Cerita Yang Tak Terpakai (2)

Baiklah, melanjutkan dari Cerita Yang Tak Terpakai (1), gue akan memberikan cerpen yang pernah gue bikin, tapi sekiranya gak bisa masuk ke naskah. Kali ini bercerita tentang masa kecil gue. Masih memiliki masalah yang sama dengan Petualangan Baru, cerita ini lebih terlihat seperti jurnal. Dan diputuskan tidak dimasukkan ke naskah, meski sebenernya cocok dengan tema dengan naskah yang lagi dikerjakan, yaitu adaptasi.

Mungkin, bakalan ada seri lanjutan dari postingan ini, tapi kalo penasaran cerita lain yang pernah gue posting dan gak bisa masuk ke naskah gue, bisa klik di cerpen berikut ini:


Cerita diatas adalah cerita yang tak bisa masuk, yang tentunya udah gue permak dulu sebelum dibawa ke penerbit. Gue ada file-nya, tapi gue putuskan untuk disimpan aja, hehe.

Buat yang pengin dapet update terus soal cerita gue, silakan klik disini dan disini. Sekarang, mending lanjut baca cerita masa muda gue aja. Happy Reading! :D


Kisah Aldy Kecil

Diantara pola hidup yang gue lalui, adaptasi adalah suatu hal yang rumit banget bagi gue. Saat gue udah terbiasa dengan sesuatu, sulit rasanya untuk meninggalkan sesuatu tersebut. 

Misal, 

Gue ingat waktu masih kelas satu SD, gue selalu diantar ibu ke sekolah. Selain mengantar, ibu juga menunggu gue masuk sekolah sampai gue pulang sekolah. Ibu selalu ada saat gue berada di sekolah. Dengan adanya beliau yang selalu menemani di sekolah, jelas memberikan rasa nyaman tersendiri buat gue.  

Kemudian, waktu gue naik ke kelas dua, kebiasaan itu mulai berubah.

Ibu masih mau nganterin gue ke sekolah, tapi sekarang, beliau udah gak mau nungguin gue. Setelah nganterin gue, beliau akan pulang, dan baru kembali lagi ke sekolah saat gue pulang. 

Karena sudah terbiasa ditunggu ibu di sekolah, saat beliau gak menemani gue lagi rasanya menjadi berbeda. Rasanya berubah menjadi tidak nyaman. 

Pernah karena saking tidak nyamannya, gue sampai harus meminta guru gue untuk menelpon ibu, dan meminta beliau datang ke sekolah untuk menemani. Iya, gue tau. Aldy kecil memang suka sekali merepotkan orang tuanya.

Seperti anak kecil pada umumnya, gue juga pernah merengek kepada ibu agar beliau tetap berada di sekolah nemenin gue. Gue mengeluarkan bakat terpendam yang pasti dimiliki setiap anak kecil di seluruh dunia. Bakat itu ialah berakting.

Anak kecil akan mengelurkan kekuatan aktingnya untuk mendapatkan apa yang ia mau. Kalo menginginkan mainan baru, mereka cukup memasang muka sedih, bibir merengut, alis yang ditekuk, dan suara melengking super menyebalkan. 

“Ma, aku pengin mainan itu. Beliin ya ma.”

Kalo misalkan cara itu gagal, anak kecil biasanya akan menangis, berteriak keras, dan tetap memaksa sampai keinginannya terkabulkan.

“HUUAAA! POKOKNYA AKU MINTA BELIIN MAINAN ITU!”

Kadang, anak kecil juga mengeluarkan ancaman yang sulit sekali dihadapi orang tua.

“KALO GAK DIBELIIN MAINANNYA AKU GAK MAU PULANG! POKOKNYA BELIIN DULU! MAMA JAHAAAAT!”

Orang tua yang mendengar teriakan anaknya seperti itu, entah karena risih mendengar anaknya menangis, atau karena malu dengan tingkah anaknya, biasanya akan mengabulkan keinginan anaknya. 

Dan sesudah orang tuanya membelikan mainan yang diinginkannya, anak yang tadinya menangis, langsung diam dan menjadi anak yang penurut. 

Misinya sudah sukses, aktingnya sudah tidak diperlukan lagi. 

Gue pernah melakukan hal seperti itu.

Gue pernah akting habis-habisan agar ibu mau nungguin gue. Menangis, teriak, guling-guling di tanah, semuanya gue lakuin demi ditemani ibu di sekolah.

Pertama-tama, cara itu berhasil.

Ibu nungguin dari gue masuk sekolah sampai gue pulang sekolah.

Namun, lama-lama, cara itu gak mempan lagi.

Ibu gak mau nungguin gue.

Beliau memaksa gue untuk belajar di sekolah tanpa ditemani. Beliau memaksa gue untuk bisa sekolah tanpa harus ditunggu. Beliau memaksa gue untuk beradaptasi.

