Hari Pertama Bekerja

Sebagai bentuk keseriusan gue berjuang menjadi penulis buku, gue memutuskan pindah ke Jakarta, atau lebih tepatnya di pinggirannya (Bekasi) bersama Ayah. Gue yang sebelumnya sudah cuti satu semester di Umsida, sepertinya harus menambah durasi menjadi satu taun. Keputusan ini bisa berubah menjadi melanjutkan kuliah di tempat gue sekarang, atau sekalian putus kuliah. Masih belum pasti mana yang akan dipilih, biarkan waktu yang menjawabnya nanti. *tsah*

Sembari menunggu hasil kabar dari editor Bukune, gue mencari pekerjaan di sekitar rumah. Ada sodara memberikan rekomendasi, “Aldy, kamu mau jadi guru? Ini mumpung ada sekolah lagi butuh guru cowok sekarang.”

“Guru? Tapi kan aku bukan lulusan FKIP. Malahan, aku belum lulus sama sekali.” jawab gue.

“Oh ini beda.” sodara gue membalas. “Sekolah ini gak kayak sekolah umum biasanya. Sekolahnya di tempat terbuka gitu, ada TK sama SD. Nama sekolahnya Sekolah Alam Bambu Item, atau disingkat SABIT.”

HA? SABIT? Apakah sekolah ini berisi murid-murid yang suka menyambit gurunya? Atau memang ada salah satu pelajaran dimana murid wajib menyambit rumput diluar sekolah?


Daripada gue berpikiran tambah aneh, gue bertanya, “Terus aku bisa ngajar disana?”

“Palingan kamu jadi asisten, atau bantu-bantu, gak langsung ngajarin anak.” kata sodara gue. “Gimana kamu berminat? Kalo berminat kamu bikin aja CV-nya.”

“Ya udah, boleh deh.”

Gue lalu membuat CV, mengirimkannya ke salah satu ketua di sekolah tersebut, dan menunggu kabar selanjutnya.

Sampai suatu hari, ketua di sekolah itu menelpon gue, dan menyuruh gue langsung datang besoknya. Tanpa bekal apa-apa soal bekerja dan mengajar, gue berangkat ke SABIT dengan sepeda Polygon berwarna biru.

“Saya Aldy, saya kemarin mengirim CV ke sekolah untuk melamar pekerjaan.” kata gue kepada salah satu guru, setelah sampai ke kantor SABIT.

“Silakan tunggu didalam, Mas.”

Gue lalu duduk di kursi rotan menghadap kearah jendela. Mengamati pemandangan diluar jendela, gue liat sekolah ini memang berbeda sekali dengan sekolah lain. Kelasnya berbentuk seperti rumah kayu. Ada lapangan kecil ditengah-tengah sekolah, dan ada tempat playground, berisi jungkat-jungkit, ayunan, dan semacamnya. Dikelilingi banyak tumbuhan, sekolah ini terasa adem sekali.

Aldy ya?” kata seorang pria, yang kemudian duduk di bangku dekat gue.

“Iya pak.”

“Oke, langsung aja ya. Hari ini kamu cuma sekedar observasi aja. Besok baru mengajar biasa, tapi kalo mau bantu-bantu, gapapa. Mas Aldy nanti berada di kelas Conditioning, disana Mas akan bertemu anak-anak spesial. Tiap guru dapet dua anak, dan dua anak itu nanti diajarin, disuapin, dijagain sama guru yang bersangkutan. Nah, kalo Mas sendiri akan mendapat Insan sama Alif ya. Nanti bisa tanya-tanya dulu aja sama guru lain, anaknya yang mana, sama gimana caranya menjaga dan ngajarinnya. Ngerti kan?”

“Ngerti, pak.” gue mengangguk agak pelan.

“Ya udah sekarang, kamu masuk kelas aja. Keluar dari kantor ini langsung belok ke kiri aja, nanti ada nama tag Conditioning, langsung masuk kesana aja, Mas.” jelas beliau, sambil mengangkat tangan, menunjukkan jalan.

Berjalan dibawah pohon rindang yang sejuk menuju kelas, gue mikir,

Apa ya maksudnya anak spesial? Dan kenapa tiap guru menjaga dua anak? Terus kenapa pake disuapin juga? Apa ini bentuk pembelajaran pembeda dengan sekolah lain? Bener-bener sekolah yang unik.

Tiba di kelas, gue melepas sepatu, dan membuka pintu kelasnya pelan-pelan.

