Penembakan Tania


Saya 3 kali berhubungan dengan cewek, belum pernah sekalipun melakukan 'ritual' yang bernama nembak cewek. Semua relationship yang saya jalani, berawal tanpa sengaja, tanpa dimulai dengan kalimat, "Aku sayang sama kamu. Kamu mau ga jadi pacarku?" 

Saya cuma bisa mikir, "Perlu ya pake proses nembak dulu?" 

Mungkin temen saya sependapat dengan saya. Saya punya temen bernama  Yudha. Yudha ini sedang mengalami yang namanya jatuh cinta. Dia udah deket sama seorang cewek bernama Tania, Yudha juga udah sering BBM an bareng sama dia. 

Masalahnya, Yudha ga berani mau nembak Tania kapan. Yudha kayak takut, kalo udah nembak, dia ditolak, terus jadi ga deket lagi sama Tania atau Yudha takut, nembaknya kecepetan, jadi bikin cewek yang dia suka itu jadi ilfil.

Pada suatu malam di rumah saya, saya dan teman-teman saya sedang menghasut Yudha untuk segera menembak cewek tersebut. 

Reza berkata, "Cepetan ditembak Yud! Mau sampe kapan gini terus?"

"Bentar-bentar, nunggu momen yang pas." Jawab Yudha.

"Dari dulu cuma bentar-bentar, kapan actionnya? Bales Wawan, temen saya yang lain.

"Iya Yud, mana actionnya?" Kata Narko, dengan muka datarnya.

Pada waktu itu, ada 5 orang cowok berada di rumah saya. Yudha, Reza, Wawan, Narko, dan tentunya, saya sendiri. Kami semua adalah jomblo-jomblo yang tiap malem minggunya mengisi kegiatan dengan maen PES sampe larut malam, futsal bareng, atau kadang, hanya sekedar nongkrong di angkringan.

Walaupun kami jomblo, setidaknya kami adalah jomblo-jomblo yang berkualitas, yang punya kegiatan positif, bukan ngetweet galau di Twitter. Apalagi, sampe minta hujan di malam minggu.

Kembali lagi ke percakapan kami yang sedang memotivasi Yudha untuk menyatakan cintanya.

Reza berkata, "Kalo ga ditembak sekarang, nanti keburu ditembak orang lain lho Yud."

"Masa cowok ga berani nembak sih? Ayo tembak Yud!" Kata Wawan memanas-manasi Yudha.

"Bener tuh Yud!" Kata Narko, lagi-lagi dengan muka datarnya.

"Sekarang, dia lagi sibuk. Abis dia udah ga sibuk, baru deh ditembak." Kata Yudha ngeles.

Segala bentuk ajakan kami berempat untuk menyemangati Yudha sepertinya gagal. Yudha masih menahan untuk menunggu untuk nembak cewek Tania. Melihat Yudha mulai terpojok, lalu saya mencoba menghibur dia.

"Yud, aku 3 kali punya hubungan sama cewek, ga pernah tuh ngalamin yang namanya nembak." Kata saya.

"Masa Dy? Terus bisa jadi pacar gimana?" Tanya Yudha.

Saya pun cerita kisah cinta SMA saya. Saya bilang kalo dulu bisa pacaran, semua karena sms-an. 

Misalkan, pacar kedua saya, (sekarang jadi mantan kedua saya), namanya Tiara. Bisa jadi pacar, cuma karena kita sms pake panggilan-panggilan lucu. Pertama-pertama, nama panggilannya disesuaikan dengan fisik masing-masing. Saya panggil Tiara gendut dan Tiara panggil saya kurus. 

Lama-lama, nama panggilannya berubah, sekarang disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing. Saya panggil Tiara boku, yang artinya keboku, karena dia mirip kebo yang hobinya tiap hari itu tidur. Lalu, dia panggil saya moku, yang artinya monyetku, Karena saya suka makan buah pisang dan kata  dia, saya punya muka yang mirip sama monyet lepas. Meskipun, pake nama panggilan yang aneh-aneh, ini malah membuat kita makin deket.

Sampe pada suatu hari, tiba-tiba Tiara sms, "Aldy, aku boleh ga manggil kamu dengan nama panggilan lain?" 

Saya bales smsnya, "Boleh aja. Emangnya, kamu mau manggil aku pake nama panggilan apa?"

