3 Hal Yang Perlu Kamu Hindari Saat First Date


MEMBERI kesan yang baik pada kekasih adalah sebuah keharusan. Apalagi pada sebuah first date, pria membuat takjub wanitanya sudah seperti tugas negara. Penting banget cuy!

Itu yang gue rasakan saat sudah bersama dia. 

Hubungan kami sudah menjajaki level yang lebih tinggi, tapi sampai sekarang, kami belum pernah ngedate. Makanya, gue sedang mengusahakan untuk membuat first date yang berkesan agar dia merasa nyaman bersama gue.

Untuk first date ini, gue memikirkan banyak rencana sebenernya. Gue sudah mengajukan beberapa rencana tersebut ke dia. Gue pernah mengajaknya nonton film di bioskop, tapi sayangnya, dia berkata lain.

“Gimana kalo first date kita itu nonton film aja, yang?”

“Nonton apa?” tanyanya.

“Ini ada film judulnya Hijab. Katanya, sih, bagus.”

“Oh, Hijab. Iya, itu emang bagus, kok.”

“Nah, berarti beneran bagus.” kata gue, bersemangat. “Tunggu, kamu kok yakin banget kalo filmnya bagus?”

Uti tersenyum lebar ke gue, “Aku kan udah nonton.”

“Yah…” bilang gue, kecewa.

“Kalo gitu jangan nonton itu. Masa kamu nonton Hijab dua kali? Itu kayak kamu cuma nemenin aku nonton doang dong.”

“Terus nonton apa, ya?” Gue menggaruk kepala, memikirikan film apa yang menarik.

Dia bertanya, “Ada film horror nggak?”

“Bentar.” Gue mengambil tablet gue, membuka browser, lalu membuka situs 21 cineplex. Setelah terbuka situsnya, gue lalu menjawab pertanyaannya.

“Nggak ada, tuh.” ucap gue sambil menggeleng.

“Kenapa? Kamu suka film horror?”

Uti tertawa kecil, “Nggak, hehehe. Aku kan penakut. Kalo kamu?”

“Nggak juga. Aku juga penakut. Aku aja terakhir nonton film horror itu SMP.”

“Jadi, kalo kita nonton film horror kita bakalan takut bareng-bareng dong?” bilangnya setengah bercanda.

“Lucu deh kayaknya.” lanjutnya, tersenyum sendiri

Gue menepuk jidat melihat responnya.

Karena tak mendapatkan film yang tepat, ide menonton pun resmi gue hapus.

Gue lalu mencari ide kedua, yaitu makan bareng.

Dengan muka sumringah, gue bertanya, “Gimana kalo makan, yang?”

“Boleh, mau makan dimana?” Dia bertanya balik.

“Kalo Di Pizza Hut gimana?”

“Aku lagi nggak pengin pizza, nih.”

“Kalo di KFC?”

“Aku juga lagi nggak pengin ayam goreng.”

“Kalo di McD?”

“Kan aku udah bilang aku lagi nggak pengin ayam.” jawabnya, menghela nafas. “Kok kamu nawarinnya fast food semua sih?”

“Lha terus dimana dong?”

Kami diam sebentar. Seperti mendapatkan ide dari langit, dia memberi saran, “Gimana kalo Burger King?”

“Itu fast food JUGA kali!”

“Oh, iya, ya.” jawabnya, polos.

Ide makan pun sekali lagi harus dihapus.



Gue kembali menguras otak, mencari apa yang tepat untuk first date kami.

Akhirnya, pada salah satu hari Senin di bulan Februari, gue mendapatkan ide cemerlang. Tanpa menunda-nunda, gue lalu membagi ide tersebut ke dia.

“Yang, aku ada ide lagi!” kata gue penuh semangat.

“Apa?”

“Gimana kalo kita ke Gramedia? Kamu kan suka buku, aku juga suka buku. Kamu suka aku, aku juga suka kamu… “

“Langsung to the point aja kenapa, sih?”

“Oke, oke.”

Gue mengangkat kedua tangan, lalu menjelaskan ide gue kata demi kata.

“Gramedia.”

“Berdua.”

“Nyari buku bareng.”

Gue mengangkat kedua alis mata gue, berharap ia menyetujui ide tadi, “Gimana?”

Dia mengernyitkan dahi, berpikir benarkah itu ide yang baik.

“Hmmmm.”

Gue lalu menunggu jawaban darinya.




5 menit berlalu.




10 menit berlalu.




2 bulan berlalu.




Akhirnya, Muti memberikan jawaban yang sudah lama gue tunggu-tunggu.

“Boleh.” katanya, pendek.

Gue mengepalkan tangan kanan, “Yes!”

Kemudian, dengan perasaan lagi senang-senangnya, gue menanyainya, “Tapi, kapan?”

“Sekarang aja.” jawabnya cepat.

“Sekarang?”

Dia menjelaskan, “Iya, kita kan abis pulang kerja. Terus lagi nunggu angkot. Ya udah, sekarang aja. Mumpung aku lagi nggak ada acara juga.”

Gue nggak mampu membalas kalimatnya.

Saat masih membisu, bingung harus berkata apa, sebuah angkot berwarna orange datang menghampiri.

