Cerita Yang Tak Terpakai (1)

Kalo misalkan kalian udah membaca postingan gue tentang perjuangan menjadi penulis buku (part 1 dan part 2), kalian pasti ngerti gue sedang rajin-rajinnya membuat cerita komedi. Nah, dari sekian banyak cerita yang gue tulis, ada satu cerpen yang kata Mas Syafial harus dirubah total. 

Menurut beliau, cerpen ini gak berasa seperti 'cerpen'. Jatuhnya lebih ke jurnal pribadi. Dan setelah gue baca-baca lagi, ternyata memang bener. Lebih kayak catatan pribadi atau diary gitu, gak ada konflik dan semacamnya. Oleh karena itu, cerpennya harus dirubah. Mengambil premis kecil dari salah satu adegan di 'cerpen tapi bukan' tadi, Mas Syafial menyuruh gue untuk mengembangkannya, dimana sedang gue kerjakan sekarang.

Lalu, ada pertanyaan dari hati, "Terus 'cerpen tapi bukan' ini gimana? Dibuang sayang, masa gak kepake?"

Akhirnya, gue mengambil jalan untuk menaruh cerita itu di blog. Disini. Di blog gue. Mungkin, akan banyak kekurangan di 'cerpen tapi bukan' ini, tapi gapapa, karena ini merupakan cerpen pertama yang gue buat dalam naskah ini. Hanya sekitar 20% dari cerita dibawah ini, yang gue putuskan untuk 'tetap ada', dan sisanya harus terhapus tombol backspace di laptop adik gue. 

Jadi, selamat membaca salah satu 'cerpen tapi bukan' gue ini yang berjudul Petualangan Baru. Enjoy!


“Untuk mempelajari kehidupan jiwa manusia, kita tidak cukup hanya mempelajari bagian jiwa yang sadar dan tingkah laku yang tampak, tetapi juga harus meliputi bagian yang tidak sadar. Sebab, banyak pikiran dan perasaan yang berada dalam lapisan tidak sadar dan secara terus-menerus memengaruhi tingkah laku manusia.“ kata salah satu dosen yang sedang mengajar di kelas gue.

Dosen tersebut menjelaskan materi kuliahnya dibantu slide power point yang ditampilkan di layar LCD. Teman-teman gue terlihat memerhatikan dan mencatat apa yang dijelaskan beliau. Gue sendiri sedang duduk dengan tenang, memerhatikan dosen, sambil melakukan kegiatan multi-tasking.

Kegiatan ini sudah menjadi kebiasaan yang sering gue lakukan di kelas.

Intinya ialah melakukan banyak pekerjaan dalam waktu yang bersamaan.

Jadi, telinga gue mendengarkan apa yang dosen terangkan, tangan kanan memegang pulpen siap mencatat, dan tangan kiri memegang handphone untuk scroll timeline di twitter. Mata gue kadang menatap dosen dan kadang menatap handphone. Tak jarang mata gue menutup secara perlahan tanda mengantuk. Kegiatan multi-tasking ini sangat membantu gue yang mudah bosan saat kuliah.

Bisa dibilang ini adalah beberapa tahapan yang sering gue lakukan waktu kuliah:

Masuk kelas – mendengarkan dosen – kegiatan multitasking – ketiduran di kelas – dibangunin dosen – diceramahin dosen – dikasih tugas tambahan sama dosen –  gue ngambek – bolos mata kuliah jam berikutnya – pulang – tidur di rumah

Kira-kira itulah keseharian gue sebagai mahasiswa psikologi.

Sekarang, gue sedang berada di kelas kecil bersama 23 mahasiswa lainnya, mendengarkan dosen yang masih sibuk menerangkan.

Kaum wanitanya mendominasi kelas, sedangkan kaum pria menjadi semacam kaum minoritas dengan jumlahnya yang hanya 5 orang. Diliat dari sisi positifnya, ada kemungkinan poligami bisa terjadi jika tiap cowok sanggup menikahi cewek dari kelas ini. Satu cowok bisa mendapatkan 4 atau 5 cewek sebagai istri.

Tapi, setelah gue pikir-pikir, gue sepertinya bukan pendukung poligami.

