Awal Desember, alhamdulillah mendapat “tugas” untuk mendokumentasikan acara Tedak Siten. Ini adalah rencana pengeditan yang akan saya lakukan untuk video dari acara tersebut.
Setelah berjualan Crepes, kami mencoba berjualan makanan lain. Awalnya, hanya niat memberikan risol ke salah seorang dosen kami, malah ternyata keterusan untuk serius berjualan risol.
Mulanya, penjualan kurang memuaskan. Istri lalu mencoba chat satu per satu kontak yang ada di whatsapp (yang tentunya potensial membeli). Dari situ, ternyata banyak orderan yang masuk. Kami pun mulai membuat risol sesuai jumlah pesanan.
Saya hanya bisa membantu sebisa saya, istri saya yang lebih menguasai dunia memasak dan tentang risol ini. Kami membuatnya malam hari, sesudah anak tidur, sekitar jam 8an. Itu pun ada yang akhirnya selesai pada jam 11, jam 1, bahkan ada yang sampai jam 2 pagi.
Menunya cuma dua, mayonnaise dan creamy pizza. Ada frozen pack dan ada pack yang digoreng. Tapi, membuat itu semua tetap membutuhkan durasi yang lumayan lama.
Sabtu, 28 Oktober 2023, kami mengantarkan 70 risol ke pelanggan. Pembelinya sekitar 4-5 orang, tapi tiap orang langsung membeli banyak risol.
Proses mengantarkan pesanannya: kami janjian di suatu lokasi, lalu kami melakukan transaksi COD di situ. Kami memilih lokasi yang berada di tengah-tengah, agar tidak jauh bagi semuanya.
Alhamdulillah, tidak ada kendala selama pengiriman pesanan. Semuanya lancar. Minggu depan sudah ada pesanan lagi, kemungkinan kami akan melakukan COD-an lagi seperti ini.
Saya membuat postingan ini di akhir Juli 2023, dengan usia pernikahan 2,5 tahun. Masih sangat seumur jagung. Masih termasuk di halaman awal dari ribuan halaman perjalanan di depan.
Kepala Keluarga
Menikah bagi laki-laki, berarti menjadi kepala keluarga. Menjadi pemimpin untuk istri dan anak. Menafkahi keluarga, memenuhi kebutuhan mereka.
Bagi pria yang sudah menikah bertahun-tahun, mungkin sudah terbiasa dengan menjalani 3 peran sekaligus:menjadi kepala keluarga, bapak, dan suami.
Saya masih beradaptasi dengan hal itu.
Dulu, bangun pagi, saya hanya memikirkan apa yang saya lakukan dalam satu hari itu. Apa saja yang harus dipersiapkan, apa saja rencana ke depannya. Sekarang, saya bangun pagi, pikiran saya langsung terpecah menjadi beberapa cabang.
Saya bangun tidur sekitar jam tiga pagi. Saya pertama langsung mengecek popok bayi apakah tembus atau tidak. Terus saya membenarkan posisi tidurnya. Bayi mulai banyak gerak saat tidur. Saya sudah di tahap tidak kaget lagi ketika bangun-bangun ada kaki bayi di kepala saya.
Saya bikin kopi untuk memberikan fokus lebih di pagi hari. Kalau cucian piring masih menumpuk, ya sekalian saya cuci dulu. Kalau ternyata sudah selesai, saya bisa langsung mengerjakan kerjaan saya.
Saya punya waktu kurang lebih 2 jam sebelum waktu solat Subuh, dan sebelum memasuki waktu istri saya memasak. Istri memasak biasanya dimulai dengan menanyakan mau makan apa hari ini, lalu mengecek bahan dapur sudah lengkap apa belum, kalau belum berarti beli dulu, kemudian baru kembali ke dapur untuk memulai memasak.
Saat istri memasak, saya punya opsi: apakah saya lanjut mengerjakan kerjaan saya atau mau bersih-bersih rumah (menyapu, mengepel, dan sejenisnya). Tapi biasanya dua opsi terhapuskan ketika anak saya bangun. Berarti saya harus menemaninya, juga menjaganya jauh dari dapur agar tidak menganggu urusan masak-memasak.
Contoh lain,
Dulu, saat saya naik motor, yang saya persiapkan, ya, helm saya, masker saya, dan barang bawaan saya (dompet, helm, powerbank, sunglasses, dll). Sekarang, saat saya naik motor, saya harus mempersiapkan barang bawaan saya, barang bawaan istri, dan barang bawaan bayi.
