Suka Bahasa Inggris


Saya suka pelajaran bahasa Inggris.  

Saya ingat, saya pertama kali bertemu pelajaran bahasa Inggris saat kelas 3 SD.  

Guru berdiri di depan kelas, menulis suatu kalimat, dan membacanya dengan lantang.  

"Good morning." 

Ingin meniru beliau, saya lalu membaca tiap katanya sambil senam bibir. Bibir monyong ke atas lalu samping. Lidah sampai ikut bergoyang mengikuti gerakan bibir.  

"Guuud mwouurniing." kata saya, dengan mulut maju ke depan, mirip Donal Bebek.  

Guru lalu berkata, "Itu artinya, selamat pagi." 

Good morning itu selamat pagi, ya...   

Kepala saya mengangguk-angguk, menikmati ilmu baru yang masuk ke kepala. Dan pada saat itu, saya sadar, saya tertarik dengan pelajaran ini. Pelajaran bahasa Inggris.  

Naik ke jenjang yang lebih tinggi, ketertarikan saya dengan bahasa Inggris terus meningkat. Apalagi ditambah dengan nilai saya pada pelajaran ini bagus terus.  

Tidak sampai nilai sekeren 9 atau 10 di tiap ulangan, tapi saya merasa lebih mudah mengerjakan bahasa Inggris dibanding pelajaran lainnya. Kalo kata orang, "Bakatnya di situ." 

Di sekolah, bahasa Inggris punya 4 aspek: listening, speaking, reading, writing. Biasanya yang jadi sasaran utama di sekolah itu reading dan writing. Isinya mengerjakan soal, soal, dan soal. Listening dan speaking seringkali dinomorduakan. Padahal, saya ingin menguatkan dua hal itu. Saya ingin jago bicara bahasa Inggris. Saya ingin ketika ada orang ngomong bahasa Inggris, saya bisa mengerti maksudnya, lalu membalas kalimatnya dengan tepat.  

Saudara saya pernah bilang, "Belajar bahasa Inggris itu lebih gampang lewat film. Coba, deh, nonton film barat, lalu subtitlenya disetting bahasa Inggris, bukan bahasa Indonesia. Nanti pas baca subtitle Inggrisnya, dapet juga cara bacanya gimana. Lebih bagus lagi, kalo sambil kita niru ngucapinnya. Listening dapet, speakingnya juga dapet." 

Saya lalu coba caranya.  

Saya nonton film action: From Paris With Love. 
Subtitle: English.  
  
Hasilnya?  

Kepala saya pusing.  

Hehe.  

Dialog terlalu cepat, dan subtitle cuma sekedar lewat. Saya pun ora mudeng blas iki film e ceritane opo.  

Akhirnya, saya coba lagi.  

Kali ini, saya tonton filmnya dengan subtitle bahasa Indonesia. Lalu, saya tonton lagi filmnya, dengan bahasa Inggris.  

Lebih baik.  

Saya paham dialognya, paham pula ceritanya.  

Puluhan kosakata baru, serta cara pengucapannya masuk perlahan ke dalam otak. Beberapa dialog saya tiru sama persis dengan aktornya. Nadanya, ekspresinya.  

"I'm not your driver, I'm your partner." 

"Yeah, you're the chess player. I read your file." 

Dan melakukan itu, doing something you really like, it feels really, really good.  

*** 



Pada tahun ajaran 2016/2017, saya diberi kesempatan menjadi guru bahasa Inggris di SABIT.  Sebelumnya, saya hanya mengajar di dua kelas, kelas 5 dan 6. Sekarang, saya mengajar di SD 1-6, itu pun merangkap guru komputer juga.  

Saya, awalnya memperkaya bahasa Inggris untuk diri sendiri, sekarang punya kesempatan memperkaya bahasa Inggris untuk orang lain.  

Semoga saya bisa memberikan kesan positif pada anak-anak, dan ilmu yang bermanfaat untuk mereka.  

Dan saya harap, saya bisa menularkan apa yang rasakan waktu saya bertemu pelajaran ini, yaitu suka bahasa Inggris.  