"Ehm... Gimana kalo 'beibh'? Boleh ga?" Tiara sms balik.

"Ooh, jadi sekarang kita pacaran nih?" Tanya saya.

Agak lucu memang, tapi semenjak sms itu, kita beneran pacaran. Saya resmi jadi pacarnya Tiara tanpa melalui proses penembakan.

"Gitu ceritanya." kata saya, kepada 4 empat teman saya yang jomblo semua itu.

"Kok gampang banget ya?" Bilang Yudha.

"Itu namanya udah ada chemistry Yud! Jadi, ga harus pake sesi penembakan. Bener ga Dy?" Seru Reza dengan mantap.

"Bisa dibilang kayak gitu sih." Jawab saya dengan elegan.

Wawan bertanya, "Jadi proses penembakan itu ga harus ya?" 

Saya bicara, "Kalo dari pengalaman gua, kayaknya emang ga harus deh. Bisa dibilang, nembak hanya sekedar formalitas. Kalo emang saling suka, saling sayang, saling cinta, pasti bakal jadian sendiri kok, tanpa harus lewat proses nembak." 

Kata saya, yang mendadak selevel dengan Mario Teguh. Bedanya, saya motivator cinta dan saya ga botak.

Teman-teman saya mengangguk, seperti  mengerti suatu rahasia penting dalam percintaan.

Mendengar hal itu, Yudha seperti tercerahkan. Dia secara tiba-tiba bilang akan  mengajak Tania kencan. Mungkin, Yudha yakin dia udah punya chemistry dengan Tania atau Yudha yakin, Tania udah punya feeling terhadap Yudha, saya tidak tau. 

Yudha menjelaskan rencananya, dia akan ajak Tania kencan tepat pada hari ulang tahun Yudha sendiri. Mereka akan nonton film di bioskop dulu, abis itu makan bareng. Nah, saat makan itulah Yudha akan tembak Tania.

Itu dia rencana Yudha. Saya dan teman-teman jelas setuju aja dengan rencana dia, yang penting Yudha bisa action.

Uang sudah dikumpulkan untuk acara besar itu. Obrolan apa aja yang akan diomongin pas kencan, juga udah dipikirin dari sekarang. Saat semuanya udah disiapkan dengan matang, ternyata Tania ga bisa diajak kencan pada hari yang diminta. Tania ga bisa kencan saat hari ulang tahun Yudha. 

Mencoba menjadi fleksibel, Yudha meminta hari lain untuk ketemuan. Tapi tetep, Tania ga bisa. Dia sibuk dengan kegiatan organisasinya di kampus.

Tidak ingin terkesan memaksa, Yudha tidak menanyakan lagi kapan Tania bisa. Sifat takutnya muncul lagi. Dia seperti berfikir negatif, "Mungkin dia emang ga punya chemistry sama gue kali ya." 

Saat saya tanya tentang rencana penembakannya, Yudha hanya menjawab, "Orangnya ga bisa Dy, sibuk terus." 

Karena Yudha dasarnya gampang takut dan Tania juga sibuk sendiri. Mereka akhirnya hanya deket lewat BBM an aja. Bisa ketemuan juga jarang banget, paling cuma 1-2 kali.

Saat ketemu, Yudha juga tidak bisa memanfaatkannya dengan baik. Pas ada kesempatan buat nembak, di kepalanya kayak kepikiran, 'nanti kalo ditolak gimana ya'. Dan akhirnya, Yudha ga nembak. Hubungan mereka ga bisa naik level menjadi pacaran. Mereka pun stuck di zona pertemanan.

Melihat hal itu, saya cuma bisa ketawa. Saya mungkin salah satu orang yang beruntung, karena saya tidak harus pake proses nembak untuk bisa menjalani pacaran. Bahkan, cara saya bisa pacaran, agak konyol sebenarnya.

Tapi justru disitu yang menarik, hanya dengan hal yang lucu saya bisa menjalin kasih. Menjalin suatu ikatan. Membentuk cinta secara tidak sengaja. Tanpa suatu proses yang berbelit-belit. 

Dan pada akhirnya, setelah berkaca dari peristiwa Yudha tadi, saya cuma bisa bertanya dalam hati, "Perlu ya pake proses nembak dulu?" 


Post a Comment

munggah