Kontroversi Hukuman Angelina Sondakh

diambil dari viva.co.id

Biasanya, orang yang telah diberi vonis oleh hakim akan ketakutan setengah mati, tapi tidak dengan Angelina Sondakh. Dia sepertinya sangat puas dengan putusan hakim yang dia terima. Perbandingan yang terlalu jauh antara tuntutan dan putusan, jelas membuat Angie bahagia. Putusan hakim sendiri juga terdapat banyak kontroversi. 

Mari kita lihat kontroversi hukuman yang diterima Angelina Sondakh.

1. Jaksa menuntut Angelina Sondakh 12 tahun penjara dan denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan. Tapi, hakim memvonis penjara 4,5 tahun dan denda Rp 250 juta.

2.  Angelina Sondakh  divonis berdasar dakwaan alternatif ketiga, yakni pasal 11 UU Tipikor yang mengatur penerimaan suap pasif oleh penyelenggaraa negara dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun.

3. Hakim menganggap penerapan pasal 18 UU Tipikor yang menjadi dasar perampasan aset hasil korupsi tidak tepat diterapkan kepada Angelina Sondakh. Karena itu, harta Angie tidak dirampas.

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Laode Ida berkata,

"Ringannya hukuman yang dijatuhkan kepada koruptor seperti kasus vonis  Angelina Sondakh, bisa berdampak tak akan adanya efek jera dalam pemberantasan korupsi."

Lain lagi dengan pendapat dari Thamrin Amal Tamagola, selaku sosiolog dari Universitas Indonesia, beliau berkata,

Angelina Sondakh paham bahwa sistem hukum di Indonesia, terutama dalam pemberantasan korupsi, banyak kelemahannya. Dia telah berhasil menggunakan kelemahan sistem itu dengan segala macam. Mulai dari memacari penyidik, bermanuver dengan meminta belas kasihan majelis hakim dengan drama menangis dan membawa anak-anak. Dia berhasil memperdayai majelis hakim dan sistem yang ada.”

Lanjut beliau,

”Masyarakat jangan lagi menyambut para pelaku korupsi ini. Dalam setiap kesempatan masyarakat harus mempermalukan para pelaku korupsi, jangan pernah menerima uang hasil korupsi. Yang paling berat untuk seorang terpidana kasus korupsi itu bukanlah hukuman pengadilan tapi hukuman masyarakat. Kalau dikucilkan maka seorang terpidana kasus korupsi tidak bisa lagi berlagak, apalagi bermewah-mewah setelah keluar dari penjara.”

Itu dia pendapat dari para pengamat kasus korupsi yang menimpa Angelina Sondakh. Bahkan, KPK sudah mengajukan banding atas putusan hakim yang sangat ringan ini.

Menurut kalian sendiri, bagaimana sistem hukum di Indonesia dalam memberantas korupsi? Apakah sudah memuaskan? Apakah sudah benar-benar bekerja dengan baik? Apakah memang hukuman yang diterima Angie adalah keputusan yang paling adil?

Menurut saya sebagai mahasiswa, saya sangat kecewa dengan keputusan hakim. Hukumannya terlalu ringan untuk seorang koruptor. Ini jelas tidak akan memberikan efek jera kepada koruptor-koruptor di Indonesia. Budaya korupsi tidak akan hilang jika para koruptor tau kalo sistem hukum di Indonesia itu masih lemah.

Saya sempat berfikir, "Perlukah Indonesia meniru cara Cina memberlakukan para koruptor? Dengan langsung memberikan hukuman mati terhadap pelaku. Jika memang itu yang terbaik, kenapa tidak?"


sumber: 
tribunnews.com
Jawa Pos

Post a Comment

munggah