Ngajarin Adik Naik Motor


Berperan sebagai kakak, mengharuskan untuk berbagi ilmu kepada adiknya. Naik motor, contohnya.

Adik saya, Ardy (1 SMA), belum bisa naik motor. Agak anomali, memang. Zaman sekarang, anak SD sudah muter-muter komplek pakai motor sendiri. Tapi, Adik saya malah belum bisa sama sekali. Keseringan main bekel, sih, di rumah. Hehehe.

Saat saya dan Ardy liburan kemarin di SBY, saya manfaatin waktu buat ngajarin adik saya naik motor. 

Motor ada.

Jalanan di sekitar perumahan luas dan jarang kendaraan.

Sesi #1 "Belajar Motor Bareng Mas Aldy" pun dimulai.




Cahaya matahari belum tampak menghiasi penjuru kota. Ayam-ayam saling berkokok, seakan mengadu suara siapa yang paling keras. Jalanan masih sepi, hanya lampu di pinggir jalan yang menerangi.

Kami sudah bersiap berkendara.

Ardy di depan.

Saya di belakang.

"Nyalain motor beatnya, Dy!" kata saya.

"U-uh, o-oke." 



5 detik berlalu...

Ardy malah nyalain lampu sen.



10 detik berlalu...

Ardy malah bunyiin klakson.



15 detik berlalu...

Ardy malah nurunin standar. 



"Sejak kapan mau nyalain motor harus klakson sama nurunin standar, Dy?" tanya saya, heran.

"I-iya, ya. Bingung soalnya."

Sebagai kakak yang baik dan cerdas, saya lalu menasehatinya dengan iringan lagu motivasi ala Mario Teguh.

"Ehem...." 

"Coba itu standarnya dinaikin dulu."

"Karena ini motor matic, itu rem di tangan kiri kamu tarik sambil starter, Dy."



BRRRRRRRRR!!!!!



Motor akhirnya menyala. Membuktikan bahwa predikat saya sebagai kakak yang baik dan cerdas itu benar adanya.

"Coba digas."

"O-oke"

Motornya gerak. Tapi lambat banget. Nenek-nenek lagi jogging aja lebih cepet daripada ini.

"Coba lebih cepet lagi, Dy."

"Eee... Segini?"

"Belum, lebih kenceng lagi."

"Segini?"

"Lebih kenceng lagi!"

"Woooo!"

Ardy kaget sama gasnya sendiri. Padahal kecepatannya cuma 20 km/jam. 

"Ardy, jangan lebay."

"Umm... Oke..."

"Sekarang, naikin sampe 40 km/jam."

"Hah? Secepet itu?"

"Itu nggak cepet. Coba dulu, deh."

Ardy naikin kecepatan pelan-pelan. 

Sukses.

"Stabil terus di kecepatan ini. Jangan berubah-berubah."

Ardy mengangguk.

"Coba kita muter-muter komplek ya. Abis itu kita pulang ke tempat Bude."

Alhamdulillah, sesudah beberapa putaran. Kami pulang dengan selamat, tanpa melukai diri sendiri dan orang lain.



***

Sesi #2 "Belajar Motor Bareng Mas Aldy"

"Ardy, pake helm. Sekarang kita coba lanjut ke jalan gede."

"Kok langsung ke jalan gede?"

"Kalo latian cuma di sekitar komplek, kamu nggak bakal diem di tempat. Udah saatnya, kamu belajar di jalan yang rame. Biar kamu ngerti ganasnya jalanan di kota besar." kata gue, menceramahi.

Raut muka berubah. Matanya melotot, keringatnya turun pelan menelusuri dahinya. Ardy kayak mau ketemu ajalnya.

"Tenang aja. Nggak usah tegang. Kan, ada Mas Aldy. Nanti Mas bakal ngasih arahan biar kita nggak kenapa-kenapa."

Kami lalu menaiki motor Beat milik Bude. Ardy menyalakan motornya, kali ini tanpa kesalahan. 

Motor Beat kami memasuki jalan besar, karena masih pagi, jalanannya masih sepi. 




"Oke, Ardy. Sekarang kita belajar nyalip."

"Ha? Nyalip?"

"Iya, nyalip. Coba liat truk gede itu. Yang jalannya di tengah jalan. Salip truk itu, Dy.."

"Aduh. Susah banget."

"Coba dulu, Dy." ucap gue, menyemangati. "Jangan nyerah, sebelum nyoba."

"Haduh."

Dengan ragu-ragu, Ardy menggas dengan kecepatan 40 km/jamnya.

"Salip dari kanan, Dy."

"O-oke."

Motor kami sudah berada di sebelah kanan truk itu. Namun, nggak seperti nyalip pada umumnya, Ardy malah menyamakan kecepatan motornya dengan truk itu.

"Kok nggak disalip? Ayo, cepetan tambah kecepatannya."

"Gimana caranya?" tanyanya, bingung.

"Ya, digaslah, Dy."