Selain karena mahalnya pengeluaran yang akan dikeluarkan, gue juga akan bingung menjawab pertanyaan dilematis dari salah satu istri gue, yaitu pertanyaan jebakan seperti ini: “Menurutmu, siapa istri kamu yang paling cantik? Pasti aku kan sayang? Iya kan? Pasti aku kan? Jawab dong, kok malah diem sih sayang?”

Mending jomblo deh, daripada harus menjawab pertanyaan kayak gitu.

Di kelas, gue masih jarang berkumpul dengan teman sekelas. Sebagai anak berasal dari luar kota, gue masih belum bisa beradaptasi sepenuhnya dengan bahasa daerah dan bercandaan mereka. Maka, gue terkadang masih suka menyendiri daripada nongkrong bersama mereka.

Tadi gue sudah menjelaskan suasana kelas gue, sekarang, mari kita kembali ke topik yang jauh lebih penting, yaitu gue. *narsis*

Mari membahas kenapa gue memilih jurusan psikologi.

Sebelum menaruh psikologi sebagai pilihan pertama, gue sempat memilih jurusan FKIP Bahasa Inggris terlebih dahulu. Gue ingin menjadi guru. Gue ingin mengajari murid-murid tentang bahasa inggris, memberikan ilmu yang bermanfaat kepada mereka, menjadi sosok yang berguna untuk bangsa dan negara. Menjadi pahlawan tanpa tanda jasa.

Tsaaah.

Apalagi gue merasa cukup kuat di bahasa inggris. Ya, ilmu gue pada bahasa inggris sekitar I like Aura Kasih, I miss Tyas Mirasih, I love Pevita Pearce, dan kalimat-kalimat bertipe sama.

Lumayanlah, sudah mengerti kalimat pendek dengan pola subjek, predikat, objek.

Menjadi guru bahasa inggris sudah terbayang-bayang di pikiran gue. Sudah terpampang betapa gagahnya gue nanti saat seorang murid tersenyum ke arah gue, menganggukkan kepala, dan menyapa, “Selamat pagi, Pak Aldy.”

Keren.

Namun, impian gue menjadi guru harus pupus.

Ayah melarang gue memilih FKIP.

Kata ayah, pekerjaan kedepannya terlalu sedikit. Susah bersaing di dunia kerja kalo gue benar-benar masuk FKIP. Seketika bayang-bayang menjadi guru langsung musnah. Khayalan gue yang sudah terlampau jauh harus sirna karena faktor ‘persaingan dunia kerja’. Gak ada lagi impian untuk mengajarkan ilmu ke murid-murid, gak ada lagi impian untuk disapa oleh salah satu murid dengan mukanya ramah dan lucu.

Gue gak bisa melawan nasehat ayah, jadi gue harus memilih jurusan lainnya.

Ayah sempat menawari gue masuk ke jurusan sastra dan seni rupa di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo. Ayah dan ibu gue lulusan seni rupa di UNS, jelas sekali kenapa ayah ingin gue masuk ke jurusan tersebut.

Gue sendiri memang suka hal-hal yang berbau seni, seni musik, seni menggambar, seni wayang, dan seni-seni lainnya. Gue sebenarnya suka-suka aja, akan tetapi, karena di pikiran gue masih ada bayang-bayang menjadi guru, gue pun menolak saran ayah.

Sampai pada suatu hari, gue bertemu dengan psikolog di Solo.

Gue cukup sering ngobrol bareng soal psikologi. Gue bahkan pernah beberapa kali konsultasi dengan beliau. Cerita tentang masalah keluarga, masalah sekolah, dan masalah gue di rumah. Pernah suatu waktu saat sedang konsultasi, beliau pernah me-hypnotherapy gue agar lebih rileks dan termotivasi ke depannya. Mirip sedikit sama hipnotisnya Uya Kuya, tetapi gak pake nangis dan drama yang berlebihan.

Sering bertemunya gue dengan beliau membuat gue berpikir, “Kayaknya seru juga nih jadi psikolog.”

Apalagi, psikologi masih berkaitan kuat dengan pendidikan. Dan karena masih ingin berperan di dunia itu, maka gue pun masuk ke jurusan psikologi.

***

     “Freud memberikan beberapa alasan untuk menunjukkan adanya lapisan jiwa manusia yang tidak disadarinya, yaitu adanya berbagai mimpi yang timbul pada waktu orang yang sedang tidur nyenyak.” lanjut dosen gue, menjelaskan teori dari salah tokoh terkenal, Sigmund Freud.