Barang bawaan bayi itu berarti satu tas merah kecil berisi: botol air minum bayi, tisu kering, tisu basah, popok cadangan, kaus kaki, dan masker.
Barang bawaan istri sebenarnya lebih sedikit dan kurang lebih sama dengan saya, tapi ini harus tetap saya cek dan tanya ke istri apakah semuanya sudah lengkap.
“Dompet sudah bawa?”
“Handphone?”
“Hand sanitizer?”
Semua ini menjadi hal lumrah yang harus dilakukan. Karena sekarang, saya berjalan satu paket, satu keluarga dengan istri dan anak saya.
Bapak
Saya sekarang punya anak laki-laki menuju dua tahun.
Fasenya sekarang, suka nimbrung di semua kegiatan yang saya lakukan.
Ketika saya lagi cuci piring, dia akan ambil kursi, ditaruh di samping saya, lalu berdiri di atas kursi tersebut. Kadang cuma melototin dari samping, kadang ingin mencoba membantu dengan tangannya maenan keran air. Piring dan gelas tetap tidak bersih, tapi airnya jadi kemana-mana.
Usianya yang menuju dua tahun, saya mulai diingatkan dengan Terrible Two. Istilah yang menggambarkan perubahan suasana hati dan perilaku anak pada usia 2 tahun. Misalnya di menit pertama, anak saya akan asyik bermain dengan mainannya. Tidak lama kemudian, ia bisa merasa kesal dengan mainannya tersebut. Bisa langsung menangis atau berteriak-teriak.
Jadi saya sudah tidak kaget, kalau saya lagi duduk santai menemani anak maen, tiba-tiba ada mobil mainan kelempar ke muka saya.
Lempar-melempar dan menjatuhkan barang ini memang menjadi rutinitasnya.
Lagi makan duduk tenang, tiba-tiba piring dipukul.
Lagi minum beberapa teguk, tiba-tiba langsung dibuang botol airnya.
Fase ini tidak terjadi satu dua jam dalam sehari, ini terjadi dalam keseluruhan hari. Pagi siang sore malam.
Dari bangun pagi yang langsung melompat sangat semangat, sampai susahnya untuk menidurkan kembali di kasur.
Orang tua dituntut ekstra sabar, juga harus ekstra tenaga.
Suami
Dan dari itu semua, ada istri yang harus tetap diutamakan. Ada ceritanya yang harus didengarkan, ada masalahnya yang harus diselesaikan.
Istri mengalami banyak perubahan. Beda sekali saat sebelum menikah, setelah menikah, saat hamil, ketika pemulihan setelah lahiran, dan setelah punya anak satu.
Moodnya yang naik-turun harus ditemani dengan sabar dan waktu yang tepat untuk memberikan tanggapan.
Karena kadang, yang ia butuhkan hanyalah saya menemaninya, sambil mendengarkan ceritanya. Tanpa saya harus memberikan solusi atau komentar apapun.
Tuntutan membaca kondisi dan situasi dengan baik, memang saya akui agak sulit. Ini masih saya terus pelajari. Satu waktu, bisa pas. Lain waktu, tidak pas, dan saya yang harus membuatnya kembali ceria seperti sedia kala.
Beberapa minggu yang lalu, saya dan istri sempat jalan berdua untuk pertama kalinya setelah punya anak. Kurang lebih harus menanti 1,5 tahun agar bisa menonton film berdua saja tanpa anak.
Kegiatannya sederhana, kami nonton, kami makan, lalu kami pulang. Itu hanya terjadi dalam 3 jam, tapi itu sudah lebih dari cukup. Mengingatkan masa-masa sebelum punya anak. Memberikan jeda sebentar sebagai orang tua, memupuk kembali koneksi sebagai suami istri.
***
Dalam 24 jam, saya harus menjadi kepala keluarga, bapak, dan suami, dan saya masih dalam beradaptasi dengan hal ini.
Mengatur waktu, mengatur emosi, mengatur rencana. Mengurusi itu semua bersamaan, meski dengan tenaga yang tersisa.
Saya tentunya masih harus menjadi diri sendiri. Entah itu melakukan hobi yang dari dulu saya lakukan, atau duduk bengong saja tanpa memikirkan apapun (it’s really good, though).
