan, dan hand sanitizer di kantong, saya berharap semoga penumpang cukup sepi, sehingga kursi di sebelah saya tidak terisi.


Baru duduk di kursi sekitar 20 menit, ternyata datanglah orang yang duduk di sebelah saya. Mengherankan memang, diantara kursi yang ada, kenapa dia memesan kursi di sebelah saya.


Saya lihat, kursi lain beberapa masih kosong. Mungkin sekitar 60% bus saja.

     

Saya pun melihat ke luar jendela, berdoa agar orang di sebelah saya tidak batuk-batuk selama perjalanan.


Sampai suatu di kota, orang ini ternyata turun. Dan harapan saya setidaknya terkabulkan: saya bisa duduk sendiri dan orang ini untungnya sehat tanpa gejala mencurigakan.


Beberapa jam kemudian, saya akhirnya tiba di Surabaya.


Dan sampai saya turun dari bus, tidak ada yang menagih surat sehat yang sudah saya buat.


Tidak pengecekan suhu bagi tiap penumpang. Dari awal berangkat, bahkan saat sudah sampai tujuan. Padahal, pengecekan seperti ini bisa dimulai dari terminal, saat pengambilan penumpang. Dan saat sesi makan, bisa dilakukan pengecekan suhu lagi saat kembali menaiki bus.


Tapi itu semua, sama sekali tidak dilakukan.


Untuk merasa aman, saya memutuskan untuk rapid test, dan untungnya, hasilnya non reaktif. Sampai sekarang, saya masih sehat, dan tidak ada gejala yang mencurigakan.


Perjalanan ini membuat saya terheran-heran, mengingat semakin banyak kasus positif di Indonesia.




Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store




Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂





- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Pembelajaran Komputer Untuk Sekolah Dasar (SD)


Saya sempat mengajar pelajaran bidang studi, Bahasa Inggris dan Komputer, di Sekolah Alam Bambu Item.

Sekitar 4 tahunan, saya bongkar pasang pembelajaran komputer. Mencari mana yang pas. Formula paling tepat untuk saya dan murid.



Menurut saya, berikut komposisi terbaiknya.

SD 1

Semester 1

Paint, TuxPaint, TuxType, Kea Coloring Book

Semester 2

Paint, TuxPaint, TuxType, Kea Coloring Book

SD 1 masih berupa pembelajaran berupa menggambar dan mewarnai. Ini berfungsi untuk melatih menggunakan Mouse, klik kiri dan klik kanan.


SD 2

Semester 1

Word

Pengetikan sederhana. Melatih mengetik huruf dan kata sederhana. 

Semester 2

Basic Computer dan Word

Saya menyebutnya Basic Computer. Menyalakan dan mematikan komputer (sebelumnya, sudah diajarkan. Namun ini sudah dijadikan target). Desktop background, Screensaver, Calculator, Sticky Notes.

Ada lanjutan Word. Masih kata sederhana. Tambahan: bold, italic, underline. Font size. Font color. Align.

SD 3

Semester 1

Word

Mengetik kalimat. Menyalin dari buku. Mengajarkan penggunaan tanda baca: titik, koma, tanda seru, tanda tanya, tanda kutip.

Semester 2

PowerPoint

Membuat slide. Animation & Transitions. Tugas terakhir: membuat presentasi (kelompok).

SD 4

Semester 1

Excel

Membuat dan mengetik data. Membuat tabel. Rumus sederhana: SUM dan AVERAGE

Semester 2

Excel (lanjutan)

Membuat tabel data jumlah penduduk. Membuat tabel grafik.

Word, PowerPoint

Dua ini menjadi selingan yang tidak boleh ditinggalkan. Bisa membuat cerita. Bisa membuat presentasi di mata pelajaran tertentu.

SD 5

Semester 1

CorelDraw

Menjadi pembelajaran utama.