Pintu terbuka, terlihat banyak anak berlarian kesana kemari. Ada yang lari sambil mengemut sedotan, ada yang lompat-lompat dengan tatapan kosong, dan ada yang duduk bersila, ngiler, dan memukul-mukul kepalanya sendiri. Tingkah mereka masih seperti anak lainnya, agak nakal dan susah diatur, tapi ada yang beda. Beberapa anak terlihat cukup ‘beda’ penampilannya, sedangkan anak lain, seperti sibuk dengan fantasinya sendiri, mengacuhkan ajaran guru yang membimbingnya.

OOOH, MAKSUDNYA ANAK SPESIAL TUH INI!

Masih dalam keadaan cukup kaget, salah satu guru yang berada di kelas, mendatangi gue, “Kak Aldy ya? Guru baru? Itu Insan sama Alifnya di pojok kelas. Silakan dideketin aja dulu, kalo ada apa-apa bilang aja.”

“Oh iya, bu.”

Gue mendatangi mereka,”Halo, Ini Alif sama Insan ya? Kenalin, ini Kak Aldy, guru baru disini.”

Mereka tidak memberikan respon. Insan masih mengemut sedotan di tangan kanannya sambil melompat-lompat, dan Alif masih duduk menghadap kebawah.

“Ayo anak-anak, sekarang belajar ya.” kata guru yang gue temui tadi, yang belakangan gue ketaui namanya adalah Bu Dina.

Bu Dina memberitahu gue, “Sekarang, belajar motorik halus, jadi belajar puzzle, memasang jepitan, merajut gitu. Coba itu anaknya diajarin.”

Gue memasang muka sok ngerti. Gue lalu mengambil jepitan jemuran dan sebuah buku. Gue pangku Insan terlebih dulu dan bilang, “Insan, ayo dipasang jepitannya ke buku.”

Dia melirik ke kanan-kiri, ngemut sedotan.

Gue berucap lagi kata yang sama, “Insan, ayo dipasang jepitannya ke buku.”

Dia masih melirik ke kanan-kiri, ngemut sedotan.

“Yang keras, Kak Aldy, kalo gak mau dipaksa aja.” sahut Bu Dina.

Gue manggut.

Gue ambil sedotannya, memegang muka Insan, memaksanya menghadap jepitan, dan teriak, “Insan! Ayo dipasang jepitannya ke buku!”

Insan menuruti kata-kata gue, meskipun agak lamban. Baru tau kalo harus ditegaskan. Ini bukan karena dia enggak nurut, mungkin lebih ke respon dia yang memang gak secepat anak pada umumnya. Walaupun, sebenarnya agak kasian juga, harus membentak-bentak ke mereka.

Gue melanjutkan mengajarkan Insan soal jepit menjepit. Insan selesai, gue bergantian mengurusi Alif. Gue panggil namanya dengan keras, tapi ia sedikitpun enggak nengok. Ia malah bersujud, merem. Gue angkat paksa badannya, “EEEEEHHHHHHH!”

Gue gak kuat.

Gue tarik kedua tangannya, gue puter badannya, dan gue terlentangin badannya. Dengan cepat, gue pangku dia dan memaksa dia buat memasang jepitan ke buku, “Alif! Pasang jepitannya ke buku. Ayo Alif!”

Dia menolak, memukul jauh jepitannya, dan sekuat tenaga melepas pangkuan gue agar kembali ke posisi bersujud. Sewaktu gue hendak menarik tangannya lagi, gue merasakan air dingin menyentuh ujung jempol kaki gue. Air dingin itu lama-lama semakin melebar dan membasahi seluruh kaki gue.

“Duh, ngompol nih anak.” ucap gue, dan menyangka kalo ini memang triknya menghindari belajar.

Gue menghindari air pipisnya dengan berjinjit. Gue perhatiin airnya terus meluas, merambah kemana-mana. Dan celana Alif sendiri sudah basah semua. Apalagi ditambah ia berposisi bersujud, tangan dan sedikit dahinya juga basah kena pipisnya sendiri.

Melihat hal itu, Bu Dina memberikan nasehat, “Udah, biarin aja, anak itu emang susah belajarnya. Mending kamu ambil pel sama ganti bajunya aja.”

“Iya, Bu.”

Dan hari pertama gue bekerja diakhiri dengan mengepel air pipis dari murid gue. Sungguh, pengalaman yang luar biasa.



begini nih, keadaan kelasnya

6 comments

lucu banget pak guruuu:)))

Reply

dari hal itu ente bljr byk sob , bljr untuk bs sabar dan terus berusaha.. smangat sob! visit back ya sob http://e-aksesorisoriginal.blogspot.com/

Reply

Emang pengalaman yang lucu sekaligus unik sih :)

Reply

Wahaha jadi pak guru, kayaknya susah banget ya ngajarnya. Semoga betah hehe

Reply

Kalo sabar, pasti betah kok :D

Reply

Post a Comment

munggah