33 Bahaya Deadpool Untuk Anak-Anak!



Postingan ini dibuat karena banyak orang tua yang membawa anaknya ke film dengan rating 17+. Berikut alasan kenapa Deadpool berbahaya untuk anak-anak.  

  1. Nggak ada Aliando 
  2. Nggak ada Sule 
  3. Nggak ada Raffi Ahmad 
  4. Apalagi istrinya 
  5. Juga anaknya 
  6. Banyak adegan kekerasan  
  7. Pemukulan 
  8. Pembunuhan 
  9. Percintaan (tapi nggak secihuy drama korea) 
  10. Banyak darah bercipratan 
  11. Mayat berjatuhan  
  12. Dan sianida bertebaran (hmmm...) 
  13. Deadpool bukan Spider-Man 
  14. Di film ini, Deadpool nggak temenan sama Captain America 
  15. Deadpool nggak follow akun twitternya Iron Man 
  16. Nggak juga kongkow sama Avengers dkk, dll, dst, dsb. 
  17. Rating film Deadpool itu DEWASA 
  18. DEWASA! 
  19. D-E-W-A-S-A! 
  20. Nggak percaya? Coba buka situs bioskop twenty one 
  21. Atau tanya mbak-mbak cakep (tapi ada yang nggak cakep juga, sih) di bioskop 
  22. Banyak kata-kata kasar 
  23. Bernuansa kebun binatang  
  24. Serta sumpah serapah  
  25. Pokoknya, kata-kata yang kalo keluar di tv swasta Indonesia langsung diganti dengan, "TIIIIIIIT", "TUUUUUUUUT", atau malah di-mute 
  26. Film ini nggak bahas Rio Haryanto tampil di F1 
  27. Nggak ada cuplikan berita super mega heboh saat ini: "Saiful Jamil Tersangka Cabul!"  
  28. Nggak ada Pak Haji nongol di ending film terus jelasin pesan moral yang bisa dipetik 
  29. Sama sekali nggak ada suara menolak LGBT 
  30. Intinya, film ini tidak cocok dengan budaya Indonesia 
  31. Terus kenapa bisa tayang di tanah air tercinta ini? Karena ini semua salah Jokowi 
  32. Sama seperti kenapa banjir mendera Jakarta, macet tiada hentinya, mantan jalan sama cowok barunya, follower instagram nggak bertambah satu angka, gaji nggak sampai 3 juta, pokoknya  semuanya salah Jokowi 
  33. Bagaimana? Sudah mengerti kenapa Deadpool bahaya untuk anak-anak? Kalo belum, coba tanya Ahmad Dhani yang katanya mau jadi Gubernur Jakarta itu. Dia terlihat cerdas dengan kepalanya yang plontos kayak Professor X. 

Semoga tulisan ini mampu menyadarkan para orang tua agar tidak membawa anaknya menonton film Deadpool. Sekian dan terima kasih. 



Follow my blog: aldypradana.com
FB + Instagram + G+

Melawan Rasa Takut Akan Ketinggian


Ada dua pilihan saat rasa takut datang menghampiri: biarkan saja atau lawan sampai dia pergi jauh-jauh. 

Saya pernah mencoba kedua pilihan itu saat salah satu ketakutan saya merasuki tubuh saya. Ketakutan saya ialah ketinggian. 

Iya, tinggi saya hampir 180 cm, dan saya takut ketinggian. 

Dari kecil saya takut ketinggian.

Saya ingat, sewaktu SMP di halaman rumah saya, saya bermain bulutangkis bersama saudara saya. Lalu, pas sedang seru-serunya, shuttlecock yang saya pukul, nyangkut di atas genteng. Sebagai pelaku, saya harus tanggung jawab buat ngambil. Saudara saya ngambil tangga bambu, ditaruh ke dinding, lalu bilang, "Ayo, ambil koknya." 

Tau apa yang saya lakukan? 

Saya menggeleng, nggak berani. 

Serius.

Saya sempet dipaksa naik. Namun, baru dua anak tangga, rasanya udah naik ke lantai 7! Kaki langsung gemeteran kayak lagi naik bajaj, jantung berdetak 4/4, keringet ngucur sederas air terjun niagara. Saya langsung turun dari tangga (masih gemeteran), dan akhirnya, saudara saya yang ngambil shuttlecocknya.