Angkot itu berhenti tepat di depan kami. Mengajak kami masuk menjadi penumpang dari angkot yang masih kosong itu.

Dia bergegas naik, lalu duduk di belakang sopir.

“Ayo naik.” ujarnya setelah memangku tas punggungnya.

Tak bisa menolak ajakannya, gue lalu naik dan duduk di dekat pintu.

Dengan perasaan bercampur aduk, gue berharap semoga first date gue berjalan lancar. 

***

Angkot berjalan lambat menyusuri jalan berlubang mencari penumpang.

Setiap ada orang berdiri di pinggir jalan, sang sopir menghentikan angkotnya, lalu bilang, “Ayo, naik!” kepada mereka.

Tetapi, kebanyakan dari mereka menjawab tanpa suara, hanya menggelengkan kepala, menolak ajakan sopir.

Di dalam angkot tersebut, duduklah kami saling berhadapan. Memangku tas masing-masing.

Akhirnya, kami ngedate.

Tapi tidak seperti pasangan pada umumnya, kalo ngedate naik mobil atau motor, kami berdua naiknya…




Angkot.




Sungguh tidak elit sekali.




Sebagai cowok, gue agak malu sebenernya.

Harusnya, gue mengajaknya dengan menaiki motor keren seperti motor balapnya Valentino Rossi, atau agar lebih keren lagi, dengan menaiki limosin. Full AC, atap bisa terbuka secara otomatis, lalu disuguhi minuman chocolate chip coffe with extra caramel (entah minuman apa itu, tapi terdengar sangat keren).

Tapi, apa daya, tak ada satu imajinasi gue itu yang terwujud. Yang kesampaian malah kami duduk berdua, bersama penumpang lainnya, saling berdempetan bahu di angkot tercinta.

Ini bukanlah cara yang bagus untuk sebuah date. Tambah lagi, belum ada setengah jalan, gue sudah ngantuk duluan.

Mata mulai menutup, gue bertanya pelan, “Jadi begini kebiasaanmu selama berangkat atau pulang kerja? Hoaaeemm.“ Gue menguap, kepala gue terkantuk-kantuk, “Duduk di angkot selama 1 jam? Nggak bosen?”

“Aku aja ini udah ngantuk.” lanjut gue sambil menyandarkan kepala ke belakang.

“Bosen banget.”

“Makanya, pasti bawa cemilan dari rumah. Biar nggak ngantuk di angkot.”

Dia lalu membuka tas, menunjukkan isi tas berisi banyak jajanan. “Mau?”

Seperti melihat sebuah emas, kepala gue langsung bangkit dari sandaran.

“Mau dong!”

Gue mengambil cepat Fitbar miliknya, lalu membukanya terburu-buru.

Saat mengunyahnya, tiap gigitan terasa seperti sebuah penyegaran di badan. Rasa kantuk sedikit demi sedikit mulai hilang.

Masih dalam keadaan mengunyah, gue bertanya lagi, “Nggak takut kalo naik angkot sendirian? Agak serem tau buat cewek.” Gue berbicara sambil menyemburkan makanan. “Kenapa nggak naik motor aja?”

Dia menghindari semburan gue, “Ikh, jorok banget, sih!”

Tanpa segan, dia lalu menjitak gue.

“Aduh! Iya, maaf-maaf, tapi nggak perlu pake kekerasan juga kali.”

“Kamunya, sih, gitu.” balasnya, jengkel.

Dia lalu menjawab pertanyaan gue tadi, “Aku bisa naik motor. Di rumah juga ada dua motor, Ninja sama Mio.”

“Nah tuh, ada motor di rumah! Pake aja salah satu!” kata gue, semangat.

“Tapi, aku nggak punya SIM.”

Gue lalu memasang raut muka kecewa, “Yaelah. Sama aja bohong.”

Kesal dengan jawaban gue, dia lalu menjitak gue lagi.

“Aduh! Ini kenapa kamu jadi hobi jitak, sih?” Gue lalu mengelus-ngelus kepala, menahan sakit. “Cewek kok barbar gini.”

“Biarin. Kamunya, sih, gitu.” katanya, singkat.

Dalam obrolan penuh jitakan ini, kami melanjutkan perjalanan dengan angkot tercinta menuju Metropolitan Mall di Bekasi.

***

Sesampainya di tempat tujuan, kami turun dari angkot, lalu menyebrang jalanan yang ramai. Gerimis menemani kami berdua melewati mobil-mobil yang terjebak macet. Menghadapi klakson dan genangan air hujan, dengan susah payah akhirnya kami berhasil mencapai pintu masuk Metropolitan Mall.

“Kita kayak abis ngelewatin haling rintang, ya?” ucap gue sambil merapikan rambut yang basah karena rintik hujan.

Dia lalu mengambil tisu dan membersihkan mukanya, “Iya, mau kesini aja, susah banget perjalanannya.”

Melihat itu, gue berkomentar, “Udah, nggak usah dilap pun, kamu tetep cantik kok buat aku.”

“Hih.” katanya, masih mengelap wajahnya.

“Noh, bersihin muka kucelmu.” Dia memberikan tisu bekasnya ke gue.

