Perjuangan Menjadi Penulis Buku (part 2)

Melanjutkan dari kisah sebelumnya, ternyata gue masih perlu menguras otot dan keringat lagi untuk mewujudkan salah satu cita-cita gue ini.  

Di Jakarta, atau lebih tepatnya di Bekasi, gue tinggal bersama ayah. Sedangkan adik gue, Ardy, sekolah di Jakarta, tinggal bareng tante gue, dan baru bergabung bersama keluarga aslinya waktu liburan aja.  

Di cerita sebelumnya, naskah gue udah di acc sama Mas Bara, lalu tahap berikutnya, naskah itu masih harus dirapatkan lagi di kantor pusat, kantor gagasmedia Jakarta, dirundingkan soal kelayakannya terbit atau tidak. Nah, jika ternyata udah 'deal' buat diterbitkan, barulah naskah tadi diperlanjutkan ke tahap editing yang bakalan 'duet' bareng editor.

Dan dari hasil rapat mengenai naskah gue adalah ..... 


Gak ada.  


Mas Bara lupa bawa naskah gue saat rapat bulanan naskah baru itu. Jadinya, gue harus mengulang lagi, ngeprint lagi, dan ke penerbit lagi, demi mendapatkan ucapan, "Naskah kamu akan kami terbitkan, Aldy.'' 


Hidup itu susah ya jenderal. *puk puk kepala sendiri*

Ya sudah, pergilah gue bersama sepupu, Mbak Ana, ke kantor Gagasmedia Jakarta.  Setelah mengalami fase nyasar dan tanya tukang ojek berulang kali, akhirnya kita sampai ke jalan H. Montong no. 57, Ciganjur, Jagakarsa. Tempat dimana kantor Gagasmedia bernaung. 

Diliat dari luar, kantornya itu gak keliatan seperti kantor. Lebih kayak rumah gede bertingkat di salah satu sinetron Indosiar. Gede bener.

Bersama Mbak Ana, gue masuk kedalam dan menunggu editor Bukune (cabang dari Gagasmedia, bukunya fokus ke remaja). Datang seorang laki-laki bergaya ala Mas Danang dari host The Comment kearah kami, ia berseru, ''Aldy ya? Yuk, kita ngobrol di belakang.'' 

Kita pun mengikuti Mas Syafial, salah satu editor Bukune. Gue melihat kekanan dan kekiri, ada beberapa orang membuat semacam ilustrasi di komputer mereka. ''Kayaknya ini pada bikin komik deh. Abis naskah ini selesai jadi buku, seru nih kalo bikin komik juga.'' ucap gue dalam hati.

Sampailah kita di belakang kantor, tempatnya seperti taman dengan rerumputan yang hijau, dan ada kelinci yang melompat kesana kemari. 

''Jadi gimana nih?" tanya Mas Syafial
''Ini mas naskahnya, udah bolak-balik ngasih ke editor di Yogya, tapi belum diterbitin sampe sekarang, hehe.'' canda gue, sambil berharap beliau lalu iba dan segera meloloskan naskah gue.
Sambil mengambil naskah gue, ia membalas kalimat gue dengan singkat dan jelas, ''Oh gitu....'' 

Yaelah, begono doang responnya. Dafuq. 

Mas Syafial membolak-balik halaman naskah gue, ''Temanya adaptasi di kota baru ya? Dari Solo terus pindah ke Sidoarjo, tapi bukannya itu gak ada perbedaan ya?" 
''Beda mas, budayanya gak sama.'' 
''Tapi kurang ekstrim kan? Yang bagus itu yang ekstrim, yang jauh, dimana kita bisa ngebayangin perbedaannya yang emang kental. Kayak orang Indonesia hidup di Belanda, itu kan emang beda banget. Orang Papua hidup di Jakarta. Bedanya jelas.''' 

''Oh gitu.'' 

Itu berarti, naskah gue akan mudah diterima jika isinya berisi anak Solo yang terdampar di Zimbabwe, atau anak Solo yang hidup di Inggris, dan tiba-tiba menjadi penyihir hebat di Hogwarts. Namun, itu jelas gak mungkin terjadi. Selain karena belum pernah (dan semoga gak akan) nyasar di Zimbabwe, ide yang satu lagi, udah menjadi tema cerita dari Harry Potter.  

''Terus gimana mas?" tanya gue kebingungan.
''Gimana kalo temanya adaptasi aja. Lebih luas. Adaptasi teman baru, lingkungan baru, sekolah baru. Lebih beragam.'' 
''Udah pernah nulis tuh mas, tapi ditolak.'' 
''Oh ya? Aku belum baca sih naskahnya yang dulu.'' 