      Gue masih di tempat duduk yang sama, mendengarkan dosen yang sama, dan rasa bosan yang sama.

Ternyata, kuliah gak kayak di FTV ya.

Di FTV, kuliah itu terkesan asik, menyenangkan, gaul, dan keren. Pake baju gaul dengan brand terkenal, kuliah cuma beberapa menit doang lalu keluar dan hang out sama teman segank. Namun, di dunia nyata, kuliah isinya hanya mengerjakan tugas yang bertumpuk, presentasi pake power point, dan mendengar ocehannya dosen. Gak ada kerennya sama sekali.

Pantes aja guru les gue waktu SMA pernah bicara seperti ini, “Pas di SMA itu dimaanfaatin baik-baik. Itu momen terbaik, masa seneng-senengnya.” Sehabis mengalami sendiri kuliah itu seperti apa, akhirnya gue baru setuju dengan perkataan dari guru les gue.

Kuliah di Umsida berjalan dengan sangat lambat dan garing. Oh sebentar, gue belum cerita tentang kampus gue ya? Oke, akan gue ceritakan.

Gue kuliah di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).

Gue tau respon kalian mendengar kampus ini, pasti gak pernah denger kan? Kebanyakan orang memang gak tau mengenai kampus ini. Umsida memang bukan kampus terkenal seperti Unair atau ITS, secara kualitas juga kalah jauh. Orang yang tau kampus ini biasanya hanya mahasiswa yang belajar di kampus tersebut, dosen yang mengajar di kampus tersebut, dan orang yang bekerja di kampus tersebut.

Orang sidoarjo sendiri aja masih sedikit yang tau, pernah ada seorang ibu dengan baju khasnya (baca: daster) bertanya,

"Mas Aldy sekarang kerja ya?”

“Oh, enggak bu. Saya kuliah.”

“Kuliah dimana? Di Unair ya? Atau di ITS?”

“Bukan bu, bukan dua-duanya. Saya kuliah di Umsida, hehe.”

Suasana langsung hening.

Sepertinya, ibu tadi gak pernah mendengar nama kampus itu.

“Umsida?”

“Iya bu, Umsida.”

“Ada ya kampus mananya Umsida?”

“Ada bu, Umsida itu singkatan dari Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, itu berada tepat didepan RSUD Sidoarjo.”

“OOOOOOOOHHHH!”

“Ibu tau?”

“Enggak.”

Suasana hening lagi.

“Ibu tau sih RSUD, tapi ibu gak tau kalo didepannya itu ada kampus.”

Karena gak tau harus bilang apa lagi, akhirnya gue melipir pergi bilang ada urusan. Padahal aslinya bohong, gue cuma ingin segera melewati aja obrolan absurd barusan.

Rencananya, gue hanya sementara disini. Bude menyarankan gue ikut tes SNMPTN taun depan biar bisa masuk ke universitas yang lebih bagus di Surabaya. Jadi, katakanlah gue kuliah dengan setengah hati disini, kayak Squidward yang kerja di Bikini Bottom, agak males dan di pikirannya pengin cepet pulang ke rumah.

***

“Pada manusia sering pula terjadi timbul sugesti-sugesti setelah mengalami hypnosis, neurosa, dan psikoses. Hal-hal semacam itu merupakan objek penelitian Freud dan dijelaskan segamblang mungkin sehingga memudahkan pemahaman dalam mempelajari keadaan jiwa manusia.“ kata dosen gue.

Kembali lagi ke kelas gue, masih dengan dosen yang masih asik sendiri dengan presentasinya, dan gue masih asik sendiri melihat timeline di Twitter. “Yak, itu aja materi dari gue tentang Sigmund Freud. Apakah ada pertanyaan?”

Seluruh kelas diam.
     
“Kalo gak ada, kita bagi kelompok aja buat presentasi ya.” 
     
“Iya pak.” dijawab serempak oleh seluruh mahasiswa di kelas tersebut.
    
Gue yang masih memegang handphone, langsung memasukkan handphone tersebut kedalam kantong.
   
Seperti yang lain, gue mulai mencatat nama-nama yang akan sekelompok dengan gue nanti, dan gue juga mencatat materi apa yang aja akan dibawakan untuk presentasi.

Petualangan gue sebagai mahasiswa psikologi Umsida pun baru aja dimulai.

Post a Comment

munggah