Cinta Tanpa Rasa

Pada beberapa hari yang lalu, Koh @amrazing memberikan tantangan menulis ke followernya. Tantangan begini: 

Buatlah cerita yang berpremis:  

What if you're think you're in love but the truth is you just don't wanna be alone? 
What if the love you think deserve is merely a companionship?  
What if someday it really hits you hard that you never love the one you're with, you just think you did?  
What if you keep the relationship just because people around you think you two are meant to be while you feel don't belong?  
What if when you tried to walk away from the one you think you love but you couldn't because s/he genuinely loves you? 

Kompleks ya? Penulis profesional emang jago bener bikin ginian. 


Kemudian, setelah baca tantangan itu, gue pengin bikin cerita berpremis kalimat-kalimat tadi. Untuk membuat cerpen fiksi ini, gue sampai baca-baca dulu novel fiksi terkenal seperti Harry Potter dan Davinci Code. Gak nyambung memang sama tema cinta diatas, tapi yang penting belajar. Gue bahkan menimba ilmu dari novel Creative Writing dari A.S Laksana, yang mengumbar tips menulis cerpen dan novel. Dengan semua bekal itu, gue pun menulis cerpennya. 

Saat baru berjalan sekitar 10-11 kalimat, gue membatin, ''Kok susah ya?" Ide berasa mandek di tengah jalan kayak mobil yang keabisan bensin. Kalimat yang gue hasilkan juga layaknya jalan berlubang yang penuh akan kerikil. Gak rata, dan gak enak buat dibaca. Ternyata, gue belum bisa menulis cerpen fiksi :(  

Ilmu yang gue serap dari buku-buku fiksi gak berhasil menempel secara sempurna di kepala gue. Belum terbiasa menulis cerpen fiksi berpengaruh jadi alasan penambahnya. Tetapi, untuk menanggapi tantangan Koh @amrazing, akhirnya gue mencoba masuk kedalam premis-premis tadi. 

Gue membayangkan, ''Gimana ya kalo itu kejadian terjadi di kehidupan gue? Gimana kalo gue punya pacar, tapi gak beneran cinta sama dia? Gimana kalo gue mau terus berada disebelah dia bukan karena faktor hati, namun karena faktor gue gak ingin hidup sendirian?'' 

Jika gue berada di situasi itu, apa yang bakal gue lakuin? Apa jalan terbaik ketika gue merasa tidak betah dengan pasangan gue?  

Tanpa pikir panjang, gue bakal ngomong langsung ke dia. Gue akan bilang apa adanya demi kebaikan bersama. Terutama demi kebaikan dia, yang mencintai gue sepenuh hati, tapi tidak meraih balasan yang setimpal dari gue. 

Mungkin, sambil memegang erat kedua tangannya, gue akan berkata ke dia, ''Mulai sekarang, kayaknya kita mendingan jalan sendiri-sendiri aja. Kamu layak dapet cowok yang lebih baik dari aku. Kamu layak dapet cowok yang bisa memberikanmu yang terbaik. Cowok yang selalu ada untuk kamu, yang ada disampingmu disaat kamu kesepian, yang menghiburmu disaat kamu sedih.'' 

Masih memegang tangannya yang mungil itu, gue melanjutkan, ''Aku minta maaf karena gak bisa ngasih yang terbaik. Aku minta maaf karena ternyata aku gak memberi cinta yang sama seperti yang kamu kasih ke aku. Lebih kita udahan, pisah dengan cara baik-baik, karena aku takut, kalo kita terus bersama, aku bakal nyakitin kamu. Aku minta maaf.'' 

Begitu mungkin. 

Gue gak tau respon dia akan bagaimana, tapi setidaknya gue sudah berusaha jujur, agar tidak ada hati yang harus tersakiti di kemudian hari. 

Yah, begitulah jawaban dari tantangan dari Koh @amrazing. Memang bukan sebuah tulisan yang baik, tapi gue menghargai sebagai bentuk usaha pembelajaran dalam menulis cerpen fiksi. Segitu aja, gue mau lanjut baca buku Creative Writingnya A.S. Laksana dulu. See you :)  


Post a Comment

munggah