Gue mengambilnya, lalu segera melap muka gue. Saat membersihkan muka gue yang basah bercampur asap knalpot, gue baru tersadar, “Kok kamu ngasih aku tisu bekasmu, sih? Emang aku tempat sampah?”

Cuma tertawa kecil, dia lalu berjalan masuk, meninggalkan gue.

Sebal, gue lalu membuang tisu tadi ke tempat sampah, dan mengejarnya.

Sudah berada di sebelahnya, dia ngomong, “Cari mushola dulu, yuk. Solat sekalian bersih-bersih.”

Gue mengangguk, lalu mencari dimana mushola berada.



Singkat kata, kami sudah solat dan tampak jauh lebih bersih. Kami pun melangkahkan kaki ke tujuan utama kami, toko buku Gramedia.

“Aku lagi ngincer dua buku, nih. Buku pertama, bukunya Mas Bara, Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri (bukan promo, btw). Terus buku kedua, bukunya Bene, Ngeri-Ngeri Sedap (sekali lagi, ini bukan promo terselubung).”

Gue menambahkan, “Kalo kamu ada buku inceran, nggak?”

“Aku nggak ada, sih. Nanti mau liat-liat dulu, mungkin ada yang cocok.” jawabnya.

Menitipkan barang bawaan kami, kami lalu mendekati rak-rak buku yang berada di Gramedia.

Gue, yang fokus mencari buku inceran gue, berjalan sendiri untuk menemukan dua buku itu.

Mendekati rak buku fiksi, gue lalu melihat seksama deretan buku disana. Tangan gue menyentuh salah satu buku, gue perhatikan judul bukunya.

“Bukan ini.” kata gue dalam hati.

Gue membentuk dua jari gue, telunjuk dan jari tengah, seperti dua kaki jenjang yang sedang berlari. Kedua jari gue ini, menjelajah dari baris paling atas, berpetualang dari ujung kiri sampai ujung kanan.

Kalo nggak ketemu, dua jari gue meloncat ke baris bawahnya, lalu berlari lagi sampai ketemu buku yang gue incar. Begitu terus sampai baris terbawah.

Setelah kelelahan mencari, kedua jari tadi akhirnya menghentikan langkahnya tanpa menghasilkan apa-apa.

“Kok nggak ada, ya?” bilang gue sambil mengusapkan keringat di dahi.

Akhirnya, gue mencari petugas Gramedia, bertanya adakah stok buku inceran gue.

Salah satu petugas mengetik judul buku di komputer, lalu bicara, “Kalo Ngeri-Ngeri Sedapnya, stoknya sudah habis, Mas. Tapi, kalo Jatuh Cinta itu masih ada.”

Ia lalu meninggalkan komputernya, “Sebentar, saya carikan dulu.”

Gue menunggu cemas. Padahal, cuma buku bacaan doang, tapi bisa juga bikin gelisah.

Petugas itu kembali membawa buku bercover ungu, “Ini, Mas.”

“Makasih, ya, mbak.”

Gue mengambilnya dengan muka sumringah.

Saat hati gue lagi seneng-senengnya, gue baru sadar, “Lho, si dia mana, ya?”

Karena terlalu fokus dengan buku inceran gue, gue lupa kalo lagi first date sama dia. Harusnya, kan, nyari buku berdua, tapi kenapa malah nyari buku sendiri-sendiri begini?

Agak panik, mata gue menelesuri tiap sudut Gramedia.

“Perempuan berkerudung merah, kamu dimana?”

Mata gue sampai melotot, tapi tetap tak menemukannya.

Gue memutuskan mencari dari rak satu ke rak lain. Memegang buku Mas Bara, gue setengah berlari mencari dimana dia berada. First date yang absurd, pikir gue.



Gue mencari di rak buku agama.

Nggak ada.



Di rak buku memasak.

Nggak ada.



Di rak buku dewasa.

Nggak ada.



Saat memasuki rak merajut, ada tangan menyentuh bahu gue.

“Abis dari mana aja, kok keringetan gitu?”

Gue membalikan badan.

Ah! Dia ternyata ada disini!

Gue ingin meluk dia seketika, tapi sebelum itu kejadian, dia bicara, “Heh, jangan deket-deket. Badanmu bau.”

Asem.

“Kamu kemana aja? Aku dari tadi nyariin kamu.” tanya gue.

“Aku dari tadi disini. Kan kamu yang ninggalin aku, kan?”

Iya, juga, sih.

Gue menggaruk kepala, menutupi rasa bersalah.

“Ya, udah, abis ini, kita nyari bukunya berdua, ya.” jelas gue. “Kamu udah dapet bukunya?”

“Belum, nih. Masih cari-cari. Kalo kamu?”

“Nih.” Gue menunjukkan buku yang gue bawa. “Tapi, baru satu, buku inceranku satunya, nggak ada. Kayaknya, bakal ganti buku inceran, nih.”

“Ayuklah, kita nyari bukunya berdua.” katanya, jalan menghampiri rak buku lain.

“Oke.”

Kami lalu mendatangi rak-rak lain untuk mencari buku yang paling sreg untuk kami.