"Lebih dari 40?" tanyanya lagi.

"Ya, iyalah!"

Gue menambahi, "Udah cepetan, digas!"

"Bentar-bentar."

"Haduh. Bentar kenapa lagi? Itu cuma di... Lho, lho?" Gue melirik ke arah truk di sebelah kiri kami. "Truknya makin lama, makin nyerempet ke arah kanan. Cepetan disalip, Dy!"

"Lebih dari 40?" tanyanya sekali lagi.

"IIYYYAAAAA!!!!"

WUUUUSSSSSSS!!

Ardy ngegas sampai 60 km/jam. 

Mirip kayak adegan di Mission Impossible, kami lolos dari dempetan truk di detik-detik terakhir.

"Alhamdulillah. Slamet." kata gue, ngelus dada.

"Ternyata seru juga, ya." ucap Ardy, polos. "Jadi, kita mau kemana lagi, nih?"

"Pulang."

"Sekarang, kita balik ke rumah Bude. Menyelamatkan nyawa sebelum terjadi kecelakaan."





***

Itu sebagian dari liburan kami di SBY. Selain ngajarin Ardy naik motor, Bude mengajak kami liburan ke Bali. Kalo nggak salah, kami berangkat dari malam Natal, dan sempet mampir ke tempat wisata yang lain.

kawah Ijen, Banyuwangi. Kiri, ada Ardy, dan kanan, ada Mecca

Dan ini saya, sedang memikirkan beratnya beban kehidupan


Saya umur 23 tahun, Ardy umur 15 tahun. Tapi tinggi kami hampir sama. Ardy memang hobinya makan bambu, sih, di rumah





Itu Bude, mbaknya Ibu, bawa kresek isi kacang

Cara pose yang benar

Cara pose yang salah



SWAG mode

Bali Zoo

Mbak Dina lagi ngasih makan kangguru



kata guardnya, burung ini memang suka matok kayak earphone sama gelang. Soalnya, mereka ngiranya itu biji-bijian
Kintamani, Bali




GWK, Bali











Pantai Sanur, Bali








Goa Gajah, Bali

Anak kecil begini aja, udah suka selfie. Jangan-jangan dia udah punya instagram lagi? Ckckck. Anak muda, anak muda




Ardy abis beli kacamata. Bukan karena dia minus, atau silinder. Tapi cuma buat gaya-gayaan doang. 

Sunset! Nggak afdol kalo nggak liat indahnya sunset di Bali

Pantai Dreamland, Bali

















Jadi, di pantai itu, ada yang moto prewedding di situ. Kayaknya bukan orang Indonesia. Antara orang Cina atau Jepang, Pokoknya mirip-mirip kayak di Metro Xin Wen, deh



4 foto ini dan di bawah ini, ditemukan saat perjalanan pulang. Bude lagi nyetir, saya inisiatif ambil kamera Bude buat ngambil fotonya. Bagus banget pemandangannnya! 




Itu dia, pengalaman dan kumpulan foto-foto liburan saya di SBY dan Bali. Semoga aja besok ada liburan ke suatu tempat lagi. Dan pastinya, bakal saya share lagi di sini.



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

Anakin Skywalker vs Luke Skywalker, Siapa Yang Lebih Kuat? #Ngampus



#Ngampus (Ngobrol Sama Temen Sekampus)

*Postingan ini dibuat karena di grup LINE saya sempet rame bahas Star Wars: The Force Awakens*

*SPOILER ALERT*




Dani: Jelas sekali lebih kuat Luke. Lihat endingnya episode 6, Return of The Jedi, Luke ngalahin Darth Vader. Berarti Luke jauh lebih kuat.

Adam: Don't compare Luke with Darth Vader. Bandinginnya, pas mereka sama-sama di puncak kekuatannya. Anakin Skywalker di episode 3 versus Luke Skywalker di episode 6.

Dani: Sama aja. Darth Vader itu sama kuatnya kayak Anakin di episode 3.

Adam: Nggak, lah.

Dani: Sama!

Adam: Nggak! Beda! Totally different person! Anakin Skywalker episode 3 jauh lebih kuat, lebih lincah, lebih ....

Dani: Gampang galau?

Adam: Damn it. The truth is Anakin is so much stronger than Luke. Believe that.

Dani: Tidak. Aku tidak akan percaya.

Yoga: Asline do ngomongke opo to iki?

Dani: Star Wars. Film yang barusan kita tonton. Tapi, ini sedang membahas film episode yang sebelumnya. Sedang membahas siapa yang lebih kuat, Anakin Skywalker atau Luke Skywalker?

Yoga: Oalah. Aku rung tau nonton. Dadi ra mudeng. Ben, kowe mudeng ra?

Beni: Hmmm? Ngerti. Kalo menurut gue, yang paling dahsyat adalah ....

Adam: Anakin?

Dani: Luke?

Beni: Bukan.

        Yang paling dahsyat adalah ....