Ketegangan di kepala harus diturunkan, emosi harus bisa diredam. Semua harus kembali ke titik nol untuk memulai hari baru. Karena untuk menjalani 3 peran sekaligus, butuh energi ekstra yang sudah kembali terisi.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂
Dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada tiga definisi dari eksplorasi. Saya akan ambil salah satunya saja. Di sana tertulis, eksplorasi adalah kegiatan untuk memperoleh pengalaman baru dari situasi baru.
Anak saya sudah memasuki usia 14 bulan. Yang ia butuhkan adalah banyak-banyak eksplorasi.
Sekarang, fasenya adalah sering meminta keluar rumah. Paling mudah, paling dekat dengan rumah, dan paling aman dari kendaraan, ya, berjalan di taman. Eksplorasinya di taman, berkeliling dari ujung ke ujung, melihat dan mengambil batu juga daun, dan tentunya, belajar mencoba apa yang ada di sana.
Ketika berjalan di taman terasa membosankan, kamu pun pergi ke tempat lain, sekalian memperkenalkan nama-nama hewan. Kami pergi ke Kebun Binatang Surabaya.
Dengan tiket 15 per orang, kami ke sana tepat hari Minggu. Hari di mana sangat ramai sekali kebun binatangnya. Kami mengelilingi dan memperkenalkan hewan secara langsung kepada Arsya. Kadang ia perlu digendong karena tidak terlihat dari strollernya, kadang ia bisa melihat secara dekat, seperti saat di kandang rusa.
Eksplorasi tidak harus pergi sejauh ini sebenarnya. Karena eksplorasi bisa dengan melakukan yang berbeda, di dalam ataupun di luar rumah.
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂
Terima kasih sudah membaca sampai akhir. Kalau kamu suka tulisan ini, kamu bisa follow akun KaryaKarsa saya di sini. Dan kamu bisa mengapresiasi kreator, dengan cara memberikan tip di KaryaKarsa. Have a nice day 🙂
Menata barang di rumah baru adalah tentang penyesuaian antara benda yang kita punya dan ruangan yang tersedia.
Akan ada benda yang letaknya sama persis dengan rumahlama, ada juga yang mengalami sedikit perubahan, dan ada pula yang tersingkir di gudang belakang.
Setelah selesai menata barang, akhirnya kami resmi tinggal di rumah baru. Sekarang, yang kami butuhkan adalah waktu untuk menyesuaikan dan membiasakan.
Menyesuaikan dengan isi rumah dan lingkungan sekitar perumahan. Membiasakan dengan kondisi sekarang, tanpa harus membandingkan.
Semoga rumah ini dapat mengabulkan tujuan utama kami, yaitu memenuhi kebutuhan keluarga dan ruang untuk tumbuh dewasa anak kami.
Seperti biasa, pindahan selalu dimulai dengan packing. Membereskan dan merapikan barang yang akan dibawa. Ini lumayan menjadi PR, apalagi setelah barang-barang bayi semakin bertambah banyak.
Packing selesai, berarti waktunya memindahkan barang ke rumah yang dituju. Kemungkinan besar, ini tidak akan selesai dalam sekali jalan.
Sesudah semua barang selesai dipindahkan, tugas selanjutnya adalah menata barang di rumah baru. Ini seperti memulai lagi dari awal, menaruh barang satu per satu, meletakkannya sesuai dengan ruangan yang tersedia, menyesuaikannya dengan kebutuhan keluarga dan ruang untuk tumbuh dewasa anak kami.
Dan selama itu pula, rumah yang akhirnya saya dan istri pilih, telah menemani perjuangan kami sebagai keluarga. Dari awal-awal mengisi rumah. Saat istri masih hamil. Saat anak pertama kami baru lahir. Sampai, ketika anak kami mulai belajar merangkak dan mulai MPASI (Makanan Pendamping ASI).
Terkesan baru sebentar, kami memulai perjalanan di rumah ini. Namun, sudah banyak kenangan dan momen besartelah tercipta.
Hanya saja, semakin besar anak kami, semakin banyak barang dan ruang yang dibutuhkan. Dan di rumah ini, mulai kesulitan memenuhi itu.
Jadi, kami memutuskan untuk pindah. Pindah ke tempat yang lebih baik, ke rumah yang lebih mencukupi kebutuhan keluarga. Rumah, yang kami harap, dapat memenuhi tempat tumbuh dewasaanak kami.