***

“Akhirnya, selesai juga.”

Gue menghempaskan badan ke kursi, menaruh kantung plastik bertuliskan Gramedia di meja kayu berbentuk bundar.

“Capek ya tadi nungguin aku?” tanyanya, ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan gue.

“Nggak juga, sih.” Gue membenarkan posisi duduk. “Cuma dari tadi kan muter-muter terus, nggak sempet duduk.”

Gue lalu merenggangkan kaki, melemaskan otot-otot setelah berjalan mencari buku selama 2 jam terakhir. Dia membuka kantung plastik, lalu mengambil bukunya.

“Makasih, ya, udah bayarin.” bilangnya, tersenyum.

“Iya, santai ajalah sama aku.” Gue menyombongkan diri seakan-akan telah melakukan hal keren, padahal setelah bayarin, duit gue sekarang hanya tersisa 20 ribu.

Masih senyum-senyum kecil bangga terhadap diri sendiri, gue bertanya, “Buku apa sih itu? Aku kayaknya pernah liat covernya, deh.”

“How to be Interesting.” Dia menunjukkan cover bukunya ke gue. “Cara Menjadi Menarik Dalam 10 Langkah Sederhana.”





Tangan kanan gue mengambil buku itu, “Oh, ini…”

Gue membukanya, memindahkan halamannya dengan cepat, “Dulu aku pernah baca ini. Nggak sempet beli, sih, cuma liat doang. Bukunya isinya kalimat motivasi singkat terus ada lingkarannya.”

“Kenapa kamu beli buku ini? Kamu mau jadi menarik? Ngapain?” Gue mengembalikan bukunya. “Kamu kan udah menarik buat aku.”

Gue lalu mengedipkan mata kiri gue.

“Mulai deh.” Muti memasang muka jijik.

Mengambil buku lalu menaruhnya dalam tas, dia menjawab, “Lucu aja judulnya. Terus penasaran juga sama isi bukunya. Ya, udah, akhirnya beli, deh.”

“Kalo kamu? Jadinya nambah buku apa?”

Gue mengambil salah satu buku dari kantung plastik, “Jadinya ini.”

“Komik Indonesia gitu, judulnya Juki Komikstrip.” Gue membolak-balik bukunya. “Nambah satu ini soalnya aku butuh komedi buat nyaingin novel serius punyanya Mas Bara.”

“Mau baca?”

“Nggak, ah. Lagi nggak minat sama komik.” balasnya.

Ia lalu menengok melihat jejeran donat di sebelah kirinya, “Kan sekarang kita udah di J.Co, nih, beli yuk. Kamu kan yang minta kesini, masa kita nggak beli? Cuma duduk-duduk doang, gitu?”

“Ya udah, sana beli. Aku donat cokelat, pokoknya, ya.”

Kemudian, gue mengambil dompet untuk memberikan uang untuknya.

Tapi, setelah melihat isinya, gue baru sadar kalo uang gue nggak cukup. Dalam dompet  gue hanya ada satu lembar 20 ribuan. Sendirian. Tanpa teman. Paling ada beberapa recehan menememani, tapi sama sekali tak menambah banyak.


Gue menelan ludah.


20 ribu emangnya cukup buat beli donat buat dua orang?


Aldy, kamu sungguh memalukan.


Tak ada yang bisa gue lakukan, selain berkata jujur, dan berharap dia mau membayar makanan dan minuman nanti.

Astaga, membiarkan perempuan membayar ngedate? Predikat gue sebagai lelaki jelas perlu dipertanyakan.

“Eeee… Yang…” bilang gue, grogi.

“Uangku, ternyata nggak cukup, nih.”

“Pake uangmu, dulu, ya.” kata gue dengan keringat mengucur deras beserta jantung berdentum keras.

Sesudah kata-kata itu keluar dari mulut, gue berharap cemas.



Semoga aja dia nggak ilfil dengan kalimat gue barusan.



Beberapa detik kemudian, dia menatap gue, mulutnya mulai membuka pelan, hendak menjawab kalimat gue barusan.

Entah kenapa, adegan itu terasa lambat dan mendebarkan.



Kira-kira apa ya jawabannya?


Apakah dia akan menjawab “YA”?


Atau, apakah dia akan menjawab “TIDAK”?



Saksikan di KATAKAN CINTA minggu depan!



Halah. Opo sih iki.



Akhirnya, dia membuka lebar mulutnya. Tampak gigi bawahnya putih cemerlang, dan lidahnya bergoyang kecil.

Keringat gue mengucur pelan dari dahi menuju pipi, menyaksikannya penuh perhatian.

Bibirnya sedikit monyong ke depan, membuat sebuah kata yang ia akan bicarakan.

Badan gue mendekat ke arah meja, melihatnya lebih seksama dan lebih dekat. Tak sabar dengan adegan slow motion ini.

Dan keluarlah kalimat darinya…




“Oke.”





Muti lalu beranjak dari kursi, memesan donat dan minuman. Sedangkan gue, mencoba menenangkan jantung karena kejadian mendebarkan tadi. 




