Rahasia Anak Emo


Sering melihat anak muda yang bergaya emo? Yang memakai baju hitam-hitam, memakai tindik, merokok, dan bertato. Yang kerjaannya main sampai tengah malam dan baru pulang subuh-subuh.
Saat melihat anak muda yang seperti itu, apa sih yang ada dibenak anda? Risih? Merasa tidak aman didekat mereka? Atau bergegas untuk menjauhi mereka?

Nah, di tulisan ini, saya ingin membagikan pengalaman saya setelah berbincang dengan salah satu anak muda yang “penganut” emo tersebut.

Perkenalkan, nama dia Cemo (cewek emo, nama disamarkan). Cemo adalah salah satu umat dari aliran musik emo, suka berpakaian serba hitam, pemakai eyeliner  hitam, dan senang berkumpul dengan anak band.


Saya sekelas dengan Cemo, dibandingkan dengan teman perempuan saya yang lain, cuma dia yang tidak memakai kerudung, dan gayanya dia bisa dibilang cukup ekstrim untuk seorang wanita. Dia memakai kaos band death metal dan jeans yang disobek-sobek di bagian lutut.

Jujur, saya tidak suka dengan gaya emo-emoan seperti itu. Ada cowok pake tindik di telinganya, ini apaan coba? Cowok kok pake tindik di telinga? Mau dandan kayak cewek? Kalo mau dandan kayak cewek, kenapa ga pake bra aja sekalian? Nanti diisi koran, kalau kurang gede bisa diisi bola pingpong atau bola tenis aja sekalian. 

*mendadak emosi*

Balik lagi ke Cemo, saya dan teman-teman sekelas termasuk ngotot merubah dia agar kembali ke jalan yang benar. Saya selalu berusaha untuk mengajaknya memakai kerudung, tapi selalu ditolak. Alasannya, belum dapat panggilan dari Allah. Dia bahkan bilang,


“Cewek banyak yang pake kerudung, tapi masih dibuat mainan. Banyak ga niat, cewek pake kerudung tapi ngerokok, itu kan nunjukin kalo dia belum siap buat pake kerudung Dy.”


Saya cuma diam sambil tersenyum kecil. Lalu, saya tanya,


“Terus kamu bakalan gini terus? Dengerin lagu dimana vokalisnya kayak mau ngeluarin dahak itu? Make celana jeans yang sengaja kamu sobek sendiri pake silet itu? Tiap hari ga mandi, punya badan gendut, dan lain-lain?”

"Ih Aldy, apa coba hubungannya emo sama gendut?"

"Iya juga ya, aku pikir ada, ternyata engga ya. Ya udah, jawab aja pertanyaan yang lain. Kan banyak tadi."

“Gini lho Dy, nanti pasti ada waktunya buat tobat Aldy. Sekarang seneng-seneng aja dulu, hidup cuma sekali, dimaanfaatin baik-baik. Aku juga ga aneh-aneh lho sebenarnya. Ga separah temen-temenku, ada yang mabuk, seks bebas, make ganja, tatoan. Aku kan ga gitu, aku juga masih sayang sama badanku.”


Prinsip yang Cemo pegang, berkebalikan dengan saya. Ya soal taubat itu tadi, saya sendiri  memutuskan untuk taubat di usia muda, bukan di usia tua. Saya masih 19 tahun, tapi saya merasa dosa saya sudah banyak.

Saya tidak bisa membayangkan harus menunggu umur 40 tahunan dulu atau “tua” dulu, baru saya mendekat kepada Allah. Keburu badan saya terlalu lemah dipakai untuk beribadah. Makanya, mumpung badan saya masih kuat dan masih muda, saya ingin mendekatkan diri kepada Allah dari sekarang, tidak harus menunda-menunda.


Kembali lagi ke Cemo, saya bertanya lagi ke dia.

“Terus menurut kamu, pake kerudung ga ada manfaatnya gitu?”

“Ada manfaatnya sih, kalo misalkan aku make kerudung, pasti aku ga bakal ditawarin ngerokok, ditawarin minum bir, terus mabuk-mabukan.”

“Kalo tau ada manfaatnya kenapa ga make kerudung?”

“Kan dah dibilangin, aku belum siap aja. Kayak orang yang baru nikah terus cerai, itu kan bukti belum siap buat nikah. Aku juga gitu, belum siap pake kerudung. Lagi pengin seneng-seneng dulu aja.”


Saya ngobrol dengan Cemo 1 jam lebih. Bicara tentang musik, tentang kampus, dan masalah kerudung tadi. Dia juga sempat cerita tentang temen kosnya, yang baru saja diusir oleh ibu kos karena ketahuan mabuk-mabukan dan membawa teman cowoknya ke kosan. Iya, yang diusir cewek.

Sekarang, Cemo sendiri di kos annya. Karena sendiri, harga kos annya pun jadi naik dan Cemo kesulitan untuk membayar uang bulanannya. Sebentar, sepertinya masalah keuangan Cemo, tidak perlu saya tulis disini. Mari kembali ke topik utama.

Cemo juga bilang bahwa dengan mengenal kehidupan gelap seperti itu, pengetahuan kita bisa bertambah luas. Dia berpendapat, ada alasan kenapa anak muda jadi “masuk” ke dunia yang seperti itu. Dan alasan yang paling sering adalah broken home.

Sementara itu, banyak orang tidak peduli dengan “kenapa” mereka bisa seperti itu. Orang-orang langsung mengecap buruk anak muda yang tersesat ini. Pandangan negatif tanpa melakukan pertolongan yang berarti.


Pukul 22.00 WIB, saya dan Cemo pulang dari kafe. Ditandai dengan habisnya dua gelas teh tarik, kami menuntaskan obrolan yang cukup berat ini. Untuk saya, percakapan dengan Cemo adalah hal baru. Dan karena hal baru itulah, saya ingin menuliskan disini.

Kalau menurut kalian sendiri, adanya anak emo seperti itu, sebenarnya kesalahan siapa? Salah mereka sendiri? Atau kesalahan kita yang tidak mencoba menyadarkan mereka?

Mereka memang mengambil jalan yang salah, lalu apakah karena kita merasa di jalan yang benar, maka kita berhak menuduh mereka yang tidak-tidak?

Mereka memang keliru menentukan jalan hidupnya, lalu apakah itu berarti kita hanya bisa diam tanpa mencoba menasehati?

Bagaimana jika rahasia terbentuknya anak emo adalah karena keteledoran kita sendiri sebagai manusia yang tidak peduli terhadap sesama?

Coba kalian renungkan.

2 comments

baguuss dy topik yang di bahas, ni bisa mengarah ke psikologi juga lo...ini bs di bahas bareng karena memang tidak mudah utk membuat mereka ke arah yg menurut kt benar, hehe soalnya adik aku juga mirip2 gtu tp belum bs menyadarkan..#curhat dikit

Reply

bagus ya topik yang dibahas? Ya siapa dulu yag nulis, *ehem*,
tapi masalah solusi itu masih dicari sebenernya sih, belum ketemu juga, atau mungkin mbak udah ketemu solusinya?

Adik mbak kayak gitu? Itu pasti gara-gara mbak nya.

Reply

Post a Comment

munggah