Word, PowerPoint, Excel

Sebagai selingan

Semester 2

Adobe Photoshop

Menjadi pembelajaran utama. Photoshop versi sederhananya saja.

Word, PowerPoint, Excel

Sebagai selingan

SD 6

Semester 1

Adobe Premiere

Menjadi pembelajaran utama. Membuat video pendek yang kemudian diupload di Youtube. Cerita dibuat oleh siswa, kameraman oleh siswa, mengedit oleh siswa (dibantu guru).

Word, PowerPoint, Excel

Sebagai selingan

Semester 2

DSLR

Memotret versi sederhananya

Word, PowerPoint, Excel

Sebagai selingan

Adobe Premiere

Membuat video perpisahan (kesan dan pesan)


Ini tentunya pendapat saya. Bukan format yang harus disetujui semua orang. Silakan diamati dan dimodifikasi sedemikian rupa.

Sekian dari saya. Semoga bermanfaat.





Blog ini akan selalu update (diusahakan) setiap hari. Berikut jadwal postingan sesuai tema yang paling sering keluar di blog ini:

Senin & Selasa = GaryVee (Text Experience) translate English Indonesia, biasanya tentang bisnis, social media, dan kehidupan
Rabu = Sebuah Observasi (opini/review)
Kamis = Tulisan Iseng
Jum’at = Interview
Sabtu = Cerpen


Follow my blog: aldypradana.com
Instagram: @aldy_pradana17
FB Page: Aldy Pradana

Youtube: Aldy Pradana 

Sudahlah, Kubur Cita-Citamu Menjadi Youtuber



Tulisan berikut mengandung unsur satire.

Impian menjadi Youtuber semakin banyak di 2020.

Mungkin, mereka mengira Youtuber adalah menjadi orang terkenal, sukses, dan kaya raya.

Permasalahannya, pemainnya sudah terlalu banyak sekarang.

Ada berapa video prank di luar sana?

Terus apa coba bedanya antara satu dengan lainnya?

Kalau sedang trending prank A, lainnya bikin prank A. Ada yang viral prank B, lainnya bikin prank B.

Formatnya bukan lagi, ATM: Amati-Tiru-Modifikasi. Tapi, ATU: Amati-Tiru-Upload.

Tidak ada lagi modifikasi agar menjadi beda. Youtube sekarang isinya sama semua. Ya, mungkin tidak semua. Tapi, terlalu banyak keseragaman di dunia Youtube.

Pemainnya semakin banyak, dan videonya serupa. Lalu, bagaimana anda akan mencolok?

Para artis pun akhirnya masuk ke Youtube. Orang yang sebelumnya sudah terkenal, lebih mudah untuk naik angka view dan subcribernya.

Mereka membawa video dengan format seperti program TV ke Youtube. 

Salah?

Tentu tidak.

Cuma imbasnya, yang sebelumnya belum pernah menonton Youtube, saat menonton Youtube terbiasa dengan video mirip acara program TV.

Lalu, saat menemukan video nyeleneh seperti MLI (Majelis Lucu Indonesia), sudah pasti mereka akan banyak berdzikir.

Mereka saat menemukan yang “beda”, malah kaget. Terkejut. “Video macam apa ini?” kata mereka sambil mengusap dada.


“H3i, 4nd4 c3r3w3t s3k4l1 j4d1 or4ng! M3m4ngny4 s4l4h or4ng puny4 m1mp1?”


Oke. Baiklah.

Mari kita coba dari sudut pandang yang lain.

Lalu, seharusnya bagaimana?

Hmm. 

Bagaimana kalau jangan jadi youtuber?

Jadi content creator.

Membuat konten di segala tempat media sosial. Youtube, Facebook, Instagram, TikTok.

Jangan mengandalkan satu tempat, karena satu tempat itu tidak terjamin posisinya. Siapa coba yang sangka TikTok akan sebesar ini? Bowo Alpenliebe pasti besar kepala sekarang.