Setelah berbincang-bincang sambil menguyah donat yang dibelikan dia, kami pun pulang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.30, mungkin tidak terlalu malam, tapi bagi dia ini sudah melebihi jam malamnya.

Kaki kami menginjakkan genangan air ketika keluar dari Metropolitan Mall. Berjalan bersebalahan, rintik hujan menyambut kami dengan sentuhannya yang halus. Air yang turun begitu lembut seperti ingin menambah keromantisan dari first date kami.

Sama seperti tadi, jalanan masih ramai. Motor menyelip diantara mobil-mobil, dan angkot menunggu di sebelah kiri jalan, menunggu datangnya penumpang. Sekarang, kami berada di pinggir jalan, dekat rambu lalu lintas.

Untuk menaiki angkot tujuan pulang, kami harus menyebrang terlebih dahulu, dan menaiki angkot yang lagi ngetime di sebelah sana.

“Mana tanganmu?”

Tangan kiri gue terbuka lebar.

Ia menanggapi, “Kenapa? Kan, payung kamu yang pegang. Mau aku bukain?”

“Nggak usah pake payung. Cepetan siniin tanganmu.”

Agak bingung, dia lalu memberikan tangan kirinya.

Tangan kiri gue meraih tangan kanannya, menyatukan tangan berjari panjang gue dengan tangan berjari mungilnya dia. Tangan kami berpadu di tengahnya riuhnya jalanan yang basah akan hujan. Seperti tak peduli, seperti dunia milik sendiri.

Rambu hijau yang tadi menyala, sekarang meredup. Lalu, rambu merah bersinar dengan terangnya, memberi kode untuk kami berjalan ke seberang.

Masih berpegangan tangan, kami melintas di atas zebra cross yang hampir memudar. Kami seperti berbinar karena terkena lampu motor dan mobil. Terang lampunya seakan ingin membuat akhir yang manis untuk first date kami. 


Sampai di ujung jalan, genggaman tangan kami mau tidak mau harus berpisah, melepaskan paduan tangan yang sempat memiliki momen romantis saat menyebrang. 


Kami lalu menaiki angkot, duduk paling di belakang, dan sekali lagi berhadap-hadapan. Mata kami bertemu, tapi tak ada kata yang keluar. Kami cuma tersenyum setelah mengalami banyak hal pada hari ini. 


Melihatnya senyumannya, gue merasa sangat gembira. Karena first datenya tidak berjalan sesuai yang gue harapkan, malah cenderung absurd dan nyeleneh. Tetapi, setidaknya, date kami ini bisa berakhir manis seperti yang gue butuhkan.




1 2 3

Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Kucing Bawel Katy


Sebelum membaca ini, sebaiknya baca cerita sebelumnya.

TAK ada yang lebih menyenangkan selain duduk santai di teras rumah sambil memandangi pemandangan yang ada. Apalagi terdapat sebuah cangkir dengan teh hangat di atas meja, menemani hari yang cerah saat itu.

Namun, berbeda dengan Katy, seekor kucing gembul berwarna orange di sekujur tubuhnya. Bagi dia, tak ada yang lebih menyenangkan selain duduk tenang di teras majikan, dan mendapatkan makanan gratis dari pemilik rumah.

“Hidup bagaikan raja kalo seperti ini.” katanya sambil mengunyah nasi bercampur potongan ikan pemberian tuan rumah.

Selesai makan, ia lalu duduk di depan pagar dengan pose seperti patung Sphinx sambil memejamkan mata. Katy menikmati udara pagi hari dengan kondisi perut sudah terisi.

Selama disana, biasanya ada beberapa manusia berjalan di depannya. Ada yang berlalu menghiraukan Katy, ada juga yang mencoba menarik perhatian Katy dengan mengucapkan kalimat, “Puss… Puss… Puss…” dengan suara halus, tapi lebih sering Katy hiraukan, karena dia bukan kucing murahan.

Katy sering nongkrong di depan pagar. Meski kerjaan paling cuma duduk-duduk, ia suka melihat seksama manusia-manusia yang melewatinya.

Ia sering melihat anak dengan baju bebas berangkat dan pulang sekolah berseliweran di depannya. Itu wajar. Di dekat rumah majikannya memang ada sebuah sekolah. Katy mengenal beberapa anak dari sekolah itu, karena ada yang pernah menggodanya.

“Aku paling benci sama bocah yang nggak tau cara mendekati kucing dengan baik.” gerutu Katy, mengingat berandalan itu. ”Bukannya memberikanku sebuah makanan, mereka malah menyentuh badan berbuluku ini dengan kayu panjang. Emangnya aku cewek apaan!”

Makanya, setiap ada anak dari sekolah itu berlari mendekatinya, Katy dengan kaki kecilnya, segera masuk ke dalam, bersembunyi di balik pagar.

Manusia lain yang jadi perhatiannya adalah manusia pengguna motor.

Motor selalu menakutkan bagi kucing.

Motor + manusia alay jauh lebih menakutkan lagi bagi kucing.

Mengendara seenaknya sendiri dan knalpot yang suaranya kayak nyentil gendang telinga adalah perpaduan yang amat buruk. Setiap mereka lewat, Katy yang lagi jalan-jalan sore di sekitar rumah, pasti harus menyelamatkan diri agar nggak kelindes. Atau, kalo lagi asik tiduran, Katy pasti terbangun kaget sampai bulunya tegak berdiri. Itu semua karena ulah pengendara ababil tersebut.