Ibu berkata bahwa gue harus bisa menyesuaikan kebiasaan baru gue ini, sekolah tanpa ditemani. Ibu juga menjelaskan, gue mau gak mau, memang harus beradaptasi dengan hal ini. 

Mendengar nasehat itu, gue akhirnya mau mencoba sekolah tanpa ditunggu ibu.
Adaptasi ini sebenarnya butuh waktu yang gak lama, sekitar dua mingguan barulah gue udah bisa sepenuhnya beradaptasi dengan sekolah tanpa ditemani. Gue yang awalnya gak nyaman saat ibu gak ada di sekolah, akhirnya mulai terbiasa dan mulai bisa beradaptasi dengan hal itu.  

Setelah gue terbiasa sekolah tanpa ditemani ibu, gue kembali beradaptasi dengan hal baru lagi. 

Pada kelas tiga, gue mulai menyesuaikan diri untuk berangkat ke sekolah sendiri, gak lagi diantar oleh ibu. Kadang gue jalan kaki ke sekolah, kadang gue naik sepeda. Sekolah gue memang jaraknya gak jauh dari rumah. Jadi, tiap berangkat dan tiap pulang sekolah, hanya butuh beberapa menit aja.

Itu contoh adaptasi yang gampang. 

Adaptasi yang susah ialah saat ayah harus bekerja di Jakarta.

Ayah diterima sebagai salah karyawan koran Kompas. Katanya, beliau akan bekerja di bidang desain grafis. Dengan perginya ayah ke Jakarta, itu berarti gue harus terbiasa di rumah hanya bertiga aja. Hanya ibu, gue, dan Ardy. 

Agar bisa tetap dekat dengan ayah, kita bertiga tetap berkomunikasi lewat telepon.

Seingat gue, kita belum punya handphone, hanya telepon rumah. Ayah yang memiliki handphone. Mereknya Motorola dengan layar yang cuma bisa memuat dua warna, oranye dan hitam. 

Saat ibu yang menelpon ayah, gue dan Ardy duduk berdempetan dan saling menempelkan telinga kearah telepon. Kita saling bertanya kabar satu sama lain. Gue dan Ardy bertanya banyak hal, seperti “Bagaimana rasanya hidup di Jakarta? Ayah tinggal dimana? Ke kantor naik apa?” 

Begitu banyak pertanyaan yang harus keluar, begitu banyak jawaban yang harus dijawab. Namun, hanya satu pertanyaan yang menurut gue paling penting untuk dijawab,  “Ayah kapan pulang?”

Ayah menjawab, akan pulang sekitar sebulan sekali atau mungkin dua bulan sekali. Paling mungkin antara awal bulan atau akhir bulan. Dan selama di Solo nanti bakalan sebentar aja, sekitar 2 hari, lalu beliau harus kembali lagi kerja di Jakarta. 

Jawaban yang kurang memuaskan, tapi mau gak mau harus kita terima.

Kita harus mengerti, kerja diluar kota memang merepotkan sekali.

Perubahan ini butuh proses penyesuaian yang jauh lebih besar dan lebih rumit. Sesuai dengan nasehat ibu, gue harus beradaptasi pada keadaan ini, dan pada kali ini, gue memerlukan proses adaptasi yang jauh lebih kompleks dari sebelumnya.

Gue harus membiasakan diri hidup tanpa ayah di rumah. Gue harus membiasakan diri hidup bertiga hanya dengan ibu dan adik gue. Gue harus membiasakan diri dengan pola hidup yang baru ini. Gue yakin bisa ngelewatin ini dengan mudah.

***

Beberapa bulan berlalu, kita sudah terbiasa dengan ini. 

Kita terbiasa dengan jumlah penghuni yang hanya tiga orang. Kita terbiasa dengan ayah yang pulang hanya tiap akhir bulan. Kita juga terbiasa berkumpul sekeluarga pada satu rumah hanya beberapa kali aja. 

Kita semua berhasil beradaptasi dengan pola hidup seperti ini.

Sempat berpikir ini akan terasa susah, tapi sehabis kita hadapi cukup lama, ternyata kita bisa melaluinya juga.

Dari kejadian ini gue belajar, yang diperlukan dalam memulai kebiasaan baru adalah kemauan dalam beradaptasi. Dan jika sudah terbiasa dengan kebiasaan baru tersebut, maka gak akan ada lagi yang namanya beradaptasi, yang ada hanyalah menjalankan sebuah rutinitas. Sebuah kebiasaan yang memang sudah sering kita lakukan, yang kita lalui tanpa beban dan hambatan.

Dan sekarang, waktunya gue menganggap hidup bertiga dengan ibu dan adik gue adalah sebuah rutinitas. 

2 comments

kadang keterpaksaan menyebabkan kita jadi terbiasa... hehe

Reply

Begitulah adaptasi, terpaksa atau tidak, kita pasti akan terbiasa :D

Reply

Post a Comment

munggah