Sejarah Converse Chuck Taylor


Saya sedang belajar berjualan sepatu.

Tepatnya, sepatu sneakers. Dari semua sneakers yang saya jual, saya paling punya keterkaitan tersendiri dengan merek Converse.

Agar memperluas pengetahuan tentang Converse dan Chuck Taylornya, saya banyak membaca tentang sejarahnya.

Awalnya disebut sebagai Converse Rubber Corporation (1908). Perusahaan alas kaki serta sepatu kerja berbahan karet.

Karena alasan tertentu perusahaannya memutuskan membuat sepatu olahraga (1917). Lalu di 1920, Converse mulai memproduksi sepatu ini dengan warna hitam berbahan kanvas dan sol karet tebal.

Masuknya pebasket bernama Chuck Taylor dan percaya bahwa sepatu ini bisa besar di industri bola basket. Tahun 1921, ia bergabung sebagai pegawai sales Converse dan pemain basket yang disponsori oleh Converse, Converse All-Stars.

Sejak bergabung, Chuck Taylor berkeliling untuk pelatihan basket. Ia juga mempromosikan sekaligus menjual sepatu Converse. Karenanya, sepatu tersebut semakin populer. 

Ia juga sering memberi ide dan masukan desain agar sepatunya lebih baik dan lebih nyaman.

Berkat jasanya, tahun 1932, Converse menambahkan tanda tangan Chuck Taylor di logo, pada bagian pergelangan kaki sepatu Converse. Semenjak itu, nama Chuck Taylor identik dengan Converse.

Converse Chuck Taylor semakin merajai pasar sepatu basket.

Sampai pada 1950an, sepatu Converse memegang 80% pangsa sepatu sneakers. Chuck Taylor sendiri diangkat sebagai Ambassador to Basketball. Tahun 1968, ia juga dimasukkan ke dalam Basketball Hall of Fame.

Setahun sesudah itu, Chuck Taylor meninggal dunia.

Banyak perusahaan saingan yang mulai memproduksi sepatu tandingan yang punya model & warna baru, serta teknologi yang lebih canggih.

Akibatnya, pasar Converse mulai berkurang.

Pada tahun 1970an, sepatu Converse beralih menjadi simbol anti mainstream, terutama untuk para rocker. Itu semakin naik pada 80an dan 90an, banyak orang terkenal seperti Kurt Cobain dan band Gun N’ Roses memakai Converse.

Namun, itu tidak bertahan lama.

Converse terancam bangkrut di tahun 2001.

Masuklah Nike, mengambil Converse pada tahun 2003. Nike mencoba mempertahankan sepatu Converse sama seperti yang orang kenal. Dengan ciri khas yang sama, sepatu kanvas dan sol karet tebal.

Baru di tahun 2015, Nike mulai menambahkan teknologi yang ia punya ke sepatu Converse. 



Muncul Converse Chuck Taylor II. Penampilan luar hampir sama, tapi insole lebih ringan dan nyaman. Harga pun jadi naik, mengikuti teknlogi yang ia miliki sekarang. 

Tahun 2020 ini, Converse masih punya posisi di pasar sneakers. Desainnya yang bisa digunakan oleh siapapun, tetap menarik bagi para remaja. Klasik dan timeless. Harganya juga lebih murah dibanding Adidas dan Nike. Tentunya, Converse mencoba banyak hal baru dengan melakukan kolaborasi. Collab  mereka menurut saya adalah usaha mereka untuk update di zaman sekarang. 


https://bsd.city/sepatu-converse-sejarah-popularitas-dan-asal-usul-nama-chuck-taylor/


Blog ini akan selalu update (diusahakan) setiap hari. Berikut jadwal postingan sesuai tema yang paling sering keluar di blog ini:

Senin = GaryVee (Text Experience) translate English Indonesia, biasanya tentang bisnis, social media, dan kehidupan
Selasa = Musik Keren 
Rabu = Sebuah Observasi (opini/review)
Kamis = Tulisan Iseng
Jum’at = Interview
Sabtu = Cerpen
Minggu = Sneakers

Follow my blog: aldypradana.com

Instagram: @aldy_pradana17
FB Page: Aldy Pradana
SoundCloud: @aldypradana17
Youtube: Aldy Pradana 

https://www.tokopedia.com/arseniosneakers (tempat menjual sneakers murah)

Posting Komentar

munggah