Patah Hati

"The heart was made to be broken." Kata orang yang baru saja diputuskan oleh kekasihnya. Sedih. Perih. Rapuh. Itu yang dirasakan oleh orang yang baru saja patah hati, walaupun sebenarnya kata-kata itu belum cukup menggambarkan betapa pedihnya patah hati.


Sakit memang, orang yang dulu pernah dekat dengan kita, tiba-tiba harus menjauh, bukan sebentar tapi selamanya. Dan pada saat kondisi sepert ini, yang selalu teringat adalah saat dulu pernah pacaran dengan dia, pacar yang sekarang berubah menjadi mantan. Dulu, saat pacaran, tidak bertemu dengan dia bawaannya kangen, ingin segera bertemu. Tapi, setelah putus, jika bertemu dengan dia bawaannya sakit, inginnya menjauh dari dia. 

Wajar mungkin, orang yang sedang patah hati belum siap dengan yang namanya perubahan. Perubahan status dari in relationship menjadi single. Orang yang patah hati mungkin lupa bahwa cinta itu bisa mempermainkan kita. Cinta itu bisa membalikkan keadaan menjadi bertolak belakang. Keadaan dari indahnya jatuh cinta menjadi sakitnya patah hati. Dan sekarang, adalah giliran mereka merasakan sakitnya patah hati. 


Lebih lanjut dengan patah hati, orang yang sedang patah hati biasanya sering berbohong. Mereka selalu bilang, mereka tidak apa-apa,  mereka kuat, mereka bisa menjalaninya. Padahal, sebenarnya mereka masih sakit, mereka masih rapuh, mereka masih belum menerima keadaan dimana harus berpisah dengan kekasihnya. Mereka masih membuat senyum palsu dimuka mereka, yang seolah-seolah menunjukkan bahwa mereka sudah sembuh dari penyakit hati ini. 

Inbox dulu terisi oleh pesan-pesan dari dia, sekarang menjadi tidak ada sms sama sekali. Dulu ada telepon masuk sekedar berkata selamat malam, sekarang menjadi tidak ada telepon masuk sama sekali. Rasanya sunyi. Handphone  menjadi sepi saat mengalami putus cinta. Tidak ada kata sayang, tidak ada kata-kata mesra, yang tersisa hanya sepi dan sunyi.


Sekarang, pertanyaannya adalah mau sampai kapan begini terus?

Mereka, orang yang sedang mengalami patah hati, sebenarnya hanya butuh waktu. Waktu untuk intropeksi diri, waktu untuk berpikir apa yang salah sehingga bisa ada kata 'putus' dari suatu hubungan yang dijalaninya. Mereka juga butuh waktu untuk beradaptasi dengan kesendiriannya. Beradaptasi untuk bisa memulai dari awal lagi, beradaptasi untuk segera siap mempunyai hubungan baru lagi. Dengan orang yang baru dan cinta yang terbentuk dari awal lagi.

Semua itu ada penyembuhnya, semua itu ada obatnya sendiri-sendiri. Bahkan untuk patah hati, ini juga punya obatnya sendiri. Dan obatnya itu berasal dari diri sendiri. Diri sendiri yang menentukan kapan mau benar-benar melepaskan atau tetap terus kesakitan.



Post a Comment

munggah