Rasa takut ketinggian saya biarkan terus memeluk sampai saya SMA. Memasuki SMA, mandiri menjadi suatu kewajiban. Mengganti lampu kamar jadi salah tugas tugas saya menuju kemandirian. Saya sudah termasuk tinggi waktu itu, tetapi lampu masih terlalu jauh. Mungkin jarak dari lantai ke dinding atas hampir 3 meter. 

Saya taruh meja setinggi dengkul, lalu saya tambahi kursi plastik (yang biasa ada warung pinggir jalan) di atasnya. Sekarang, tinggal naiknya. Yak, naiknya. Belum naik dada udah berdugem ria. Overthinking mendobrak masuk, memaksa kepala berpikiran negatif sebanyak-banyaknya dan seheboh-hebohnya.

Gimana kalo nanti saya jatuh? 
Gimana kalo kursinya nggak kuat nahan berat saya? 
Gimana nanti kalo tiba-tiba saya kepleset? 
Gimana kalo saya jatuh terus patah tulang? Harus dibawa ke rumah sakit, padahal biaya pengobatannya mahal. Siapa coba yang mau bayarin?

Belum naik, pikiran saya udah kayak di drama turki. Penuh konflik di sana sini.

Namun, saya harus tetap lanjut. Harus lanjut. Demi yang namanya kemandirian. 

Satu kaki menginjak meja diiringi hembusan nafas yang berat. "Harus tetep naik." kata saya dalam hati. 

Kedua kaki sudah di atas meja. Tangan kanan memegang bohlam, kepala menengadah ke langit-langit. "Finish your job, Aldy! Do it!" 

Gerakan saya mendadak slow motion. Kedua kaki saya naik pelan ke atas kursi, lalu saya mencoba berdiri tegak di kursi tersebut. Kaki saya yang bergetar kayak vibration di handphone, mengakibatkan kursi bergoyang, bergeser sedikit demi sedikit. Keseimbangan mulai goyah, satu dorongan kecil bisa bikin saya mendarat dengan cantik di lantai. 

Saya mencoba tenang. Tangan menyamping, melebarkan sayap keseimbangan. Mata saya melirik ke atas, "Almost there." Dengan badan membungkuk (karena saya nggak berani berdiri), saya ganti lampunya. Beberapa detik kemudian, mission complete! 

Udah gitu doang. 

Singkat, secepat kilat.

Drama di kepala aja yang bikin lama. 

Ternyata, tidak sesusah yang saya bayangkan.


Itu SMA, sekitar 4 taun lalu. Gimana dengan sekarang? Jujur saja, saya masih takut ketinggian. Bedanya, tidak separah dulu. Saya sudah terbiasa dengan kaki saya yang seakan melayang jika berada di tempat tinggi. Overthinking masih suka mampir ke kepala, tapi sekarang saya tau cara melawannya. Saya tau, saya bisa hadapin semua pikiran negatif itu dengan cara: optimis dan berani. 

Apalagi saya bekerja di sekolah alam, dimana outbond seperti flying fox adalah hal yang wajib di sana. Nggak mungkin, kan, sebagai fasilitatornya, tapi takut kalo naik flying fox. Mau taruh dimana, tuh, muka saya, hehe. 

Tak jarang, ada anak murid yang nggak berani naik karena takut ketinggian. Saya dekati dia, lalu menasehati, 

"Ada dua pilihan kalo kamu ketakutan: kamu biarin aja atau kamu lawan rasa takutmu. Kalo kamu biarin aja, kamu bakal ketakutan terus menerus. Kamu bakal takut terus sampai kamu besar nanti. Rasa takutmu bakal nempel terus di badan kamu seumur hidup. 

Kalo kamu lawan, rasa takutmu bisa menghilang, dan kamu akhirnya menjadi orang yang berani. Susah? Jelas susah. Tapi layak diperjuangkan. Karena yang untung, ya, kamu sendiri. Nanti ke depannya, kamu nggak lagi takut dengan outbond, tetapi malah ketagihan dengan outbond, sama seperti temen-temen kamu. 

Sekarang, ayo kita coba ngebuktiin kalo kamu anak yang berani. Anak yang kuat. Kak Aldy temenin kamu dari sini." 

Setelah diberikan nasehat seperti itu, ada beberapa anak murid yang langsung mencoba outbond, ada juga yang masih takut dan perlu motivasi lebih lagi. 

Itu hal yang lumrah. Karena bagi saya, melihat anak-anak yang pertamanya takut, kemudian mau mencoba adalah anak yang berani. Dan jauh di dalam hati saya, rasanya senang sekali ketika mereka berhasil melawan rasa takut mereka akan ketinggian. Karena saat ketakutan datang menghampiri, memang begitulah cara yang paling tepat: lawan rasa takut itu sampai dia pergi jauh-jauh.


- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

When She Doesn't Love You Anymore



For some people, "home" doesn't means house.

It can be means family, friends who do a lot of crazy things, lovely pet with cute eyes, and ... It can be means someone you love.

Someone who can calm you down, by one smile.

Someone who can fix your broken world, by one touch.

Someone who can make you feel free, by stay with you, forever.

I've been there. I have my own "home". Whenever, I'm happy, or sad, or maybe, don't feel both, I come to her, and share my story. Whatever it is. Sometimes, she tell her story. And I, become her "home".

Home.

A simple word, but has complicated things inside it.

It's not like a conspiracy theory. It just, when you go to your home, to her, sometimes, you make a moment with her. An unforgettable moment. A moment, you and her will always remember.

Sometimes, there is no moment. There is no laugh together, and end up kiss each other with romantic song. Nothing. You and her sit together, in the very same couch. No talk, just sit side by side. But, still, it's a lovely thing to do.

And the last, sometimes, you fight. You fight her because a silly thing, and then, you wanna prove who is right, and who is wrong. That's okay. Even in your home, a little fire can slip quietly into your home. (Note: just don't let the fire burns your home, and destroy everything.)

The problem is....

What if, your beloved one, doesn't wanna be your "home"?

What if, she decided to goes to different path, and leave you alone?

What if, she doesn't love you anymore?

Try to imagine that.

When you go to her, bring some great story to tell, and bright smile in your face. You speak your story loudly. You describe everything, from the big thing until the small thing. In fact, you put your heart in the story.

Then, after the story is finished, you look at her, expect for a reaction, and ... 



Nothing.



There is no reaction.

On the top of that, she doesn't interested at all. 



No look back into your eyes.

No words from her mouth.



Nothing.



She, plain face, doesn't care about you.



You realize something wrong. You realize something happen. So, you try to get in into her "house", to find out what is going on with her. 

You knock her door few times, hoping she will open it, and let you come in to her house. But, knock after knock, she won't open it. She doesn't bother you. She let you stay in the outside, feel the cold, and still, know nothing.

You won't give up. Now, you try to break in the house.

You try from a window, but is locked.

You wanna try to hit it with a rock, but then you think, it's excessive. 

You put back the rock, and try something else. You climb the house, and jump into the chimney like a Santa Claus. 



It works!



You finally meet her, and her truth.

You meet her, someone you love, busy cleaning something. 

"What's the matter?" asked you.

She keep doing what she doing, put things into a trash can.

"Can you look at me, just a second?" said you with a deep voice.

And again, she doesn't care. 

Curious, you walk closer, and take a look what is in the can.


There are lying photos. Memories. Moments.

Scenes about you and her.

She throws away everything about you.

She tries to change everything.

From an unforgettable moment to a forgettable moment.

From a moment, you and her will always remember, to a moment she will always forget.

From laugh together to laugh just herself.

From kiss each other to no kiss at all. 

Because for her, right now, doing nothing is better than doing something with you. 

She is different person now.

Suddenly, inside your heart, appear a black hole. This hole scratch your feeling, and let the wound wide open. The black hole effects your though to a disaster. It continues its force by steal your smile and happiness.

Question marks spread inside your head, spin your brain like a storm. You know, only a little explanation from her that can help you right now.

"Wha-what happened? Talk to me, darling. Did I make a mistake? Did I say something wrong? Did I hurt you? If the answer is yes, I'm sorry. I'M S-O-R-R-Y. Forgive me, and please, give me a chance to fix it. I can fix it. We, can fix it."

"It's not you." said her. "It's me."

"What do you mean?"

"I think, we can't stay together anymore."

Then, the black hole is getting bigger. It swallows your heart. Grab your mind. Drain your energy.

You try to speak, but your teardrop stream in your cheek, vanish the words from your mouth.

"Goodbye. And, good luck." said her.

She leaves you alone. 

You stand still, watching your home gone to another world.

You can't do anything.

You even let the black hole control you. You let its army: loneliness, sadness, depression, attack your heart and rule you soul.

You still won't accept it, but the truth is, you know that she doesn't love you anymore.

And only by time, you finally accept the truth. You realize, life must goes on, with or without her. If you can through it alone, you know, you must walk strongly to your new adventure. Your new journey. To find, a new home to live inside it.


- @aldypradana17
Follow my Blog: aldypradana.com


munggah