Use Your Time Effectively

       Sering melihat orang-orang membawa BB ditangan mereka? Teman-teman anda mungkin? Tetangga anda? Atau mungkin anda sendiri? Bisa dilihat bahwa sekarang orang-orang seperti ngidam dengan BB. Memiliki gadget ini seperti meningkatkan gengsi si pemakai di kalangan masyarakat. Mari kita bahas lebih lanjut 'pengguna' dari BB ini.

     Bisa dibilang BB itu smartphone  untuk kalangan high-class. Wajar mungkin, jika ada keluarga kaya tiap anggota keluarganya masing-masing mempunyai BB. Ayah, ibu, anak, baby sitter, memegang BB sendiri-sendiri. Mungkin mereka bisa ber-BBM-an ria sekeluarga. Saat sedang saling berjauhan, atau saat sedang berdekatan, seperti didalam rumah misalnya.

      Pebisnis wajar punya gadget ini, atau mungkin malah harus punya gadget ini. Kelebihan di faktor push-mail sangat menguntungkan untuk para pebisnis karena harus mengecek e-mail setiap saat. Berbagi data dimana saja dan kapan saja pun bisa dilakukan oleh smartphone ini. Masalahnya adalah kenapa ini menjadi trendsetter dikalangan masyarakat? Apa keuntungan anak SMA, SMP, bahkan anak SD punya BB?

      Pasti ada orang yang sebenarnya bukan dari golongan 'orang kaya' mencoba mengikuti tren ini. Karena ingin mengejar gengsi, mereka pun memaksakan diri untuk bisa mengikuti tren ini. Misalkan begini, ada anak remaja melihat teman-temannya punya BB, saling menanyakan pin BB masing-masing. Melihat itu, dia ingin punya BB juga. Dia akhirnya datang ke orang tuanya sambil merengek untuk dibelikan BB. Beberapa minggu kemudian, akhirnya dibelikan, BB baru yang diidam-idamkan anak tersebut. Ternyata, si anak remaja tersebut tidak mengetahui syarat lain untuk memakai BB, yaitu harus memakai paket internet untuk menggunakan fasilitas seperti BBM, Twitter, dan Facebook.

      Membeli paket internet berarti harus mengeluarkan uang lagi bukan? Dimana harga paket internet itu sendiri sebenarnya tidak murah bagi anak tersebut. Akhirnya, uang jajannya habis dipakai untuk membeli paket internet. Semuanya demi mengikuti tren zaman sekarang. Ya setidaknya, itu bisa menjelaskan kenapa anak sekolah sekarang kurus-kurus, 'berkorban' demi namanya gengsi. Pengorbanan yang sebenarnya tidak perlu untuk dilakukan.

      Pakde saya pernah cerita,
      "Punya karyawan muda sama karyawan tua itu beda ngurusinnya Dy. Orang tua kalo lagi jam kosong itu ke mushola , terus tidur. Beda sama yang muda, kalo lagi jam kosong itu malah maen hape Dy. Buka facebook, buka Twitter, nasehatinnya beda jadian."

     Bisa disimpulkan, karena ingin terus update di situs jejaring sosial, anak remaja ingin punya BB.  Fitur BBM, Facebook, Twitter sangat dimaksimalkan oleh anak muda zaman sekarang. Kalau sedang menganggur, tangan dijamin pegang BB. Kadang, malah sedang sibuk tapi tetap ingin membuka BB nya. Yang namanya berlebihan pasti merugikan. Jika sudah kecanduan BB dan fitur social network nya pasti sulit untuk melepaskan 'kebiasaan' untuk memainkan BB tersebut. Akhirnya, cuma kerugian yang didapat, rugi waktu, rugi uang, berkurangnya sosialisasi dengan lingkungan sekitar, ini juga bisa menjadi efek buruk yang lama-kelamaan bisa merobohkan mental bangsa.

      Satu-satunya cara adalah orang tua harus mengawasi anaknya agar tidak kecanduan dengan gadget ini. Masih ada yang bisa dilakukan daripada harus ber-BBM-an seharian. Mari, mulai mengisi aktivitas kita dengan kegiatan yang positif dan yang lebih berguna untuk masa depan kita sendiri. Mungkin kita bisa memaksa diri kita untuk mengikuti tren dengan membeli BB, tapi kita tidak bisa memaksa waktu yang sudah berjalan untuk berputar kembali. Jadi, use your time effectively! Jangan sia-siakan waktu anda!

Post a Comment

munggah