Marmut Merah Jambu: Mengenang Cinta Pertama Waktu SMA



Marmut Merah Jambu, film ke 5 Raditya Dika, pencapaian yang luar biasa dari seorang penulis berfollower hampir 7 juta ini. Di film terbarunya, sekarang ia berperan lebih banyak di film yang mempunyai judul sama dengan novelnya ini. Ia berperan sebagai pemain, penulis skenario, dan sutradara. Malah di Marmut Merah Jambu, Dika menjadi sutradara film untuk yang pertama kalinya.  




Sinopsis: "Suatu hari Dika bertemu dengan Bapak dari Ina Mangunkusumo, cinta pertamanya di SMA. Kepada Bapak Ina, Dika menceritakan tentang usahanya di SMA membuat grup detektif untuk menarik perhatian Ina, bersama Bertus, temannya yang sama-sama anak terbuang di sekolah. Dika juga bercerita tentang persahabatannya dengan cewek unik bernama Cindy di SMA. Lalu, seiring dengan Dika bercerita, seiring itu pula dia sadar: ada kasus di masa lalunya yang belum selesai hingga dia dewasa. Seiring dia berusaha memecahkannya, seiring itu pula dia bertanya, benarkah cinta pertama enggak kemana-mana?"  
(diambil dari radityadika.com)



Raditya Dika ingin menonjolkan banyak unsur SMA di Marmut Merah Jambu. Terdapat cerita tentang jatuh cinta diam-diam, menyukai seseorang, tapi gak berani bilang suka ke orang yang kita sukai. Ada cerita tentang anak cupu yang ingin populer di sekolah, ada persahabatan semasa sekolah, dan yang paling unik, grup detektif yang dikelola 3 tokoh sentral, Dika muda, Bertus, dan Cindy. 

Saya pribadi menyukai film ini. Akhirnya, Raditya Dika benar-benar menggunakan tehnik komedi yang lebih pas di film, gak memaksakan bit stand upnya ke film, dan gak memaksa jokes yang "berfantasi liar" seperti filmnya yang terdahulu. (Alhamdulillah, gak ada lagi jokes tentang hantu-hantuan yang aneh itu) 

Berthus menonjol banget. Mengalahkan pesona Dika SMA yang berperan sebagai tokoh utama di Marmut Merah Jambu. Bertus lucu, kocak, dan kayaknya kemunculannya selalu ditunggu-tunggu penonton bioskop yang lain. Cindy juga cantik, diperankan mantan dari JKT 48, Sonya, bermain cukup bagus sebagai cewek cantik dan cerdas di film ini. Untuk Dika muda, maaf, anda kalah kuat dari Bertus dan Cindy. Sementara Raditya Dika sudah "fasih" dengan gayanya sendiri. Berperan sebagai Dika dewasa, yang tampil lebih sedikit, namun tetap mampu mencuri adegan. Terutama di ending, kayaknya banyak yang suka, walau bagi saya sebenarnya biasaa aja. 


Saya pribadi merasa unsur cinta-cintaannya kurang menonjol, gak seperti film Dika yang biasanya. Sedikit kecewa karena buku Marmut Merah Jambu termasuk buku yang unsur cintanya paling kuat dibandin buku yang yang lain. Seharusnya, filmnya punya unsur cinta yang sama kuatnya dengan bukunya, tapi, yah, itu mungkin lebih ke ekspektasi saya sendiri sih. 



Tetapi, saya kagum dengan permainan komedi buatan Raditya Dika di Marmut Merah Jambu. Bisa membuat saya ketawa terbahak-bahak. Cara Dika memainkan alurnya juga seru. Alur maju-mundur dari Dika dewasa ke Dika muda, lalu balik lagi dari Dika muda ke Dika dewasa, semuanya mulus dan pas. Ini bisa menjadi kelebihan utama di film ini. Bangga, akhirnya Raditya Dika naik level. 


Rate: 80 


Follow twitter juga boleh -> @aldypradana17 

Post a Comment

munggah