“Aku nggak pernah suka sama mereka.” batin Katy, menatap kejam pengguna motor ugal-ugalan yang sedang lewat.

“Manusia pengguna motor yang sok nguasain jalanan!”

“Entah anak kecil yang belum cukup umur buat naik motor, om-om kumisan pake motor gedenya, atau cabe-cabean yang pake hotpants duduk bertiga. Mereka semua sama aja!”

“Benci, deh, sama mereka!” tutup Katy, emosi.

Melihat musuhnya sudah pergi jauh tampak punggung, Katy pun mencoba meredam emosinya.

Ia mulai melemaskan otot-otot wajahnya karena tegang ketika musuhnya lewat. Sedikit demi sedikit, tampang Katy yang sesungguhnya pun kembali terlihat: menggemaskan dengan pipi chubby dan senyum simpulnya.

Sudah rileks, Katy pun tak ingin membuang-buang waktu lagi. Ia lalu melingkarkan badannya, dan menaruh kepalanya di atas tangannya. Perlahan, ia memejamkan mata. Akhirnya, Katy pun bersiap melaksanakan kegiatan wajib para kucing pada umumnya, yaitu tidur siang.

***



PADA suatu pagi, Katy sedang mandi (baca: menjilat-jilat badannya sendiri) di kursi rotan yang terletak di teras. Selagi memandikan punggung tangan kanannya, Katy melihat ada seorang cowok tinggi kurus melewati rumahnya.

Cowok ini memakai sepeda berwarna biru bermerek Polygon. Menggendong tas hitam berbintik abu-abu, dia terlihat ngos-ngosan memacu sepedanya. Di depan rumah Katy (majikannya, sih, lebih tepatnya), memang ada sebuah tanjakan yang cukup miring, hampir 70 derajat. Tanjakan itu juga cukup panjang, mungkin ada sekitar 200 meter.

Lelaki ini mengayuh sepedanya selama menaiki tanjakan tersebut. Tampak dari nafasnya yang terengah-engah, kalo dia cukup kesusahan menanjaki jalan itu. Tapi, cowok ini tetap mengayuh agar bisa naik ke tujuan. Entah pergi kemana.

Mencoba cuek, Katy pun melanjutkan mandinya. Sekarang, giliran punggung tangan kirinya untuk disiram dengan lidah Katy.

Beberapa jam berlalu, akhirnya mentari berada di puncaknya. Terang dan panasnya menyelimuti hari itu, merangsang keringat keluar lebih cepat jika tak ada kipas angin yang menemani.

Katy keluar rumah setelah selesai makan nasi bercampur abon buatan majikan.
Sekarang, waktunya Katy ‘bermain’.

Katy bermain bersama ayam yang masuk ke halaman rumah majikannya.

Ia berusaha mengusirnya dengan menakut-nakuti ayam tersebut.

Katy mengejarnya, mengeluarkan cakar di kedua tangannya, dan mencoba menerkamnya. Seandainya, Katy bisa masak sendiri, ia mungkin sudah menangkap ayam itu dari tadi. Sayangnya, Katy tak tau cara menguliti dan menggoreng ayam. Itulah alasan kenapa masakan ala Chef Katy takkan pernah terwujud.

Selesai ‘bermain’ dengan ayam, Katy lalu berjemur di luar rumah. Berpose seperti model Baywatch, Katy menggeliat di atas tanah bercampur kerikil.

Lagi-lagi, cowok bersepeda Polygon melewati rumahnya lagi.

Sekarang, cowok ini datang dari atas, lalu menuruni jalan. Berbeda dengan pagi tadi, dia sama sekali nggak kesulitan, karena tanpa mengayuh pun, sepedanya bisa melaju cepat menuruni jalanan depan rumah Katy.

Wus!

Sepeda tersebut melesat kencang hampir mengenai Katy.

Dari posisi tertidur, Katy lalu melakukan roll belakang bertransisi posisi menjadi tegak berdiri (maksudnya berdiri ala kucing: 4 kaki).

Katy pun akhirnya berhasil menghindar.

Tapi, ada beberapa serpihan kerikil, yang tergesek roda sepeda itu, terlempar menerpa badannya Katy.

Meski tak begitu melukainya, itu cukup membuat Katy kesal.

“Tambah lagi salah satu musuhku.” gumamnya sambil memicingkan mata.

“Manusia nggak ada yang becus make kendaraan!” tambah Katy.

Karena sering melewati rumah Katy, cowok ini akhirnya masuk dalam pengawasan Katy selama beberapa hari kemudian. Katy mengamatinya dari teras. Mencoba mengobservasi musuh barunya ini.

Cowok ini selalu keringetan saat menanjaki jalan pagi-pagi. Lalu, cowok ini melaju cepat menuruni jalan siang-siang. Begitu terus tiap hari. Dan setiap siang, setiap ia menuruni jalan, ia selalu hampir menabrak Katy. Yang cuma bisa Katy bales dengan mengeong-ngeong tanda marah.