Nanti kalau ada media sosial baru lagi, jadi gampang adaptasinya. 

Tapi itu pendapat saya. 

Anda diperbolehkan untuk setuju ataupun tidak setuju.

Saya sendiri, kembali menulis di blog.

Ternyata, banyak unek-unek, kegelisahan, dan cerita-cerita yang lebih enak dibagi dalam bentuk tulisan. Bukan foto maupun video.

Jadi bagaimana? Masih berminat menjadi Youtuber? Atau mau jadi content creator?




- short description about the writer-

I talk & write about sneakers, movies, and pop culture

Instagram: @aldy_pradana17
KaryaKarsa: @aldypradana17
FB Page: Aldy Pradana
Medium: Aldy Pradana (sekarang lagi sering update blog Medium)
Podcast: Spotify & Anchor & Apple Podcast
SoundCloud: @aldypradana17
Youtube: Aldy Pradana 

Salah Satu Akibat Corona Adalah Harus Bisa Potong Rambut Sendiri


Kita dianjurkan harus menjaga jarak dengan orang lain.


Itu berarti menjauhi kerumunan seperti tidak pergi ke pasar, sekolah/bekerja dari rumah, atau saat antri di kasir Indomaret, selalu mengingatkan, “Maaf mas, silakan mundur sedikit. Berdirilah sesuai garis yang telah disediakan.”


Tempat potong rambut termasuk salah satunya. Atau setidaknya, bagi saya harus saya hindari. Saya sendiri jarang pergi ke pasar dan lebih sering pergi ke barbershop. 


Namun, itu harus berhenti. Mempersilakan saya untuk memotong rambut sendiri. Mungkin, selain faktor kesehatan dan keamanan pribadi, potong sendiri sepertinya bisa menghemat uang 20 ribu setiap bulan.


Apa saja yang dibutuhkan?


Gunting dan cermin.


Gunting bisa dibersihkan dulu. Terutama dari bau-bau micin Indomie.


Cermin sudah ada di kamar, juga di kamar mandi. Kamera depan handphone pun siap jadi cadangan.


Karena rambut sudah terlanjur panjang, kalau salah potong, memperbaikinya lebih mudah. 


Tujuannya juga sederhana. Rapi. Itu sudah lebih dari cukup.


Saya ambil pinggiran rambut saya di sebelah kanan dan kiri terlebih dahulu. Ditarik dengan satu tangan, dijepit di antara dua jari, lalu potong.


Kemudian, rambut bagian belakang. Tinggal potong ujungnya sedikit, selesai.


Yang paling sentral, justru di bagian depan. Bagian poni dan atas kepala. Ini yang paling sering disisir dan dibentuk sedemikian rupa.


Untuk main amannya, ya potong saja sedikit. Daripada potong banyak, lalu menyesal. 


Kalau ditanya, apakah hasilnya bagus? 


Tentu tidak.


Saya sangat yakin cukur rambut bukanlah passion saya.


Yang penting, rapi dan tidak seperti semak belukar, itu saja sudah lebih dari cukup.





Blog ini akan selalu update (diusahakan) setiap hari. Berikut jadwal postingan sesuai tema yang paling sering keluar di blog ini:

Senin & Selasa = GaryVee (Text Experience) translate English Indonesia, biasanya tentang bisnis, social media, dan kehidupan
Rabu = Sebuah Observasi (opini/review)
Kamis = Tulisan Iseng
Jum’at = Interview
Sabtu = Cerpen
Minggu = Sneakers

Follow my blog: aldypradana.com


Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂


- short description about the writer-

I talk & write about sneakers, movies, and pop culture

Instagram: @aldy_pradana17
KaryaKarsa: @aldypradana17
FB Page: Aldy Pradana
Medium: Aldy Pradana (sekarang lagi sering update blog Medium)
Podcast: Spotify & Anchor & Apple Podcast
SoundCloud: @aldypradana17
Youtube: Aldy Pradana 
munggah