''Terus gimana dong mas?" tanya gue, yang makin bingung.
''Udah, kamu bikin outlinenya dulu, tentang tema adaptasi, terus kirim ke kita lewat email. Nanti kita lanjutin tuh dari sana. Sama satu lagi, ini aku udah baca beberapa ceritamu, tapi banyak yang elemen yang kurang. Ini aku kasih buku Creative Writing ya. Baca aja, bagus tuh tipsnya.'' 

Mas Syafial lalu memanggil temannya, ''Do, ambilin buku Creative Writing sama Cado-Cado 3 dong.'' 

Selang beberapa menit, Mas Edo kembali membawa dua buah buku, ''Ini Aldy, coba dibaca dan dicuri ilmunya.''  

"Di buku ini kamu bisa tau cara menulis yang baik, dan di buku Cado-Cado ini, kamu bisa ambil salah satu contoh cerita yang bagus itu gimana.'' jelas Mas Syafial.

Terduduk disebelah Mas Syafial, Mas Edo, salah satu editor Bukune, ikut menasehati gue, ''Di Cado-Cado, delivery itu bagus. Gak cuma komedinya kuat, tapi penceritaan juga menarik. Kayak kita manusia aja, selain berpengetahuan luas, cara ngomong yang bagus itu yang gampang dimengerti, makanya sebagai manusia, kemampuan ANAL kita harus bagus.'' 

Gue mencermati setiap kalimat yang beliau keluarkan, lalu tiba-tiba tersadar akan salah satu katanya. ANAL? Mas Edo serius tadi bilang ANAL? Gue gak salah denger nih?

''Ya kan sebagai manusia, kita harus memperbaiki kemampuan ANAL kita toh?" lanjut Mas Edo lagi dengan muka lempengnya. 

ASTAGA! APA HUBUNGANNYA NULIS BUKU SAMA ANAL? Ilmu apa yang ingin beliau bagikan ke gue??? 
  
Mas Syafial dan Mbak Ana tampak mendengarkan tanpa merasa curiga, sedangkan gue bertanya-tanya, ini sebenernya siapa sih yang gila?

''Tau kan ANAL, kemampuan berbicara kita.'' lanjut Mas Edo.

Hmmm.... Kemampuan berbicara? Kenapa kemampuan berbicara bisa nyambung ke ANAL? OH gue tau! Yang bener Itu ORAL WOI, BUKAN ANAL! Mas Edo salah ucap!  

Gue berdehem memotong kalimatnya lalu membenarkan, ''Mas, yang bener ORAL, bukan ANAL.'' 

''Ha? Ya itu maksudku. Bukannya sama aja ya?'' tanya dia, lugu.  

Suasana langsung mendadak hening.

Melupakan kejadian aneh tadi, kita berempat pun mengobrol lebih lanjut soal naskah gue. Sesudah mendapatkan solusi yang dikira tepat, gue dan Mbak Ana akhirnya pamit. 

Dari pertemuan dengan Editor Bukune, gue dikasih PR berupa outline naskah gue, yang bertema rangkaian adaptasi yang dialami Aldy. Outline itu semacam kerangka dari naskah. Isinya kumpulan inti cerita bab per bab yang akan ditulis. Gue harus membuat ini dulu, lalu dikirim ke email ke mereka, kalo mereka setuju barulah gue lanjut mengirimkan cerita dua bab-dua bab ke mereka.

Apakah gue harus menulis ulang dari awal? Oh, enggak. Sekitar 70% dari naskah gue sebelumnya bisa gue masukkan karena sesuai dengan tema adaptasi. Tetapi, ada beberapa cerita yang harus gue rubah, karena ternyata gak memuaskan oleh editor Bukune. 

outline yang dibikin bareng Ardy

buku yang dikasih editor Bukune, tau aja kalo mau dijual ama gue

Ardy, lagi benerin outline

Well, belum selesai ternyata perjuangan gue menjadi penulis, masih banyak jalan berliku yang masih gue rintangi. Gue yakin bisa melewati halangan yang ada, dan bikin buku ini beneran terbit di toko buku besar di Indonesia. Why? Because anything is possible for whose those believe.

Oh iya, satu lagi, karena bentar lagi mau lebaran, gue sekalian mau ngucapin, Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H. Minal aidzin wal fa idzin, mohon maaf lahir dan batin. Selamat berkumpul dengan keluarga, sodara, dan kerabat dekat. Dan, selamat makan nastar sepuasnya di rumah tetangga. 

2 comments

Iya tuh memang butuh perjuangan.
Semangat, ya...! Lanjutkan perjuanganmu.
Minal aidin wal faidzin juga. :)

Reply

Mohon doanya biar cepet terbit ya :D
Iya, mari kembali ke fitrah, sesuai yang kita inginkan :)

Reply

Post a Comment

munggah