*yang lainnya mendengarkan dengan seksama*

Beni: Princess Leia pake bikini emas.

Dani: Astaga. 

Adam: Nyesel dengerin lo, Ben.

Beni: Kenapa? Kalian nganggep bikini emas sama rambut donatnya itu bukan sesuatu yang dahsyat? Wah, wah, predikat kalian sebagai laki-laki benar-benar perlu dipertanyakan.

Adam: Itu keren, tapi itu bukan topik yang kita bahas.

Dani: Iya, kita sedang membahas betapa kuatnya Luke Skywalker.

Adam: Come on. Anakin is better jedi! He is the chosen one! He killed Darth Sith!

Dani: Itu memang benar. Anakin punya kesempatan bunuh Sith di episode 3, tapi baru kesampaian di episode 6. Sungguh, kuat dan cerdas sekali, ya.

Yoga: Kowe do ngomongke Anakin, Luke, tapi tetep wae aku nganti saiki, ra mudeng sopo kui Anakin, sopo kui Luke.

Adam: Luke itu kakek-kakek yang nongol di ending film tadi, Yog.

Yoga: Oh, yang tua itu?

Adam: Iya.

Yoga: Yang jenggotan?

Adam: Iya.

Yoga: Yang mukanya keriput?

Adam: Yog, kamu cuma beberin ciri-ciri kakek-kakek pada umumnya. Dan jawabannya, tetep sama. Iya.

Yoga: Hmmm... Mudeng aku saiki. Yang nggak ngomong sama sekali itu, to?

Adam: Astaga.... Iya.

Yoga: Terus opo hubungane Luke karo Anakin? Sopo kui Anakin? Ketoke mau ra enek sing jenenge Anakin.

Dani: Anakin itu....

Beni: Stop. Stop. Biarkan yang ngerti Star Wars aja yang jelasin. Gini, Yog. Pada suatu hari...

Adam: Emangnya dongeng SD, pada suatu hari? What kind of joke is that?

Beni: Sstt.... Diam. Duduk yang tenang. Dan dengarkan.

Adam: Whatever.

Beni: Pada suatu hari, hidup Anakin Skywalker. Menurut ramalan, dia adalah "orang yang terpilih". Orang yang mampu menyeimbangkan sisi terang dan sisi kegelapan. Namun, bukannya melaksanakan takdirnya, Anakin malah berbuat semena-mena. Ayo, anak-anak, coba tebak apa yang Anakin lakukan?

Adam: Shut the fu....

Dani: Bergabung ke sisi kegelapan?

Adam: ASTAGA. Ngapain juga pake dijawab. Kayak bocah aja.

Beni: Tepat sekali! Dia bergabung ke dark side. Lalu....

Adam: Just cut the crap. Anakin punya anak. Kembar. Leia. Sama Luke. Iya, Anakin, si Darth Vader, itu ayahnya Luke. Kakek-kakek yang cuma nongol secuil di Star Wars: The Force Awakens.

Dani: Penjelasan itu ada di episode 5 dan 6, Yog. Kalo kamu mau ngopy, aku ada kok filmnya.

Yoga: Boleh, boleh. Saiki aku mudeng, dadi Anakin ndue anak jenenge Luke. Terus Luke ndue anak jenenge Rey? Rey Skywalker?

Dani: Nah, kalo itu....

Adam: Bener banget! Rey itu pasti anaknya Luke.

Dani: Belum tentu. 

Adam: Just believe the truth, dude. Rey is Skywalker. End of discussion.

Dani: Ada kemungkinan, Rey itu karakter baru. Tanpa embel-embel Skywalker.

Adam: No way. Skywalker suits her perfectly.

Dani: Atau malah, anaknya Leia-Solo.

Adam: Not gonna happen. "Skywalker, she is." said Master Yoda.

Dani: Ayolah, tidak mungkin segampang itu. Pasti akan ada semacam twist di episode 8. Misalnya ......







*kamera mulai menjauh dari mereka*

*obrolan mereka mulai tidak terdengar lagi*

*diskusi siapa yang lebih kuat, Anakin atau Luke, jadi topik yang nggak bakal selesai-selesai. Kecuali, kamu. Iya, kamu, orang keren yang lagi baca postingan ini, punya teori sendiri tentang siapa yang lebih kuat. Silakan tulis di kolom komentar. Tambah juga tentang siapa itu Rey juga boleh*


Akan saya tutup dengan mempromosikan jualan online saya, Arsenio Store ID. Tempat menjual Apparel seperti Sweater, Hoodie, dan Celana yang simple dan minimalis. Cocok untuk traveling dan nongkrong. 

Untuk melihat produknya, bisa kunjungi Instagramnya, di @arsenio.store.id, dan Tokopedianya, Arsenio Apparel Store.

Instagram: @arsenio.store.id

Tokopedia: Arsenio Apparel Store



- short description about the writer-

I talk & write about movies and pop culture

munggah