TVLOG #7 
"Menyambut Tahun Ajaran Baru"





Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Tanya Jawab Tentang VLOG



Beberapa hari yang lalu, sekitar minggu kedua Mei, saya diinterview sama teman saya dari Solo. Tema interviewnya seputar VLOG. Nggak seperti interview pada umumnya, yaitu tatap muka dan ngobrol bareng, saya diinterview lewat Whatsapp. :)))

Ini terjadi karena ada perbedaan jarak. Saya di Bogor, dan teman saya (Faya) di Solo. Jadilah diambil jalan tengah, interview ala LDRan ini. 

Kalo saya, sih, tetep semangat aja, karena pertama kali di interview dan pertama kali masuk koran, hehe. Walaupun, agak minder juga, masih vlogger amatir, tapi udah diinterview segala. Yah, harapannya, semoga hasil interviewnya nanti bisa bermanfaat dan menginspirasi banyak orang buat ngevlog *amin*



Rencananya, saya mau beberin interviewnya sama persis kayak yang di Whatsapp, tapi karena nggak sengaja kehapus (dasar nasib), jadinya saya share saya aja artikel dan linknya di bawah ini. Selamat membaca.



***


Zetizen.com - Jangan dikira guru itu cupu dan gaptek ya. Mereka juga bisa kok jadi vlogger. Contohnya Aldy Pradana, guru Sekolah Alam Bambu Item (SABIT) Bogor. Cowok asal kampung Badran, Surakarta ini rajin bikin vlog lho. Salah satunya berjudul TVLOG, Teacher’s Video Blog. “Karena aku seorang guru, jadi temanya seputar keseharian guru. Biasanya bahan utama vlog lebih ke acara atau kegiatan yang ada di sekolah. Kayak camping atau pas ada science fair,” ujar Aldy.
Aldy sengaja ngangkat cerita guru saat bikin vlog. Alasannya karena terinspirasi oleh penulis buku best seller di Indonesia, Raditya Dika. “Aku ceritain karakter dan semua kegiatan guru yang memang jadi pekerjaanku. Radit pernah bilang “jadilah yang beda”. Menurutku, vlog tentang guru itu beda, makanya saya bikin,” beber cowok 23 tahun tersebut.
Bagi Aldy, vlog nggak hanya buat share cerita aja. Di vlog, dia bisa sekaligus belajar edit video dan dokumentasi kegiatan. Tak heran, tampang Aldy jarang keliatan di vlog.

“Aku seringnya di belakang kamera. Nggak kayak vlogger lain yang sering muncul wajahnya. Belum pede, euy,” kelakarnya.

Bikin vlog, modal Aldy ala kadarnya. Hanya berbekal kamera poket merk Canon seri IXUS 175. Karena yang sering diangkat aktivitas anak didiknya, banyak orang tua murid yang suka. “Maksimalkan barang yang ada. Kalo nunggu punya kamera bagus baru bikin vlog, malah nggak bikin-bikin dong. Pake ini aja udah banyak yang suka,” koar Aldy.

Aldy bilang, vlog ini bisa jadi hal positif jika diisi dengan konten positif. Semisal ada Zetizen yang hobi main skateboard. Buat aja vlog yang isinya tips and trick cara main skateboard. Atau Zetizen yang kuliah di kedokteran gigi, bikin vlog tentang tips merawat gigi, dll. “Sayang aja kalo vlog isinya cuman jalan-jalan ke mal,” lanjut Aldy. (aya/fer radar solo/web)


http://www.zetizen.com/show/1876/kabar-dari-solo-guru-juga-nge-vlog

***



Begitulah hasil dari interview saya tentang vlog. Saat selesai interview, Faya bilang, "Nggak salah pilih narasumber, nih! Jawabanmu bagus-bagus, Dy!"

Padahal, saya sendiri jawab begitu mikirnya tujuh keliling. (-.-")

Selepas itu semua, ini pengalaman baru banget. Saya merasa diapresiasi. Karya saya (VLOG) ternyata menarik untuk dimasukin koran. Dari ini, saya akan berusaha bikin video yang lebih baik lagi, dan saya akan berusaha agar kontennya lebih berisi juga bermanfaat. 

Buat yang belum tau video saya, bisa dicek video terakhir saya di bawah ini. Sekalian subcribce, comment, dan like ya!

TVLOG - Proses Menuju Peneliti Cilik [Science Fair 2016]







Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂





- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture


munggah