Sampai di hari Jum’at siang, cowok berambut cepak ini kembali menuruni jalan depan rumah Katy. Sekarang, dia berjalan kaki menggandeng tangan kedua anak kecil. Salah satu anak yang digandeng berkata, “Kak Aldy, kita lewat jalan pintas aja.”

“Nggak.” jawab si cowok, pelan. “Kita lewat jalan ini aja. Lebih cepet.”

“Nggak, Kak. Kalo lewat sini, malah lebih jauh.” jawab si anak tadi, menggerutu.

Si cowok lalu membalas dengan menggeleng kepala. Tak menyetujui ide salah satu anak yang berjalan di sebelahnya.

“Yaaaah.” balas si anak sambil merengut.

Anak yang satunya lagi berkata dengan suara cemprengnya, “Gapapa, lewat sini. Kan seru ada turunannya.”

“Iya, ya.” balas anak yang merengut, lalu menengok ke arah temannya.
Mereka kemudian saling memandang.

Tatapan mereka cukup lama seperti sedang saling bertukar pikiran.

Seperti ada komunikasi lewat kedua mata mereka untuk merencanakan sebuah ide gila.

Lalu, setelah saling setuju akan sebuah ide yang menurut mereka brilian, mereka pun mencari saat yang tepat buat bertindak.

Mereka menunggu.

Dan menunggu.

Merasa momennya tepat, mereka pun bertindak, melakukan apa yang ada di kepala mereka.

“Aliando! Ayo, lari!”

“Ayo!”

“Yeeeeeeaaaaah!” teriak mereka sambil melepaskan genggaman Kak Aldy.

Mereka lalu berlari menuruni jalan, meninggalkan Kak Aldy sambil tertawa dengan riang gembira.

Kaget dengan tingkah mereka, Kak Aldy lalu mengejar mereka sambil teriak, “Aliando! Baim! Jangan lari! Nanti jatuh!”

Tak mempedulikan teriakan itu, dua bocah tadi menuruni jalan dengan rangkaian langkah kecil seperti bebek yang sedang melangkah cepat. Jarak langkah kaki mereka pendek-pendek, tapi geraknya amat cepat.

Masih mengejar dua bocah yang merupakan muridnya sendiri itu, Kak Aldy kembali berkata dengan lantang, “Jangan lari! Nanti kalo jatuh, terus baju kalian kotor, kalian nggak bisa solat Jum’at lho!”

Sekali lagi, dua bocah boncel itu tak menggubris hasutan Kak Aldy. Mereka tetap berlari dan berlari. Sedangkan Kak Aldy, ia mengejar mereka, sebelum ada kendaraan yang mungkin menabrak mereka.

Katy masih melihat mereka dari rumah majikannya, ia pun berkata, “Oh, ternyata cowok itu, guru di sekolah, toh? Nggak nyangka.”

Seiring mereka bertiga menghilang dari pandangan Katy, kucing orange ini pun masuk ke dalam rumah, mencari kehangatan di pelukan majikannya. Sekarang, ia mengerti satu detail penting tentang musuh barunya tersebut.

***


HARI demi hari, Katy terus mengamati Aldy. Seorang guru di sekolah dekat rumahnya. Yang menaiki sepeda Polygon berwarna biru dan yang setiap Jum’at selalu mengantarkan dua murid bandelnya untuk solat Jum’at.

Minggu bahkan bulan berlalu, itu masih menjadi rutinitas Aldy. Tak ada yang berubah darinya. Sang pengamat juga tak mengalami perubahan. Katy, sang kucing chubby, masih kesal dengan Aldy. Karena setiap Aldy pulang sekolah, Aldy masih naik sepeda secara awur-awuran. Dan tak jarang hampir melindes badan Katy.

Namun, akhir-akhir ini ada perubahan. Aldy sudah tak pernah lagi memakai sepedanya lagi. Ia sekarang lebih sering berjalan kaki.

“Kok tumben?” tanya Katy bingung.

“Sepedanya rusak, ya, Mas?” tambah Katy, sinis.

Aldy, yang tentunya nggak mengerti bahasa kucing, menghiraukan perkataan Katy. Ia lalu berjalan menuju sekolah tempat ia mengajar.

Waktu menunjukkan pukul 2 siang, saatnya murid-murid untuk pulang sekolah. Katy yang sudah belajar dari pengalaman, berlindung di balik pagar. Ia menjaga diri agar tak kelindes kendaraan yang lewat. Entah motor, mobil, atau sepeda.

“Nggak ada lagi jemur-jemuran jam segini.” bilang Katy.

Lalu, selama 20 menit kemudian, banyak motor melesat dan banyak mobil melintas. Kedua kendaraan itu silih berganti melewati rumah Katy. Jalan ini memang selalu ramai tiap berangkat maupun pulang  sekolah. Tapi, setelah itu, jalan ini akan kembali sepi seperti semula. Paling hanya beberapa kendaraan yang lewat, walau juga termasuk jarang.

Setelah murid-murid pulang dijemput orang tuanya, sekarang giliran para guru sekolah pulang ke rumah masing-masing. Katy tau mereka itu guru dari pakaian mereka yang rapi. Kebanyakan guru di sekolah itu perempuan, dan Katy, sebagai sesama perempuan, tau mana yang guru dan mana yang bukan, dari cara berpakaian mereka.

“Aku cukup ngerti fashion zaman sekarang. Makanya, aku langsung ngeh mana yang guru di sekolah cuma dalam sekali liat. Cara berpakaian guru itu agak dewasa, menurutku. Itu caraku menilai mereka guru atau bukan.”

Katy menyambungkan,

“Kecuali, cowok bernama Aldy itu…”

“Pakaiannya nggak ada dewasa-dewasanya sama sekali. Tampangnya juga kayak remaja sering nongkrong di Sevel.”

“Aku masih kaget tau kalo dia itu guru.”

Katy menengok ke luar, melihat seseorang yang mau lewat, “Baru diomongin, musuhku langsung nongol.”

Aldy berjalan kaki menuruni jalan. Di sebelahnya ada cewek berwajahnya putih halus dengan bola mata besar dan jernih. Cewek itu memakai kerudung pink ditemani baju berwarna sama yang berbintik putih. Dia menggendong tas merah tua, dan menggunakan celana hitam panjang. Sneakers abu-abu agak kusam ia pake tanpa mengatupkan bagian belakangnya.

Katy mendengar sedikit percakapan mereka.

Aldy berkata, “Oh, iya, nih bukunya, Sabtu Bersama Bapak.”

Tangan kanan Aldy menyerahkan buku ke cewek itu sambil bilang, “Kamu kan yang minta lewat Instagram?”

“Iya, hehe.” balas si cewek sambil mengambil buku tersebut.

“Agak aneh tau cara kamu pinjem buku ini. Kamu follow akunku duluan, kamu ngomen di salah satu foto lamaku, terus kamu bilang mau pinjem bukuku. Wah, jangan-jangan aku di-stalking cewek cakep, nih.” kata Aldy, sok iye.

Cewek itu menjawab agak malu, “Apaan, sih.”

“Nggak gitu, juga kali…”

Tak ingin lagi mendengarkan percakapan mereka, Katy lalu berprasangka buruk.

“Kok bisa, sih, cewek secantik itu mau jalan sama cowok seberantakan itu???”

“Palingan besok tuh cewek nggak mau lagi jalan sama dia!” ucap Katy, judes.

Sayangnya, prediksi itu meleset.

Sesudah hari itu, mereka berdua selalu jalan bareng.

Bahkan, mereka nggak hanya pulang bareng lagi. Sekarang, tiap sinar mentari baru sepenggalah, mereka juga berjalan bersama menuju sekolah.

“Kenapa cewek itu mau jalan sama cowok secemen itu?” tanya Katy kebingungan. “Padahal dari tampangnya, ia bisa dapet cowok seganteng Lee Min Ho.”

“Pasti cowok itu pake dukun, deh!” lagi-lagi Katy menaruh curiga terhadap Aldy.
Kemudian, setiap mereka berdua melewati Katy, kucing ini selalu memasang muka penuh curiga. Pernah, Katy mencoba mengganggu hubungan mereka dengan berteriak.

“Oi, cewek berkerudung merah! Cepatlah sadar! Kamu masih dibawah sihir dukun tau!”

Tapi, bukannya mengerti, cewek itu cuma menatap kucing tersebut dengan tatapan linglung, “Kenapa coba kucingnya ngeong-ngeong gitu?”

“Pengin kawin kali.” jawab Aldy sambil melihat kucing tersebut.

“Emang kucing kalo mau kawin begitu?”

“Setauku, sih, gitu. Kamu nggak tau?”

“Nggak.” Cewek itu menggeleng kepala.

Menunjuk kucing orange itu, Aldy berkata lagi, “Eh, coba liat tuh mukanya. Galak banget, ya?”

“Iya, bener.”

“Pasti premannya daerah sini tuh. Dia bos kucing yang suka malak-malakin kucing lain. Minta ikan asin.”

“Hahaha, bisa aja.” Cewek itu tertawa kecil. “Tapi, bukannya itu kucing cewek, ya?”

Aldy melihat lebih seksama.

“Oh ya?”

“Berarti itu kucing cewek yang ditinggal suaminya.”

“Suaminya kabur, kawin lagi sama gadis desa. Akhirnya, kucing cewek itu jadi janda tua yang hidup merana. Makanya, mukanya galak gitu. Penuh dendam sama suaminya.” kata Aldy, mengada-ngada.

“Kamu mah kebanyakan nonton sinetron.” Cewek itu memukul pelan Aldy.

“Siapa tau bener, kan?” bilang Aldy.

Cewek itu menjawab, “Udah, ah. Kamu becanda melulu. Jalan lagi, yuk. Nanti telat lho.”

“Iya, ya. Udah jam 07.15, nih. Nanti kalo telat dapet potongan lagi." kata Aldy melihat handphonenya. "Ya udah, yuk, kita jalan lagi, yang.”

Mereka lalu kembali melangkah bersama, meninggalkan kucing bawel bernama Katy itu.


1 2 3





-     -     @aldypradana17


Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

munggah